Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Di Luar Dugaan


__ADS_3

Dengan tiba-tiba, kakek meminta keberangkatan Ken dan Aira ke Indonesia untuk dipercepat. Hal itu menimbulkan pergolakan tersendiri di dalam hati Aira. Wanita ini tidak ingin pergi begitu saja, meninggalkan keluarga dan orang-orang tercinta dalam bahaya.


Jika benar wanita misterius yang menjadi musuh mereka adalah Anna, istri tuan Takeshi Kaneshiro, maka situasi ini tidak akan mudah. Dan hal itulah yang menjadi alasan utama Aira ingin tetap tinggal.


Lain padang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya.


Ken tidak sependapat dengan Aira. Dia memiliki pemikiran lain, lebih percaya pada siasat kakeknya. Dengan segala pengalamannya di dunia hitam, beliau pasti memilih cara yang paling kecil resikonya.


"Maafkan aku. Hanya ini satu-satunya cara agar kamu tidak lagi membantah. Maafkan aku." Ken merasa sangat bersalah, menatap wajah tembam yang kini memejamkan matanya.


Ken terpaksa melumpuhkan Aira dengan memukul tengkuknya dari belakang, membuat wanita itu tak berdaya sama sekali. Ya, Aira pingsan setelah menerima pukulan telak tanpa perlawanan sama sekali.


"Maaf," lirih Ken dengan mata berkaca-kaca. Pria itu memangku kepala Aira, mengelus pipinya dengan segenap penyesalan yang menikam hati. Dia suami yang kejam, 'kan?


Cup


Kecupan hangat mendarat di kening Aira. Dia harus melakukan ini, meski hati kecilnya memberontak. Perlahan namun pasti, bulir tanpa warna membasahi pipi pria 28 tahun ini. Hatinya tersayat sembilu tanpa rupa.


Yamazaki Kenzo, monster bisnis berdarah dingin yang terkenal akan kekejamannya, kini berada di titik terendahnya. Wanita yang menjadi sumber kekuatannya, otomatis menjadi kelemahan yang tak terelakkan.


"Kamu boleh marah padaku. Aku siap menerima hukuman darimu nanti. Maafkan aku." Ken terus mendekap Aira sambil merapal berbagai penyesalan dalam hati.


Setelah beberapa detik berlalu, Ken berhasil menguasai emosinya. Logikanya kembali bekerja. Apa yang dia lakukan ini adalah untuk kebaikan semuanya, termasuk Aira dan ketiga buah cinta mereka.


Ken mengangkat tubuh ramping istrinya, siap membawanya ke dalam mobil. Wajah sendunya telah berganti dengan ekspresi datar yang menyeramkan. Siapa saja yang melihatnya pasti tahu bahwa keadaan emosional pria ini tidak baik.


"Tuan?!" Sakura terkejut saat melihat nyonya di rumah ini ada dalam dekapan tuannya. "Apa nyonya sakit?"


Sakura memberanikan diri bertanya. Bagaimanapun juga, keselamatan nyonya rumah ini juga menjadi tanggun jawabnya sebagai pengganti Minami yang tengah berbadan dua.


Ken menggeleng, mengabaikan raut wajah penuh kekhawatiran yang tampak jelas di wajah gadis 26 tahun itu.


Sakura tak berani mengatakan apapun lagi. Atmosfir di sekitar tuannya tidak baik, ada aura gelap yang menyelimuti pria itu.


"Cepat berkemas. Kita berangkat sekarang!" Suara Ken menggema di ruang tamu, beberapa langkah sebelum tiba di pintu utama rumah ini.


"Baik!" Sakura dan beberapa pengawal berbaju hitam lainnya menundukkan kepala, siap melaksanakan titah tuan mereka.


Dengan berbagai tanya yang belum mendapat jawaban, Sakura terpaksa menyimpannya dalam hati. Dia berlari mendahului Ken, kemudian membukakan pintu mobil hitam milik keluarga Yamazaki.


"Hubungi kakek. Kami akan segera berangkat!"


"Baik, Tuan." Sakura menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sejurus kemudian, rombongan kecil itu segera meninggalkan kediaman mewah atas nama keluarga Yamazaki. Mereka menuju salah satu bandara dimana sebuah burung besi sudah dipersiapkan oleh tuan Kobayashi.


* * *


-Miracle Cosmetics Japan


Kosuke keluar dari ruangannya, bersiap menemui Yuki di ruang tamu khusus yang ada di gedung pencakar langit ini.


"Selamat pagi, tuan Harada." Calon ayah ini menyapa tamunya dengan nama marga yang dimilikinya. "Anda terlihat begitu bersemangat."


"Dimana Kenzo?" Pertanyaan to the point itu segera menyapa indera pendengaran Kosuke, membuat sebuah senyum simpul terbit begitu saja.


"Silakan duduk."


Yuki menurut pada asisten pribadi yang dia temui. "Dimana Yamazaki Kenzo?" Pertanyaan yang sama kembali terucap.


