Gangster Boy

Gangster Boy
Extra Part Again


__ADS_3

Author kasih bonus lagi nih ๐Ÿ’ƒ


Karena banyaknya readers yang kasian sama Ken yang udah 'puasa' sekian lama, jadi author bikin part ini khusus buat Ken ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ mohon maklum jika masih banyak kekurangan di sana sini ๐Ÿ™ Nyatanya ini cuma hasil imajinasi kehaluan tingkat tinggi dari author, hanya amatiran.


WARNING 18+ !!!


Pembaca di bawah usia 18 tahun, dimohon dengan sangat untuk JANGAN BACA part ini !!! Adegan ini hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri. Bukan untuk ditiru !


Bijaklah dalam membaca !


Hanazawa easzy ๐Ÿ˜‰


...****************...


Aira mendengar semua penjelasan Kaori tentang kondisi kesehatannya, termasuk sarannya pada Ken tentang hal 'itu'. Ia merasa bersalah karena hampir selalu menolak Ken akhir-akhir ini, tapi ia juga masih merasa trauma atas perlakuan Ken dulu.


Aira kembali ke kamar. Ia mengemas baju miliknya dan Ken ke dalam koper. Siang ini mereka akan kembali ke Jepang. Masih ada waktu kurang lebih enam jam yang tersisa sebelum mereka berangkat ke bandara.


Krekk


Pintu terbuka menampilkan Ken yang masuk ke dalam kamar. Ia sedikit terkejut melihat apa yang sedang dikerjakan oleh istrinya itu. Ia pikir Aira masih tertidur.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ken tepat saat Aira menutup koper berisi pakaian miliknya.


"Berkemas." jawab Aira seadanya.


"Kenapa bangun begitu awal, sayang? Aku sengaja tidak membangunkanmu agar kamu bisa istirahat lebih lama." Ken meraih tubuh istrinya dan memeluk wanita mungil itu dari belakang. Ia meletakkan dagunya di pundak Aira sambil sesekali mencium lehernya, "Aku bisa meminta Kosuke untuk membereskan pakaianku, kamu hanya perlu istirahat sambil memastikan bayi kita tetap sehat dan bertumbuh dengan baik di dalam sana." ucap Ken sambil memeluk erat pinggang istrinya. Tangannya bergerak lembut mengelus perut Aira yang masih tertutup piyama tidur.


"Bau apa ini? Kamu merokok?" tanya Aira sebal. Ia mengendus aroma tubuh suaminya, percampuran antara lavender, salju dan tembakau.


Aira berbalik dan melepas palto hitam yang Ken pakai dengan paksa. Ia tidak memperhatikan tautan lengan Ken yang masih setia bercokol di kedua pinggangnya saat ia memutar badan tadi.


"Apa Kosuke lebih penting dariku? Dia asistenmu, sedangkan aku istrimu. Aku yang harusnya mengurusmu. Kamu memperlakukanku seolah aku begitu lemah." Aira mengatakan hal itu sambil mengendus badan suaminya, "Dan satu hal lagi. Aku paling tidak suka pria yang merokok. Baunya akan tertinggal di mana-mana." Aira melepas sweater hitam yang melekat di tubuh Ken, menyisakan kemeja merah marun yang menutupi dada bidangnya. Pria itu hanya menurut saja seperti anak kecil yang sedang dilepaskan bajunya sebelum mandi.


"Gomen." ucap Ken sembari membawa wajahnya ke hadapan Aira. Pria itu menatap istrinya dengan intens sambil tersenyum manis. Ia ingin menggoda istrinya, berharap bisa melihat rona wajahnya yang memerah karena malu.


(Maaf)


Aira menunduk, meloloskan diri dari dominasi Ken dan memasukkan pakaian kotor milik suaminya ke dalam keranjang.


"Basuh wajahmu. Pastikan aku tidak mencium bau tembakau lagi." pinta Aira dengan wajah tak senang. Ia benci rokok. Ia benci perokok. Terlebih lagi indera penciumannya menjadi semakin sensitif di trimester pertama kehamilannya ini.


