Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Antara Hidup dan Mati


__ADS_3

Akhirnya sampe adegan ini juga, ngga kalah seru dibandingkan bikin adegan action gelud-gelud itu 😄Tadinya author was-was loh buat lanjutin, takut aneh ceritanya karena author ngga tahu sama sekali tentang dunia persalinan ini. Berbekal info dari si Om Google doang sama testimoni bumil temen author yang udah lahiran 24 hari yang lalu kalo ngga salah. So, nekad aja dah 😅😅 Eh ternyata banyak yang penasaran sama kelanjutannya 😄


Ah jangan lupa ditunggu like n komen kalian yaa 😉 Kalau ada salah-salah, mohon dimaafkan yaa buk ibuk yang udah berpengalaman, nyatanya author cuma halu doang ini 😁


Selamat membaca,


...****************...


Di sebuah rumah sakit bersalin kota Yokohama...


"Dimana mereka?" tanya kakek Yamazaki setelah sampai di dekat nyonya Sumari. Beliau tampak mengatur napas setelah berjalan cepat menuju kemari.


"Mereka masih ada di dalam. Aku baru mendengar satu tangisan bayi, mungkin yang kedua dan ketiga belum lahir," ungkap nyonya Sumari sambil tersenyum, namun tangannya saling bertaut, masih harap-harap cemas pada keadaan dua cucunya yang lain.


"Kobayashi, segera siapkan hadiah untuk semua karyawan rumah sakit ini dan berikan hadiah yang sepadan untuk mereka yang ada di dalam sana!" perintah pria 71 tahun ini, mengarah pada ruang operasi di depannya.


"Baik. Akan saya laksanakan."


Pria yang telah melayani keluarga Yamazaki lebih dari setengah abad itu undur diri, bersiap melaksanakan perintah tuannya. Ia tahu pasti hadiah apa yang dimaksud. Keluarga ini tak pernah tanggung-tanggung dalam memberikan hadiah karena uang mereka berlimpah.


"Apa dia laki-laki atau perempuan?" tanya kakek ingin tahu.


"Sepertinya laki-laki. Ken belum keluar jadi aku belum tahu jenis kelamin cucuku," jawab ibu.


Tap tap tap


"Apa cucuku sudah lahir? Dimana dia? Bagaimana keadaan menantuku? Apa dia baik-baik saja? Dimana Ken? Dia ada di dalam?" Tuan Tsuguri sampai di sana dan langsung memberondong istrinya dengan pertanyaan. Meski biasanya ia irit kata, entah kenapa sekarang justru sangat cerewet. Nampaknya sifat itu pula yang ia wariskan pada putra sulungnya, sampai membuat Aira jengah saat mode aktif suaminya sedang menyala.


Begitu Aira masuk ke ruang operasi, nyonya Sumari langsung menghubungi ayahnya, yakni kakek Yamazaki dan suaminya, tuan Tsuguri. Kedua pria itu begitu antusias ingin menyambut cucu dan cicitnya.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka semua." Nyonya Sumari memiliki jawaban bijak atas beberapa pertanyaan suaminya. Ia sendiri tidak tahu pasti apa yang terjadi di dalam sana. Hanya Ken sebagai suami pasien yang boleh masuk, itu pun harus memakai pakaian steril lebih dulu.


Tiga puluh menit telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda dokter atau perawat akan keluar. Agaknya ketiga manusia berumur ini harus memanjangkan lagi kesabaran mereka.


"Okaasan," panggil Yamaken. Ia berlari dari arah pintu masuk, tempat yang sama seperti yang dilalui tuan Tsuguri dan kakek Yamazaki beberapa menit sebelumnya.


(Ibu)


"Yamaken, syukurlah kamu ada di sini. Kakakmu masih di dalam. Sepertinya baru satu bayi yang lahir. Aku khawatir pada Aira. Terlalu berisiko melahirkan normal, tapi dia bersikeras tidak mau operasi caesar," ucap ibu dengan raut wajah takutnya. Ia takut Aira tidak sanggup mengeluarkan ketiga bayinya dan mengakibatkan nyawanya sendiri dalam bahaya.


"Tenanglah, Bu. Kakak ipar pasti bisa melewatinya." Yamaken memeluk lengan ibunya, memberikan sokongan mental pada wanita yang telah melaporkannya 28 tahun yang lalu.


Sementara itu, di dalam ruang operasi,

__ADS_1


"Jika ternyata bayi kedua atau ketiga posisinya sungsang, saya harus membenarkan dulu posisinya sebelum dikeluarkan. Dalam kasus yang sangat langka, bayi selanjutnya akhirnya harus dilahirkan lewat operasi caesar untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi." Dokter Tsukushi memberikan penjelasan sembari memeriksa kandungan Aira.


"Baik, Dok," jawab Aira pasrah.


Ken menyerahkan bayi di tangannya itu pada perawat untuk dibersihkan. Ia kembali ke sisi Aira, mendampingi istrinya melalui persalinan bayi kedua dan ke tiga mereka.


