Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Pencarian Tuan Harada


__ADS_3

Ken memberikan tugas pada Shun untuk melacak keberadaan tawanannya yang kabur, yakni tuan Harada. Jejak terakhir yang terbaca oleh orang-orangnya adalah saat pria itu sampai di Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand. Setelahnya, microchip yang tertanam di punggung tangan pria itu tak lagi terbaca dari Jepang karena terkendala jarak yang cukup jauh.


Meski awalnya Shun tidak ingin mengambil misi ini, tapi berkat bujukan Kaori, akhirnya pria itu menurutinya juga. Keduanya berjalan di sebuah gang sempit, siap menuju tempat terapi pijat khas Thailand. Shun berniat mengantar istrinya memanjakan diri sebelum mencari keberadaan tuan Harada. Selagi bisa, Shun akan meraup beberapa keuntungan dalam waktu bersamaan seperti kata sebuah pepatah ; Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.


Seharian ini, ia mengajak Kaori mengunjungi beberapa kuil besar yang ada di Bangkok. Setelahnya, mereka berdua menghabiskan waktu dengan mencoba jajanan kali lima yang lezat di pinggir jalan. Perjalanan ke Thailand belum lengkap rasanya tanpa merasakan pijat khas Thailand yang autentik di ibukota ini. Shun sengaja mengatur agar sesi pijat juga harus ada dalam rencana perjalanan mereka.


"Selamat datang di Zen Zen Massage & Spa. Ada yang bisa kami bantu?" Seorang wanita yang ada di depan pintu menyambut Shun dan Kaori begitu keduanya masuk ke sebuah tempat pijat dan spa, beberapa meter dari Sukhumvit, yakni tempat Kaori berbelanja sebelumnya.


Zen Zen Massage & Spa adalah tempat lain di area Pratunam yang menawarkan harga bagus dengan pelayanan berkualitas. Tempat ini hanya berjarak delapan menit berjalan kaki dari stasiun BTS Ratchathewi.


Shun menunjukkan ponselnya, "Layanan khusus untuk istriku."


"Baik, Tuan. Kami akan segera mengurusnya." Wanita dengan senyum indahnya itu segera mengecek kode booking yang ada di ponsel Shun. Ia memberi kode pada seorang wanita yang ada di sebelahnya tanpa Shun ketahui.


"Masih ada beberapa hal yang harus aku urus. Apa kamu tidak keberatan jika aku meninggalkanmu di sini?" tanya Shun pada Kaori. Sebenarnya dia masih ingin menghabiskan waktu bersama istrinya, namun ada tugas penting dari Kenzo yang harus ia tuntaskan. Entah kenapa dia merasa berat meninggalkan istrinya ini.


"Tidak masalah. Aku akan menunggumu kembali." Kaori tersenyum, tidak keberatan meski ia harus seorang diri di sini. Dia tahu ada beberapa pengawal bayangan yang suaminya tempatkan di sekitarnya. "Kamu sudah menemukan jejak orang itu?"


Shun mengangguk. "Ya, dia ada di salah satu tempat seperti ini. Microchip di tangannya masih berfungsi dengan baik. Sepertinya dia tidak bisa melepaskan benda mungil itu begitu saja." Shun mengambil ponsel yang petugas resepsionis itu kembalikan.


"Berhati-hatilah." Kaori memeluk Shun sebelum keduanya berpisah. Pria itu pergi setelah mengecup kening Kaori dengan lembut. Seorang pelayan di spa itu tersenyum melihat interaksi dua tamu VVIP class yang akan ia layani.


"Silakan, Nyonya." Wanita dengan kecantikan khas Thailand itu mempersilakan Kaori untuk masuk ke ruangan yang lebih dalam. Mereka duduk berhadapan di sebuah ruangan dengan dekorasi minimalis ini. Interior modern memanjakan mata Kaori. Ruangan ini dipenuhi dengan aroma yang menenangkan, yang secara otomatis membuat wanita Jepang ini merasa nyaman.


"Ada beberapa layanan yang kami tawarkan. Ada berbagai pilihan pijat di sini, termasuk pijat tradisional Thailand, lulur, pijat kaki, pijat minyak aroma, dan pijat ZEN khas salon ini. Di tempat ini, kami menyediakan bilik pijat pribadi jadi Anda dipastikan memiliki pengalaman yang lebih santai. Privasi Anda akan tetap terjaga." Wanita dengan pakaian gelap itu mengulurkan tabel berisi daftar layanan tempat ini sekaligus harganya, berkisar antara 100 hingga 350 baht. Itu belum termasuk tips tambahan untuk si pelayan ini.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk terapi pijat ini?" Kaori menunjuk salah satu paket layanan yang ada, meliputi pijat kaki, bahu dan kepala, lulur, masker, serta sauna.


"Pijat dasar biasanya memakan waktu sekitar satu jam. Namun jika Anda tidak memiliki waktu yang banyak, kami bisa melakukannya dengan lebih cepat."


