Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Larangan Terberat


__ADS_3

Tap jempolnya dulu yaa 😉


Selamat membaca 🤗


...****************...


Ken mengajak Aira menghabiskan malam di Yamashita Koen atau Taman Yamashita, menikmati semilir angin laut yang berpadu dengan harumnya bunga mawar yang ada di taman itu. Keduanya kembali ke kediaman Yamazaki setelah makan di salah satu restoran halal tak jauh dari sana.


"Terima kasih untuk hari ini," ucap Aira saat mobil silver yang Ken kendarai tiba di pelataran rumah bergaya tradisional ini. Cahaya temaram dari lampion-lampion yang tergantung di pasak kayu membuat suasana klasik nan menenangkan semakin terasa. Bulan sabit di langit menambah keindahan suasana malam ini.


"Kamu sudah mengatakannya empat kali. Tidakkah seharusnya kamu memberikan imbalan untukku daripada sekadar kata-kata?" Ken melepas sabuk pengaman yang melindungi tubuhnya dan segera keluar dari kendaraan roda empat ini, meninggalkan Aira dengan wajah kemerah-merahan karena malu. Ia tahu kemana arah pembicaraan suaminya.


Pria 28 tahun itu dengan sigap melangkah melewati kap mobil, membukakan pintu tempat istrinya berada. Tangannya terulur, bersiap menyambut jemari istrinya yang bersiap keluar.


"Imbalan apa lagi? Apa tiga nyawa di dalam sini masih kurang? Bagaimana jika kamu menggantikanku membawa mereka selama beberapa minggu ke depan sampai mereka lahir?" Aira mengelus perutnya sambil merajuk, pura-pura marah. Hanya ini satu-satunya jalan agar ia bisa terbebas dari keinginan terselubung yang ada dalam pikiran Ken.


"Maafkan aku, aku hanya bercanda." Ken mencubit pipi Aira sebelum merengkuh pinggang istrinya itu. Keduanya berjalan memasuki bangunan utama rumah ini, tiba di sebuah ruangan besar sejenis aula yang biasa digunakan untuk menyambut tamu.


Di tempat inilah, sebelas bulan yang lalu, Aira dan Ken bersimpuh di tengah ruangan. Para tetua duduk mengelilingi mereka dengan pandangan yang mengerikan. Aira masih ingat jelas tatap mata kakek Yamazaki yang begitu tajam, seolah siap menelannya hidup-hidup. Terlebih lagi, ia tidak memiliki kemampuan apapun saat itu. Jangankan menguasai senjata, memakai pisau untuk memasak saja jarang. Ia terlalu sibuk bekerja dan jarang berkutat di dapur.


Saat itu, seminggu sejak pertemuannya dengan Ken, bertepatan hari keduanya ia menginjakkan kaki di Jepang, ia merasa bagaikan kelinci kecil di antara kawanan serigala yang kelaparan. Menegangkan.


"Ada apa?" tanya Ken saat mendapati langkah kaki istrinya tiba-tiba terhenti. Senyum lebar merekah di wajah bulatnya.


"Kamu ingat apa yang terjadi hampir satu tahun yang lalu di tempat ini?" tanya Aira, menolehkan kepala guna menatap wajah suaminya.


"Tempat ini?" Ken mencoba membuka memorinya.


FLASHBACK


Sebuah katana (pedang tradisional Jepang) mendarat 30cm di depan Aira. Kakek Yamazaki yang paling dihormati oleh semua orang, tengah menatap Aira dengan tajam.


"Ambillah," pinta kakek yang duduk tepat di depan Aira dan Ken.


Deg


Jantung Aira serasa berhenti berdetak, tangannya mulai gemetar karena takut. Ini pertama kalinya ia melihat katana sungguhan. Selama ini dia hanya melihatnya dari film-film Jepang yang terkadang ia tonton saat waktunya sedikit senggang. Ia menatap Ken yang duduk di sampingnya untuk meminta bantuan, tapi Ken tak bergerak sama sekali. Seolah tidak terusik dengan kejadian itu.


"Ambil!" suara bariton itu kembali menggema memenuhi ruangan ini.


Aira mengulurkan tangannya hendak mengambil pedang panjang itu saat tiba-tiba Ken menahannya.


"Dia tidak bisa menggunakannya. Memegangnya saja belum pernah," ucap Ken dingin dan datar.


Brukk


Sebuah busur panah teronggok di samping katana itu, dilemparkan oleh orang yang sama.


"Jangan katakan kamu juga tidak bisa menggunakannya," ucap kakek dingin.


Diam


Aira menunduk tak berani menatap lelaki garang itu. Entah apa yang akan dia lakukan sekarang.


