
"Kemana kita akan pergi?" tanya Aira yang kini duduk di samping Ken yang tengah fokus mengendarai mobil Yoshiro sejak 2 jam yang lalu.
"Bersenang-senang." jawab Ken datar.
Aira menyunggingkan senyum devilnya. Ia yang memancing Ken, seharusnya ia siap menghadapi apapun rencana pria ini. Hanya 5 hari saja, setelah itu ia bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang di Indonesia. Begitu rencananya.
Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi beberapa jam berikutnya?
"Ada yang ingin kutanyakan padamu." ucap Aira seraya mengetatkan syal di lehernya karena udara terasa semakin dingin dini hari begini. Jam di tangan Aira menunjukkan pukul 02.15 pagi.
"Aku juga." jawab Ken cepat.
"Baiklah, mari kita mulai. Kita buat kesepakatan 1:1. Aku bertanya, kamu menjawab. Begitu juga sebaliknya."
Ken mengangguk setuju.
"Gadis seperti apa yang kamu suka?" tanya Aira pada Ken dibalik kemudinya.
"Cerewet, hangat, manja, tidak memilih makanan." jawab Ken tanpa ragu membuat Aira menghembuskan nafasnya sambil membuang muka. Itu semua kebalikan dari sifatnya. Pendiam, dingin, mandiri dan pemilih makanan.
"Apa kamu menyindirku?" tanya Aira spontan.
"Tidak. Itu kebenarannya. Ah, itu pertanyaan keduamu." sergah Ken segera sebelum Aira mengatakan hal lain.
"Apa? Itu..." Aira menahan nafasnya karena terkejut dan tidak tahu apa yang harus ia katakan, "Baiklah. Sekarang giliranmu bertanya." gadis jilbab coklat itu akhirnya mengalah.
"Pertanyaan pertama, apa saja yang kamu suka dan tidak suka?"
"Heihh? Itu dua hal yang berbeda." elak Aira.
Ken tersenyum karena berhasil mengelabuhi istrinya. Ia menunggu kesempatan untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya.
"Baiklah. Aku suka laut, gunung, musik dan tidur."
Ken mengerutkan keningnya sebentar sambil melirik ke arah istrinya. Jawaban yang terakhir membuatnya keheranan. Biasanya seorang wanita akan suka bunga, perhiasan atau pakaian. Tapi wanita di sampingnya ini bilang suka tidur? Benar-benar unik, membuatnya semakin cinta dan tidak ingin melepaskannya.
"Aku tidak suka lari, hujan, dan..." Aira menatap wajah Ken dari samping, "Malam" jawabnya dengan suara yang semakin lirih hampir tak terdengar. Ken hanya meliriknya sekilas namun tak berniat menanyakan apapun. Ia tidak akan memaksakan diri. Biarkan semua mengalir seperti seharusnya.
"Aku jatuh cinta padamu malam itu. Dan aku benar-benar membencinya." Aira menjelaskan sedikit meski Ken tak meminta. Ya, malam saat Ken mengajaknya naik bukit dan memeluknya dari belakang. Seketika Aira jatuh hati pada Ken.
"Aku tahu. Jadi mari kita tidak berpisah" ajak Ken.
Aira tersenyum hambar tak ingin menanggapi ucapan suaminya, "Pertanyaan keduamu..."
"Aku menyimpannya." ucap Ken.
"Apa?"
"Aku akan menanyakannya padamu nanti. Sekarang waktunya bersenang-senang. Kau tidak berhak menolak apapun yang aku minta." ucap Ken dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Ehh?"
"Kita sampai." ucap Ken saat mobilnya terhenti di sebuah pelataran luas dengan bangunan klasik khas negeri matahari terbit itu. Aira melihat papan kayu bertuliskan "Taikounoyu Spa".
"Dimana ini?" tanya Aira sambil melihat berkeliling. Hanya pepohonan besar dan gelap yang berkabut di sekitar mereka.
__ADS_1
"Arima Onsen" jawab Ken singkat.
(Pemandian air panas di daerah Arima)
Arima berada di daerah pegunungan Rokko dekat kota Kobe, adalah kota onsen yang terkenal di Jepang. Kota onsen ini ditemukan lebih dari 1300 tahun yang lalu dan juga merupakan yang tertua disana. Selain berendam, biasanya para pengunjung bisa jalan-jalan di daerah kotanya untuk melihat kuil-kuil lokal beserta pemandangan pegunungan disekitarnya.
