Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Tekko - Kagi


__ADS_3

Angin bertiup lembut, menelisik kuncup bunga sakura yang bermekaran di dahannya. Satu dua kelopak mulai gugur, jatuh ke tanah menyusul kelopak-kelopak yang lainnya.


Suasana kediaman kakek Yamazaki begitu ramai. Hari ini adalah peringatan ulang tahun pernikahan Ken dan Aira yang pertama. Meski keduanya masih ada di rumah sakit, nyatanya nyonya Sumari tak menghentikan persiapan perayaan ini. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya, membuat jamuan mewah dan mengundang seluruh anggota keluarga Yamazaki. Setidaknya akan ada dua ratus orang yang hadir di sini.


"Kobayashi-san, bagaimana persiapan keamanannya? Semua sudah stand by di tempat masing-masing?" tanya wanita yang kini memakai kimono berwarna hijau dengan obi besar di punggungnya. Wajahnya terlihat lelah, namun semangatnya masih bergelora.


*Obi adalah sabuk pinggang dari kain yang dipakai sewaktu mengenakan kimono atau keikogi. Obi untuk kimono umumnya dibuat dari kain sutra. Kimono pria dikenakan bersama obi dari kain kaku yang sempit, atau kain lentur yang panjang. Kimono wanita dikenakan bersama obi berhiaskan corak tenun atau bordir.


"Semuanya sudah siap, Nyonya. Sudah saya pastikan, mereka ada di posisinya masing-masing."


"Baguslah." Nyonya Sumari tampak sedikit lega. "Bagaimana dengan makanannya? Kamu sudah mengaturnya?"


Wanita paruh baya ini nampaknya ingin memberikan kesan bahwa perayaan ini adalah acara yang luar biasa. Akan ada banyak orang yang datang dan melihat ketiga cucunya yang begitu menggemaskan. Tentu ia ingin menampilkan yang terbaik, dalam segala bidang.


Ya, ini adalah pertama kalinya bayi merah itu akan tampil di depan umum. Meskipun orang-orang yang akan datang nanti masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Ken, nyatanya tak semua orang sejalan dengan putranya itu. Ada beberapa dari mereka yang masih berkecimpung di dunia gelap, dan tentunya bertentangan dengan jalan Ken sekarang. Ia tidak ingin nyawa cucunya terancam, jadi semua harus dipersiapkan dengan matang.


Setidaknya ada lima ratus pengawal yang akan menjaga kedamaian di semua sudut rumah ini. Belum lagi para pengawal bayangan yang ada di belakang kakek Yamazaki. Mereka hanya akan muncul saat situasi mendesak seperti saat pertarungan Ken kemarin.


"Bagaimana dengan dua orang itu?" tanya nyonya Sumari, merujuk pada tuan Harada dan nyonya Hanako yang tersiksa di ruang bawah tanah sejak kemarin.


"Mereka masih hidup." Tuan Kobayashi menjawab tanpa ekspresi. Ia menunjukkan sikap profesionalismenya, tidak menunjukkan belas kasihan sama sekali pada dua tawanan tak tahu diri itu.


"Apa ayah tidak menghukumnya?" tanya nyonya Sumari penasaran. Ia tidak percaya bahwa dua orang itu masih hidup setelah kesalahan fatal yang telah mereka lakukan, rencana melenyapkan putra sulungnya, Yamazaki Kenzo.


"Tuan Besar menyerahkan semuanya pada Tuan Muda dan Nyonya Aira. Mereka yang akan memberikan hukuman untuk keduanya."


"Antarkan aku melihat keadaan dua orang itu!"


Tuan Kobayashi mengantar nyonya yang sangat ia hormati ini menuju ruangan bawah tanah yang terasa gelap dan pengap. Sebuah pintu besi menjadi pembatas antara ruangan isolasi itu dengan dunia luar.


Krieet


Bunyi engsel pintu yang jarang bergerak itu terasa begitu menyayat hati, membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri, termasuk wanita yang kini duduk tertahan di atas kursi kayu lusuh berjamur di bagian kanan ruangan ini. Tempat ini lembap dan berdebu, menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang berdiam di sini dalam jangka waktu yang lama.


"Sumari!" panggil pria yang kini terlihat begitu mengenaskan. Wajahnya pucat dengan beberapa bagian wajah yang mulai terlihat membiru. Belum lagi luka di pundaknya yang terlihat menganga, tersembunyi di antara darah yang mulai mengering. Pisau mungil yang Aira lesatkan saat di medan pertempuran, berhasil menancap di pundak sebelah kanan tuan Harada. Dan semalam, kakek Yamazaki mencabutnya dengan paksa, membuat pria itu berteriak sekencang-kencangnya. Dagingnya yang terkoyak oleh belati itu, membuatnya mengaduh kesakitan, bahkan sampai menitikkan air mata.


