Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Apapun yang Terjadi


__ADS_3

Mentari bersinar cerah, menyinari hamparan pasir putih di tepi pantai. Satu dua burung tampak terbang rendah, sebelum menangkap mangsanya yang menyembul di permukaan air.


Suasana menenangkan ini, tak bisa membuat perasaan Kenzo lebih baik. Rasa bersalah masih menghantuinya, melihat tubuh istrinya yang kini kembali tumbang karena kebodohannya. Kondisi Aira sudah membaik setelah istirahat cukup, namun dia masih terbaring lemah di ranjang.


"Tuan, Nyonya sudah bangun." Suara Sakura menyapa indera pendengaran Kenzo.


Ken menoleh dengan wajah tanpa ekspresi. Tampak sekali bahwa dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Tuan?" Sakura kembali memanggil atasannya.


"Umm. Aku tahu."


Ken beranjak dan berlari ke dalam villa mewah dimana istri dan anak-anaknya berada.


"Ai-chan," panggil Ken seraya menghambur ke dalam pelukan Aira, membuat wanita itu terkejut. "Gomenasai. Hontou ni gomenasai."


(Maaf. Aku sungguh minta maaf)


Seketika tubuh Aira menegang. Semua perlakuan Ken padanya sejak hari pertama mereka bertemu, langsung berkelebat di dalam kepala. Satu dua bulir air mata lolos. Hatinya terasa begitu sakit, seolah ribuan anak panah menghunjam tepat di jantungnya. Pria yang setahun terakhir mendampinginya, kembali menggoreskan luka, membuatnya tak berdaya.


"Aku siap menerima apapun hukuman darimu. Tapi tolong, maafkan aku." Ken mempererat pelukannya pada wanita yang telah memberikan tiga anak-anak yang menggemaskan sekaligus.


Aira menghapus air matanya, sepersekian detik sebelum mengurai pelukan suaminya.


"Apa yang kamu katakan. Aku lapar." Aira mencari topik pembicaraan lain. Dia bahkan sebisa mungkin mengulas senyum, menutupi lara hatinya yang teramat dalam. Luka di punggung yang kini kembali ia rasakan, membuatnya mencengkeram seprai di bawah selimut. Dia akan bertahan di sisi Kenzo, apapun yang terjadi.


"Ai-chan?" Ken mengerutkan kening, tidak tahu kenapa istrinya tidak marah atau mendiamkannya seperti biasa.


"Pergilah, aku lapar. Tolong ambilkan makanan untukku." Suara Aira semakin melemah, menandakan dia tengah menahan gemuruh di dalam dadanya.


Ken menatap wajah Aira yang tersenyum namun dengan mata berkaca-kaca. Dia menahan tangisnya sebisa mungkin.


"Pergilah. Ambilkan makanan untukku!" Aira menggigit bibir bawahnya sambil menatap ke arah lain. Tangannya dengan cepat menghapus titik-titik air yang siap tumpah detik berikutnya.


Ken cukup tahu diri. Aira belum ingin melihatnya. Itu akan membuat luka di dalam hatinya semakin terasa.


Dan benar saja, setelah Ken menghilang di balik pintu, tangis Aira pecah begitu saja. Aira memeluk tubuhnya sendiri, merasakan sakit hati teramat sangat. Pria yang diharapkan menjadi pelindungnya, justru membuatnya terluka. Dan ini bukan pertama kalinya hal itu terjadi. Sejak mereka menikah, beberapa kali Ken menyakiti fisiknya.


Isak tangis itu terdengar begitu memilukan, menyayat hati siapa saja yang ikut mendengarnya, termasuk Ken yang terpaku di balik pintu. Pria itu merutuki dirinya sendiri. Tubuhnya melangsai, membiarkan punggungnya beradu dengan dinding. Aira mengusirnya dengan halus, berdalih meminta untuk diambilkan makan.


Akan lebih baik jika Aira marah padanya, memberikan hukuman berat atau apapun itu. Tapi, apa yang terjadi? Aira justru berusaha tersenyum padanya?


 Detik berganti menit. Menit berganti jam. Isak tangis Aira tak lagi terdengar.

__ADS_1


Cklekk


Pintu di sebelah Kenzo terbuka, menampilkan sosok wanita mungil berjilbab yang terlihat sedikit segar dari sebelumnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aira, sedikit terkejut menemukan suaminya yang terduduk di lantai tanpa alas apapun.


"Ai-chan?" panggil Ken, mengamati wajah wanita di hadapannya.


"Ya?"


Tanpa banyak bicara, Kenzo memeluk istrinya.


"Aku tidak akan melakukannya lagi."


Aira diam mematung di tempatnya berdiri. Kedua tangannya masih terbebas di sisi badannya, tak membalas pelukan Ken sama sekali.


