Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Wanita Paling Bahagia di Dunia


__ADS_3

Angin bertiup lembut, menjatuhkan kelopak bunga sakura yang tersisa di atas dahan. Satu dua masih tertinggal, mulai tersembunyi di antara tunas daun yang mulai tumbuh lebat. Musim semi telah berakhir, membuat udara terasa semakin hangat, menandakan datangnya musim panas beberapa waktu ke depan.


Aira mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum benar-benar menangkap cahaya yang menyapa retina matanya. Dia masih merasa sedikit pusing, namun tak separah sebelumnya.


"Ao," celoteh bayi merah yang membuat Aira membulatkan mata. Kesadarannya terkumpul seluruhnya saat mendapati ada malaikat kecil tak bersayap yang menempel di badannya. Aroma kesegaran khas bayi segera menghampiri indera penciumannya.



"Ayame-chan," panggil Aira lirih. Dia menatap tangan mungil putrinya yang tengah menggenggam jari telunjuknya.


Perlahan Aira mengambil posisi duduk dan memerhatikan keadaan sekitar sambil memijat pelipisnya. Jam tiga sore, itu artinya dia tidur selama dua jam lebih.


Krekk


Pintu di sebelah kanan Aira terbuka, menampilkan Sakura yang datang bersama Akari dalam gendongannya.


"Anda sudah bangun, Nyonya." Sakura mendekat dan meletakkan Akari di atas ranjang yang Aira tempati. "Apa Anda baik-baik saja?"


Aira mengangguk, sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Dia menatap Si Sulung yang kini tengah melihat ke arahnya, membuat mata mereka saling bertumbuk di titik yang sama.



Hati Aira menghangat seketika saat melihat putranya begitu aktif menghisap ibu jarinya sendiri. Namun sayangnya, yang masuk ke mulut Akari adalah tangan kiri, Aira segera membenahinya, agar tidak menjadi kebiasaan buruk kedepannya. Bayi ini menenangkan diri sendiri dengan menghisap jari tangannya.


Aira sedikit menundukkan kepalanya, mendekat ke arah Akari dan menatap netranya dalam-dalam. Sorot matanya tajam, sama seperti Yamazaki Kenzo, Sang Ayah yang luar biasa.


Cup


Cup


Cup


Aira menciumi wajah menggemaskan itu, membuat kaki mungil Akari menggelinjang. Sepertinya bayi dua bulan ini merasa geli saat Sang Ibu mendusel ke arah lehernya dan menciuminya dengan gemas.


Dalam perkembangannya, bayi dua bulan mulai dapat merespons dengan senyuman atau menggerak-gerakkan kaki mereka ketika diajak bicara atau ditunjukkan sesuatu yang menarik. Hal ini merupakan perkembangan yang signifikan dibandingkan bayi usia 1 bulan. Gerakan bayi itu juga akan semakin teratur. Gerakan tubuh seperti terkejut yang sering terjadi saat baru lahir mulai tidak terlihat lagi pada bayi mungil ini.

__ADS_1


"Wawawa...." Celoteh Ayame kembali terdengar, mengusik aktivitas Aira bersama putra sulungnya.


"Umm, ada apa? Apa kamu cemburu karena ibu mencium pipi kakakmu?"



Aira mengangkat tubuh gembil putrinya, meletakkan bayi 5,4 kg ini di atas dua kakinya yang terulur ke depan. Gadis mungil itu mencengkeram dress yang Aira kenakan dengan begitu erat, sama seperti sebelumnya saat menggenggam jari telunjuk ibunya. Berat badan ketiga bayinya ini naik 170-220 gram per minggu atau 450 – 900 gram per bulan selama beberapa bulan pertamanya lahir ke dunia. Ayame dan Akari hampir memiliki berat badan yang sama, sedangkan Si Sulung Akari justru memiliki badan paling kecil.


Pada usia 8 minggu ini, kekuatan leher bayinya makin kuat. Dia dapat menegakkan kepala hingga 45 derajat dengan topangan tangan dan bergerak menyerupai orang push-up saat berbaring tengkurap. Tampak Ayame berusaha menjangkau ibunya, merasa ingin diperhatikan seperti yang wanita ini lakukan pada Akari. Perkembangan ketiga bayi ini begitu kentara dibandingkan kemampuan mereka dua minggu yang lalu.


Dari ujung matanya, Aira menangkap kedatangan seorang pengasuh lagi. Azami ada dalam dekapan tangannya.


"Apa mereka menangis saat aku tertidur tadi?" tanya Aira pada Sakura yang kini berjarak beberapa langkah darinya.


"Tidak, Nyonya. Dua tuan muda kecil ini terlihat tenang saat Anda terlelap. Mungkin mereka tahu ibunya butuh waktu untuk istirahat. Hanya nona Aya yang terlihat gelisah, jadi saya meletakkannya di sisi Anda. Dan dia langsung tenang, mencengkeram jari telunjuk Anda sepanjang waktu." Sakura menjelaskan.