Aira tampak ragu untuk turun dari mobil berwarna putih itu. Ia pernah dengar bahwa orang-orang Jepang tidak menggunakan pakaian saat berendam. Bahkan membawa handuk masuk ke dalam kolam juga dianggap tidak sopan. Hal itu membuat Aira takut.
"Pastikan kamu bertato atau sedang mabuk, jika tidak ingin masuk." ucap Ken sambil melepas sabuk pengamannya. Ia tahu istrinya ragu.
Glek
Aira tak bisa mengelak lagi. Ken membawa Aira masuk menuju ke resepsionis. Seorang wanita yang memakai yukata berwarna merah menyambut keduanya. Ken berbicara beberapa kata yang hanya dijawab dengan anggukan oleh wanita itu.
"Apa anda sedang hamil?" tanya resepsionis itu.
"Apa?" tanya Aira tak mengerti.
"Wanita yang sedang mengandung, perlu surat dokter untuk memasuki fasilitas onsen demi keamanan bayinya."
"Tidak. Aku tidak hamil" jawab Aira malu-malu membuat resepsionis itu tersenyum.
"Silahkan lewat sini nona.." pinta wanita itu menunjukkan sebuah pintu berwarna kuning di hadapannya. Ken mengisyaratkan dengan tangannya agar Aira mengikuti wanita itu. Ia berlalu ke arah yang berlawanan setelah Aira tak terlihat.
Aira tiba di sebuah ruangan ganti yang nampak sepi. Wanita tadi membuka sebuah loker dan menyerahkan sebuah handuk dan kimono pada Aira.
"Silahkan membersihkan tubuh Anda sebelum masuk ke kolam air panas. Saya akan menunggu di luar." ucapnya sopan terlihat dari sikapnya yang menundukkan badan beberapa kali.
"Arigatou.."
*******
Sementara itu di kediaman Tuan Besar Yamazaki..
"Dimana mereka sekarang?" tanya kakek pada pengawal yang ia utus untuk mengikuti Ken dan Aira.
"Arima onsen. Tuan muda bahkan menutup tempat itu untuk umum." jawab pria berbaju hitam dengan menundukkan wajah.
Kakek mengisyaratkan pengawal itu untuk pergi dengan tangannya.
"Aku menukarnya," lirih Sumari sambil bersimpuh di lantai. Kakek memicingkan matanya menunggu penjelasan menantunya itu.
"Istriku, apa maksudmu?" tanya tuan Tsuguri.
"Yang aku berikan pada Aira bukan obat untuk mencegah kehamilan, justru sebaliknya." ucapnya memberanikan diri menatap semua orang yang ada di depannya.
"Ibu..." Yamaken menatap ibunya tak mengerti.
"Minggu lalu, Aira pergi ke kantor pengacara untuk menanyakan prosedur perceraian. Aku terlalu bodoh dan terbawa perasaan. Aku tidak bisa berpikir jernih dan ingin Aira tetap disisi Ken. Bagaimana pun Ken mencintainya, aku tidak ingin mereka berpisah. Satu-satunya cara mereka tetap bersama adalah jika Aira hamil."
"Kenapa ibu harus menipu mereka?" tanya Yamaken tak mengerti jalan pikiran ibunya.
"Aira bukan gadis biasa. Dia pasti berpikir untuk mencegah kehamilannya agar bisa lepas dari Ken. Aku harus bertindak sesuai pemikirannya. Jika mengatakan terus terang tentang obat itu pasti ia akan menolaknya."
"Tapi Ken hampir membunuhnya," lirih kakek.
__ADS_1
"Itu.. Aku melupakan putraku. Seharusnya aku mengatakan rencanaku sejak awal padanya."
"Biarkan saja. Pergilah. Pastikan rencanamu berhasil atau mereka akan benar-benar berpisah." perintah kakek.
Wanita 47 tahun itu undur diri dan segera menghubungi pegawainya yang ada di pemandian air panas itu.
"Lakukan dengan hati-hati. Jangan sampai mereka menyadarinya."
