
Seseorang mengintai Kosuke dan Minami dari balkon lantai 2 rumah sakit. Minami berbalik dan tidak sengaja memergokinya. Ia berlari mengejarnya sampai ke koridor belakang rumah sakit yang sepi.
"YAMETE !!" perintah Minami pada wanita berkulit putih beberapa meter di depannya.
(STOP !!)
Wanita itu berhenti dan berbalik menatap Minami sambil mengacungkan pistol yang bersiap memuntahkan pelurunya.
"Selamat tinggal, Minami-chan.."
DOR
Pistol wanita itu jatuh beberapa langkah dari kakinya. Ia membulatkan matanya melihat tangannya sendiri yang berlumuran darah sementara Minami baik-baik saja tanpa luka sedikitpun.
"Sudah puas bermain-main, Yamada Kaori-san?" tanya Ken sambil menatap tajam wanita yang berdiri di depannya. Sebuah pistol terpaut dalam genggaman tangan di sisi kanan badannya.
"Jadi, ini perangkap?" tanya Kaori dengan mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak menyangka akan tertangkap secepat ini. Tadinya ia pikir Ken tidak menyadari kehadirannya.
"Berikan penawar untuk Aira dan mungkin aku akan melepaskanmu." ucap Ken sembari menyimpan pistolnya kembali ke dalam saku jas hitamnya.
"Mungkin? Hahaha..." Kaori mengabaikan rasa sakit di tangannya, mendekati Ken dengan langkahnya yang mulai sedikit goyah, "Kamu tidak akan bisa membunuhku."
"Racun yang membuat istriku kehilangan indera perasanya, membuat luka di punggungnya kembali meradang dan obat bius yang kamu berikan kemarin, tidakkah itu cukup menjadi alasan yang kuat untuk membunuhmu?" tatapan tajam Ken mengunci wanita yang pernah menolong Aira saat berada di penthouse Yoshiro beberapa bulan yang lalu itu.
__ADS_1
"Kamu tidak akan membunuhku." jawab dokter Kaori sambil membalut tangannya yang terluka dengan kain segitiga yang ia ambil dari sakunya, membuat kain putih itu seketika berubah menjadi merah oleh darah. Ini bukan apa-apa, dia sudah terlatih dan pernah mengalami luka yang lebih parah. Ia berkecimpung di dunia yakuza ini selama sepuluh tahun terakhir, dibawah perlindungan Shun Oguri.
"Siapa bilang aku tidak akan?" Ken mencekik leher Kaori dengan emosi, membuat kakinya tak lagi menapak di tanah. Seketika wajah putih itu memucat karena pasokan oksigen menuju kepalanya terhambat oleh cengkeraman Ken di lehernya. Selain itu ia juga kehilangan darah akibat luka tembak di tangannya.
"Uhukk uhukk..." Kaori berusaha melepas tangan Ken dari lehernya, menyelamatkan nyawanya dari malaikat maut yang kini mengintainya. Hal itu membuat kemeja putih Ken terkena darah dari tangan Kaori.
"Berikan obat penawar untuk istriku!" geram Ken dengan menggertakkan giginya. Ia semakin memperkuat cengkeraman tangannya di leher Kaori. Urat lehernya tampak menonjol, menunjukkan ia benar-benar emosi dan siap menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Ia bisa melakukan apa saja demi istrinya, termasuk membunuh dokter wanita yang sekarang ada di tangannya.
Seorang wanita berbaju hitam berlari menghampiri Minami dan membisikkan sesuatu, membuat netranya membulat. Ia mengangguk sekali menunjukkan bahwa ia memahami informasi yang baru saja di dengarnya.
"Tuan muda, kondisi nona kembali memburuk." lapor Minami setelah berdiri dua langkah di belakang Ken.
Brukk
Panggilan dua arah tuannya berakhir saat seorang dokter keluar dari ruangan berwarna hijau itu. Kosuke mengikuti Ken menuju ruang dokter untuk mendengar penjelasan tentang kondisi Aira saat ini. Ken bahkan tidak sempat membersihkan diri karena begitu khawatir akan istrinya. Padahal biasanya ia sangat menjaga kebersihan dirinya.
