
Ken menyadari kesalahannya yang berharap Aira mengaku bahwa wanita itu mencintainya. Padahal jelas-jelas ia yang paling tahu seberapa banyak luka dan air mata yang harus Aira lalui sejak mereka bersama, lebih tepatnya sejak Ken memaksa Aira membersamainya.
Jika Ken tidak mengancam Aira dengan keselamatan kedua orang tuanya, bisa dipastikan wanita itu tidak akan setuju menikah dengannya. Pernikahan seharusnya bukanlah sesuatu yang terjadi karena paksaan, tapi itulah yang mengawali hubungan Ken dan Aira.
"Apapun yang terjadi, ingatlah ada aku yang selalu mendukungmu," ucap Ken sembari mencium puncak kepala istrinya.
"Maaf..."
Keduanya larut dalam perasaan satu sama lain. Ken yang merasa bersalah karena tidak mengerti keadaan istrinya, dan Aira yang merasa tidak pantas karena belum bisa tulus menyayangi suaminya ini.
"Ai-chan," Ken menangkup pipi istrinya dan menatap wajahnya dengan intens, "Kamu tahu dengan jelas sifatku. Aku egois dan pemaksa. Meskipun kamu belum bisa mencintaiku, aku akan tetap menahanmu di sisiku. Kamu tidak akan bisa pergi dariku," ungkap Ken ambisius.
"Aku tidak akan pergi selama kamu tidak melepaskan tanganku," ucap Aira dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu pada ketulusan Ken.
Meski kalimat yang Ken ucapkan terkesan memaksa, tapi dalam hatinya ia benar-benar mencintai Aira dengan tulus. Tidak ada lagi ruang di hatinya untuk orang lain, Aira adalah satu-satunya. Ia rela berkorban segalanya demi wanita kesayangannya itu, bahkan nyawanya sekalipun, ia juga bersedia memberikannya jika Aira yang memintanya.
"Ah, sepertinya ada banyak debu di sini sampai membuat matamu berair," gurau Ken sembari menghapus bulir air mata yang membasahi pipi istrinya, "Ayo pergi ke luar."
Candaan Ken berhasil membuat wanita hamil itu tersenyum. Ia mengambilkan kursi roda yang ada di pojok ruangan. Ya, kaki kanan Ken yang patah membuatnya tak bisa berjalan sendiri.
Aira membantu suamunta dengan susah payah. Perbedaan fisik keduanya cukup signifikan membuat tubuh Aira tenggelam saat berusaha menyangga suaminya. Ken harus sedikit membungkuk agar ketiaknya tepat berada di pundak istrinya. Ia hampir jatuh terjerembap saat menapakkan sebelah kakinya di lantai.
"Aku akan meminta Shun atau Yoshiro untuk meracik obat khusus untukmu," ucap Ken dengan nafas terengah-engah.
"Obat apa?" tanya Aira. Ia merasa tidak ada yang bermasalah dengan kesehatannya saat ini. Jelas-jelas Ken yang terluka.
"Obat peninggi badan. Hahaha.."
Jawaban Ken membuat Aira cemberut. Ini bukan pertama kalinya Ken melakukan body shaming padanya. Dulu sebelum mereka menikah, saat di depan ayah dan ibu, Ken juga mengatai tubuhnya yang terlalu kecil.
*body shaming merupakan tindakan mengejek atau menghina dengan mengomentari fisik (bentuk maupun ukuran tubuh) dan penampilan seseorang baik secara langsung atau tidak langsung.
__ADS_1
"Ayo," ajak Ken.
Hening
Aira mendengus dan memilih memainkan ponselnya setelah duduk di ranjang yang Ken tinggalkan. Ia pura-pura marah karena Ken lagi-lagi mencemooh keadaan fisiknya.
"Ai-chan..."
Aira tetap diam di tempatnya, tidak peduli pada panggilan suaminya. Ia ingin melihat Ken meminta maaf padanya dan menarik kata-katanya. Untuk seorang pria, pasti sulit rasanya menelan ego mereka dan merendahkan diri demi sebuah kata maaf.
"Ada apa?" tanya Ken karena Aira tidak merespon panggilannya.
"Aku akan panggil perawat untuk mengantarmu ke luar. Seseorang yang tidak akan kesulitan saat harus memapahmu," sindir Aira sembari beranjak pergi.
"Eh?" Ken tidak tahu apa yang dikatakan istrinya.
Tak lama kemudian Aira kembali ke ruangan itu dengan seorang perawat wanita yang tampak seperti seorang model. Tingginya di atas 170 cm, membuatnya Aira terlihat lebih kecil.
"Pergilah! Tinggi kalian hampir sama, jadi kamu tidak perlu menunduk. Terlebih lagi, kamu tidak akan jatuh terjerembap jika dia yang memapahmu!" usir Aira sembari mendudukkan diri di atas sofa. Ia mengalihkan pandangannya dari Ken, enggan bersitatap dengan pria 28 tahun itu. Barulah Ken menyadari istrinya sedang marah perihal obat peninggi badan tadi.
