Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Bisikan Semesta


__ADS_3

Kakek Yamazaki berhasil mencium pergerakan Anna yang berusaha mengadu domba Yuki dengan Shun. Meski itu bukan urusannya, namun diakui bahwa pasti akan ada efek domino yang mungkin berimbas pada orang-orang di sekitarnya.


Pengalamannya puluhan tahun berkecimpung di dunia yakuza, membuat kakek tak merasa heran atas kemunculan wanita yang dianggap sudah meninggal itu. Kakek Yamazaki tidak akan percaya bahwa musuhnya sudah mati jika dia tidak menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri jasadnya dimusnahkan.


Bahkan dalam beberapa kasus, jasad seseorang bisa saja dipalsukan. Dalam catatan sipil tercatat bahwa seseorang telah meninggal, namun nyatanya dia masih sehat wal afiat. Orang-orang seperti itu seringkali berada di tempat lain yang tak terjamah pihak berwajib ataupun orang-orang yang bermusuhan dengannya.


"Perketat penjagaan, termasuk calon cucu menantu kesayanganku. Kirimkan tiga pengawal bayangan untuk menjaganya. Pasti wanita itu akan menargetkan gadis mungil itu. Kita lihat apa yang akan dia lakukan."


Titah kakek Yamazaki mendapat anggukan dari tuan Kobayashi. Dia tidak perlu bertanya tentang keputusan pria 77 tahun ini. Apapun yang dia putuskan pastilah sudah dipikirkan jauh-jauh. Katakanlah pria ini memiliki sepuluh kali kapasitas manusia pada umumnya, baik itu dalam hal otaknya saat berpikir, maupun siasat yang ia miliki untuk


menaklukkan musuh. Kesemuanya seringkali di luar nalar tuan Kobayashi.


"Apa tuan muda harus tahu tentang hal ini?" Tuan Kobayashi meminta pendapat kakek, apakah harus memberitahu Ken tentang kemunculan Anna atau tidak.


"Biarkan saja. Selama belum ada pergerakan berarti, dia bukan ancaman sama sekali."


Kakek menundukkan wajahnya yang sedari tadi menghadap langit senja. "Akan lebih baik jika mereka tidak mengetahuinya sama sekali."


Tampak ada raut wajah sedih yang pria tua ini tunjukkan. Dalam hatinya, dia tidak ingin melibatkan Ken maupun Aira. Dia menginginkan pasutri muda itu fokus mengurus buah hati mereka, Akari, Ayame, dan Azami.


"Atur keberangkatan Ken dan Aira ke Indonesia sebelum Anna mendekati mereka."


Tuan Kobayashi terhenyak di tempatnya berdiri. Lagi-lagi dia tidak mengerti keputusan tuannya. Pertama, memintanya membuat janji temu dengan Anna. Kedua, menugaskan para pengawal bayangan untuk melindungi Mone, padahal hubungan mereka tidak terlalu dekat. Ketiga, kakek Yamazaki ingin menyembunyikan ini dari Ken, cucu kesayangan yang selalu dia andalkan. Bahkan, pria ini mengatur agar Ken dan Aira dikirim ke Indonesia.


"Tuan?" Tuan Kobayashi berniat mempertanyakan keputusan terakhir yang tuannya titahkan. Dia benar-benar tidak bisa menghubungkan perintah itu dengan kenyataan yang ada.


Kepergian Ken ke Indonesia, itu artinya kakek siap menghandle segala urusan yang selama ini dipegang oleh Ken. Dan yang membuatnya semakin khawatir adalah, raut wajah khawatir yang sempat kakek tunjukkan. Itu sangat jarang terjadi.


"Bolehkah saya tahu alasannya?" Kobayashi memberanikan diri. "Bagaimanapun juga, saya harus mempersiapkan segalanya. Izinkan saya mengetahui sedikit rencana yang Anda pikirkan. Dengan begitu, saya bisa melakukan yang terbaik untuk tuan muda dan keluarga kecilnya."


Kakek kembali menengadahkan kepala, menatap mega di atas sana yang perlahan berubah menghitam. Ada beban berat yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Tuan?" Tuan Kobayashi kembali bersuara.


"Apa kamu meragukan keputusanku?"


Pertanyaan kakek yang tajam dan menukik, berhasil membuat Kobayashi menelan salivanya dengan paksa. Dia sudah melewati batas. Tidak seharusnya dia meragukan keputusan ahli pedang ini.


"Maafkan saya." Pria itu menunduk dalam, memastikan bahwa dia menunjukkan rasa bersalahnya.


"Ketiga bayi itu adalah kelemahan Kenzo dan Khumaira. Anna mungkin saja menargetkan salah satu dari mereka." Akhirnya kakek mau bersuara, menyatakan kekhawatian yang sedari tadi ia pendam dalam hati.


"Kebanggaan terbesarmu, adalah kelemahan paling fatal yang kamu miliki. Itu akan menjadi bencana besar untuk pertahananmu."