Ken tersenyum menatap wajah istrinya yang cemberut hanya karena hal kecil. Ia menjadi cerewet dan banyak omong saat marah. Padahal selama ini dia tidak pernah protes saat Ken merokok. Kenapa sekarang melarangnya? Apa itu juga efek hormon dalam tubuhnya? Aira-nya yang tenang dan pendiam, berubah menjadi wanita yang cerewet dan banyak aturan seperti wanita lain pada umumnya. Ken belum benar-benar memahami mahakarya Tuhan ini sepenuhnya. Banyak hal yang tersembunyi dengan baik di balik kodrat wanita yang katanya makhluk lemah itu.


"Baiklah." Ken masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, menuruti titah sang Ratu yang berhasil merajai hatinya. Ia menatap cermin besar yang ada di hadapannya.


'Apa cinta se-mengerikan ini? Aku bahkan tidak bisa berkutik di hadapannya.' batin Ken.


Pria itu menatap pantulan wajahnya yang begitu sempurna, sebuah senyum miring terpatri di sana. Ia punya ide brilian untuk menaklukkan istrinya kali ini. Pasti berhasil. Ia yakin itu, Aira tidak akan bisa menolaknya lagi.


Aira masih sibuk berbenah. Ia menurunkan koper miliknya dan Ken ke lantai, menyeretnya sampai di depan pintu dan kembali untuk merapikan ranjang yang sedikit berantakan.


Grep


Ken kembali memeluk Aira dari belakang. Ia bahkan langsung menciumi leher istrinya dengan antusias dan penuh gairah. Pria lesung pipi itu mengabaikan keterkejutan wanita hamil di depannya.

__ADS_1


"Ken?!!" Aira berbalik dan menatap suaminya yang shirtless. Matanya membulat dengan wajah merah merona.


*shirtless: bertelanjang dada.


Glek


Aira menelan ludahnya dengan paksa, menatap tubuh bagian atas suaminya yang tidak tertutup sehelai benang pun saat ini. Ah, jangan lupakan tangan Aira yang tanpa sengaja menyentuh otot dada suaminya yang cukup atletis, membuat nafasnya terasa sedikit sesak. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Jebakan Ken berhasil. Aira tidak sadar jika suaminya keluar dari kamar mandi tanpa kemeja yang sebelumnya ia pakai.


"Ada apa denganmu? Dimana bajumu?" tanya Aira dengan suara tercekat di tenggorokan. Ia benar-benar gugup sekarang.


"Bukankah kamu ingin aku menyingkirkan semua bau yang ada? Jadi aku melepas bajuku juga." Ken memamerkan senyum mautnya. Tangannya semakin erat memeluk tubuh kekasih halalnya itu.


"Apa aku membuatmu ketakutan selama ini?" tanya Ken hati-hati. Ia semakin mengikis jarak di antara mereka, membuat Aira semakin gugup.


Aira tak menjawab. Ia menundukkan kepala, menghindari tatapan tajam suaminya.


"Apa kamu begitu tidak menginginkanku? Jika seperti itu, maka biarkan seperti ini sebentar saja." Ken meletakkan kepalanya di pundak Aira tanpa melakukan apapun. Hal itu membuat Aira merasa bersalah karena tidak memberikan hak yang seharusnya Ken nikmati selama ini. Tapi, dalam hati kecilnya ada ketakutan tersendiri jika mereka melakukan 'itu'.


"Apa kamu menginginkanku?" bisik Aira tepat di telinga kiri Ken. Nafasnya yang hangat menerpa tulang rawan suaminya, membuat hasrat pria 27 tahun itu bergejolak dan libidonya naik dengan cepat.


"Ai-chan.." panggil Ken lirih. Ia mengingat dengan jelas semua penuturan Kaori sebelumnya dan berusaha meredam iblis dalam dirinya yang mulai ingin menguasai istrinya, "Maaf karena membuatmu takut." Ken berucap sambil mengurai pelukan istrinya. Ia akan menjaga jarak sebisa mungkin dengannya mulai saat ini. Ia tidak ingin membahayakan keselamatan Aira dan calon buah hati mereka.


Ken berlalu pergi dari hadapan istrinya. Dia melangkah menuju lemari untuk mengambil baju saat tiba-tiba dirasakan tautan tangan Aira mengunci perutnya. Kesepuluh jemari mungil itu teranyam tepat di depan pusarnya.


Aira menggeleng, "Gomen, I love you."