"Tolong lepaskan aku," lirih pria itu dengan sisa napas yang tersisa.

__ADS_1


"Melepaskanmu?" tanya nyonya Sumari pada teman bermain semasa kecilnya ini.


"Sum... Sumari..." Tuan Harada tergagap, takut melihat wajah wanita di depannya yang mengaktifkan mode monster. Ya, semua orang yang mengenal nyonya Sumari, tahu betapa kejamnya wanita satu ini. Dia adalah putri tunggal kakek Yamazaki, gangster ternama seantero Jepang. Dan sudah barang pasti bahwa putri seorang yakuza juga memiliki pembawaan yang kejam dan menyeramkan.


Harada muda dan Sumari remaja sangat dekat pada masanya. Mendiang ayah Harada adalah pendiri kelompok kriminal Naga Hitam. Beliau berteman akrab dengan kakek Yamazaki, sama-sama bergerak di dunia bawah tanah, menguasai pemasaran senjata ilegal dan obat-obatan terlarang.


Namun menjelang kematiannya, ayah Harada melepaskan tanggung jawabnya. Beliau menyerahkan penguasaan Naga Hitam pada anaknya. Harada muda yang penuh ambisi, bekerja keras siang dan malam demi mengumpulkan pundi-pundi uang dan memperluas kekuasaannya hingga ke Nagano. Dan akhirnya mendirikan markas besar di kota pegunungan itu.


Demi melindungi kelompok kriminal yang dipimpinnya, tuan Harada mencoba peruntungannya di dunia politik. Siapa sangka, ia dengan mudah masuk ke lingkaran elit pemerintah dalam beberapa tahun. Ia dengan mudah menyelundupkan berbagai barang ilegal tanpa terendus pihak yang berwajib. Itu berlangsung beberapa tahun lamanya, membuat kekayaannya semakin berlimpah.


Namun, sejak kondisi kesehatan kakek Yamazaki memburuk, bisnis mereka dipegang oleh tuan Tsuguri, ayah Ken. Beliau yang seorang pebisnis tulen, bukan yakuza, memilih menghentikan bisnis obat-obatan terlarang. Selain karena itu ilegal, tuan Tsuguri juga berpikir bahwa obat berbahaya itu justru akan memperburuk pasar modal di Jepang, menghancurkan calon pengusaha muda yang ada.


Diam-diam ia memblokade pemasok benda haram itu, membuat mereka kesulitan memasukkan barang dagangannya ke Jepang. Dan puncaknya, para pemasok narkoba di berbagai negara itu tiba-tiba musnah tanpa jejak setelah menyinggung Yamazaki Kenzo. Itu membuat pasar narkoba kacau dan sumber uang geng Naga Hitam musnah.


Sejak saat itulah tuan Harada menyimpan kebencian dan dendam dalam hatinya. Ia ingin memusnahkan Kenzo agar roda bisnisnya bisa kembali berputar seperti sedia kala, mendatangkan jutaan miliar dolar setiap tahunnya.


Dan kesempatan itu datang saat tuan Harada melihat pemberitaan tentang nyonya Hanako beberapa bulan yang lalu. Tepatnya setelah nyonya Hanako ditangkap pihak kepolisian dengan Ken sebagai pelapor. Tuan Harada memanfaatkan kebencian nyonya Hanako untuk menyerang Ken. Namun nyatanya semua berakhir dengan kekalahannya ini.


Jika saja para pengawal bayangan suruhan kakek Yamazaki tidak ikut campur dalam pertarungan kemarin, mungkin hari ini tuan Harada akan tersenyum lebar menghadiri acara pemakaman Yamazaki Kenzo. Ah, sayang sekali, itu hanya ada dalam imajinasinya, nyatanya pewaris keluarga Yamazaki itu masih segar bugar, hanya mengalami sedikit luka kecil. Sial!


"Sumari, maaf atas kesalahanku ini. Aku menyesalinya." Nyali tuan Harada menciut saat nyonya Hanako semakin mendekat ke arahnya.


Krakk


Rantai yang menjerat tangan kiri tuan Harada terputus setelah nyonya Sumari menggunakan senjata di tangannya. Ya, wanita itu memegang sebuah tekko-kagi untuk memutus rantai yang bergelantung di depannya, membuat yuan Harada terkejut.