Tuan Kobayashi terbelalak. Apa yang tuannya katakan ini benar adanya. Dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika salah satu dari baby triplet itu berada dalam bahaya. Bukan hanya Ken yang akan menggila, bahkan Aira juga pasti melakukan hal yang sama. Itu artinya, akan ada dua monster yang murka. Dan kakek tidak akan


membiarkan hal itu terjadi.


"Saat Ken murka, maka ada Aira maupun ibunya yang bisa meredamnya. Namun, bagaimana jika Aira yang bertindak? Bisa dipastikan bahwa wanita itu akan memusnahkan semua yang behubungan dangan kejadian itu. Libas habis. Tak ada sisa lagi. Sama sekali tak terkendali."


"Lebih baik kehilangan ribuan atau jutaaan Yen untuk membereskan wanita itu dibandingkan dengan membahayakan nyawa orang-orangku."


Kakek memberikan sebuah kartu nama pada tangan kanannya ini. "Hubungi dia. Aira tidak bisa menolak permintaannya."


Tuan Kobayashi menatap dengan seksama kertas kecil itu. Tampak satu nama yang cukup asing oleh matanya, nama khas orang-orang Indonesia. Entah apa yang akan terjadi nanti, tuan Kobayashi sendiri masih meraba-raba.


"Tuan, bagaimana dengan tuan muda Yamazaki Kenzo? Dia pasti akan curiga jika tiba-tiba Anda mengirimnya menjauh."


Kakek tersenyum mendapati keraguan yang melanda pria yang sangat ia percaya ini. Ini memang keputusan yang tidak biasa, kakek juga menyadari hal itu.

__ADS_1


"Ada seribu jalan untuk memusnahkan musuh, maka ada seratus ribu jalan untuk menyelamatkan orang-orang yang kamu sayangi. Apapun yang akan kamu lakukan, aku percaya. Bahkan menghancurkan perusahaan di Indonesia itu juga tidak masalah, asalkan Ken dan Aira pergi dari sini."


Glek


Tuan Kobayashi kembali meneguk ludahnya. Dia merasa ngeri setelah melihat senyum yang tuannya tunjukkan. Agaknya perkataan Ken memang tepat saat itu. Orang yang tersenyum, lebih berbahaya dari mereka yang menghunuskan pisau di depan wajah. Mengerikan.


"Besok pagi, undang Kamishiraishi kemari. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya."


Perintah kakek Yamazaki membuat tuan Kobayashi teringat akan sesuatu. Dia hampir saja melupakannya.


"Tuan muda kedua dan nona Kamishiraishi memang berniat kemari. Saya menerima telepon dari mereka siang ini. Maaf atas kelalaian saya." Pria lanjut usia ini menundukkan kepala. Dia merasa sudah abai akan tugasnya, menyampaikan permintaan izin dari Yamaken dan Mone untuk datang.


Kakek berbalik. "Apa mereka bertengkar? Atau ingin segera menikah?" tebaknya.


"Saya tidak bertanya lebih lanjut. Nona Kamishiraishi hanya mengatakan bahwa mereka akan datang kemari untuk berbicara dengan Anda."


Raut wajah kakek kembali datar. Senyum di wajahnya menghilang seketika. Bagi orang-orang yang tidak mengenal tabiatnya dengan baik, pasti akan menganggap pria tua ini marah. Namun sebaliknya. Saat kakek menampilkan wajah datar tanpa ekspresi, justru itu tergolong 'aman'. Dan saat dia tersenyum, maka bersiaplah akan bencana besar yang mungkin terjadi.


"Siapkan area berkuda. Sudah lama tidak bermain dengan mereka."


"Baik." Tuan Kobayashi menundukkan kepalanya sebelum undur diri. Percakapan mereka berhenti sampai di sini. Dia segera meninggalkan ruangan favorit kakek Yamazaki, yakni gudang katana miliknya.


Kakek menatap katana yang pernah ia lemparkan pada Aira saat cucu menantunya itu baru datang. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba dirasakannya.


"Khumaira-chan, seberapa hebat anak-anakmu kelak? Aku menantikannya."


Deg!


Aira menghentikan langkahnya. Hatinya seolah berhenti satu detakan sedetik yang lalu. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba dia rasakan. Hawa dingin segera menyelimuti tengkuk wanita 26 tahun ini, membuat bulu romanya meremang.


"Ada apa?" tanya Kenzo yang kini tengah melepaskan kemeja yang dipakainya. Dia menyimpan pakaian kotor itu dalam keranjang cucian. Ayah tiga anak ini baru saja pulang dari pertemuan bisnis dengan seorang klien.


Grep!


"Ai-chan?!" Ken mengalungkan sebelah tangannya di depan leher Sang Istri, sementara tangan yang lain menahan pinggang ramping kekasih hatinya ini. "Ada apa, hmm?"


Aira segera menguasai dirinya, menetralkan perasaan tidak jelas yang sempat ia rasakan sebelumnya. Tangannya segera meraih wajah Ken yang persis ada di samping kepalanya. Ya, pria itu meletakkan dagunya di atas pundak Aira, tak menyisakan jarak sedikitpun dengannya.


"Kenapa kamu tiba-tiba berhenti? Apa ada masalah? Atau kamu sakit?"