*******
Aira keluar dari ruang ganti memakai pakaian yang telah disiapkan khusus oleh pegawai onsen itu. Sebuah pakaian renang berwarna soft blue yang khusus Sumari beli di Indonesia tanpa Aira ketahui. Tadinya ia merasa tidak nyaman mengenakannya, tapi itu lebih baik daripada tidak berpakaian sama sekali seperti aturan memasuki onsen yang pernah ia baca di internet.
Wanita dengan yukata merah itu membawanya ke sebuah ruangan dengan cahaya remang-remang. Terlihat Ken duduk di salah satu sisi kolam yang berbentuk bundar itu sambil memejamkan matanya. Wajahnya tampak lelah.
Aira masuk ke dalam kolam di sisi yang berseberangan dengan Ken. Ia sebisa mungkin menjaga jarak dengan suaminya itu.
"Apa kamu takut padaku?" tanya Ken dengan mata yang masih terpejam.
"Apa aku harus menempel padamu?" tanya Aira sarkas.
"Bersikap baiklah jika ingin aku menandatangi surat itu." ucap Ken dingin.
Aira tak bergeming. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Satu sisi ia ingin berpisah dengan Ken, tapi di sisi lain hatinya mulai terbuka dengan kehadiran Ken. Ia bimbang.
Gluk gluk...
Ken menenggelamkan diri ke dalam kolam dan tiba-tiba muncul di depan Aira yang masih termenung.
"Atau kau tidak benar-benar ingin berpisah denganku?" tanyanya selidik tepat di depan wajah Aira.
Seketika tangan Aira terulur menangkap rahang tegas di depannya. Jemarinya menyentuh hidung Ken, bermain di alis kirinya dan kemudian menyentuh mata sipit itu penuh perasaan. Aktifitas yang sangat Aira nikmati saat menghadap wajah tampan suaminya. Terhitung sudah beberapa kali Aira melakukannya pada Ken.
'Mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa menyentuh wajahmu.' batin Aira.
Perlahan Aira mendekatkan wajahnya dan mencium suaminya dengan lembut. Ia memejamkan matanya dan sebulir air mata berhasil luruh melewati pipinya.
Ken terkejut dengan perlakuan istrinya itu. Perasaan hangat, bahagia sekaligus sedih begitu terasa dari wanita di depannya ini. Ken menelan ludahnya dan memeluk istrinya lebih intens. Menyalurkan perasaannya yang selama ini tertahan. Sebelah tangannya melepas tusuk rambut yang sedari tadi menahan gulungan rambut Aira di atas kepalanya. Membuat surai hitam itu tergerai tak beraturan di punggung Aira. Ken suka itu. Istrinya terlihat semakin cantik saat rambutnya tergerai.
Aira menarik diri dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Pipinya memerah, ia malu atas sikapnya barusan. Nafasnya mulai teratur dan membuka matanya perlahan. Ia terlalu terbawa perasaan. Ken mematung di hadapannya dengan pandangan terluka. Ya, disaat Ken mulai menikmatinya, secara sepihak Aira tersadar dan melepaskan tautan mereka.
"Maaf..." lirih Aira. Ia bergegas naik dari kolam air panas itu karena merasa tak nyaman. Ia sendiri yang membuat suasananya jadi canggung seperti ini.
"Siapa yang mengijinkanmu pergi?"
*******
Hwaa.... Ken dapet jackpot nih. Siapa sangka Aira ini agresif juga yaa. Dia udah mulai bucin yaa ternyata 😂😂
Ini author kasih judul Bambang, eh maksudnya Bimbang 😅😆 karena author emang bimbang si Aira ini maunya gimana sii. Kalo author jadi Aira sii mending sama Yamaken aja, apaan siiy? *ehehe maap atas kehaluan author yang sangat akut ini, wkwk
Author usahakan update secepatnya kok 🤗 Btw, author ucapkan "Hontou ni arigatou" (Terima kasih banyak) untuk semua readers yang bersedia meluangkan waktunya disini. Hope you will enjoy it. Semoga suka 😙😙 Jangan lupa kasih jempolnya yaa biar author makin bahagia nge-hallu nya 😂😂 Semua komen author baca kok 🤗
See you next day... Mata ne..
With love,
__ADS_1
Hanazawaeaszy 😘😘