"Arigatou. Hontou ni arigatou," ucap Ken pada Aira. Ia menghapus air mata yang membasahi pipinya. Ya, ini suatu keajaiban. Bagaimana ia kini sudah berstatus sebagai ayah, itu semua karena Aira yang masih setia mendampinginya sampai detik ini. Bahkan hatinya yang sekeras batu akhirnya luluh juga karena kesabaran istrinya.


(Terima kasih. Terima kasih banyak)


Aira hanya mengangguk. Ia masih lemas setelah mengejan sekuat tenaga untuk melahirkan putra pertama mereka. Namun perjuangan belum berakhir. Masih ada dua lagi yang harus ia keluarkan dengan selamat.


Aira mulai merasakan kontraksi lagi. Ia menggigit bibirnya dan menggenggam tangan Ken dengan erat. Tapi kemudian perasaan itu melemah dan hilang dengan sendirinya.


"Dok," ucap Aira terlihat panik.


"Jangan panik, Nyonya. Kecemasan berlebihan akan  menyebabkan otot-otot tubuh dan seluruh saraf menjadi tegang. Ketidaksiapan mental sangat berpengaruh selama proses persalinan terutama saat mengejan. Anda tidak harus mengejan selama beberapa kali kontraksi sehingga Anda dapat mengumpulkan kembali kekuatan Anda. Pelan-saja. Ambil napas dalam-dalam dan embuskan perlahan seperti meniup air." Dokter 52 tahun itu memberikan arahan.


"Tenang, Nyonya. Pada saat tidak ada kontraksi, rasa seperti kram dan nyeri pada perut, sebaiknya Anda tetap bernapas normal dan relaksasi. Mengejan dimulai pada saat kontraksi datang dan disertai rasa ingin mengejan yang tidak tertahan, Anda bisa mengambil napas panjang dan konsentrasikan kekuatan tenaga pada daerah jalan lahir (v*gina) agar membantu bayi untuk proses keluar dari rahim dengan mengejan sekuat-kuatnya."


Aira mengangguk, tanda bahwa ia memahami dengan baik apa yang disampaikan oleh dokter padanya. Ia terlalu tidak sabar ingin mendengar tangisan bayinya yang kedua.


Mengejan akan sangat membantu otot rahim mendorong bayi menuju jalan lahir. Kemampuan seorang ibu untuk mengejan dengan benar, akan menentukan keadaan bayi yang dilahirkan. Bila seluruh keadaan bayi dan kondisi jalan lahir ibu memenuhi syarat untuk dilangsungkan proses persalinan normal tetapi ibu tak mampu mengejan dengan baik, maka bayi akan terlalu lama berada di jalan lahir (dasar panggul). Keadaan ini membuat bayi dalam kandungan tidak aman. Saat lahir kondisi bayi lemah atau bahkan mengalami gangguan pernapasan, tidak bisa menangis, atau bahkan bayi tampak tidak bugar.


Setelah beberapa menit berlalu, peluh di kening Aira kembali muncul. Tandanya ia mulai merasakan pergerakan dari nyawa di dalam perutnya yang merangsek ingin keluar.


Aira mengangguk sambil mengatur napasnya yang mulai memburu. Seorang perawat, atau dokter, entahlah siapa itu, yang berdiri di samping dokter Tsukushi, membantu membenarkan posisi kaki Aira yang setengah duduk. Dia menahannya dengan kuat agar ibu hamil ini bisa mengejan maksimal nantinya.


"Anda bisa mengejan saat merasakan bayi Anda sudah ingin keluar."


Ken kembali merasakan perih di punggung tangannya. Kuku-kuku jari Aira menancap di sana, menahan rasa sakit saat bayinya mulai berusaha keluar dari persembunyiannya delapan bulan ini. Ya, jika dibandingkan bayi tunggal, persalinan Aira ini tergolong prematur. Tapi, ini hal yang lumrah terjadi pada kehamilan kembar dua, tiga, atau bahkan lebih.


Kaori mendekat ke arah Aira dan meraih tangan kirinya yang mencari pegangan. Ia membiarkan tangannya menjadi korban, sama seperti Ken. Bedanya, tangan mulus Kaori tertutup sarung tangan elastis. Jadi, mungkin ia hanya merasa perih tapi tidak sampai terluka. Lain lagi dengan Ken, mungkin akan ada bekas kuku Aira, atau bahkan sampai mengeluarkan darah. Itu tidak seberapa dibandingkan dengan Aira yang berjuang antara hidup dan mati.


"Terus. Ayo lebih kuat lagi. Dia akan segera keluar," bimbing dokter berkacamata itu.


Aira semakin memperkuat cengkeraman tangannya, yang berarti ia akan mengejan lebih kuat lagi detik berikutnya. Kaori bahkan sampai menahan napasnya, ikut merasakan tegang.


"Oek... oeekk."


Tangisan kedua kembali menggema di ruangan itu, bahkan lebih kencang dari bayi pertama tadi. Suara yang meskipun memekakkan telinga, tetap membuat semua orang tersenyum lega. Mereka turut merasakan kebahagiaan seperti yang Ken dan Aira rasakan saat ini.