Dengan tenang, Kosuke meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja. Dia terlihat profesional, tak terpengaruh sama sekali atas intimidasi yang Yuki lakukan dengan terang-terangan. Jemarinya sigap membuka lembar demi lembar, mengabaikan tamunya yang mulai terlihat kesal.


"Murasawa-san, jangan..."


"Bukankah ini yang Anda inginkan?" Kosuke menyerahkan kertas di tangannya pada Yuki. "Tuan Yamazaki memiliki kepentingan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan. Beliau berpesan bahwa saya harus memberikan data ini pada Anda."


Yuki terpaksa menelan semua kata-katanya. Memang benar, tujuan utamanya datang ke tempat ini adalah mencari data pembanding tentang Naga Hitam, bukan untuk membahas kerjasama bisnis dengan Ken atau sejenisnya.


"Saya baru saja menyelesaikan ini dan bersiap menyuruh kurir mengantarkannya. Ternyata Anda dengan besar hati mau mengambil sendiri dokumen ini."


"Selain data rahasia ini, adakah hal lain yang ingin Anda minta dari kami?"


Glek!


Yuki menelan salivanya dengan paksa. Baik Ken maupun Kosuke, keduanya sama-sama berwibawa, bisa membuat orang kehabisan kata-kata.


"Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya rasa pertemuan ini cukup sampai di sini. Anda sudah mendapatkan apa yang Anda mau, dan saya juga sudah melaksanakan tugas yang ada." Lagi-lagi Kosuke bersuara, sebelumĀ  Yuki menemukan kata yang tepat untuk meresponnya.


"Tunggu!" Yuki mencegah kepergian Kosuke yang kini berdiri, membenahi jas yang dipakainya. "Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan."


Kosuke kembali duduk. Benar dugaannya, pasti pria ini ingin mengorek info lain darinya.


"Silakan. Waktu saya terbatas. Masih ada banyak hal yang menunggu di belakang sana." Kosuke mengisyaratkan bahwa Yuki hanya boleh menanyakan sesuaatu yang penting saja.


"Aku tahu." Pria itu tampak berpikir. Dia mencari diksi yang tepat.


"Apa kalian mengenal Anna?"

__ADS_1


Kosuke tersenyum lebar, tahu kemana arah pembicaraan mereka kali ini.


"Ada begitu banyak nama Ana di dunia ini." Kosuke berdalih, bukan wewenangnya sama sekali untuk membahas wanita Rusia itu.


"Bukan Ana, tapi Anna." Yuki berkeras, menekankan bahwa nama yang dia maksud memiliki dua huruf 'N'.


"Maaf, Tuan. Ada ribuan atau bahkan jutaan nama Anna di dunia ini."


"Apa hubungannya dengan geng Naga Hitam?"


Kosuke mulai kesal dengan keras kepala pria ini. Pertanyaan yang dia lontarkan itu terlalu berbahaya. Mungkin saja ada mata-mata atau alat penyadap yang Anna pasangkan di sekitar mereka. Kosuke tidak ingin salah mengambil keputusan.


"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Tugas saya hanya menyampaikan dokumen itu. Silakan Anda baca terlebih dahulu, jika ada yang ingin ditanyakan, Anda bisa menghubungi saya nanti."


Yuki tak bisa melakukan apapun. Sebagai seorang atasan, dia tahu batas jangkauan seorang asisten pribadi. Dan itulah yang Kosuke tunjukkan sekarang, tidak mencampuri ranah yang bukan tanggung jawabnya. Ada orang yang lebih mumpuni, yang lebih tepat untuk menjawab pertanyaan darinya ini.


"Apa ada yang lain, Tuan?" Kosuke bersuara.


Yuki menggeleng. "Aku akan membaca dokumen ini secepatnya."


"Baik. Mari saya antar," ucap Kosuke sambil berdiri. Dia mengusir tamunya ini dengan bahasa yang halus.


Yuki menurut, lagipula masih ada banyak hal lain yang harus dia lakukan.


"Tolong sampaikan terima kasihku pada Kenzo." Yuki berpamitan sebelum meninggalkan ruangan minimalis ini.


"Baik, akan saya sampaikan."


Kosuke berbalik kembali ke ruangannya. Detik berikutnya, dia memegang earpiece yang menempel di telinganya.


"Tuan, apa Anda mendengarnya?"


"Umm," jawab Ken di ujung telepon. "Dia benar-benar masih hidup. Berhati-hatilah dan lanjutkan rencana yang kakek perintahkan!"


"Baik, Tuan."


Bip


Panggilan dua arah itu terputus, atau Ken memang sengaja memutusnya. Tanpa Yuki tahu, ternyata Ken mendengarkan percakapannya dengan Kosuke dari tempat lain. Pertanyaan Yuki tentang Anna, membuat Ken yakin bahwa dugaannya dan Aira tepat. Istri mendiang tuan Takeshi Kaneshiro itulah yang tengah mereka hadapi. Benar-benar di luar dugaan.


* * *


Happy Ied Mubarak gaess, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Aamiin.

__ADS_1


See you next day.


Hanazawa Easzy


__ADS_2