
Ken menangis sedu sedan sembari bersimpuh di kaki Aira. Ia menyesali segala perbuatan kasarnya di masa lalu. Tentang bagaimana dia memperlakukan istrinya itu dan berkali-kali membahayakan nyawanya. Jika Aira adalah wanita yang lemah, pasti ia sudah tidak ada di sini lagi. Entah itu kabur, pulang ke Indonesia, bersembunyi di suatu tempat atau bahkan berada di dunia lain. Entahlah. Ken tidak mau membayangkannya.
Satu hal yang pasti, Aira adalah yang terbaik diantara semua wanita di dunia ini. Tuhan telah memilih wanita chubby itu sebagai pendamping hidupnya, menjadi pendukung dikala dia lemah sekaligus menjadi benteng hidup saat Ken menggila.
Dia dengan tenang akan menghadapi Ken yang tak terkendali, menjadi penasehat untuknya dan kelak akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Bercengkerama membahas hal-hal sepele bersama putra dan putrinya nanti. Ah, semoga saja.
"Maaf.." ucap Ken. Ia menyesali semua perbuatannya di masa lalu.
Aira memberikan sebuah lolipop berbentuk awan dan meminta suaminya itu untuk tersenyum. Kesedihan yang ia tampilkan beberapa jam yang lalu seolah menghilang tak berbekas sedikitpun. Entah kekuatan seperti apa yang dimiliki Aira sampai bisa menguasai dirinya dengan sangat baik. Meskipun terkadang banyak diam, tapi Aira tidak pernah melalaikan kewajibannya mengurus Ken.
Ken merasa sangat beruntung bisa memiliki Aira di sisinya. Sisi gelapnya memudar oleh perlakuan Aira. Senyum wanita itu menjadi peredam emosi Ken yang sering kali naik turun macam roller coaster di taman bermain.
"Ai-chan.." panggil Ken yang kini tengah menatap langit-langit kamar mereka. Lolipop bergambar awan yang Aira berikan tersimpan di mulutnya. Ia keluar masukkan berkali-kali seperti anak kecil.
"Hmm," jawab Aira menggumam, jemarinya membelai surai hitam Ken yang kini ada di pangkuannya.
"Arigatou.." ucap Ken sembari menggenggam jemari istrinya.
(Terima kasih)
"Untuk?" tanya Aira, melepaskan punggungnya dari kepala ranjang demi mendekat ke arah wajah suaminya. Menilik manik hitam milik Ken yang juga menatapnya.
"Semuanya."
Hening
Perasaan Aira memang sudah sedikit membaik, tapi goresan di hatinya masih tersisa. Luka-luka tak terlihat yang ada di hatinya menimbulkan perih tersendiri. Ia tidak ingin melihat Ken menangis, makanya ia menguatkan diri untuk menghibur suaminya itu. Tapi bukan berarti ia sudah melupakan semuanya. Bukannya pendendam, tapi ibarat gelas kaca jika sudah retak tidak akan kembali seperti semula. Pasti berbekas.
"Itu sudah tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang istri." jawab Aira kembali menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Tidak ada yang lain?" tanya Ken berharap.
__ADS_1
"Hmm? Yang lain?" Aira tidak tahu maksud suaminya.
"Kamu masih bertahan di sisiku karena kamu mencintaiku. Benar kan?" tanya Ken penuh harap. Ia memandang wajah istrinya dari bawah, menantikan pernyataan istrinya yang akan membuat hatinya senang.
Segaris senyum yang semula terpaut di bibirnya perlahan luruh, menghilang berganti dengan wajah tanpa ekspresi yang menyesakkan hati. Aira berubah, aura bahagia yang sedari tadi terpancar seolah menguap bersama hembusan angin yang terasa dingin.
"Mungkin aku pernah bilang I love you padamu, tapi aku sendiri ragu dengan perasaanku sekarang. Aku bertahan demi anak-anak kita, bukan yang lain. Tanpa mereka, mungkin aku sudah menyerah." ucap Aira sambil mengusap perutnya perlahan.
"Ai-chan.." Ken langsung bangkit dan menangkup wajah istrinya. Ia tidak ingin Aira bersedih lagi.