"Tidak. Aku punya banyak waktu." Kaori menatap benda bulat di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul delapan malam. Dia yakin Shun tidak akan mudah mencari keberadaan tuan Harada. Bahkan entah jam berapa pria itu akan kembali, Kaori tidak bisa memastikannya.


"Nyonya, silakan." Wanita itu berdiri dari duduknya, "Ruang ganti ada di sebelah sini."


Sebuah pakaian warna putih tulang tergeletak di atas meja. Pelayan tadi yang memberikannya untuk Kaori gunakan saat pijat nanti. Itu adalah pakaian yang nyaman dan longgar agar dapat dengan mudah melakukan peregangan dan gerakan yang diperlukan selama sesi pemijatan berlangsung. Beberapa tempat spa bahkan menawarkan pakaian tradisional untuk para pelanggannya pakai saat pijat.

__ADS_1


Kaori segera berganti pakaian dan kembali lagi ke ruangan ini. Dia membaringkan tubuhnya dan mulai mendapat pijatan dari terapis profesional ini.


"Aku melihat ada begitu banyak tempat seperti ini di sepanjang jalan" Kaori memulai percakapan dengan wanita yang kini sibuk membalurkan minyak aroma terapi ke betisnya.


"Benar, Nyonya. Anda tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan tempat pijat Thailand di Bangkok. Studio kecil tersebar di mana-mana, kadang hanya berjarak beberapa langkah satu sama lain, terutama di daerah wisata populer seperti Sukhumvit, Silom, dan jalan Khaosan. Ada juga beberapa merek terkenal yang mengoperasikan beberapa cabang spa di sekitar kota, serta spa mewah kelas atas yang terletak di hotel resort. Sebagian besar tempat memiliki menu di depan pintu di mana Anda dapat melihat layanan yang ditawarkan serta harganya. Kami sendiri berafiliasi dengan Miracle. Anda pasti tidak asing dengan nama itu, 'kan?"


"Eh?" Kaori sedikit terkejut. Pantas saja Shun percaya pada orang-orang di sini, ternyata mereka ada di bawah kendali Yamazaki Kenzo. "Mungkinkah kamu ... ?" Wanita 30 tahun itu berbalik, menatap orang yang sedari tadi melayaninya.


Wanita itu tersenyum dan menunjukkan pistol yang tersimpan di balik pakaian yang ia kenakan. Dia juga menunjukkan id card dengan logo Miracle. Kaori bernapas lega, yakin bahwa orang ini bisa melindunginya dan memberikan rasa aman selama Shun tidak bersamanya. Bagaimanapun juga, tempat ini asing untuknya. Ada berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja.


"Syukurlah." Kaori kembali menelungkupkan badannya di atas matras. Ia memejamkan mata dan menikmati pijatan di kakinya yang lelah setelah berbelanja. "Aku tidak menyangka jika ternyata kita ada di bawah 'atap' yang sama. Jika aku pergi sendiri, pasti tidak akan bertemu dengan kalian," ungkapnya.


"Kami memang tidak mengekspose identitas kami. Untuk orang awam, kami sama dengan panti pijat lainnya. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapat pelayanan khusus seperti sekarang. Meskipun studio dan spa pijat di Bangkok mudah ditemukan, namun untuk wisatawan asing sebaiknya memilih lokasi yang ingin dikunjungi sebelumnya. Mereka harus memastikan apakah layanan yang didapatkan setara dengan uang yang mereka keluarkan. Ada banyak pilihan untuk wisatawan, baik dengan anggaran terbatas maupun wisatawan yang tidak keberatan menghabiskan lebih banyak uang untuk pengalaman yang benar-benar mewah."


"Apa ada pelayanan yang lebih murah dari tempat ini?" tanya Kaori ingin tahu. Tarif di tempat ini masih tergolong murah untuk Kaori.


"Di Bangkok, sangat mungkin untuk menikmati pijat tradisional Thailand seharga 200 baht, atau bahkan hanya 100 baht. Namun mereka tetap bisa memanjakan otot-otot yang sakit setelah seharian jalan-jalan dan berbelanja. Ada beberapa lokasi pijat terbaik dengan harga terjangkau yang populer di kalangan penduduk lokal dan turis. Salah satunya Lavender Massage. Jika Anda ingin menikmati suasana yang lebih tenang dan santai, Anda dapat meminta kamar pribadi seperti sekarang ini."


"Setelah perawatan selesai, Anda akan disuguhi secangkir teh hangat di area taman yang indah. Lavender Massage berlokasi di area Ratchathewi, tepatnya di seberang Platinum Fashion Mall, di mana Anda bisa berbelanja dan menikmati makanan sebelum atau setelah pijat. Di tempat ini, Anda bisa mendapatkan berbagai layanan dengan harga terjangkau, dan sangat populer untuk pijat minyak aroma."


