
Mone menceritakan sisi lain Anna dan mendiang pamannya, Takeshi Kaneshiro. Yamaken, Kosuke, dan juga Minami mendengarkannya dengan seksama. Mereka tidak menyela sama sekali saat gadis yang bulan depan berusia 21 tahun itu bercerita. Ternyata, Takeshi sengaja mengorbankan dirinya demi Anna. Tapi ternyata, Anna tidak tewas dalam peristiwa itu.
"Jadi, sampai mana pembicaraan kita?" Mone menatap Kosuke dan Minami bergantian. Dia mengikis kesedihannya atas peristiwa yang telah berlalu itu. Saatnya melanjutkan hidup, merangkai cita dan cinta yang dia punya.
"Kedatangan Anna." Kosuke dan Minami kompak menjawab bersamaan.
"Ah iya." Mone tersenyum memuji kekompakan pasangan yang akan segera dikaruniai seorang anak ini. "Mereka bisa bicara bersamaan seperti itu. Apa kita bisa?" Fokus Mone teralihkan pada calon suami yang masih mendekap puncak lengannya. Dia dan Yamaken belum bisa memiliki pemikiran yang sama, entah karena perbedaan usia mereka yang jauh, atau memang belum ada ikatan batin yang kuat diantara keduanya.
"Tentu saja bisa. Kenapa tidak?" Yamaken semakin semangat memeluk gadisnya. "Tapi, ada syaratnya."
"Syarat? Apa?"
"Kita menikah dulu kemudian melakukan 'itu'." Yamaken mengerlingkan sebelah matanya, sengaja menggoda Mone, sekaligus mengalihkan kesedihannya barusan.
Blush
Wajah Mone merah seketika. Dia tahu apa yang Yamaken maksud dengan istilah 'itu'. Dia sudah lebih dari cukup untuk tahu pembicaraan yang sedikit dewasa ini.
"Apa kamu belum pernah melakukannya?" bisik Yamaken, sengaja mengembuskan napas hangatnya di telinga Mone, membuat bulu romanya berdiri saat itu juga.
"Aishh! Mesum!" Mone mendorong tubuh Yamaken, membuat keduanya sedikit berjarak.
Detik berikutnya, gelak tawa pria tampan rupawan itu yang terdengar. Dia begitu bahagia menyaksikan calon istrinya salah tingkah. Jarang-jarang bisa mempermainkan Mone seperti sekarang.
Kosuke dan istrinya tersenyum. Mereka ikut bahagia melihat tuan dan puan di hadapannya bercengkerama dengan mesra. Mereka yakin keduanya akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira seperti rumah tangga Ken dan Aira yang seolah tanpa cela. Padahal, tak terhitung luka dan air mata yang dialami oleh Aira selama beberapa bulan pertama biduk rumah tangganya dengan mafia muda berbahaya itu.
"Minami-chan, lebih baik aku duduk berdua denganmu. Pria itu selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Menyebalkan!"
Kosuke langsung beranjak bangun saat Mone mendusel ke istrinya. Dia pengertian, tidak ingin membuat nonanya kesempitan. Jadilah dia duduk sendiri di single chair yang ada di hadapan Yamaken, terhalang meja kaca taransparan di hadapannya.
Minami hanya tersenyum. Sifat Yamaken sama seperti Ken, suka menggoda istrinya dan berusaha memanipulasi mereka untuk mendapat keuntungan lebih. Benar-benar kembar identik.
"Monmon..." Yamaken sengaja memanggil Mone dengan sebutan menggemaskan itu, berharap wanitanya tergoda dan kembali duduk di sampingnya.
"Wlee!" Mone menjulurkan lidahnya, sengaja tidak menggubris godaan dari pujaan hatinya ini.
"Bisa kita lanjutkan pembicaraan tadi?" Kosuke kembali ke benang merah tujuan utamanya kemari.
Keempat orang itu fokus pada topik pembicaraan mereka sebelumnya, tentang kembalinya Anna.
"Jadi, apa yang terjadi?"
"Anna tiba-tiba datang menemui tuan Harada Yuki dan membahas tentang geng Naga Hitam. Entah dari mana dia mendapatkan informasi itu dan memprovokasi tuan Yuki bahwa Shun yang sudah membantai kelompok kriminal itu. Dan pada akhirnyar dia mengatakan bahwa Anda yang sudah membunuh ayahnya."
Mone bungkam, dia bisa mengerti kenapa orang itu memfitnahnya demikian. Karena dengan keberadaannya di dekat tuan Harada saat itu, pantas saja jika dianggap dialah yang sudah menjadi tersangka utama tewasnya pria 55 tahun itu.