"Aku ingin melihat anak-anak." Aira mengurai pelukan Ken dengan paksa. Hatinya masih terasa perih, enggan membahas tragedi tak mengenakkan yang terjadi kemarin lusa. Tapi, dia juga sadar diri akan posisinya yang begitu keras kepala. Pantas saja Ken harus melumpuhkannya. Jika tidak, keberangkatan mereka pasti akan tertunda.


Ken menatap punggung mungil itu yang semakin menjauh, menuju kamar anak-anak di ruangan yang lain. Dia mencoba menganalisa sikap Aira kali ini yang tidak menunjukkan lonjakan emosinya. Mungkinkah dia sudah memafkan perbuatanku kemarin?


Aira masuk ke dalam kamar bayi saat Sakura mengangkat Aya dari dalam boxnya. Dua saudaranya yang lain masih terlelap di tempat masing-masing.


"Berikan Aya padaku'" pinta Aira dengan senyum terkembang di wajahnya, membuat Sakura sedikit terhenyak.


"Nyonya, Anda masih harus istirahat. Kembalilah. Saya akan ..."


"Aku akan membawa Aya ke kamar. Jika mereka bangun, antarkan untuk bergabung dengan kami." Aira melirik dua putranya yang masih memejamkan mata.


"Nyonya..." Panggilan Sakura tak Aira indahkan. Dia tetap membawa bayi mungil kesayangannya keluar dari ruangan dengan dekorasi khusus anak-anak ini.


Aira membaringkan Aya di atas ranjang, kemudian mengelus pipinya dengan lembut. "Sayang, temani ibu, ya."


Dan bulir-bulir air mata itu kembali muncul, membasahi wajah bulatnya yang terlihat sedikit tirus. Malaikat kecil ini yang akan Aira gunakan sebagai tameng sikap egoisnya. Dia harus mempertahankan rumah tangganya bersama Ken demi anak-anak. Apapun yang terjadi!


Di saat yang sama, Ken kembali ke tepi pantai. Dia berteriak sekeras-kerasnya, mengekspresikan semua kekesalannya. Lagi-lagi, dia menyakiti Aira. Dan sekarang, wanita itu bahkan tidak memarahinya sama sekali. Ken merasa telah gagal sebagai seorang suami. Dia tidak bisa diandalkan untuk melindungi Sang Istri.


"AARRGHHHH!!!"


* * *


Bangkok, Thailand


Kaori selesai berkemas saat Shun keluar dari dalam kamar mandi. Sebuah handuk kimono melilit tubuhnya.

__ADS_1


"Yakin akan kembali?" tanya Shun, mendapat anggukan dari istrinya.


Shun mendekati wanita yang dia nikahi sebulan lalu. Mereka masih tergolong pengantin baru, jadi terus ingin berdekatan satu sama lain.


Cup


Kecupan mesra mendarat di puncak kepala Kaori, membuatnya tersipu malu. Tangan kekar pria 29 tahun itu memeluknya dari belakang.


"Aku merindukan Aira. Entah kenapa aku sangat ingin bertemu dengannya dan tiga malaikat kecilnya yang menggemaskan." Kaori melepas tautan tangan di depan dadanya dan kemudian membalikkan badan. "Aku ingin punya anak," cetus dokter cantik ini.


"Anak?" Shun mencari kesungguhan ucapan wanita ini, menatap manik matanya dalam-dalam.


"Umm. Bagaimana kalau kita pergi ke panti asuhan dan mengadopsi salah satu dari mereka?"


Shun tersenyum hambar. Dia tidak setuju tentang adopsi ini, itu akan membuatnya kehilangan perhatian Kaori. Tapi, Shun tak sampai hati untuk mengatakannya.


"Kenapa? Kamu tidak menyetujuinya?"


Shun menggeleng. Dia membenahi helai rambut Kaori, mengirimkannya ke belakang telinga.


"Lalu? Kenapa wajahmu murung seperti itu?"


"Aku tidak ingin kamu menduakanku."


"Hah? Menduakanmu?"


Shun semakin mengikis jarak di antara mereka, membuat tubuh keduanya saling menempel satu sama lain.


"Aku masih ingin mendapat perhatianmu. Kita baru saja menikah."


Perlahan namun pasti, Shun membaringkan tubuh Kaori, membuat wanita itu berada di bawah kendalinya.


"Kita bisa mengadopsi anak, berapapun jumlah yang kamu inginkan. Tapi, bukan sekarang. Nanti, saat kita benar-benar menginginkan mereka."


Shun menyibak rambut panjang Kaori, membuat leher jenjangnya tak lagi terhalang apapun. Dengan gerakan sensasional, pria ini segera menyusuri setiap jengkal tubuh yang telah menjadi candu untuknya.


"Sebelum kita mengangkat anak, apa salahnya kita coba membuatnya?"


Wajah putih itu berubah merah merona saat mendengar bisikan dari Shun. Pria ini selalu saja berhasil memporak porandakan hatinya, membuatnya merasa menjadi wanita paling dicintai di dunia.


 


* * *

__ADS_1


See you next day.


Hanazawa Easzy


__ADS_2