Kaori merasa semakin nyaman. Suara yang lembut itu bagaikan dongeng sebelum tidur, mengantarkannya ke alam mimpi. Minyak aromaterapi yang tercium di hidungnya membuat rasa kantuk yang ia rasakan semakin hebat. Dia tertidur detik berikutnya, membuat wanita terapis itu tersenyum penuh arti.


Di saat yang sama, beberapa puluh meter dari tempat Kaori berada, Shun tampak berjalan sambil mengamati ponselnya. Beberapa langkah di belakangnya, ada pengawal bayangan yang Ken utus untuk menyertai orang kepercayaannya. Ada banyak bahaya yang mengintai, jadi Ken ingin memastikan bahwa nyawa Shun akan aman sampai kembali ke Jepang nanti.


Shun duduk di salah satu kedai dan memesan minuman. Ia masih mengamati keadaan sekitar yang ramai dilalui hilir mudik orang-orang. Tidak mudah menemukan lokasi yang tepat dimana tuan Harada berada. Shun tidak ingin gegabah dan salah masuk tempat spa, atau misinya terendus lawan dan kemungkinan menimbulkan bahaya yang bisa mengancam nyawanya.


Drrt drrtt


Ponsel di tangannya bergetar di waktu yang tepat, tampak nama Yuzuki Ebisawa di sana. Mungkin saja Shun bisa mendapat petunjuk dari gadis 23 tahun itu.


"Ada apa?" tanya Shun setelah benda pipih itu menempel di telinganya.


"Aku kehilangan kartu nama tempat orang itu bersembunyi." Suara Yoshiro terdengar di telinga Shun.


"Yoshiro-kun. Apa yang terjadi? Dimana ponselmu?"

__ADS_1


Yoshiro berdecih di ujung sana. Dia duduk di bangku belakang mobil yang Yu kemudikan. Sebuah handuk menutupi tubuhnya yang shirtless. Pakaian basahnya tergeletak begitu saja di bangku sebelah yang kosong.


"Aku lengah dan ada orang yang memukulku dari belakang. Sepertinya mereka salah paham, mengira aku sama saja seperti ikan buntal tidak tahu diri itu."


"Ikan buntal?" Shun menaikkan sebelah alisnya. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja di hadapannya, menantikan penjelasan sahabatnya di ujung telepon.


"Lupakan saja. Aku kehilangan kartu nama yang diberikan dan orang itu sudah menjadi makanan ikan di laut. Dia mengatakan bahwa tuan Harada ada di Bangkok, 50 kilometer arah tenggara dari bandara." Yoshiro menerima minuman hangat yang Mone berikan. Gadis itu membeli tiga cup kopi dari salah satu mesin otomatis yang ada di minimarket tak jauh dari pantai. "Nama tempat itu tidak asing, seperti aku pernah mendengarnya."


"Apa kau bodoh?" cemooh Shun sambil terkekeh. "Aku tidak butuh informasi seperti itu. Berikan nama tempatnya, bukan peta buta yang tidak jelas seperti itu."


"Diamlah. Aku tidak sebodoh itu!" Yoshiro agak terpancing emosinya. Ia sedang kedinginan dan kini malah mendapat cemoohan dari sahabatnya. Menyebalkan!


"Aku bisa mencarinya sendiri. Nikmati waktumu bersama gadis kecilmu itu. Ah, omong-omong, kapan kamu akan menikah dengannya? Ingat usiamu tidak lagi muda. Bagaimana jika dia terpikat pria lain yang lebih muda, seperti tuan G misalnya?"


"Damare!" cetus Yoshiro kesal.


(Diam!)


"Jadi, kamu benar-benar tidak mengingatnya?" Shun kembali ke topik pembicaraan, berharap Yoshiro bisa memberikan petunjuk yang lebih berarti.


"Zen Zen Massage and Spa," cetus Yoshiro begitu mengingat kartu nama yang dibacanya sebelum ia masukkan ke dalam saku.


"APA?!" Shun berdiri dari duduknya. Jantungnya bergedup kencang saat mendengar nama panti pijat yang Yoshiro ucapkan. "Jangan bercanda! Kaori ada di sana!"


Shun mulai berlari setelah memutuskan panggilan sepihak. Ia menatap arloji di tangannya, sudah dua puluh menit berlalu sejak ia meninggalkan Kaori di panti pijat dan spa itu. Mungkinkah ia melewatkan sesuatu? Sial!


Pria 29 tahun itu terus berlari menuju lokasi yang sebelumnya ia percaya sebagai tempat paling aman untuk istrinya. Pencarian tuan Harada tak lebih penting dibandingkan keselamatan istrinya sendiri. Shun harus bergerak cepat, memastikan istrinya baik-baik saja.


...****************...


Dag dig dug rasanya. Semoga Kaori baik-baik saja 😥


See you next episode. Semoga bisa crazy up yaa. Tapi ngga tau juga si, mungkin servernya lagi error, buktinya Author submit dari kemarin sore belum bisa up juga. Jangan lupa like, komen dan dukungannya. Bye,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2