
"You're the one for me. The only one," ucap Ken dengan penuh perasaan.
Cup
Ken mencium istrinya dengan lembut, membuat wanita itu memejamkan mata detik itu juga. Tangannya mencengkeram kemeja Sang Suami yang belum terkancing seluruhnya. Keduanya menikmati kemesraan ini seolah dunia hanya milik berdua. Mereka saling memberi dan menerima, membuat hormon dopamine segera tercipta dan membuat hati keduanya buncah oleh rasa bahagia.
Ken melepas pagutannya, mengizinkan Aira meraup oksigen sebanyak-banyaknya dari udara di sekitarnya. Wanita itu sempat kekurangan oksigen karena serangannya yang begitu intens.
Cup
Cup
Cup
Ken menangkup wajah istrinya dan menghujaninya dengan ciuman. Semua bagian wajah bulat itu tak luput dari serangannya, mulai pipi, mata, alis, kening, pelipis, hidung, hingga dagu. Setiap inchi mendapat kecupan hangat nan mesra dari Ken, membuat Aira tersenyum. Ia menundukkan kepalanya, tersipu malu atas perlakuan manis dari suaminya ini.
Grep
Aira memeluk Ken, menyembunyikan wajahnya yang merah merona bak kepiting rebus. Detak jantungnya bergerak begitu cepat seolah berpacu dengan waktu.
Deg
Deg
Deg
Aira menangkap suara yang terasa begitu menenangkan baginya. Ia menempelkan telinganya di dada Ken, membuat suara itu semakin terdengar jelas.
"Sayang," panggil Ken lirih. Ia merasa sedikit heran karena pelukan Aira semakin erat melingkari pinggangnya. "Ada apa?" tanyanya penasaran.
Aira menggeleng. Ia masih ingin menikmati irama konstan yang tertangkap indera pendengarannya ini. Sungguh menenangkan. Baru kali ini Aira menyadari betapa dekatnya ia dengan Ken, seolah mereka berbagi jantung yang sama. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan pria yang telah merebut seluruh hatinya ini. Sebulir air tanpa warna segera meluncur deras hingga membasahi jilbab hijau yang dipakainya, disusul oleh bulir-bulir yang selanjutnya.
Ken tak ambil pusing dengan tingkah Aira yang lain dari biasanya. Ia tak tahu istrinya tengah menangis tanpa suara dan memilih mengelus punggung wanita ini dengan lembut, membuatnya semakin nyaman dalam dekapan dan tak ingin melepasnya sama sekali.
"Ken," panggil Aira setelah beberapa menit berlalu tanpa ada kata yang terdengar dari keduanya.
"Aku di sini." Ken melerai pelukan mereka dan menatap kedua bola mata coklat di hadapannya yang terlihat sembap dengan bekas air mata menganak sungai di sana.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Ken, kembali menangkup wajah Aira. Ia menghapus sisa air mata yang ada dengan tergesa.
"Jangan menyembunyikan apapun dariku," pinta Aira dengan mata berkaca-kaca. Ia menggigit bibir bawahnya, tak kuasa membendung tangisan yang lagi-lagi lolos begitu saja. Kedua tangannya mencengkeram kemeja Ken, meminta suaminya untuk jujur tentang apapun yang terjadi padanya nanti.
Ken membimbing Aira duduk di tepi ranjang. Keduanya saling berhadapan dengan tangan bertaut di atas paha.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Ken sambil tersenyum. "Kamu mengkhawatirkan suamimu ini?" godanya lebih lanjut.
__ADS_1
Bugh
Bugh
Aira meninju dada suaminya, kesal karena Ken justru menggodanya di saat seperti ini.
"Istri mana yang tidak khawatir saat mendengar suaminya sakit?" ketus Aira sambil menghapus air yang menggenang di pelupuk matanya.
Ken tak menjawab. Lagi-lagi ia tersenyum lebar. Sebuah senyuman paling hangat yang bisa ia tampilkan di depan istri dan anak-anaknya. Hatinya merekah saat menyadari betapa besarnya perhatian dan cinta Aira untuknya saat ini. Kemarahan Aira menunjukkan bahwa keberadaannya sangat penting bagi wanita 26 tahun ini.
"Kenapa tersenyum? Kamu menertawakanku?" Suara Aira sedikit meninggi. Ia tidak suka saat Ken tengah memasang ekspresi seperti ini, seolah begitu menikmati pertunjukan gratis di hadapannya.
Aira mempoutkan bibirnya. Ia benar-benar kesal sekarang. Sudah saatnya ia mengaktifkan silent mode andalannya. Ia tidak akan menjawab apapun pertanyaan Ken, itu janjinya.
"Sudah?" tanya Ken yang kini melihat Aira cukup tenang di posisinya.
