
"Untukku?" tanya Mone dengan kening berkerut.
"Umm." Yamaken mengangguk mantap. Senyum manis tergambar di wajah tampan pria 28 tahun ini.
Mone semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran pria di depannya ini. Mereka tengah bersiap mengahadapi Anna dan segala trik yang akan ia mainkan, tapi kenapa Yamaken justru bersikap aneh seperti sekarang, memberikan boneka untuknya?
"Terimalah. Ini hadiah khusus dariku untukmu. Aku membuatnya semalaman." Aktor sejuta talenta ini terus mengulurkan tangannya, berharap Mone segera menerima hadiah kecil darinya.
Perlahan tangan Mone mendekat, mengambil boneka mungil berbentuk domba yang pria ini berikan. Sekilas tidak ada yang aneh. Boneka itu terbuat dari plastik dan kapas yang terlihat tidak menarik sama sekali. Bahkan anak kecil saja mungkin tidak menginginkannya.
"Itu bom asap." Yamaken menunjukkan senyum lebarnya, menjelaskan apa yang ia siapkan khusus untuk membantu Mone.
"Hah?" Otak Mone seolah bebal, tidak bisa menangkap makna ucapan Yamaken barusan. "Bom asap apa?"
Melihat reaksi yang Mone tunjukkan, Yamaken terkekeh. "Ini aku buat dengan sepenuh hatiku."
"Hah?" Gadis cantik itu hanya membuka mulutnya menunjukkan ketidakpahaman akan kata-kata calon suaminya. Boneka berbentuk domba? bom asap? Dibuat sepenuh hati?
"Itu hanya untuk berjaga-jaga. Jika kamu dalam bahaya, patahkan kepala bonekanya dan asap pekat akan segera muncul. Kamu bisa kabur jika situasi mendesak dan tidak memungkinkan untuk menyerang mereka."
"Kabur?" Lagi-lagi Mone membeo, menirukan ucapan Yamaken. Dia masih belum mengerti kemana calon suaminya ini berbicara. Bukankah mereka sedang membahas earpiece yang Yamaken pakai? Apa tujuannya memakai alat bantu dengar itu? Kenapa sekarang jadi membahas bom asap, kabur, dan sebagainya?
Dan bagi seorang nona Kamishiraishi, tidak ada kata kabur dalam kamus hidupnya. Menang atau kalah. Hanya dua kata itu yang ia kenal. Tak ada pemikiran untuk kabur dari situasi yang ada, seburuk apapun kondisinya.
"Sepertinya mereka akan mulai beraksi hari ini. Kita harus bergerak lebih awal."
"Tunggu!" Mone mencegat lengan calon suaminya. "Katakan dengan jelas semua yang kamu ketahui. Aku tidak tahu skenario apa yang ada di dalam kepalamu."
"Kamu sudah menyiapkan teknologi kontra drone di kediaman Kaori-chan, 'kan?"
"Ya." Mone mengangguk, mengiyakan pertanyaan Yamaken. "Dengan teknologi itu, kita mengambil alih kendali drone yang mendekat."
"Dan Anna akan tahu kamu mengacaukan misinya."
"Eh?" Mone sungguh tidak bisa memahami kata-kata Yamaken.
"Kita ubah strateginya." Yamaken meraih tangan Mone, menatap tepat di manik mata coklat gadisnya.
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Biarkan dia mengirimkan hadiah atau apapun itu ke kediaman Kaori. Kita biarkan mereka menganggap misi mereka berhasil."
Mone bungkam. Dia belum bisa menolak ataupun menyetujui ide Yamaken yang belum jelas ini.
"Kita akan mulai melumpuhkan mereka hari ini. Kakak memintaku memakai earpiece ini selagi aku bergerak menuju sasaran."
"Tapi, aku ragu. Mereka belum juga mengirim hadiah sampai sekarang. Itu artinya, bisa saja mereka tidak melakukan seperti cara yang biasa."
Yamaken diam. Dia sepemikiran dengan kekasih hatinya ini. "Kalau begitu kita hanya bisa menunggu. Sekarang, ayo pergi ke apartemen kakakmu dan kita harus memantau apa yang akan terjadi selanjutnya."
Di saat yang sama, seorang pria masuk ke dalam ruangan kerja Harada Yuki. Wajahnya tampak kusut, sebal dengan pekerjaan yang tengah ditanganinya.
"Mereka tidak mau pergi, Tuan," ucap pria itu melaporkan kejadian tak biasa pada Yuki.
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Lalat-lalat kecil warna hijau itu masih terus berdatangan tanpa henti. Jumlah mereka semakin banyak, hinggap di kontainer yang akan kita angkut siang nanti."
Kening Yuki berkerut. "Lalat?"
Yuki meraih palto miliknya sebelum berjalan keluar dari ruangan 4 x 6 meter tempatnya bekerja. Dia penasaran dengan laporan bawahannya barusan. Lalat apa yang datang mengerumuni kontainer. Jelas-jelas tidak ada bau-bauan atau kotoran apapun yang mengundang mereka. Bagaimana bisa?