Bughh

__ADS_1


Kini sebuah pistol mendarat di pangkuan Aira yang masih terdiam. Semua pasang mata menatapnya dengan tajam.


"Maaf, aku tidak bisa menggunakannya," lirih Aira memberanikan diri menatap ketua Yamazaki yang mulai terlihat gelap raut wajahnya.


"Apa kemampuanmu? Berkuda? Mendaki gunung? Memasak? Berdandan? Melipat kertas? Menata bunga? Menari? Berkendara?" Kakek Yamazaki memberondong Aira dengan pertanyaan beruntun.


"Nothing,"


FLASHBACK END


(Episode 5 : Nothing)


Ken tertawa mengingatnya. Ia tidak mungkin melupakan kejadian itu. Hari dimana kakek dan para tetua yang menyeramkan itu tak bisa melontarkan kalimat apapun setelah mendengar jawaban Aira kala itu. Istrinya itu menjawab pertanyaan kakek terkait kemampuannya : Aku bisa melayani suamiku.


"Ada apa? Apa yang kamu tertawakan?" tanya Aira dengan kerutan dahi yang cukup dalam. Ia menatap suaminya dengan sebal. Pasti pria itu memikirkan hal yang aneh-aneh.


"Aku bisa melayani suamiku. Puft," Ken menahan tawa, menutupi mulutnya dengan tangan. Ia merasa perkataan istrinya saat itu ambigu, terlalu liar dan membuat orang lain berpikiran yang iya-iya.


Wajah Aira merah merona mendengar ucapan Ken. Ia malu mengingatnya.


BUGH


Aira memukul puncak lengan suaminya dengan kepalan tangan.


"Berhenti mengejekku!" Aira menepis tangan Ken yang ada di pinggangnya. Ia melangkah meninggalkan suaminya yang masih senyum-senyum sendiri.


"Sayang, coba katakan sekali lagi. Aku ingin mendengarnya." Ken sengaja menggoda Aira.


"Diam! Semua itu juga gara-gara kamu yang memulainya. Kamu sengaja menjebakku saat itu." Aira melewati pintu yang menghubungkan aula ini dengan ruangan di belakangnya, ia berjalan dengan cepat dan masuk ke kamar pribadinya dengan Ken.


Pintu kayu itu tertutup sempurna, meninggalkan Ken yang masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum. Pria itu mendekat dan berdiri di samping pintu kayu yang dijadikan penghalang oleh istrinya.


Tok tok tok


"Ai-chan, buka pintunya." Ken menyandarkan punggungnya di dinding dan mengetuk pintu di depannya dengan malas.


Hening


Aira memilih bersembunyi di balik selimut, meninggalkan suaminya di luar. Ia sudah mengunci pintunya, jadi Ken tidak akan bisa masuk untuk malam ini. Jika tidak memberinya pelajaran, Ken akan terus menggodanya sepanjang malam.


Tok tok tok


"Sayang, udara di sini sangat dingin. Apa kamu akan membiarkan suamimu mati kedinginan di luar?" tanya Ken pura-pura menggigil.


Aira tak bergeming, suaminya terlalu berlebihan. Ada begitu banyak kamar yang masih kosong di kediaman ini. Bahkan meski ia tetap di luar kamar, ia tidak akan kedinginan karena ada tungku penghangat di bawah lantai.


Tok tok


"Istriku Khumaira Latif yang paling cantik. Ayo buka pintunya. Aku merindukan anak-anak. Bukankah mereka juga merindukanku?" tukas Ken tak kenal lelah, namun tak mendapati jawaban dari dalam sana.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya nyonya Sumari, ibu Ken, saat melihat putranya sedang menempelkan pipinya ke pintu. Ia kebetulan lewat setelah mematikan penerangan di ruang utama rumah ini.


"Okaasan, Ai-chan mengunci diri." Ken mengadukan keadaannya pada sang Ibu.


(Ibu)

__ADS_1


Alis nyonya Sumari bertaut, heran dengan sikap manja putra sulungnya. Ini pertama kalinya ia melihat Ken yang bersikap seperti anak kecil. Sejak dulu, kakek tidak mengizinkan cucu kesayangannya untuk menunjukkan sisi lemahnya seperti ini.


"Itu bagus." ketus nyonya Sumari.


"Apa maksud ibu?" Seketika Ken berdiri tegak menghadap wanita yang telah melaporkannya 28 tahun yang lalu.


"Ikut denganku," ucap wanita 52 tahun itu. Ia membawa putranya duduk di taman yang ada di kediaman besar ini. Mereka perlu berbicara empat mata, sebagai seorang ibu kepala anak lelakinya.