Sesuai janjinya, Aira memilih bungkam seribu bahasa. Ia tak akan merespon apapun perkataan dari mulut suaminya ini.
"Aku akan mengakuinya padamu. Aku sakit," ungkap Ken to the point. Ia yakin Aira sudah tahu cukup banyak dari Kosuke maupun Minami. Diantara semua staf dan karyawan Miracle, hanya pasangan suami istri itu yang tahu kondisi Ken yang sebenarnya.
"Aku sakit karena kamu terlalu memanjakan anak-anak. Aku sakit karena kamu tidak sempat menyuapiku. Aku sakit karena kuku tanganku memanjang dan kamu tidak mau memotongkannya untukku."
Kening Aira berkerut dalam mendengar penuturan suaminya. Entah kenapa kemarahan di dalam hatinya sirna seketika. Semua kesedihan yang melanda hatinya juga seolah menghilang tak lagi berbekas.
"Aku sakit karena rambut basahku tak ada yang mengeringkannya lagi. Aku sakit karena kamu tak lagi memakaikan dasi sebelum aku pergi bekerja. Aku sakit karena tidak ada lagi yang membawakan tasku sampai depan pintu. Aku sakit ... "
Aira menutup mulut suaminya dengan tangan. Perkataan pria itu semakin tidak relevan. Apa hubungannya sakit anemia dengan memotong kuku, mengeringkan rambut, memakai dasi, atau bahkan membawakan tas? Hal-hal itu sama sekali bukan penyebab suaminya sakit. Pria ini benar-benar aneh.
"Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mendengar bualanmu lagi!" ketus Aira detik itu juga. Ia menatap suaminya dengan pandangan kesal. Kesedihannya menguap dan berganti dengan perasaan jengkel. Entah sejak kapan pria berhati dingin ini berubah menjadi seseorang yang suka menggoda. Ia bahkan tak segan untuk bermulut manis di depan ibu dari anak-anaknya, sengaja mengeluarkan kata-kata manis untuk merayunya. Sungguh menjengkelkan!
Aira beranjak dari hadapan Sang Suami dan mulai mengambil makanan yang sempat ia hangatkan sebelumnya. Dengan telaten, Aira mempersiapkan hidangan itu di depan suaminya.
"Kamu yang memasaknya?" tanya Ken sembari menatap makanan favoritnya.
Aira menggeleng dan berkata, "Ibu."
Ken mengambil sumpit yang Aira berikan dan mengambil satu potong udang besar yang ada di dalam kotak. Ia memakannya dengan begitu lahap. Sudah cukup lama ia tidak menikmati berbagai olahan seafood seperti ini. Bukan karena Aira melarangnya, tapi karena Ken sendirilah yang tidak ingin menyusahkan istrinya.
Aira merasa tersentuh hatinya saat Ken menghabiskan semua makanan yang ia bawa tanpa mengucapkan apapun. Selain karena etika makan yang tidak memperbolehkannya untuk berbicara, nyatanya pria itu terlihat begitu bahagia sekarang. Persis seperti anak kecil yang mendapat permen dambaannya.
Ken beberapa kali menawarkan makanan itu pada Aira, namun selalu ditolak. Aira sama sekali tidak mau memakan masakan ibu mertuanya itu karena takut alerginya kambuh.
...****************...
'
__ADS_1
Di saat Ken tengah berbahagia seperti sekarang, hal yang sebaliknya justru terjadi pada saudara kembarnya, Yamaken. Pria itu tengah menatap langit-langit berwarna putih bersih dengan pandangan menyedihkan. Berbagai kejadian di masa lalu terus saja berkelebat di dalam kepalanya. Pertemuan pertama dengan Mone beberapa tahun yang lalu, senyuman gadis itu yang hangat dan menggemaskan masih terbayang di mata Yamaken. Namun foto-foto kebersamaannya bersama seorang pria yang tampak mesra juga tak bisa ia pungkiri. Ada keraguan tersendiri di dalam hatinya tentang kesetiaan Mone nantinya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?" tanya seorang wanita empat puluh tahunan yang tak lain adalah manajernya sendiri.
Yamaken melirik wanita itu dan kembali menghadap ke atas tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia masih bimbang, apa yang harus ia lakukan pada Mone. Menerimanya atau melepasnya? Tentunya ada berbagai pertimbangan yang ia pikirkan, termasuk respon keluarga besarnya jika tahu hubungannya dengan Mone berakhir begitu saja.
"Dia gadis yang baik hanya saja hatinya masih labil. Jangan bertingkah seolah dia begitu menyakitimu, tapi pikirkanlah apa yang sebenarnya terjadi. Kamulah yang belum bisa membuatnya menetap pada satu pilihan. Masih ada celah di dalam hatinya yang bisa dihuni oleh pria lain." Manajer meletakkan jus tomat kesukaan Yamaken di atas meja, dua langkah dari tempatnya berbaring.
