Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Kembang Api Kecil di Siang Hari


__ADS_3

Matahari mulai naik sepenggalah saat Maria menyajikan semangkuk popcorn buatannya di atas meja. Senyum lebar terpatri di wajahnya yang mulai tampak menua.


"Anna, aku sudah menyiapkan popcorn kesukaanmu. Kamu sudah selesai menyiapkan pertunjukannya?" Suara Maria menggema, menyapa Anna yang masih berkutat di depan laptopnya.


"Tunggu sebentar, Bi. Aku akan segera keluar." Anna segera mencabut USB yang sedari tadi ia pasang dan membawa komputer jinjing itu ke ruang tengah. Raut wajahnya terlihat begitu bahagia, siap menyaksikan drama yang begitu luar biasa.


"Apa itu?" tanya Maria, memaku pandang pada rekaman kamera yang tampak di monitor. Terlihat kotak-kotak besi berbagai warna, berjejer rapi di pelabuhan.


"Apa yang kamu lakukan, Ann?" Kening wanita paruh baya itu berkerut dalam. Dia tidak tahu rencana nonanya ini.


"Ini hadiahku untuk Yuki. Dia tidak mau menuruti keinginanku, jadi terpaksa aku menyingkirkannya." Anna mulai mengambil wadah berisi popcorn di atas meja. "Hadiah untuk Kaori kita berikan nanti saja. Jika kekacauan di dermaga menyita perhatian suaminya, dia hanya akan tinggal seorang diri di rumah. Aku yakin itu akan semakin membuatnya depresi nantinya."


Bibi Maria mengangkat sebelah alisnya. Dia tidak menyangka Anna memiliki ide diluar dugaannya.


"Jelaskan padaku detailnya," pinta wanita yang kini berjalan menuju dapur, mengambil minuman dingin berwarna merah dan biru yang telah ia siapkan sebelumnya.


Anna tersenyum penuh arti. Tangannya sigap memasukkan satu per satu makanan olahan yang berbahan dasar jagung itu ke dalam mulutnya.


"Bibi pasti tahu 'kan kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan?" Anna menatap lawan bicaranya dengan pandangan serius.


"Ya. Apa hubungannya dengan Yuki?"


Anna mengunyah makanan di dalam mulutnya dan kemudian menelannya. Barulah ia membuka suara.


"Bibi lihat ini dulu." Anna mengarahkan layar laptop miliknya sedikit ke samping, membuat bibi Maria bisa melihatnya dengan jelas. "Bibi tahu apa ini?" pancing Anna kemudian.


"Hey!" Wanita berpakaian serba hitam itu mengerutkan kening. "Bahkan anak kecil berusia tiga tahun saja tahu itu crane untuk mengangkat barang."


Anna menggeleng sambil tersenyum. "Bukan itu maksudku, Bibi. Perhatikan detailnya."


Maria memperhatikan lebih jelas apa yang terlihat di layar. Pemandangan itu tidak ada yang terlihat spesial, hanya deretan peti kontainer yang berjejer di dermaga. Beberapa ditumpuk tiga atau empat ke atas sesuai pengaturan yang sudah ada.


"Crane ini memiliki 4 tiang penyangga utama yang berguna untuk menahan beban yang akan diangkatnya." Anna mulai menjelaskan rencana yang ada di dalam kepalanya. Jemarinya ikut bergerak, menunjuk layar bergantian dari kanan ke kiri, atas ke bawah.


"Aku yakin Bibi sudah tahu fungsinya, untuk mengangkat peti kontainer ini dari atau menuju kapal barang yang mengangkutnya."


"Aku tahu itu, Ann." Bibi Maria meraih tangan Anna, menggenggamnya dengan erat. Dia tidak sabar dengan penjelasan nonanya ini. Rasanya dia ingin langsung membuka tempurung kepala wanita di hadapannya saja agar tidak perlu terlalu lama untuk melihat rencana yang ia siapkan.


"Apa hubungannya crane pengangkat kontainer itu dengan rencana yang kamu buat itu? Apa gunanya mini drone khusus berbentuk lalat yang kamu siapkan belakangan ini?"