(Maaf, aku sayang padamu)


Ken segera berbalik dan memeluk istrinya dengan sayang. Hatinya menghangat begitu mendengar pernyataan wanita kesayangannya ini. Cintanya tak perlu di ragukan lagi, Ken sudah berhasil menaklukkan jiwa, raga bahkan hati istrinya ini.


Ken melepas pelukannya dan mencium kening Aira. Ciuman di kening menandakan emosi seseorang. Makna mendalam dariย ciuman di keningย adalah untuk menghormati, menghargai, dan meninggikan derajat wanita. Oleh karena itu,ย ciuman di keningย sering kali membuat wanita merasa damai dan nyaman. Pasangan yang tulus tentu tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya. Mereka akan memperlakukan pasangannya dengan lembut.


Aira tersenyum lebar. Kebahagiaan ini begitu nyata. Setelah badai besar yang berhasil Ken dan Aira lalui bersama, sekarang saatnya melihat pelangi yang indah di hari-hari mereka selanjutnya.


"Jangan pernah meninggalkanku." pinta Ken sembari menempelkan kening mereka. Aira mengangguk menyanggupi permintaan suaminya.


Cup


Sebuah kecupan manis yang sangat singkat Aira hadiahkan tepat di bibir suaminya, membuat mata sipit itu membola. Ia terkejut dengan perlakuan istrinya barusan. Wanita mungil ini bahkan harus berjinjit semaksimal mungkin agar bisa menyentuh bibirnya. Menggemaskan.


Hap


Ken mengangkat Aira, membuat tubuh 42 kg itu seolah melayang di udara. Tangan Ken tak terlihat kerepotan atau keberatan sedikit pun. Kini kepala Aira lebih tinggi dari Ken. Aira yang terkejut hanya bisa mencengkeram bahu Ken agar tidak terjatuh. Keduanya saling melempar tawa.


"Ayo lanjutkan. Kamu tidak perlu berjinjit lagi sekarang." goda Ken membuat wajah Aira kembali memerah.


Cup


Satu kecupan singkat kembali mendarat di bibir pewaris keluarga Yamazaki ini. Aira menangkup pipi suaminya dan berlanjut dengan mencium kelopak mata kirinya. Tidak berhenti sampai di sana, Aira bahkan meniup mata Ken agar tertutup. Ia malu karena Ken melihatnya dari jarak yang sangat dekat.


Ken menutup matanya, membiarkan Aira menjelajahi wajah tampannya dengan bebas. Ia hanya harus menikmati segala perlakuan dari istrinya, tanpa perlu melakukan apapun. Bahkan dengan menutup matanya, membuat sensasi tersendiri bagi Ken. Ia akan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Aira detik berikutnya.


Aira semakin berani memanjakan Ken. Ia tidak melewatkan seinchi pun wajah suaminya. Semua mendapat kecupan sayangnya satu per satu.


BRUKK

__ADS_1


Ken mendudukkan diri di atas sofa panjang berbulu yang ada di ruangan ini. Tangannya sedikit pegal setelah menyangga tubuh mungil istrinya beberapa menit. Ia membuka matanya, menatap Aira dengan pandangan seduktif/menggoda.


"Sudah puas?" tanya Ken sambil memperhatikan istrinya yang kini duduk di atas pangkuannya.


Aira mengangguk malu-malu sambil menggigit bibir bawahnya. Inilah ekspresi yang paling Ken sukai dari istrinya. Wajah polosnya yang merah merona saat digoda, menunjukkan ia wanita baik-baik yang jarang berinteraksi dengan lawan jenisnya.


"Sekarang giliranku. Mau disini atau di sana?" tanya Ken sambil melirik ranjang berukuran king size tempat keduanya biasa beristirahat.


Kelopak mata Aira membulat, ia tahu ini akan terjadi, "Terserah." jawabnya sambil menyingkirkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Ia menatap ke kiri dan kanan dengan gelisah, gugup akan perlakuan suaminya nanti.


"Baiklah. Aku tidak akan sungkan lagi." Ken membalik posisi istrinya, membuatnya mendominasi kali ini.


Jantung Aira semakin berdetak kencang. Ia harus siap mendapat kejutan-kejutan yang akan Ken berikan padanya. Bagaimanapun juga, dalam hati kecilnya ia juga menginginkannya.