Langkah kaki Yuki semakin cepat. Dia berbelok ke kiri setelah melewati puluhan peti kontainer berbagai warna yang berjejer di sana.
"Itu tuan." Pria berkumis tadi menunjuk sebuah kontainer warna hijau yang kini dikerumuni puluhan atau bahkan ratusan lalat. Di bawahnya, tampak dua orang pekerja sedang menyemprotkan cairan anti serangga ke arah hewan kecil menjijikkan itu.
"Anda lihat sendiri, Tuan. Mereka tidak pergi meski kamu sudah mengusirnya dengan berbagai cara."
Kening Yuki berkerut. Ada yang aneh. Rasanya itu seperti perbuatan yang disengaja. Tapi, siapa yang bisa mengendalikan lalat?
"Apa isi di dalamnya? Mungkin mereka tertarik dengan bau yang tercium dari sela-sela peti besi itu."
Pria berkumis itu menggeleng tegas. "Itu tidak mungkin, Tuan. Peti kontainer itu berisi pakaian. Saya sudah mengeceknya secara keseluruhan. Itu tidak masuk akal."
Yuki tidak lantas merespon. Dia tidak bisa menebak-nebak begitu saja sebelum melihat fakta di lapangan.
"Kapan jadwal peti itu diangkut ke atas kapan?"
__ADS_1
"Siang ini."
Yuki menatap arloji di pergelangan tangannya. Rasanya masih memungkinkah untuk menurunkan peti itu dari ketinggian dan memeriksa sekali lagi isi di dalam kontainer. Mungkin saja ada barang mencurigakan yang ada di dalamnya.
"Turunkan peti itu sekarang."
"Tapi, Tuan..."
Detik berikutnya, Yuki sibuk dengan ponselnya, meminta operator crane untuk memindahkan barang super besar yang siap dikirim hari ini.
Tak lama kemudian, decit besi yang saling bersinggungan terdengar di kejauhan. Sebuah crane yang khusus digunakan untuk memindahkan kontainer barang mulai mendekat. Operatornya tampak duduk di atas sana, mengendalikan alat pengangkat ini seperti perintah Yuki.
"Angkat peti warna hijau itu. Turunkan ke bawah! Kita harus memeriksa isinya kenapa ada lalat pengganggu yang terus mendatanginya. Jumlah mereka semakin banyak. Kita tidak bisa membiarkannya." Yuki memberikan komando melalui ponsel di tangannya.
"Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan." Pria bertopi di atas kabin itu mulai menggerakkan tuas di sebelah kanan lututnya, membawa tuas pengangkat mendekat ke arah kontainer yang Yuki tunjukkan.
Sesaat pria operator crane itu meragu, tidak menggerakkan alat berat ini seperti perintah atasannya. Tangannya sibuk menggerakkan tuas itu ke depan dan ke belakang tapi tidak ada pergerakan sama sekali di depan sana. Detik berikutnya, lampu indikator mesin mati total, menunjukkan bahwa tidak ada daya listrik yang melengkapi alat berat ini.
"Ada apa? Kenapa tidak segera memindahkannya?" Yuki mulai tidak sabar. Dia heran kenapa bawahannya itu tidak menuruti kata-katanya.
"Mesinnya mati total. Tidak ada daya listrik sama sekali."
"HAH?" Yuki tidak percaya dengan apa yang terjadi. Selama ia bekerja di tempat ini, tidak pernah sekalipun ada gangguan listrik atau daya seperti sekarang.
Daya yang dibutuhkan oleh satu unit crane rata-rata berada di kisaran tegangan 4.000 sampai 13.200 volt dan bersumber dari generattor atau listrik dermaga itu sendiri.
"Periksa pasokan dayanya. Sekarang!" titah Yuki pada salah satu staf yang berdiri di belakangnya.
"Tuan, lalat pengganggu yang ada di sekeliling kontainer itu terlihat tidak biasa. seperti ada kelap kelip lampu kecil. Seperti kunang-kunang," lapor pria operator crane di atas sana, berbicra melalui earphone yang terpasang di telinganya.
"Kunang-kunang?" Yuki menajamkan penglihatannya, menengadah memicingkan mata. Rasanya aneh jika ada kunang-kunang di siang hari, bahkan hampir mustahil.
"Ambilkan teropong untukku!" pintanya pada pria berkumis yang tadi memanggilnya pergi ke tempat ini. Dia harus melihat dengan bantuan alat itu agar bisa menangkap bentuk lalat yang dikatakan seperti memancarkan kerlip itu. Rasanya tidak masuk akal jika kunang-kunang yang datang.
Suasanya mencekam mulai terasa. Keanehan yang ada membuat Yuki Harada waspada. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalat-lalat pengganggu yang mengelilingi kontainer itu sebenarnya apa? Kenapa terlihat kerlap-kerlip seperti kunang-kunang?
* * *
Penasaran episode berikutnya? Jangan lupa tinggalkan komentar kalian yaa. See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy