Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Delusi Erotomatic


__ADS_3

"Saya sudah menyelesaikannya." ucap Minami menghampiri tuannya.


Ken mengangguk dan pergi dari tempat itu secepatnya. Sementara di gedung sebelahnya, Takeshi Kaneshiro sedang mengamatinya.


"Mereka memasang kamera pengawas tambahan di tempat itu. Haruskah kita merusaknya?" tanya Mark pada tuannya.


"Biarkan saja. Kita lihat apa yang akan mereka lakukan." ucap Takeshi Kaneshiro, "Lanjutkan pekerjaanmu. Pastikan bersih seperti sebelumnya!"


"Baik." jawab pria dengan bekas luka sayat yang melewati mata cekung miliknya. Ia undur diri setelah Takeshi mengibaskan tangannya di udara.


"Kamu ingin bermain-main denganku, Yamazaki Kenzo? Kita nantikan siapa yang akan menang." ucapnya percaya diri.


Cekrekk


Sebuah lensa kamera menangkap gambar pria yang duduk di dekat jendela sambil mengangkat kakinya ke meja. Yoshiro tersenyum puas sambil memperhatikan kamera di tangannya.


"Wajahnya tidak asing." gumamnya pelan.


Tanpa pria 47 tahun itu ketahui, Yoshiro yang berada 5 lantai di atas Ken membidikkan kameranya lagi, "Lantai 13." ucapnya pada Yu yang sedang asik berselancar meretas rekaman CCTV gedung tempat Takeshi berada.


"Dapat." lirih Yu membuat Yoshiro segera berdiri di belakang kekasihnya itu. Kamera berwarna hitam itu tergantung bebas di depan dada bidangnya.


"Orang ini..." ucap Yoshiro setelah mendapati fakta bahwa orang yang mengamati Ken adalah Takeshi Kaneshiro, seorang pengusaha senjata api yang bergerak di bawah tanah.


*******


Jam menunjukkan pukul dua belas siang saat sebuah mobil hitam berhenti di depan lobby sebuah apartemen mewah di pusat kota Moskwa. Seorang pria keluar dari pintu belakang dan segera masuk ke gedung 40 lantai itu. Dialah Yamazaki Kenzo.


Ken kembali ke penthouse tempat Aira berada setelah menyelesaikan misinya memancing sosok di belakang Kamishiraishi Mone untuk muncul. Ia mengendurkan dasi yang sedari tadi bertengger di lehernya. Tampak Kosuke dan Minami di belakang Ken, wajah mereka tampak serius.


"O-ka-e-ri..." ucap Shun saat Ken mulai melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Ia berdiri sambil memamerkan senyum iblisnya. Benar-benar menyebalkan.


(Selamat datang kembali...)


Shun merasa puas sudah mengamati wajah tidur Aira selama berjam-jam. Saat Ken pergi, ia bisa bebas memandangi wanita hamil itu. Kaori tidak berhak melarangnya karena Shun memang tidak melakukan apapun, hanya memandangi Aira dari jarak dua atau tiga meter. Itu saja.


Ken melangkah semakin dalam, membiarkan pria itu dengan obsesinya yang tak jelas. Bukan urusannya. Anggap saja dia tidak pernah ada, begitu pikirnya.


Cup

__ADS_1


"Aku pulang." ucap Ken setelah meraih kepala Aira dan mencium keningnya sekilas, "Kamu sudah bangun?" tanya Ken sambil duduk di sebelah Aira. Ia mengamati wajah istrinya yang sudah terlihat segar, berbeda dengan tadi pagi saat ia pergi. Saat itu wajah Aira terlihat pucat pasi seperti makhluk tak bernyawa.


"Hmm..." jawab Aira bergumam. Ia memasukkan sesendok sup berwarna merah ke dalam mulutnya.


"Apa yang kamu makan?" Ken memperhatikan mangkuk di depan Aira yang hanya tersisa beberapa suapan saja.


"Tidak tahu. Kaori yang membuatkannya untukku." jawab Aira tanpa senyum sama sekali. Sepertinya ia sedang badmood.



"Itu sup borscht, hidangan khas Rusia yang biasa ditemukan saat musim dingin datang. Sup ini sangat cocok dikonsumsi untuk menghangatkan tubuh jadi aku sengaja membuatnya untuk Aira. Sup itu terbuat dari buah bit dan kubis merah yang baik untuk kesehatan janinnya." jelas Kaori sambil membawa sup yang sama untuk Ken.


"Makanlah." ucapnya meletakkan sendok di sebelah kanan mangkuk milik Ken.


"Apa ini?" tanya Ken pada mangkuk berisi makanan seperti dimsum di depan Aira. Tapi sepertinya masih utuh, Aira belum memakannya.



"Pelmeni." jawab Aira singkat.


Jika melihat sekilas bentuknya, makanan khas Rusia yang satu ini memang terlihat seperti siomay atau dimsum. Ken memakan bulatan putih itu dengan sumpit.


"Enak.." ucap Ken bersemangat. Ia bahkan menghabiskan sup di depannya hanya dalam waktu dua menit, membuat Aira mengerutkan keningnya.


"Apa kamu begitu lapar? Mau aku buatkan sesuatu?" tanya Aira perhatian.


"Tidak. Aku sudah kenyang." jawab Ken seraya meraih wajah istrinya, "Aku merindukanmu." bisik Ken lirih di telinga kanan Aira.


"Kosuke, sampaikan pada Yoshiro dan Yu kita mulai pertemuannya satu jam lagi. Sampai waktu itu tiba, kalian bisa istirahat." perintah Ken sebelum pergi bersama Aira.


Shun bersedekap sambil memperhatikan Ken dan Aira yang masuk ke dalam kamar. Ia mendengus kesal karena Ken begitu protektif pada istrinya.