Aira berusaha tersenyum. Dia sendiri tidak tahu kenapa kakinya berhenti melangkah beberapa detik yang lalu, seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Ai-chan?" panggilan Ken kembali menyapa indera pendengaran wanita ini. Tak hanya itu, Ken bahkan menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya, setelah menyingkirkan helai rambut yang ada di sana.


"Aku merindukanmu." Bisikan Ken membuat desiran halus segera Aira rasakan. Belum lagi napas hangat pria ini yang menerpa kulit lehernya yang sensitif.


"Apa kamu juga merindukanku sampai tidak ingin pergi jauh dariku?" Ken semakin menunjukkan sisi agresifnya, ingin menguasai istrinya, mendapatkan keuntungan darinya sebanyak mungkin.


Aira tak menjawab. Tubuhnya yang tadi tegang, kini sedikit melunak. Dia merasakan kasih sayang luar biasa yang pria ini tujukan padanya. Ketakutan yang tadi menyerangnya, kini sedikit berkurang.


"Aku merasakan firasat buruk," gumam Aira, membuat gerakan seduktif suaminya terhenti.


Ken membalikkan tubuh mungil istrinya, menatap netranya dalam-dalam. "Ada apa?"


Aira mengembuskan napas beratnya. "Entahlah. Tiba-tiba saja aku meraskan hawa dingin di belakang punggungku."


"Hawa dingin?" tanya Ken memastikan.


"Umm. Seperti ada rencana besar yang cukup berbahaya." Aira menggigit bibir bawahnya. "Instingku tidak pernah salah. Pasti ada sesuatu."

__ADS_1


Ken mengerutkan keningnya. Dia tahu kemampuan istrinya sebagai seorang agen khusus di masanya. Bahkan semesta seolah berkawan dengannya, membisikkan hal gaib yang tidak bisa didengarkan oleh sembarang orang.


Angin dingin yang Aira rasakan, membawa peringatan bahwa dia harus waspada dan lebih hati-hati. Bersiap akan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Bahkan feeling Ken saja tidak setajam itu.


"Aku takut ... "


Cup


Ken mencium bibir istrinya detik itu juga, membuat kalimat wanita itu tertahan. Aira mencengkeram lengan suaminya yang shirtless, membuat kulit mereka tak berpenghalang.


"Jangan katakan apapun. Aku tidak ingin mendengarnya!" titah Ken penuh dengan nada tegas dan otoriter. Dia tidak ingin membiarkan Aira semakin ketakutan dengan pemikirannya sendiri. Dan satu-satunya cara adalah dengan mengalihkan perhatiannya seperti sekarang.


Cup


Cup


Cup


Tak hanya bibir yang menjadi pusat perhatian Ken, melainkan hidung, mata, alis kening, pipi, dan kembali menikmati bibir tipis itu lagi. Dia benar-benar mendominasi istrinya, tidak ingin melewatkan seinchi pun wajah bulat tembamnya ini. Sungguh posesif sekali, sama persis seperti serigala liar yang tengah menandai wilayah teritorialnya. Luar biasa.


"Ken?!" Aira mendorong dada suaminya, tidak ingin terlibat lebih jauh lagi. Jika dia tidak menghentikan suaminya di sini, maka akan bahaya.


"Hmm?" Ken menatap Aira dengan sorot mata berkilat. Dia 'lapar', Aira tahu itu.


"Datang bulanku belum selesai. Gomen ne," ucap Aira, merasa bersalah tak bisa memenuhi keinginan suaminya.


'Shit!' umpat Ken dalam hati. Dia harus meredam keinginannya lagi untuk menguasai Aira.


Sruk sruk


Ken berusaha menenangkan hatinya. Dia mengelus puncak kepala Aira dengan sayang.


"Tolong siapkan pakaian untukku. Aku akan mandi."


Cup


Pria itu mencium pipi istrinya sekilas, sebelum melangkah menuju kamar mandi yang ada di salah satu sisi kamar ini. Dia harus bersikap sebaik mungkin pada istrinya, tidak boleh membebannya. Itu yang Ken tekankan pada dirinya sendiri.


Aira mengembuskan napas beratnya lagi. Dia merasa bersalah pada Ken, tapi juga tidak ingin melanggar ketentuan yang ada. Dia bisa memuaskan suaminya lain waktu, itu janjinya.


Gemericik air segera terdengar dari dalam kamar mandi, menandakan bahwa Ken sudah mulai membersihkan dirinya. Aira segera melangkah menuju lemari besar yang ada di sebelah kiri ruangan ini. Dengan cekatan dia menyiapkan pakaian santai untuk suaminya.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu diketuk, membuat Aira menghentikan aktivitasnya memilih pakaian.


"Ada apa?" tanya ibu tiga anak ini saat sudah berhadapan dengan salah satu asisten rumah tangga yang ibu mertuanya pilihkan.


"Ada tamu untuk tuan. Dia menunggu di bawah."


Deg!


Ada perasaan aneh yang Aira rasakan. Tidak banyak orang yang tahu kediaman barunya dengan Ken ini. Siapa yang datang kemari?


* * *


Dag dig dug. Siapa yang dateng ya? See you next episode. Jaa,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2