Aira lagi-lagi tersenyum. "Dimana ayahnya? Apa dia pergi?"


"Benar. Yamazaki-san pergi beberapa menit setelah Anda terlelap. Sepertinya ada hal penting yang harus dia lakukan. Tuan Muda terlihat begitu terburu-buru dan meminta saya menjaga Anda."


"Baik, Nyonya." Wanita dengan pakaian khas baby sitter itu mendekat dan meletakkan Azami dengan hati-hati di atas ranjang. Wanita itu undur diri, tahu Sakura sudah ada di sana. Diantara ketiga pengasuh bayi yang ada, memang Sakura-lah yang paling dipercayai oleh Ken dan Aira.



Aira mengamati Azami yang tengah memainkan jemari tangannya. Sepuluh jari mungil itu menggenggam erat, lalu membuka dan menutup lagi. Dia mulai dapat bermain dengan jarinya sendiri, sama seperti kakaknya yang masih saja asik menghisap ibu jarinya. Hal itu memancing senyum lain di wajahnya. Dia benar-benar bahagia melihat anak-anaknya yang terlihat semakin menggemaskan.


Wanita 26 tahun ini memainkan jemarinya di depan wajah Azami, membuat manik hitamnya ikut bergerak ke kanan dan ke kiri. Di usianya ini, mata bayi sudah dapat mengikuti pergerakan obyek kesana-kemari. Aira sengaja menstimulasi putranya dengan menggerakkan jari di depan matanya.


Di saat yang sama, Aya terus bergerak di atas pangkuan ibunya. Lagi-lagi dia membuat suara-suara seolah tengah berbincang dengan wanita yang sudah melahirkannya ini. Sesekali dia memainkan ekspresi wajah, berubah-ubah sesuai yang dirasakan seperti menaikkan alis mata, melotot, atau meniup udara di depannya, membuat bayi cantik ini semakin memesona.


Selain sebagai tanda semakin aktifnya otak Si kecil, hal ini dilakukan bayi untuk memberi tahu jika ada sesuatu yang tidak nyaman, seperti popok yang basah, merasa lapar, atau merasa lelah.


"Apa kamu lapar, Nak?" tanya Aira pada putrinya. Dia membalik tubuh gadis mungilnya itu, bersiap menyusuinya. Namun yang terjadi justru di luar dugaan Aira, bayi itu memasukkan kedua tangannya ke dalam mulut, seolah menolak asupan gizi yang ibunya tawarkan.


"Eh?" respon Aira.

__ADS_1


"Mungkin Nona Aya masih kenyang, Nyonya. Dia menghabiskan 150 ml ASI hanya dalam hitungan detik saat Anda masih terlelap."


"Benarkah?" Aira tersenyum lega. Tadinya dia sedikit khawatir, takut putrinya kenapa-napa karena tidak mau menyusu padanya.


Aira terus bermain dengan ketiga putra putri yang mengelilinginya. Dia merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Bagaimana tidak? Apa yang terjadi padanya hari ini adalah dambaan setiap wanita. Memiliki tiga buah hati yang menggemaskan dalam waktu bersamaan, suami yang menyayanginya dan tentu saja keluarga baru yang hangat.


"Ah, omong-omong Sakura-chan," panggil Aira. Ia mendongakkan kepalanya, menoleh ke arah Sakura yang kini tengah membaca buku di salah satu sudut ruangan. "Apa Ken mengatakan padamu kapan akan kembali?"


"Tidak. Tuan Muda hanya berperan agar saya menjaga Anda selama dia pergi."


Aira tampak merenung. Dia memikirkan kemana suaminya pergi.


"Ada yang bisa saya bantu? Apakah saya harus menghubunginya?"


Kening Aira sedikit berkerut, tampak ia sedang berpikir.


"Nyonya," panggil Sakura. Beberapa detik telah berlalu tapi belum ada jawaban Aira atas pertanyaan yang ia ajukan.


"Minta dia carikan rujak untukku," cetus Aira sambil tersenyum.


"Ru ... rujak?" tanya Sakura sambil mengerutkan kening. Dia tidak tahu apa dimaksud oleh nyonya muda keluarga Yamazaki ini.


"Umm. Dia tidak boleh pulang jika tidak membawa makanan itu!"


Sakura tersenyum kecut. Dia menundukkan kepalanya sebelum pergi, bersiap menghubungi Kenzo. Sepanjang langkahnya, Sakura masih saja memikirkan makanan seperti apa yang ibu tiga anak itu inginkan. Ada begitu banyak makanan Indonesia, tapi dia baru pernah mendengar satu kata itu.


"Ru-ja-ku?" gumam Sakura lirih.


...****************...


Eh eh eh .... Kok emak Aira minta rujak? Jangan-jangan dia beneran hamil 🙄


See you next part,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2