Aira menarik tangan Ken dari wajahnya dan meletakkannya lagi di depan pangkuannya sendiri.
"Aku lapar." ucapnya sambil berusaha menjauh dari suaminya. Ia tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan Ken. Ia harus kuat demi anak-anaknya, apapun yang terjadi.
"Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Jangan pergi." ucap Ken dengan suara parau. Ia menahan tubuh mungil istrinya, mendekapnya dari belakang. Tangannya melingkar di depan dada dan mengunci pergerakan Aira agar tak melangkah pergi. Ia tidak rela Aira menjauh sejengkal pun darinya.
"Aku tidak akan bersikap kasar lagi padamu atau anak-anak kita. Aku janji." ucap Ken dari dasar hatinya.
"Akan ku lakukan apa saja untuk membuatmu percaya." tekad Ken masih ingin meyakinkan istrinya.
"Jangan pernah lukai anakku. Aku akan membunuhmu jika itu terjadi." ancam Aira lirih namun Ken masih bisa mendengarnya.
Deg
Sebuah sembilu terasa menusuk relung hati pria bermata sipit itu. Bulu kuduknya berdiri setelah mendengar ancaman istrinya. Pelukannya sedikit terlepas. Ada ketakutan tersendiri yang tiba-tiba menyergapnya. Perkataan Yamaken tempo hari kembali terbayang di benaknya. Saudara kembarnya itu takut Aira akan menjadi mesin pembunuh di masa depan.
Cup
Aira berbalik dan mengecup pipi suaminya yang berdiri kaku bagai manekin. "Aku hanya bercanda." ucapnya dengan senyum terkembang.
"Ai-chan.." panggil Ken ingin mengonfirmasi kebenaran dari pernyataan istrinya. Perkataan mana yang bercanda dan mana yang serius.
__ADS_1
"Aku lapar. Ayo." Aira menarik tangan Ken menuju ke dapur.
"Apa kita punya ubi?" Aira melepaskan genggamannya dan berjongkok di depan lemari pendingin. Ia memilah-milah sayur dan makanan yang ada di depannya tapi tidak mendapati makanan kesukaannya di sana.
"Apa di sekitar sini ada yang menjual ubi panggang?"
Ken tak menjawab. Ketegangan di wajahnya belum mereda sama sekali. Ia yakin Aira tidak bercanda saat mengatakan akan membunuhnya tadi. Ia merasakan aura gelap yang menyelimuti istrinya saat mengatakan hal tabu itu.
"Aku mau ubi." Aira bersikap manja dengan menarik-narik ujung lengan suaminya. Ia memasang puppy eyes untuk memohon di depan Ken.
"Ken..." lirih Aira karena Ken sama sekali tidak merespon.
Ken kembali memeluk istrinya dengan erat. Entah kenapa ia merasa Aira kini sangat berbeda dengan wanita yang ia nikahi 7 bulan yang lalu. Aira yang polos dengan wajah yang tampak ketakutan saat digertak, kini berubah menjadi wanita tanpa ekspresi yang mengerikan. Seolah ia siap meluluhlantakkan apa saja penghalang di depan matanya jika ada yang berani mengganggunya atau mengusik wilayah teritorialnya.
"Kamu boleh melakukan apa saja asalkan kamu tidak membahayakan dirimu sendiri!!" ucap Ken sambil menatap manik mata istrinya dengan intens. Kedua tangannya memegang puncak lengan Aira dan menekannya kuat-kuat.
Segaris senyum terukir di wajah ayunya. Ia mengangguk mengiyakan permintaan suaminya.
Krukk kruukk
"Anak-anak kita kelaparan." lirih Aira membuat ketegangan di antara mereka pecah seketika.
"Ayo. Aku tahu dimana yang menjual ubi madu paling enak di sini."
Ken membawa Aira ke sebuah kedai tradisional yang menjual ubi madu panggang. Mereka membunuh waktu dengan menikmati makanan itu hingga beberapa jam kemudian, sampai Aira merasa bosan dan perut yang terasa kenyang. Ia bahkan membawa dua bungkus besar ubi yang akan ia simpan di kulkas dan bisa ia masak esok hari.
*******
See you next day,
Hanazawa easzy ♡
__ADS_1