Perawat segera mengambil alih bayi itu dan membalutnya dengan handuk yang sangat halus sebelum memberikannya lagi pada Ken. Ya, itu permintaan Ken dan Aira pada dokter Tsukushi beberapa minggu yang lalu.

__ADS_1


Setelah lahir, Aira minta bayi mereka harus mendengar lantunan adzan dari ayahnya. Tentu saja Ken jadi belajar lebih banyak pada salah satu ulama di Jepang. Beliau adalah seorang yakuza yang Ken kenal, namun sekarang menjadi seorang muslim. Bahkan, ia didapuk menjadi imam di salah satu masjid di Tokyo. Entah siapa namanya, Aira tidak ingat. Satu yang pasti, dia telah menemukan jalan-Nya yang indah. Sebuah penghambaan pada Tuhan Semesta Alam.


"Selamat, Nyonya, bayi Anda perempuan," ucap seorang perawat yang mendekatkan bayi merah itu pada Aira sebelum dibersihkan. Ia mengambilnya dari tangan Ken, beberapa detik sebelumnya.


"Selamat, Aira-chan." Kaori menyeka peluh di wajah Aira dengan lembut. Ia tersenyum namun terhalang masker di depan mulutnya. Meski begitu, Aira tahu Kaori tulus padanya, terlihat dari kerut di samping matanya. Ya, saat seseorang tersenyum dengan tulus, maka ada kerutan halus di sisi luar indera penglihatannya. Namun, saat seseorang tersenyum tanpa ada kerutan di matanya, bisa dipastikan itu hanya senyum pura-pura atau lebih dikenal dengan istilah fake smile (senyum palsu). Siapa saja bisa membuktikannya.


Aira tersenyum melihat bayinya yang dibawa menjauh, menuju ruangan tersendiri tempat ia akan dimandikan untuk pertama kali. Seperti yang dokter Tsukushi pernah jelaskan, para perawat di sini sudah tersertifikasi dengan pasti jadi Aira tidak perlu khawatir lagi.


Ken mendekat dan kembali mencium keningnya. Ia terlihat sangat bahagia.


"Bayi kita perempuan. Dia cantik sepertimu, pipinya bulat dengan mata yang indah." Mata Ken berkaca-kaca. Ia tidak bisa menahan gemuruh kebahagiaan yang memenuhi hatinya. Ini kebahagiaan yang sempurna untuknya.


Aira mengangguk lemah. Ia tidak bisa menjawab dengan kata-kata, hanya bulir air tanpa warna yang perlahan keluar dari sudut matanya. Ken segera mengecupnya, merasakan sedikit asin di bibirnya.


Mata Aira terasa berat, wajahnya pucat. Pandangannya semakin memudar. Bahkan bayang-bayang Ken yang hanya beberapa centimeter dari wajahnya, tampak samar.


"Ai-chan! Dokter! Dokter!" panggil Ken panik. Ia khawatir karena Aira terlihat begitu tak berdaya.


Aira merasakan Ken mengguncang lengannya, namun ia tidak bisa lagi membuka matanya. Ia lelah. Sungguh lelah. Mungkin ini saatnya ia pergi.


"Dok, detak jantungnya melemah," lapor Kaori yang langsung mendekat untuk memeriksa Aira saat Ken berteriak panik tadi.


"Tuan Yamazaki, tetap bangunkan istri Anda. Pastikan ia tetap sadar bagaimanapun caranya!" Dokter Tsukushi menatap Ken sekilas sebelum beralih pada dokter dan perawat lain di sana. "Lakukan prosedur gawat darurat. Sekarang!"


"Baik!" jawab mereka sigap.


"Ai-chan, buka matamu, Sayang."


Aira sempat membuka matanya, namun ia kembali menutupnya kurang dari satu detik. Ia bahkan keras tubuhnya sangat ringan sekarang, seperti melayang di udara. Perlahan suara-suara di sekitarnya mulai menjauh, jauh, jauh dan semakin lemah. Ia tak lagi mendengarkan teriakan Ken yang membangunkannya. Ia tidak mendengar suara perawat dan dokter Tsukushi lagi. Ia tidak mendengar apapun. Dan semuanya hening.


Aira membuka matanya dan melihat Ken yang menangis. Pria tangguh itu tengah menangisinya, Aira tahu itu. Juga dokter dan semua rekannya, mereka tampak begitu sibuk. Aira tidak bisa melakukan apapun. Ia tidak sanggup lagi. Dan semuanya berubah menjadi hitam saat matanya tertutup.


Gelap


Sepi


Sunyi


"AI-CHAN... AI-CHAN!! BUKA MATAMU!!" teriak Ken frustasi. Ia meraih kepala Aira dan membawanya dalam pelukan.


...****************...


Hwaaaaa... mewek author 😭😭 Semoga Aira baik-baik saja 💞

__ADS_1


With love,


Hanazawa Easzy


__ADS_2