"Darimana kalian tahu informasi itu?" Yamaken yang bersuara. Dia tidak ada di tempat kejadian, jadi sangsi dengan kebenaran informasi yang Kosuke sampaikan.
"Tuan Yuki menemui kakak Anda setelahnya. Dia mencari tahu informasi yang sebenarnya, tidak ingain tersesat."
"Dan kamu sudah mengklarifikasi hal itu?"
Kosuke mengangguk. "Saya memberikan dokumen hasil autopsi tuan Hayato Harada. Kakek Anda yang meminta mayatnya diautopsi meskipun beliau meninggal karena seppuku."
Yamaken terhenyak. Dia melirik Mone yang memasang wajah tanpa ekspresi. Dia tidak menyangkal perkataan Kosuke, itu artinya apa yang dia katakan benar.
"Seppuku? Harakiri maksudmu?"
*Harakiri adalah ritual bunuh diri yang dilakukan oleh para samurai atau ksatria di Jepang dengan cara merobek perut mereka sendiri dengan pisau atau belati untuk memulliihkan nama baik setelah kegagalan atau kesalahan mereka yang dirasa tidak bisa dimaafkan.
__ADS_1
Kosuke mengangguk. Dia paham kenapa Yamaken yang lebih banyak bertanya saat ini. Mone adalah calon istrinya, pantas jika mengkhawatirkan keadaannya.
"Benar. Tuan Harada mengakhiri hidupnya sendiri. Mungkin beliau malu karena harus berhadapan dengan malaikat kematian sekelas Black Diamond yang ternyata hanya seorang gadis."
"Black Diamond?" Lagi-lagi Yamaken memaku pandang pada gadisnya. Dia tidak tahu bahwa Mone adalah pembantai berdarah dingin yang pernah ia dengar sebelumnya. Meski tidak tahu pasti sepak terjangnya, mendengar sebutannya saja Yamaken sudah bisa memperkirakan kekejaman calon istrinya ini.
"Jadi kamu Black Diamond itu?"
Mone mengangkat wajahnya, balik menatap Yamaken dengan pandangan sendu. "Benar. Itu aku."
Hening. Tak ada yang bersuara beberapa detik kemudian. Yamaken sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Bisa kita lanjutakan pembicaraan ini, Tuan?" Kosuke menatap saudara kembar tuannya.
"Lanjutkan saja. Aku tidak akan berkomentar." Yamaken masih terkejut. Dia tidak ingin mengganggu percakapan mereka.
"Setelah Anna menemui tuan Yuki, ternyata dia bertemu dengan tuan besar."
Kening Yamaken berkerut tapi tidak melontarkan pertanyaan apapun. Permasalahan itu terdengar semakin pelik. Jika kakek sudah tahu tentang kedatangan wanita jahat itu, kenapa beliau tidak langsung memusnahkannya.
"Entah pembicaraan seperti apa yang Tuan bicarakan dengan Anna, tapi tidak ada pergerakan wanita itu setelahnya. Dia seperti mundur pelan-pelan, tidak mengganggu ataupun menyinggung tuan Yamazaki Kenzo. Dan sebelum sesuatu terjadi pada keluarga kecil itu, Tuan Besar mengirim mereka kembali ke Indonesia. Beliau yakin Anna tidak memiliki kekuasaan untuk menyentuh negara tropis itu. Jangankan menyentuh, mengetahui keberadaan mereka saja sulit."
Yamaken mengangguk dua kali. Dia bisa mengangkap informasi terakhir yang Kosuke sampikan. Pria itu masih berdiri sejak tempat duduknya ia berikan pada Mone dan Minami.
"Saya tidak tahu apa rencana Tuan Besar setelah ini. Tapi yang pasti, sepertinya beliau sudah memiliki caranya tersendiri untuk menghadapi serangan itu."
"Justru yang menjadi fokus Anna sekarang bukan lagi tuan Yamazaki Kenzo. Dia menyasar tuan Shun. Dan jika dihubung-hubungkan, muaranya pada nona Kamishiraishi. Selain misi balas dendam itu, mungkin dia ingin mendapatkan Nona kembali." Minami meraih tangan mungil Mone, menggenggamnya dengan erat.
"Aku tahu itu. Sejak kalian mengatakan bahwa dia kembali, pasti tujuan utamanya untuk mendapatkanku lagi. Tapi sayang sekali, aku tidak akan mau berpura-pura bodoh seperti sebelumnya."
Yamaken tetap diam. Dia tahu wanitanya ini sosok yang kuat dan tidak tertandingi. Tapi, mungkin hatinya sedikit rapuh. Itu sebabnya kakek memintanya berlatih beladiri agar bisa melindungi Mone jika gadis itu kehilangan keberaniannya. Berhadapan dengan orang yang hidup dengannya selama lima tahun tidak akan semudah itu. Mungkin hatinya melemah.
Pertanyaan Mone mengingatkan Kosuke tentang perintah Ken padanya semalam.
"Tidak. Anna tidak melakukan apapun pada tuan Oguri. Tapi, dia membuat surat wasiat palsu untuk tuan Yuki, seolah itu ditulis oleh tuan Harada sebelum kematiannya."
"Surat wasiat palsu?"
"Benar." Minami membenarkan pertanyaan Mone. Dia memberikan selembar kertas, salinan surat yang Shun baca kemarin. Disana tertulis bahwa bayi yang ada di dalam kandungan Kaori bukan darah daging Yuki, melainkan benih milik Shun.
"Ini palsu?" Mone meletakkannya di meja. Yamaken hanya melihatnya dari kejauhan tapi dia bisa membaca tulisan yang tertera di sana.
"Anna sengaja menjebak tuan Yuki, menyesatkannya seperti dia menyesatkan Anda. Dia berharap Yuki percaya dan kemudian menjadi berselisih paham dengan kakak Anda."
"Benar-benar ya?" Mone mangangkat satu sudut bibirnya. Dia paham akal bulus Anna dengan baik. "Dia kembali menggila setelah paman tidak ada. Aku harus memusnahkannya."
Grep
Yamaken meraih pergelangan tangan Mone, mencengkeramnya dengan erat. "Apa maksudmu?"
"Apa lagi? Tentu saja menemui rubah wanita itu. Gara-gara dia, kak Aira sampai harus pergi bersembunyi. Dan dengan seenaknya, dia memfitnah kakak angkatku. Meski kami tidak memiliki pertalian darah, kak Shun tetap lebih baik dari wanita manipulatif itu."
"Jangan lakukan apapun!" pinta Ken dengan penekanan di setiap suku kata yang keluar dari mulutnya.
"Heih?" Mone mempertanyakan permintaan Yamaken. "Apa maksudmu?"
Yamaken menarik napas dalam-dalam. Meskipun belum melihat fisiknya, dia tahu Anna bukan orang sembarangan yang bisa dihadapi langsung.
"Kita ikuti permainanannya."
__ADS_1
"Benar, Nona. Kita tidak bisa langsung menyinggung Anna atau semua rencana yang sudah ada akan kacau." Minami ikut menahan keinginan gadis ini. "Justru ada sesuatu yang harus Anda lakukan dengan tuan Oguri. Kami datang kemari untuk meminta bantuan Anda."
Mone kembali duduk. Dia sempat berdiri setelah mendengar pernyataan Kosuke tentang Anna.
"Tuan Yuki tidak tahu Anna menjebaknya dengan informasi palsu itu. Beliau mengatakan bahwa Anda lah yang sudah membunuh tuan Harada. Hal itu membuat kakak Anda marah dan tidak ingin melanjutkan kerjasama dengan tuan Yuki. Padahal di awal, kami berniat menjebak Anna dengan pura-pura berseteru seperti rencana yang dimilikinya."
"Kakak marah padanya karena hal itu?" Mone tidak yakin dengan apa yang Kosuke ungkapkan.
"Benar." Kosuke mengangguk. "Beliau tidak terima karena nama baik Anda tercoreng. Jelas-jelas Anda tidak melakukan apapun saat itu."
Mone memejamkan matanya. Dia tahu kakak angkatnya adalah seseorang yang temperamental. Dia mudah marah hanya karena hal-hal sepele. Dan sepertinya Yuki tidak benar-benar bersalah. Dia hanya tersesat karena Anna memberikannya pernyataan yang tidak tepat.
"Aku akan berbicara padanya nanti. Dimana dia sekarang?" Mone berhasil menguasai dirinya dan mengambil jalan tengah untuk menyelesaikan perseteruan Shun dan Yuki.
"Saya sudah bertanya pada nona Kaori. Tuan ada bersamanya sepanjang hari. Dia terus bungkam sejak kemarin siang. Itu cukup aneh dan membuat nona Kaori khawatir."
Mone mengangguk dua kali. Shun memang tinggal di rumah Kaori sejak mereka pulang dari Thailand.