"Jangan melakukan hal bodoh pada Aira atau Ken benar-benar akan membunuhmu." Kaori mengingatkan Shun.


"Aku yang akan menyingkirkannya lebih dulu jika itu terjadi." ucap Shun sarkas.


"Shun, sebenarnya apa yang membuatmu begitu terobsesi pada Aira?" tanya Kaori memberanikan diri. Ia penasaran apa yang pria ini lihat dari Aira yang jelas-jelas sudah bersuami.


"Dia sama seperti Mone. Mata bulat dan pipi chubbynya benar-benar menggemaskan. Aku seperti melihat sosok Mone yang lebih dewasa saat pertama kali bertemu dengannya di Thailand. Itu sebabnya aku tidak bisa melupakannya meski bertahun-tahun sudah berlalu."

__ADS_1


"Karena Mone?" tanya Kaori tidak percaya.


"Dia selalu dibully di sekolah dan pulang dengan berlinang air mata. Tapi saat di Thailand, Rara yang datang menghampiriku lebih dulu. Dia bahkan menyelamatkanku yang sedang sekarat saat itu. Aku langsung berpikir bahwa dia adalah Mone karena hanya dia yang mau mendekatiku."


"Itu delusi." ucap Kaori.


"Aku tahu. Delusi adalah jenis gangguan mental di mana penderitanya tidak dapat membedakan kenyataan dan imajinasi, sehingga ia meyakini dan bersikap sesuai dengan hal yang ia pikirkan. Benar kan?"


Kaori mengangguk.


"Aku beberapa kali pergi ke psikolog. Mereka bilang aku mengalami delusi erotomatic. Hal itu membuatku meyakini bahwa Rara adalah Mone yang datang dari masa depan. Terlebih lagi Mone menghilang setelah ayahnya meninggal. Itu semakin meyakinkanku bahwa mereka adalah orang yang sama. Keyakinan tersebut juga membuatku terobsesi terhadap Rara yang ada dalam pikiran delusiku. Aku ingin membuatnya terus berada di sisiku agar tidak ada orang yang akan menyiksa atau membullynya lagi. Aku tidak akan mengizinkannya pergi lagi dariku." jelas Shun dengan wajah terluka.


"Mereka dua orang yang berbeda. Aira dan Mone bukan orang yang sama." ucap Kaori lembut. Ia meraih tangan Shun dan menggenggamnya dengan erat, "Kita akan segera bertemu dengan adikmu. Tolong biarkan Aira bahagia dengan Ken, aku mohon." pinta Kaori dengan tulus.


Shun meraih tubuh wanita di depannya dan segera mendekapnya. Ia bahkan meneteskan air matanya membuat Kosuke dan Minami saling berpandangan. Shun menangis? Pria tak tahu diri itu memiliki emosi seperti manusia lain?


"Aku tahu." jawabnya dengan suara bergetar. Ia sadar diri, logikanya sedang melawan delusi di dalam otaknya. Ia berperang dengan dirinya sendiri. Masalah psikis yang dialaminya benar-benar pelik dan tak mudah ia hilangkan begitu saja. Logikanya tahu bahwa Mone dan Aira bukanlah orang yang sama, tapi ia terjebak dengan delusi yang selalu menguasainya selama ini.


"Tidak apa. Pelan-pelan saja." ucap Kaori sambil menepuk-nepuk punggung Shun dengan sayang. Ini tanggung jawabnya sebagai seorang sahabat, memberi dukungan moral untuk teman baiknya, "Aira tidak membencimu. Lepaskan ia pelan-pelan dan kita akan menjemput adikmu secepatnya." ucap Kaori menenangkan. Shun mengangguk dan semakin mengetatkan pelukannya. Ia tidak ingin ditinggalkan oleh siapapun. Hanya itu harapannya.


*******


Hai hai hello....


Akhirnya kelar juga bikin bab ini. Author sengaja buat penjelasan ini khusus untuk membela abang Shun. Kenapa dia bisa begitu terobsesi sama Aira ya karena dia punya masalah psikis selalu ditinggalkan oleh orang-orang sekitarnya. Cuma Mone yang deket sama dia, jadi dia mulai delusi bahwa Aira adalah Mone dari masa depan/Mone yang lebih dewasa.


Nah, jadi udah kelar yaa masalah obsesi Shun ke Aira ini. Karena di beberapa episode kemarin banyak banget yang ngga suka sama Shun (termasuk bumil imut-imut sohibnya author, dia benci banget sama Shun. Tiati loh bumil, jangan benci sama Shun, takutnya anakmu nanti mirip Shun Oguri 😂😂) *canda.


Sejujurnya author ngga rela saat kalian menunjukkan kebencian terhadap Shun, Gimanapun juga dia itu cinta pertama author loh di dunia perhaluan itu. Cuma emang sengaja author bikin karakter dia nyebelin di beberapa episode kemarin, nah baru deh author jelasin kenapa Shun bisa bersikap kek gitu...


Udah ah, capek cuap-cuap ngga pentingnya. Maaf yaa ceritanya cuma dikit, author nyempetin di sela-sela waktu kerja nih buat mengobati rasa penasaran kalian.


Thanks yaa untuk waktu yang kalian gunakan di sini. Please like, vote, komen biar author makin semangat lagi. Yah, walaupun ngga bisa author balas satu per satu komentar kalian, tapi semuanya author baca kok. Author like juga komentar kalian, kecuali komentar yang agak bikin ngga nyaman dibaca lah itu ngga author like 😅


Btw, ngapain Ken sama Aira masuk kamar? Jangan-jangan..... 😲


Udah ah, bye... 😄


With love,

__ADS_1


Hanazawa easzy 💜


__ADS_2