Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Lidah Tidak Bertulang


__ADS_3

Ken melajukan mobil yang dikendarai ke arah selatan Tokyo, dimana istana kecilnya berada. Ia tersenyum sepanjang perjalanannya, bahkan sesekali bersenandung lirih, menyangikan lagu Lemon dari Kenshi Yonezu. Itu adalah lagu yang pernah ia dengarkan saat bersama Aira. Saat itu ia benar-benar sudah jatuh cinta dengan istrinya.


Sebuah gerbang tinggi terlihat beberapa meter di depan sana, membuat Ken melajukan mobilnya sedikit lebih pelan. Tampak seorang pria berpakaian hitam membuka pintu besi itu saat melihat mobil tuannya pulang.


Ken masuk ke dalam rumahnya dan mendapati ibu mertuanya sedang menggendong Ayame yang tertidur. Di sebelahnya ada Aira yang duduk manis sambil memakan potongan buah di tangannya. Dress warna biru dongker dengan jilbab yang senada, melekat di tubuh mungilnya. Senyumnya merekah saat melihat suaminya kembali.


"Tadaima," ucap Ken saat mencium kening istrinya. Ia begitu merindukan wanita yang telah mencuri hatinya ini.


(Aku pulang)


"Okaeri," balas Aira lirih. Ia tersipu saat bibir Ken mendarat di hidungnya. Ya, pria ini bukan hanya mencium keningnya, tapi juga turun pada mata dan sampai mengecup hidungnya.


(Selamat datang kembali)


Plakk


"Ada ibu!" bisik Aira setelah menepuk lengan suaminya.


"Biarkan saja, ibu juga pernah muda. Bukan begitu, Bu?" Ken menatap wanita paruh baya yang kini duduk tak jauh dari mereka, berharap mendapat dukungan atas kelakuannya yang selalu ingin memonopoli Aira.


Bu Anita hanya tersenyum, tak mengiyakan atau menampik pertanyaan menantunya. Memang benar ia pernah muda dan merasakan luapan cinta seperti yang Ken rasakan untuk istrinya, tapi jika ia sepaham dengan Ken, Aira yang akan marah. Daripada membuat putrinya tidak senang, wanita berjilbab hitam itu hanya bisa tersenyum, menunjukkan wajah hangatnya.


"Semua sudah siap, Tuan, Nyonya." Sakura mendekat dan melaporkan persiapan mereka sudah selesai. Setidaknya ada 4 tas besar perlengkapan bayi beserta pakaian Aira dan ibunya yang harus dibawa. Mereka akan disana selama dua minggu, sebelum bu Anita kembali ke Indonesia.


Ken memberi isyarat bahwa ia harus naik ke atas lebih dulu untuk salat. Aira menganggukkan kepalanya.


"Tunggu sebentar. Ken belum makan dan beribadah." Aira beranjak dari duduknya, bersiap naik ke kamarnya untuk menyiapkan alas salat untuk suaminya.


"Bagaimana kalau kami berangkat dulu? Ibu akan menjaga ketiga bayimu bersama Sakura. Kamu berdua dengan Ken menyusul di belakang. Sakura membawa ASI yang kamu perah semalam, jadi tidak perlu khawatir mereka menangis saat di jalan." Ibu memberi saran. "Nampaknya dia begitu merindukanmu dan kamu juga sama. Aku bisa melihat tanda cinta yang kamu tinggalkan di lehernya pagi ini," bisik wanita 48 tahun itu di telinga kanan Aira.


"Ibu?! Disini siapa yang anak ibu sebenarnya? Aku atau Ken?" canda Aira. Sejujurnya ia heran dengan sikap ibunya, bagaimana bisa seorang ibu mendorong putrinya sendiri ke dalam genggaman laki-laki buas itu?


"Nak, sudah menjadi kewajibanmu memenuhi hak suamimu. Jika saja manusia boleh menyembah manusia lain, seorang istri diminta untuk bersujud di bawah kaki suaminya. Bahkan jika kamu menjilat darah dan nanah yang keluar dari hidung suamimu, itu belum bisa menggenapkan baktimu padanya." Ibu menyampaikan wejangannya untuk Aira.