Anna menggeleng sambil tersenyum. "Bibi, kamu terlalu tidak sabar."


Maria mengerutkan kening, tidak tahu Anna akan menertawakannya.

__ADS_1


"Lihat ini, Bi." Anna menunjuk layar laptopnya, memperbesar tampilan yang ada.


"Itu..." Napas Maria tercekat di tenggorokan, kalimatnya terhenti seketika. Dia bisa melihat makhluk, ah lebih tepatnya benda robotik mini yang berbentuk lalat warna hijau dengan kepala hitam itu mulai mengelilingi salah satu peti kontainer warna hijau yang ada di sana.


"Bibi lihat saja." Anna menggeser kamera pengawas yang lain, dimana terlihat beberapa orang pria bermata sipit mendekat ke arah peti kontainer tadi. Diantara mereka tampak seseorang yang Maria kenali sebagai Harada Yuki.


"Dia ada di sana?"


Anna mengangguk, kembali memasukkan makanan favoritnya ke dalam mulut.


"Kita akan segera melihat pertunjukkan menarik," ucap Anna, mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, menunjukkan senyum iblis yang mengerikan.


"Periksa pasokan dayanya sekarang!" Suara Yuki tertangkap telinga Anna dan Maria.


"Kamu berhasil memodifikasinya?" tanya Maria. Binatang berbentuk lalat itu dilengkapi kamera dan penangkap suara, jadi mereka bisa mendengar dan melihat situasi yang ada di pelabuhan. Tadinya, drone mungil itu hanya menangkap gambar saja dan Anna berhasil membuat terobosan baru di bidangnya.


"Makanya bibi harus bersabar sebentar lagi. Pertunjukkannya hampir dimulai."


Maria menganggukkan kepalanya. Mau tak mau, dia harus menutup mulut dan menajamkan telinganya, bekerjasama dengan mata yang terus memandang ke arah layar di depan sana.


"Bukan hanya bisa menangkap suara yang ada di sana. Aku bisa mengendalikan alat berat di sekitarnya. Crane itu akan mati total sampai aku menon-aktifkan sensor yang ada."


"Eh?" Maria tidak menyangka dengan terobosan baru yang dilakukan oleh nonanya.


"Bagaimana bisa?" Maria semakin tidak percaya dengan kemampuan khusus lalat peliharaan nonanya.


"Semakin besar daya listrik yang berhasil diserap lalat-lalat pengganggu itu, semakin besar ledakan yang akan dihasilkan nantinya."


"Heih?"


"Show will begin. Enjoy it!" Anna mengangkat kedua kakinya ke atas sofa bed, duduk bersila di atas kursi empuk itu.


Kembali ke pelabuhan, seorang pria memberikan sebuah teropong untuk Yuki. "Ini, Tuan."


Yuki mengerutkan keningnya. Matanya segera terhalang oleh alat bantu yang membuatnya bisa melihat pemandangan di kajauhan. Seperti yang operator crane tadi katakan, hewan kecil ini mengeluarkan kerlap kerlip seperti kunang-kunang. Tapi bedanya, kerlipan itu berwarna merah, bukan kuning keemasan seperti serangga kecil yang sering terlihat di kejauhan.


"Lalat-lalat itu terlihat aneh, Tuan." Pria berkumis tadi melapor. Dia juga melihat ke atas sana dengan bantuan teropong di tangannya. "Mereka mulai berpindah, tak lagi mengelilingi peti kontainer yang ada, justru hinggap di crane yang mati barusan."


Yuki mencoba berpikir dengan kepala dingin. "Ini mustahil. Tidak ada kunang-kunang seperti itu. Dan lagi, ini masih terlalu pagi untuk mereka muncul. Setidaknya kunang-kunang muncul sore atau malam hari." Yuki berbicra dengan dirinya sendiri.


"Siapa yang sengaja membuat kekacauan di tempat ini? Apa masalahnya?"


Yuki kembali membuka memorinya. Dia melihat pameran robotik sepekan yang lalu. Disana ditampilkan ada seseorang misterius yang memamerkan karyanya. Itu drone terbaru yang berbentuk lalat mungil warna hijau berkepala hitam. Tapi, tidak ada kerlap kerlip lampu di sana.