Tekko – Kagi adalah cakar khas yang mematikan. Senjata satu ini sangat lazim digunakan para ninja. Bentuknya seperti cakar namun dengan dimensi yang pendek. Meskipun begitu, benda ini termasuk senjata mematikan karena terbuat dari besi tajam serta memiliki lengkungan yang bisa dipakai untuk mengoyak musuh dengan sadis.


"Sumari-chan, ariga..."


(Terima ka...)


Dukk


Nyonya Sumari menendang tulang kering pria di depannya, membuat lutut tuan Harada membentur lantai detik berikutnya.

__ADS_1


"ARGHH!" Teriakan politisi itu menggema ke seluruh ruangan, membuat nyonya Hanako membulatkan mata detik itu juga. Tubuhnya gemetar hebat, menyaksikan pertunjukan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Sebagai orang awam, ia begitu terkejut melihat keganasan nyonya di kediaman tradisional ini. Penampilannya yang begitu anggun dengan kimono yang cantik, tak membuat aura yakuzanya meredup, justru semakin kentara.


Gerakannya yang begitu cepat saat memutuskan rantai dan menendang tuan Harada, menunjukkan bahwa wanita itu memiliki kemampuan yang tak kalah hebat dari putranya. Nyonya Hanako menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana keganasan Yamazaki Kenzo saat mode iblisnya diaktifkan. Dan sekarang ada iblis dalam rupa seorang wanita cantik yang seusia dengannya. Nyonya Hanako memejamkan mata, takut ajalnya akan segera tiba.


"Berterimakasihlah pada putraku karena dia masih mengizinkanmu hidup. Jika itu orang lain, mungkin akan lebih menyedihkan dari ini." Nyonya Sumari berkata dengan nada dingin dan tajam. Dia melenggang pergi, menimbulkan bunyi gemeletuk perpaduan antara geta dengan lantai kayu di bawahnya.


*Geta adalah alas kaki tradisional Jepang yang dibuat dari kayu. Pada bagian alas (dai) terdapat tiga buah lubang untuk memasukkan tali berlapis kain yang disebut hanao.



(Ilustrasi obi dan geta. Pict from Pinterest)


Nyonya Sumari keluar dari ruangan pengap itu tanpa mengatakan apapun. Dia berdiri di anak tangga teratas yang menghubungkan ruangan bawah tanah dengan bangunan utama tempat tinggalnya ini. Wajah iblisnya sudah musnah, berganti dengan muka ramah yang siap tersenyum pada siapa saja.


"Dimana Ken dan Aira? Masih di rumah sakit?" tanya wanita 52 tahun itu pada kepala pelayan yang sudah bekerja padanya sejak puluhan tahun yang lalu.


"Masih, Nyonya. Tuan Muda masih harus mendapat pemeriksaan sekali lagi sebelum diizinkan keluar dari rumah sakit." Tuan Kobayashi menudukkan kepala, menunjukkan rasa hormatnya.


"Anak bodoh itu benar-benar mengecewakan. Hanya satu luka di lengannya saja sampai menginap di rumah sakit. Bagaimana bisa dia menjadi selemah itu sekarang? Lihat saja, setelah dia sembuh nanti, aku akan menjadi pengawas latihannya seperti dulu lagi!" tekad nyonya Sumari, siap memberikan pelatihan ketat seperti bertahun-tahun yang lalu.


-Rumah Sakit Daerah Nagano-


"Hachiim," Ken menutup mulut dan hidungnya dengan tangan setelah bersin. Tiba-tiba ia merasakan angin dingin menelisik belakang punggungnya, membuat ruangan ini terasa mencekam seketika.


"Ada apa?" tanya Aira saat mendapati ekspresi suaminya yang tertegun seperti baru saja mendapat serangan mematikan dari lawannya.


"Entahlah. Sepertinya bahaya akan segera datang." Ken memegang tengkuknya dengan perasaan tidak nyaman.


"Bahaya?" tanya Aira penasaran.


"Ai-chan, lindungi aku dari kekejaman ibuku!" Ken memohon sambil mencengkeram lengan Aira erat-erat, membuat wanita berjilbab itu mengerutkan keningnya cukup dalam.


...****************...


Whoaaa... Emaknya monster muncul. Bahaya! Kabur aja lah, Bang 😂😂😂


Ada yang mau bawa kabur si Abang? Hayuk buruan bawa helikopter dah ke Nagano, Jepun 😅

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, share, dkk. See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2