Keduanya memasuki sebuah ruangan 4x6 m yang ada di ujung koridor. Tampak dua buah rak dinding berwarna coklat yang terlihat kontras dengan dinding bercat abu muda. Sebuah komputer bertengger di tengah meja, bersanding dengan telepon dan printer berwarna hitam di sebelahnya. Ken duduk di depan meja kayu berwarna krem, sedangkan Kosuke setia berdiri di sisinya. Dokter itu menghadap komputer yang menampilkan laporan tentang kondisi Aira saat ini.
"Berdasarkan jenis bisanya, venom atau bisa ular dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu neurotoksin, hemotoksin, kardiotoksin dan sitotoksin. Neurotoksin adalah jenis bisa yang menyerang saraf, sedangkan hemotoksin akan menyerang darah. Selain itu masih ada kardiotoksin dan sitotoksin yang menyerang jantung dan sel dalam tubuh." dokter berkacamata itu menjelaskan sambil menunjukkan hasil uji laboratorium milik Aira.
"Pada umumnya, kami akan memberikan terapi antibiotika dan pencegahan tetanus sesuai dengan indikasi. Namun pada kasus yang lebih berat seperti istri Anda, harus diberikan anti venom yang tepat. Sayangnya hal itu terlalu berbahaya karena nyonya Khumaira dalam kondisi hamil dan venom itu sudah masuk ke jaringan tubuh istri Anda, menyerang saraf dan melemahkan jantungnya."
__ADS_1
Ken mengurut pelipisnya mendengar penjelasan dokter di depannya. Ia tidak menyangka kondisi Aira akan separah itu. Obat bius yang Kaori suntikkan pada Aira kemarin berhasil mengaktifkan kembali bisa ular yang masih tersisa dalam tubuh mungilnya.
"Di Indonesia, antivenom yang tersedia adalah serum anti bisa ular (SABU) polivalen yang mengandung bisa dari 3 jenis ular dengan sedia anampul 5 mL. Cara pemberian SABU menurut rekomendasi WHO ada dua cara yaitu dengan injeksi “push” intravena yaitu memberikan antivenom cair dengan injeksi intravena lambat tidak lebih dari 2 ml/menit. Cara kedua adalah melalui infusi intravena dengan cara melarutkan antivenom cair dalam 5 ml cairan isotonik per kg berat badan dan diinfuskan pada tingkat konstan selama sekitar 30-60 menit. Namun kami belum bisa memberikannya tanpa persetujuan pihak keluarga atau wali. Efek obat itu mungkin akan berimbas pada janin yang ada di dalam rahim pasien." jelas dokter dengan wajah lelah. Kasus Aira begitu kompleks dan harus sangat berhati-hati, atau nyawa ibu dan bayinya akan terancam.
"Aku akan membawanya kembali ke Jepang. Terima kasih atas perawatan yang Anda berikan." Ken menunduk takzim, memberikan apresiasinya pada pria beruban di depannya. Ia tahu betul para dokter bergerak cepat menolong Aira, namun tenaga medis dan obat di negara asalnya lebih memadai dibandingkan di Indonesia. Jadi ia memutuskan akan membawa Aira ke Jepang demi keselamatannya. Selain itu, ia masih harus menyelesaikan urusan dengan orang yang merancang semua ini, Shun Oguri.
"Kosuke, urus semua yang diperlukan. Kita kembali siang ini!" perintah Ken setelah keduanya berjalan di koridor yang sepi.
"Baik." Kosuke undur diri, ia meraih gadget di sakunya. Sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk tuan dan nyonya Yamazaki.
Ken memasuki ruangan perawatan Aira setelah memakai setelan hijau steril dan membersihkan tubuhnya. Ia bahkan harus memakai sarung tangan dan masker muka agar tidak membawa bakteri lain yang mungkin bisa membuat kondisi Aira semakin memburuk.
"Bertahanlah istriku..." bisik Ken setelah menciumi wajah istrinya dengan mata berkaca-kaca.
*******
Happy reading gaess. Author lagi ngga mood bikin curahan pribadi, lagi sebel sama netijen di kehidupan nyata. See you next day,
Jaa...
With love,
Hanazawa easzy ♡
__ADS_1