Ya, pria 28 tahun itu bukannya pulang ke apartemennya sendiri setelah pemotretan, justru mendatangi apartemen manajer dan bersembunyi di sana. Dia belum ingin bertemu dengan Mone. Yamaken takut jika gadis itu masih disana sejak ia tinggalkan beberapa jam yang lalu.
"Aku akan mengatur ulang jadwalmu agar kamu memiliki waktu lebih. Ini bukan perkara serius, hanya saja kamu harus berbicara dengannya. Dia tulus mencintaimu, itu yang aku lihat di matanya." Pernyataan manajer membuat Yamaken seketika bangkit dan duduk tegap di atas kursi sofa yang ada di ruang tengah ini. Ia menatap lurus ke depan, mempertanyakan kebenaran ucapan wanita yang berada di balik kesuksesannya sejauh ini.
Dialah yang sibuk menyelesaikan berbagai urusan Yamaken yang berkaitan dengan pihak investor, sutradara, agen iklan, dan sebagainya. Dia pula yang selalu berhasil membuat jadwal pemotretan, wawancara, shooting, dan berbagai agenda lainnya agar berjalan selaras, tidak berbenturan satu sama lain. Tentunya Yamaken juga harus memiliki waktu istirahat yang cukup agar kesehatannya tetap terjaga. Tak cukup sampai di situ, manajer juga mengurus keuangan artisnya, mengatur perjanjian kontrak dengan sponsor, biro iklan dan lain sebagainya. Selain itu, dia juga harus memastikan fasilitas dan akomodasi yang akan diterima Yamaken selama masa kontrak suatu acara berlangsung.
Manajemen artis merupakan kebutuhan wajib yang ada di dunia showbiz. Manajemen yang solid mencerminkan profesionalitas dari artis tersebut dan menjadi nilai tambah tersendiri. Jadi apabila ada stasiun televisi atau rumah produksi yang ingin menggunakan jasa artis, tinggal menghubungi atau menelpon manajemennya saja.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Yamaken pada wanita berpakaian serba hitam di depannya. Dia adalah ibu dua anak dengan perawakan sedikit berisi. Kacamata bulat bertengger di atas hidungnya.
"Kalian harus bicara." Manajer mendekatkan jus buatannya pada Sang Artis, memberikan kode bahwa Yamaken harus segera meminumnya.
"Aku sudah mengosongkan semua jadwalmu besok. Seharusnya ada banyak waktu untuk memperbaiki hubungan kalian. Aku tidak memiliki masalah apapun jika memang hubungan kalian harus kandas di tengah jalan. Tapi aku tidak yakin dengan keselamatan gadis mungil itu." Manajer duduk sambil memperhatikan Yamaken yang tengah meminum minumannya hingga tetes terakhir. Sama seperti Ken, Yamaken juga sangat menyukai tomat dan berbagai jenis olahannya.
"Kakek Yamazaki pasti tak akan tinggal diam dengan hal ini. Beliau akan mencari tahu akar permasalahan yang ada yang membuat hubungan kalian berakhir. Jika itu terjadi, maka habislah riwayat gadis berdarah Indonesia-Jepang itu. Jelas-jelas kakek menentangnya waktu itu, tapi kamu dan kakak iparmu justru membelanya. Bukankah itu berarti menentangnya? Dan tidak ada akhir yang baik jika pria lanjut usia itu sudah bertindak. Aku tidak bisa menolongmu lagi."
Ctakk
Yamaken mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia meletakkan gelas di tangannya dengan sedikit keras ke atas meja, menunjukkan emosinya berkaitan dengan penjelasan manajernya ini. Semua yang wanita ini katakan benar adanya, kakek Yamazaki memanglah orang yang seperti itu. Dia akan membuat perhitungan dengan siapa saja yang berani mencari masalah dengan keluarganya.
"Meskipun kamu bukan cucu kesayangannya, bagaimanapun juga dia pasti akan melindungimu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika hubungan kalian benar-benar berakhir dan Mone memilih orang itu. Mungkin kakek akan melenyapkan keduanya dari muka bumi ini."
Deg!
Yamaken tersentak. Dia menyadari fakta mengerikan itu dan segera berlari mengambil jaket yang tergantung di salah satu sisi ruangan ini.
"Kosongkan semua jadwalku malam ini!" ucap Yamaken sebelum pergi, meninggalkan wanita berkacamata itu yang tersenyum puas. Dia hanya ingin artisnya ini mendapatkan kebahagiaannya, itu saja.
"Ganbatte kudasai!"
(Semoga berhasil!)
...****************...
Selamat berjuang, Abang 🤗😄😄
__ADS_1
Hanazawa Easzy