__ADS_1


Dikatakan bahwa selain digunakan untuk mengintai sebuah tempat layaknya fungsi drone lainnya, benda mungil berukuran kecil itu bisa meledak jika mendapat pasokan daya listrik besar dari tempat di sekitarnya. Dengan kata lain, drone khusus berbentuk lalat itu menyerap daya dari alat-alat elektronik yang menempel padanya dan akan meledak jika sudah kelebihan daya.


Drrtt drrtt


Getaran di saku bajunya membuat perhatian Yuki sedikit teralihkan. Dia melihat sebuah pesan masuk ke ponsel pintarnya.


"Aku mengirimkan hadiah untukmu. Itu hanya kembang api kecil di siang hari. Selamat menikmatinya, Tuan."


Seketika kedua netra sipit Yuki membola. Meski itu nomor yang tak dikenalnya, tapi dia tahu jelas siapa pengirimnya. Dan kembang api kecil di siang hari yang orang itu katakan pastilah robot atau drone mungil berbentuk lalat itu.


Kenyataannya, crane berdaya listrik tinggi itu mati seketika tanpa sebab yang jelas. Tidak mungkin pelabuhan kekurangan stok daya listrik, 'kan? Itu artinya, lalat-lalat pengganggu itu sudah menyabotase alat pengangkut super besar itu.


"Semuanya menjauh dari tempat ini!" teriak Yuki, mengamati keadaan sekitarnya. Tidak ada waktu lagi. Dikatakan bahwa lalat itu akan meledak dalam hitungan satu menit setelah mengisi daya tegangan tinggi. Dan sekarang sudah berlalu beberapa detik. Itu artinya, tersisa setengah menit untuk menyelamatkan diri dan orang-orang di sekitar sini.


Yuki mundur beberapa langkah. "Matikan semua daya listrik yang ada di tempat ini. SEKARANG!!" teriaknya sambil berlari. Dia mencoba menggapai panel listrik yang berjarak dua ratus meter dari tempatnya sekarang berada.


"Apa yang terjadi?"


"Kenapa tuan Harada panik?"


Orang-orang yang tidak tahu apa yang terjadi, hanya bisa saling pandang. Mereka heran dengan sikap Yuki yang terlhat begitu panik padahal tidak ada yang aneh selain lalat-lalat di atas sana. Lagipula itu hanya lalat, pikir mereka.


"SEMUANYA CEPAT PERGI DARI TEMPAT INI!!" Yuki terus memberikan perintah sambil membuka tutup panel dengan paksa. Dia memegang ponselnya, berniat menghubungi petugas pelabuhan, memintanya mematikan seluruh listrik yang ada di tempat ini sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas yang bertanggung jawab mengurus pasokan daya listrik di pelabuhan ini. Dia menjawab panggilan Yuki di dering ketiga.


"Matikan seluruh daya listrik yang ada!" titah Yuki, menekan tombol off di dalam panel listrik yang ada dalam penguasaannya.


"Maaf?" Suara Yuki tidak terlalu jelas, terdengar putus-putus karena pria itu berkata dengan napas yang tersengal.


"MATIKAN DAYA LISTRIK PUSAT. SEKARANG!"


Pria yang kini berdiri di depan deretan panel itu tertegun. Dia baru saja memeriksa area 36 yang dilaporkan oleh bawahan Yuki beberapa menit yang lalu. Mereka mengatakan bahwa salah satu crane tidak bisa digunakan karena kekurangan daya. Dia baru saja berniat menambah daya yang ada. Kenapa sekarang justru diminta untuk dimatikan? Apa yang terjadi sebenarnya?


"Apa kamu mendengarku?!" Suara Yuki terdengar penuh tekanan di setiap suku katanya. "MATIKAN SEKARANG!!!"


* * *


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bisakah Yuki menyelamatkan diri dari rencana peledakan yang Anna siapkan? Bagaimana caranya menghadapi situasi ini?


Nantikan di bab berikutnya. Mata ashita ne,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2