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati. Jangan takut." bisik Ken lirih. Ia mulai menjamu istrinya dengan mencium daun telinganya, membuat sengatan-sengatan kecil di hati Aira. Nafasnya mulai memburu hanya karena perlakuan awal Ken yang begitu lembut.


Aira mencengkeram lengan Ken saat suaminya itu bergerak semakin agresif, menjelajah bagian lain dari tubuhnya yang lebih sensitif. Ken benar-benar menepati janjinya, memperlakukan Aira dengan lembut dan penuh cinta.


Ken membuat beberapa jejak di tubuh istrinya. Ia memanjakan Aira dan memberikan sentuhan khusus di beberapa titik sensitifnya. Seperti saran Kaori sebelumnya, ia harus membuat Aira merasa nyaman terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian Ken menggendong tubuh Aira dan membaringkannya di ranjang dengan hati-hati.


"Bolehkah?" tanya Ken memastikan. Ia tidak ingin Aira melakukannya dengan terpaksa.


Aira menganggukkan kepala dua kali tanpa ragu, ia mengizinkan suaminya untuk mengakses tubuhnya lebih jauh lagi. Ia sudah siap sekarang.


Ken melepas dua kancing terakhir piyama tidur istrinya, tiga kancing yang lain sudah ia lepaskan saat pemanasan di sofa tadi, "Are you ready?" tanya Ken sebelum memulai.


"Hmm.." gumam Aira, "Bismillah." jawabnya berbisik di telinga Ken.


Ken mengangguk, ia dan Aira sama-sama melafalkan doa ini:


ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงูŽู„ู„ู‘ู‡ูู…ู‘ูŽ ุฌูŽู†ู‘ูุจู’ู†ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ูˆูŽุฌูŽู†ู‘ูุจู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุง ุฑูŽุฒูŽู‚ู’ุชูŽู†ูŽุง


โ€œBismillahi, Allahummaย jannibnasy syaithona wa jannibisy syaithona maa rozaqtanaโ€.


Artinya:


Dengan menyebut nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami. (HR. Bukhari).


Aira tersenyum menyadari betapa ia sangat beruntung memiliki Ken sebagai pendamping hidupnya. Sungguh, Allah memberikan buah yang manis setelah kesabarannya selama ini. Dulu ia tidak pernah bermimpi bisa berada di posisi ini, memiliki kehidupan bahagia dengan orang yang mencintai dan ia cintai. 10 tahun yang lalu, ia hanyalah gadis kecil tanpa mimpi, sudah bisa makan saja membuatnya senang.


Sekali lagi, hasil tidak akan mengkhianati proses. Aira percaya itu. Akan ada hadiah besar di balik luka dan air mata yang Allah kirimkan untuknya. Hadiah itu berupa jodoh, kesehatan, keuangan dan kedamaian hati itu sendiri ๐Ÿ’ž


...****************...


Udah yaa, author cuma bisa sampai situ aja ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ


Kritik dan saran masih author terima dengan tangan terbuka. Pasti masih banyak banget kekurangan author di sini. Maklum yaa, author juga masih belajar.


Ah, ini belum tamat kok. Sekali lagi, BELUM TAMAT. Masih ada kelanjutan ceritanya. Cuma sengaja author buat season-season biar gampang bedain outline/garis besar cerita ini. Kalo ngga kaya gini takutnya author out of track (keluar jalur) tanpa di sadari.


Ini aja ada beberapa episode yang ngambang, lupa pijakan tiba-tiba loncat gitu kaya pas episode awal-awal kemunculan Mone. Jujur author kecewa sama part itu, tapi ya udah lah yaa. Yang lalu biarlah berlalu, ngga usah dimasalahkan lagi. Nyatanya dia udah pergi, mau diapain lagi kaan ๐Ÿ˜” Eh, lagi ngomongin apa yaa. Kok jadi ngga jelas gini sii ๐Ÿ˜ข Gomen ne,


Big thanks buat kalian yang masih menyempatkan waktu buat baca karya ini. Tetap jaga kesehatan kalian yaa ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ See you di Season 3


With love,

__ADS_1


Hanazawa easzy ๐Ÿ’œ


__ADS_2