Aira tetap diam membuat Ken mendekat ke arah istrinya. Ia mengulurkan tangannya, meraih jemari Aira dan menciumnya.
"Apa kamu lupa dengan janjimu? Kamu tidak akan meninggalkanku kan?" tanya Ken dengan ekspresi memelas, "Meskipun kamu tidak mencintaiku, aku akan tetap ada di sekitarmu. Menatapmu sepanjang malam hingga pagi menjelang, memakan masakanmu yang terkadang keasinan, memijit kakimu meski aku sendiri kelelahan, mengajakmu bermain salju bersama anak-anak, menangkap ikan koi saat festival musim panas, bahkan menyisir rambutmu yang mulai memutih. Aku akan melakukannya, tidak peduli kamu menyukainya atau tidak. Aku akan menahanmu di sisiku sampai tanganku tak sanggup lagi menggenggam jemarimu."
"Ish," desis bibir Aira lirih. Ia tidak bisa menyangkal pernyataan suaminya. Meskipun terdengar tidak mengenakkan di awal, tapi Ken menunjukkan kesungguhannya dimana ia tidak akan berpisah dengan Aira hingga ajal menjemputnya. Kata-kata tersirat itu berhasil meluluhkan pendirian Aira yang berniat tidak mempedulikan ayah dari anak-anaknya ini.
"Sayang, ayo kita pergi ke luar," bujuk Ken sambil memamerkan senyum terbaiknya.
"Aku sedang marah!" cetus Aira pada akhirnya. Ia tidak bisa membuat Ken meminta maaf dengan sendirinya, maka ia yang harus memaksanya. Ia masih harus pura-pura marah agar misinya berhasil.
"Aku tahu. Tapi, mana ada wanita marah yang mengaku kalau ia sedang marah?" sindir Ken. Ia mencubit pipi istrinya yang berhasil membuat Aira menatapnya.
__ADS_1
"Singkirkan tanganmu!" Aira menarik tangan Ken dengan paksa.
"Jangan marah. Kamu terlihat begitu menggemaskan. Aku jadi ingin menciummu sekarang," godaan Ken masih berlanjut.
"Haish... Kenapa tidak minta maaf? Bukankah saat seseorang melakukan kesalahan, ia harusnya minta maaf?" tuntut Aira. Ia kesal karena Ken tidak peka. Ia hanya ingin mendengar Ken meminta maaf padanya. Itu saja.
"Aku tidak bersalah," elak Ken. Ia sengaja mempermainkan istrinya, membuatnya marah dan pipinya memerah. Ya, Ken sangat menantikan kemarahan istrinya dan ia akan benar-benar menciumnya langsung.
"Kamu?!" Aira mengeratkan rahangnya, "Huh!"
Dengan menahan gondok, Aira mendorong kursi roda Ken keluar. Meski sempat sedikit adu mulut, akhirnya sepasang muda mudi itu sampai di sebuah tempat mirip gazebo dengan tumbuhan rambat di sekelilingnya. Aira duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari besi, sementara Ken di sampingnya.
*Gazebo secara umum adalah bangunan dengan ruang-ruang terbuka sebagai alternatif tempat berkumpul dan melakukan kegiatan santai bersama anggota keluarga lainnya, banyak juga yang menyebut saung karena digunakan untuk tempat santai.
Dari sana tampak halaman utama rumah sakit yang luas kini berwarna putih seluruhnya akibat butiran salju yang turun tanpa henti sejak semalam. Kristal es halus itu bahkan menyembunyikan papan nama rumah sakit yang cukup besar, menyisakan beberapa huruf saja yang terlihat.
Ken menggangguk-anggukkan kepalanya sambil mendengarkan lagu yang terdengar dari earphone. Gerakannya senada dengan ritme musik gubahan salah satu band terkenal di Jepang. Ia bahkan memainkan jemari Aira, seolah itu adalah tuts piano atau semacamnya.
*earphone adalah perangkat audio yang dipasang di telinga, berbentuk mungil digunakan untuk memusatkan suara dari ponsel atau peranti elektronik lainnya.
"Sudah?" tanya Aira begitu Ken melepas benda kecil berwarna hitam yang sebelumnya menjejal lubang telinga suaminya.
"Um," jawabnya, "Istriku tidak lagi marah. Membosankan." ucap Ken malas.
"Kakak ipar, kamu masih hidup?" tanya Mone yang tiba-tiba berdiri di depan Ken dan Aira sambil berkacak pinggang.
'Setan kecil ini...' geram Ken dalam hati. Ia malas berurusan dengan gadis satu ini. Kedatangannya selalu membuat Ken harus berebut Aira. Dan seringkali Ken yang kalah, atau ia mengalah atas permintaan istrinya.
Mone mengerlingkan sebelah matanya pada Aira, ia datang untuk mengganggu keduanya.
...****************...
__ADS_1
See you next day..
Hanazawa easzy 🍁