"Bu...." Aira tidak ingin berpisah dengan ketiga putra putrinya. Ia ingin mereka pergi bersama.


"Sudah. Kamu urus saja suamimu. Anak-anak aman bersama ibu dan mereka bertiga." Ibu melirik ketiga pengasuh bayi yang berdiri tak jauh dari sana, Sakura, Mao dan Mayumi. Ia membalik tubuh putrinya, memaksa Aira naik ke kamarnya di lantai atas untuk menemui Ken.


"Tapi, Bu." Aira masih berusaha menolak saran ibunya. Ia masih ingat seberapa ganasnya suaminya itu pagi ini.


"Kita bertemu di kediaman kakek Yamazaki nanti. Sampai jumpa," ucap ibu, membawa Aya kabur bersama dua saudaranya yang lain.


Mau tidak mau Aira menaiki anak tangga di depannya satu per satu, menuju kamar pribadinya dengan Ken di lantai atas.


Krek


Ia membuka pintu di depannya sambil menggigit bibir. Takut kejadian tadi pagi akan terulang kembali.


"Ada apa?" tanya Ken yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tetes-tetes air jatuh dari dagunya, bekas air wudhu. Lengan kemejanya disingsingkan di atas siku. Ia bertanya-tanya melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat mengkhawatirkan sesuatu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," jawab Aira sambil membentangkan kain segi empat sebagai alas salat suaminya.


Cup


"Terima kasih," ucap Ken sembari mengelus kepala istrinya dengan sayang setelah mencium puncaknya. Itu tak membatalkan wudhunya, karena kepala Aira tertutup jilbab, jadi ia mengecup kain yang menghalanginya.


Aira tersipu mendapat perlakuan manis dari suaminya. Ia merasa begitu bahagia karena suaminya yang arogan, kasar dan pemarah itu kini telah berubah menjadi sosok yang lembut dan penyayang. Meski itu hanya di depannya saja. Karena kenyataannya dia masih begitu buas saat di luar sana. Seperti kejadian tempo hari dimana ia melemparkan pisau berbentuk koin tepat di kening musuhnya.


Seni melempar pisau atau yang disebut Shurikenjutsu ini di pelajari oleh para Samurai dan Ninja Jepang sebagai bentuk keilmuan. Aira pernah mempelajarinya beberapa kali di akademi, tapi sayangnya itu adalah salah satu titik lemahnya. Ia tidak bisa menancapkan pisau itu tepat pada target meski sudah mencobanya sepuluh kali. Berbeda dengan Yu yang langsung bisa tepat sasaran di percobaannya yang ke tiga. Itu sulit, bahkan terasa sangat sulit bagi Aira. Jadi, bagaimana Ken bisa menancapkan pisau kecil berbentuk lingkaran tepat di tengah kening pria itu? Unbelievable.


*unbelievable : tak bisa dipercaya


Awalnya Aira juga tak percaya, tapi setelah melihat rekaman CCTV yang ada di ruangan itu, mau tak mau ia harus mengakui bahwa suaminya tetaplah seorang gangster yang menyeramkan. Darah yakuza yang mengalir di tubuhnya, selamanya tak akan hilang. Pria itu tetap akan meminta tumbal dari lawan bisnisnya yang memakai cara-cara kotor dalam bermain. Seperti halnya menembak kaki nyonya Hanako sebelum mengirimnya ke balik jeruji besi, itulah perbuatan para gangster seperti Ken dan kawan-kawannya.


Aira tersadar dari lamunannya saat Ken duduk tahiyat awal. Ia segera menguasai diri dan pergi ke dapur, mengambil beberapa makanan untuk santap siang suaminya. Busui itu sampai di kamar saat Ken melipat alas salatnya.


"Dimana anak-anak?" tanya Ken saat Aira berada di hadapannya.


"Mereka berangkat lebih dulu," jawab Aira sedikit gugup. Ia sengaja menundukkan pandangan, menatap makanan yang ia sajikan.


Ken mengerutkan kening, heran dengan sikap Aira yang sedikit aneh. Istrinya itu seolah sengaja menghindar agar mereka tidak saling bersitatap.


'Ada apa dengannya?' batin Ken bertanya-tanya.