Ken duduk di atas kursi bundar, menghadap ibunya dengan wajah serius. Ia tahu pasti ada sesuatu yang penting sampai ibunya memasang wajah seperti sekarang ini.


"Kapan perkiraan cucuku lahir?" tanya nyonya Sumari serius.


"Tiga minggu lagi, Bu," jawab Ken singkat.


Wanita berusia setengah abad lebih itu mengembuskan napas kasar. Ia menatap putranya dalam-dalam.


"Ada apa, Bu?"


"Ini terkait kehamilan istrimu. Ada beberapa hal yang harus kamu tahu. Para tetua kita percaya bahwa ibu hamil tidak boleh makan makanan asin atau pedas. Selain itu, ibu hamil juga tidak boleh melihat api untuk menghindari timbulnya tanda lahir pada bayinya nanti."


"Aku tahu."


"Selama kehamilan, seharusnya Aira sering mendapat hadiah berupa Shirasu, yakni ikan putih kecil yang tinggi kalsium untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Terlebih lagi istrimu mengandung tiga anak sekaligus. Setiap hari harusnya ia mengonsumsi shirasu, nasi, sup miso, dan nori (rumput laut)."


"Aira alergi ikan dan udang, jadi dia hampir tidak pernah memakannya. Tapi dia selalu makan protein lainnya, termasuk daging merah."


"Ibu tahu kamu pasti mengatakan hal ini. Dia juga terlihat kuat dan sehat, tidak kekurangan gizi sama sekali. Ibu lega melihatnya. Tapi, kamu harus selalu membuatnya nyaman, berpikir positif, dan membuatnya bahagia."


Ken diam, menantikan petuah dari ibunya.


"Sebentar lagi, ketiga jagoanmu akan lahir. Selama masa persalinan, wanita hamil diharapkan untuk bersikap setenang mungkin. Berteriak kesakitan atau mengeluh selama proses adalah tanda malu untuk menjadi seorang ibu baru. Ada kepercayaan tradisional Jepang yang percaya bahwa rasa sakit persalinan membantu mempersiapkan wanita untuk menjadi seorang ibu yang baik, maka dari itu nyeri persalinan harus ditanggung dalam hati. Kamu harus ada di sisinya saat Aira mulai merasakan kontraksi. Harus. Tidak boleh tidak!"


"Hmm," Ken mengangguk, mengiyakan perintah ibunya.


"Setelah melahirkan, ada ritual yang disebut ansei bagi para ibu baru. Ibu baru diminta untuk beristirahat total di rumah orangtuanya, tiga sampai empat minggu setelah persalinan. Tapi, karena tidak mungkin membawanya kembali ke Indonesia, maka dia akan tinggal di sini."


"Itu tidak masalah untukku," tukas Ken.


"Waktu istirahat ini dimaksudkan sebagai momen damai (ansei), di mana ibu baru akan dimanjakan oleh keluarga dan keluarga dekatnya. Ia dilarang untuk mengerjakan pekerjaan rumah agar ia bisa mencurahkan seluruh waktunya untuk benar-benar pulih dan merawat bayinya. Kerabat dan keluarga besar tidak diperbolehkan menemui bayi atau melimpahkan hadiah uang pada orangtua baru sampai ibu dan bayi telah memiliki cukup waktu untuk bersatu dan pulih total. Itu artinya, kamu juga harus menjaga jarak dengan istrimu. Sampai dia benar-benar membaik, kamu sama sekali tidak boleh 'menyentuhnya'!"


Glek


Ken menelan salivanya dengan paksa. Rasanya larangan terakhir itu yang paling berat untuknya. Pikirannya menjadi tak fokus lagi, semua kata-kata yang ibunya ucapkan masuk ke telinga kanan dan keluar lewat telinga kirinya. Ia beranjak pergi setelah ibu selesai memberikan petuahnya.


Pintu kamar tak lagi terkunci, membuat Ken dengan bebas masuk ke kamar. Pria itu mendekat ke arah Aira dan mencium keningnya. Ia naik ke atas ranjang dan ikut bersembunyi di balik selimut yang menutupi tubuh istrinya sebatas perut.


"Ai-chan, I love you," bisik Ken sebelum menutup matanya sambil memeluk tubuh istrinya yang telah terlelap, masuk ke alam bawah sadarnya.


...****************...


Ken syok pemirsah 😂😂 Lagi bucin-bucinnya, eh diingetin biar ngga deket-deket istrinya nanti abis lahiran. Penasaran nih gimana uring-uringannya abang satu ini 😆😆


See you next part, author tunggu like, komen, vote & rate bintang limanya yaa. Bye...


Hanazawa Easzy 😘

__ADS_1


__ADS_2