Dan sebagai seorang adik yang hidup bersamanya selama bertahun-tahun, dia pernah melihat kemarahan kakak angkatnya itu. Dibandingkan membicarakan masalah yang ada, justru dia bungkam seribu bahasa dan membanting semua perlengkapan rumah yang ada di hadapannya. Tapi, entah bagaimana keadaannya sekarang. Mone tidak yakin jika Shun bisa menghilangkan kebiasaan buruknya untuk menghancurkan barang-barang.
"Masalah kakak, serahkan saja padaku. Dia hanya salah paham. Lagipula, emosinya tersulut karena hal kecil seperti itu. Nyatanya aku memang pembunuh. Kenapa dia harus marah?"
Yamaken terhenyak. Dia sedikit tersinggung dengan ucapan Mone barusan. Dengan gamblang dia mengakui bahwa dirinya adalah seorang pembunuh. Dan Mone mempertanyakan kenapa Shun marah dengan identitasnya itu.
Sejujurnya, Yamaken juga tidak percaya dan ingin marah. Bagaimana mungkin Mone bisa mengambil nyawa orang karena suatu kepentingan. Mereka memiliki keluarga, anak istri yang harus dibahagiakan. Kenapa Mone justru mengambil nyawanya? Bukankah itu artinya memberikan kesedihan untuk orang-orang di sekitar korbannya? Dimana hati nuraninya sebagai seorang wanita?
"Apa ada permasalahan lain?" tanya Mone, menatap kedua tamunya bergantian.
"Sepertinya tidak ada, Nona. Kami datang untuk memberitahu Anda tentang kemunculan Anna dan kesalahpahaman yang terjadi antara tuan Shun dan tuan Harada Yuki. Hanya itu saja."
"Aku tahu." Mone mengembuskan napas panjangnya. "Masalah kedatangan wanita itu, aku sudah bisa menerimanya. Dia tidak akan membuatku goyah. Jika kakek sudah menurunkan perintah untuk menghabisinya, aku akan melakukannya dengan senang hati."
Kosuke dan Minami mengangguk, sedangkan Yamaken sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun. Sejujurnya, dia ingin wanitanya ini berubah, melepaskan iblis yang menguasi dirinya. Tapi, dia tidak berhak melakukan hal itu. Hubungan mereka belum resmi, jadi Yamaken tidak memiliki kekuasaan untuk ikut campur pada apa yang akan Mone lakukan.
"Dan masalah kakak, aku akan berbicara padanya sore ini. Kebetulan aku belum mengambil oleh-oleh yang kakak ipar belikan untukku."
"Baiklah. Kami sangat berterima kasih untuk bantuan yang bersedia Nona berikan. Tuan Shun seseorang yang sulit untuk dihadapi. Selain tuan muda dan nona Aira, tidak ada orang lain yang bisa membujuknya. Kalaupun nona Kaori bersedia membantu, justru itu akan memperkeruh masalah. Tuan Shun akan semakin marah, menganggap nona Kaori berpihak pada mantan suaminya."
Mone mengangguk. "Aku tahu. Dia memang sensitif, tapi kalian tidak perlu khawatir. Aku yang akan menjelaskan duduk permasalahan ini."
"Kami sangat berharap Nona bisa meredam kemarahan tuan Shun agar kerjasama ini bisa dilanjutkan. Kita harus bermain tarik ulur dengan wanita licik sepertinya."
"Kalian tidak perlu sungkan. Jika ada permasalahan segera hubungi aku. Jangan mengganggu kak Aira dengan kakak ipar. Mungkin mereka sedang membuat adik untuk Aya."
Celotehan Mone membuat Minami tersenyum. Wanita hamil ini tidak habis pikir, kenapa Mone tiba-tiba mengatakan hal itu? Jelas-jelas kepergian Ken dan Aira adalah untuk menyembunyikan ketiga buah hatinya dari jangkauan tangan-tangan berbisa Anna. Bagaimana bisa hal itu berubah menjadi proses pembuatan anak keeempat mereka. Benar-benar ambigu.
"Baiklah. Kami harus segera kembali." Kosuke menatap jarum jam di pergelangan tangannya. Pembicaraan panjang lebar ini menyita waktunya cukup lama, sekitar 40 sampai 50 menit. "Terima kasih atas waktu Anda. Kami permisi. Selamat siang." Minami berpamitan di depan pintu, menundukkan kepala sejenak sebelum pergi.
Mone kembali ke dalam dan mendapati Yamaken masih terpaku di tempat duduknya.
"Mone-chan, mari kita berbicara."
* * *
Whoaaa, mau ngomong apa yaa Si Abang tamvan ini? Ada yang tau? Yuk tulis komentar kalian di bawah ini.
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1