"Aku tunggu di bawah. Kita berangkat setelah kamu selesai makan." Aira bersiap pergi setelah menyajikan makanan untuk ayah dari anak-anaknya.


Sret


"Ada apa denganmu? Kamu sengaja menghindariku?" tanya Ken menahan dagu Aira. Sebelah tangannya melingkar erat di pinggang ramping wanitanya itu.


Glek


Aira hanya bisa menelan saliva untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Ia tidak bisa mengelak dari tuduhan Ken, karena kenyataannya ia memang coba menjauh dari suaminya ini.


"Ada apa? Kamu marah padaku?" tanya Ken kemudian.


"Tidak," jawab Aira, berusaha lepas dari dominasi suaminya. Ia menolehkan wajahnya ke samping.


"Hey, ada apa? Katakan padaku," pinta Ken.


"Lepas! Biarkan aku duduk sendiri." Aira berusaha melepas cengkeraman tangan suaminya dan beranjak bangunm namun sepertinya tak akan mudah. Yang terjadi justru sebaliknya. Kini kedua tangan Ken terjalin di belakang tubuhnya. Pria itu bahkan tak segan mendekatkan wajahnya ke wajah Aira yang merona merah.


"Katakan ada apa!" paksa Ken kali ini. Ia tidak ingin bermain-main lagi. Kilatan mata yang tajam menandakan ia tidak sedang bercanda.


"Aku takut kamu lepas kendali seperti tadi pagi," tukas Aira pada akhirnya.


"Hah?" Kening Ken berkerut mendengar jawaban istrinya.


"Ibu memintaku menemanimu. Beliau memaksa pergi lebih dulu agar tidak mengganggu waktu kita berdua," lirih Aira sambil memainkan kancing baju Ken yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Jadi itu sebabnya kamu tidak ingin menatapku, huh?" tanya Ken tak percaya.


"Kamu yakuza. Sampai kapanpun tetap seorang mafia yang kejam dan berbahaya. Bahkan bisa membahayakan pertahananku."


"Heih, aku seperti itu? Katakan semuanya, aku akan mendengarkannya." Ken berucap dengan lembut, mengelus pipi tembam istrinya.


"Kamu ambisius, pemaksa, otoriter, diktator, menang sendiri, tidak mau mendengarkanku."


"Benarkah? Apa lagi?" tanya Ken sambil tersenyum. Ia begitu gemas pada istrinya satu ini. Ingin sekali rasanya mencium bibir di depannya detik ini juga.


"Kamu itu suka mencari kesempatan dalam kesempitan. Tidak bisa tidak menggodaku saat hanya berdua seperti sekarang." Ucapan Aira berubah ketus. Ia sebal mengingat sikap Ken yang sengaja mencari perhatiannya seperti saat ini.


"Ada apa di lidahmu?" tanya Ken sengaja memancing perhatian istrinya.


"Hah? Apa?" Pertanyaan itu berhasil membuat Aira menatap manik hitam suaminya.


"Apa lidahmu bermasalah?"


"Maksudmu?" tanya Aira tak mengerti.


"Kamu begitu pandai mencela suamimu, aku takut lidahmu itu sudah mati rasa sampai bergerak sendiri tanpa kamu suruh." Ken berucap dengan ekspresi marah yang dibuat-buat.


"Hah?" Kali ini Aira semakin tak mengerti ucapan suaminya. Tadinya ia yang marah, kenapa sekarang berubah jadi Ken yang marah?


"Julurkan lidahmu," pinta Ken.


"Untuk apa?" tanya Aira.


"Julurkan saja, aku ingin memeriksanya," paksa pria itu.


Aira menuruti perintah itu, tanpa tahu rencana yang ada di kepala Ken untuk menghukumnya.


Cup


Ckitt


Ken mencium lidah istrinya selama beberapa saat sebelum menggigitnya, membuat wanita itu membelalakkan mata. Ia merasakan ngilu dan geli yang luar biasa di saat yang bersamaan.


DEG!!!


"Jadi benar ya, lidah itu tidak bertulang?" tanya Ken dengan senyum kemenangan di wajahnya.


...****************...


Hwaaaa..... Abang nakal! 😂😂😂😭😭😭😭😭


Kurang HOT? Makan cabe gih biar hot, haha 😂


See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2