
Aira pergi dari kediaman keluarga Yamazaki ditemani oleh Minami. Mereka menuju ke sebuah penginapan yang ditunjukkan oleh kakek dan sempat berhenti saat melihat Torii (Gerbang Dewa). Aira bertemu seorang biksu misterius yang sepertinya tidak dilihat oleh Minami.
Gadis berjilbab biru itu mengarahkan pandangannya ke luar jendela saat mobil mereka menjauh dan melihat biksu itu tersenyum padanya di bawah torii. Aira meraba gelang di tangan kirinya dan menyembunyikan hal itu dari Minami. Biarlah ini menjadi rahasia.
'Jaga ibu kalian baik-baik. Kalian beruntung memiliki seorang ibu yang kuat.'
Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telinga Aira. Mungkinkah ia hamil? Aira menggelengkan kepalanya menepis pemikiran itu. Ya sejujurnya dia juga sangsi karena rasanya ia belum datang bulan untuk waktu yang lama. Tapi memang siklus haidnya tidak lancar sejak dulu, jadi ia tidak memikirkannya.
'Tapi, jika benar aku hamil apa yang harus ku lakukan? Dan biksu itu bilang 'kalian', apa bayiku kembar?' berbagai pikiran terus berkecamuk di otaknya. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya.
"Nona... " Minami memanggil puannya yang terus diam sejak meninggalkan tempat itu.
"Nona... Anda bisa mendengarku?" Minami menyentuh lengan Aira pelan, membuatnya tersentak.
"Ya?"
"Sepertinya anda kelelahan. Sebentar lagi kita akan sampai." Minami kembali fokus pada jalanan di depannya. Tubuhnya duduk dengan tegap di belakang kemudi, membawa mobil hitam itu menyusuri jalanan di tepi laut menuju ke atas bukit.
"Kamu sering kesini?" tanya Aira memecah sunyi. Ah, lebih tepatnya mengalihkan pemikirannya yang semakin bercabang tak jelas.
"Hanya sesekali. Mengantar Nona Naru, dia sering datang kemari saat bosan."
"Naru? Sudah lama aku tidak melihatnya." Aira mengambil ponsel dari dalam tasnya. Terlihat Ken menghubunginya. Ia yakin Ken sudah bangun sekarang, dan mungkin sedang mencarinya. Ia minta pada kakek untuk menyembunyikan kepergiannya, dia ingin sendiri. Jemari mungil itu menekan tombol power cukup lama, menonaktifkan ponselnya yang berwarna silver. Minami meliriknya sekilas.
"Udaranya sedikit hangat." Aira menurunkan kaca di sampingnya. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya sambil tersenyum.
"Salju belum turun disini, mungkin 2 atau 3 minggu lagi."
"Eh begitukah? Aku tidak tahu. Ku pikir semua wilayah Jepang tertutup salju saat musim dingin."
Minami menggeleng sambil menyunggingkan senyumnya, "Tidak juga. Biasanya salju akan mulai turun di wilayah utara, yaitu Hokkaido, pada akhir bulan Oktober atau awal bulan November. Di Prefektur Aomori, Prefektur Akita, Prefektur Iwate, salju mulai turun pada awal atau pertengahan bulan November. Sedangkan di Prefektur Yamagata, Prefektur Miyagi, dan Prefektur Fukushima salju mulai turun pada pertengahan atau akhir bulan November."
Aira tersenyum mendengar penjelasan pengawalnya itu.
"Di daerah seperti Prefektur Niigata, Prefektur Toyama, Prefektur Ishikawa, Prefektur Fukui dan Prefektur Nagano, salju turun pada akhir bulan November atau awal bulan Desember." jelas Minami seperti seorang pembaca berita di layar kaca yang sedang menjelaskan prakiraan cuaca hari ini.
"Kamu berbakat jadi news anchor." canda Aira.
(News anchor : pembaca berita di TV atau radio)
"Sesungguhnya itu cita-cita saya saat kecil." jawab Minami dengan wajah yang sedikit memerah.
"Benarkah? Baiklah, kalau begitu aku ingin dengar lebih banyak tentang musim dingin di sini. Apa kau bersedia membacakan beritanya untukku?" canda Aira gemas.
Minami terkekeh geli mendengar permintaan Aira.
"Di wilayah yang jarang turun salju sekalipun, Anda masih bisa melihat salju di tempat-tempat yang berada di daerah pegunungan. Contohnya saja di Kyoto, meski sangat jarang salju menumpuk di kota ini, pemandangan salju masih dapat terlihat di Kuil Kinkakuji, Ginkakuji, Kuil Kibune, dan masih banyak lagi."
Aira menggeser duduknya menghadap Minami, ia tertarik dengan semua yang dijelaskan wanita ini.
__ADS_1
"Banyak orang yang datang untuk menyaksikan pemandangan musim dingin khas Jepang, seperti pemandangan kuil yang berpadu dengan keindahan taman yang diselimuti salju.
Musim dingin di Jepang adalah musimnya ikan. Ikan-ikan seperti ikan aji-aji (amberjack), ikan kod, ikan tuna, ikan sarden, ikan makerel, dan lainnya akan memiliki banyak kandungan lemak di tubuhnya sehingga dagingnya bertekstur padat serta cita rasa dan kandungan gizinya pun menjadi lebih tinggi. Pada musim ini, Anda juga bisa dengan mudah menemukan hasil laut lainnya, seperti tiram, telur ikan kod, nori (rumput laut). Selain itu, ada juga bahan-bahan yang sering digunakan sebagai hidangan khas tahun baru, seperti lobster dan kepiting merah. Sayuran seperti sawi putih, lobak, bayam, akar teratai dan buah-buahan seperti apel dan jeruk juga termasuk makanan khas musim dingin. Bahan makanan seperti sayuran dan ikan-ikan tadi direbus bersama di panci besar untuk dijadikan masakan berkuah yang dikenal dengan nama 'nabe'. Nabe ini akan disantap bersama keluarga ataupun para kerabat sehingga bisa menambah kehangatan di hari yang sangat dingin." pungkasnya.
Aira bertepuk tangan, kagum pada pengetahuan Minami, "Sugoi. Kamu sangat berbakat." pujinya.
(Keren)
"Ah, tidak juga. Saya hanya mengatakan apa yang saya ketahui. Ayah saya seorang nelayan dan kakek saya petani di desa. Jadi saya tahu sedikit tentang itu." jelasnya.
Aira tersenyum dan melupakan tentang biksu itu. Tanpa sadar, mobil yang ia tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan 2 lantai bernuansa klasik khas Jepang. Terlihat dari seluruh sisi bangunan yang terbuat dari kayu dengan pohon rindang di sekelilingnya.
"Selamat datang nyonya." sambut seorang wanita yang memakai kimono biru, senada dengan jilbab yang Aira kenakan. Wanita itu menunduk sopan di belakang meja resepsionis. Sebuah air mancur mini menyita perhatian Aira ketika kakinya mulai menapak di lantai kayu yang terasa hangat. Di bawahnya, terlihat beberapa ikan koi tengah berenang kesana kemari di kolam berukuran 3x4 meter itu.
"Nona, mari.." ajak Minami saat melihat Aira terpaku menatap air mancur itu.
"Hmm." Aira mengekor wanita penerima tamu tadi yang membawanya ke sebuah kamar di ujung ruangan, melewati koridor pendek dengan lilin aroma terapi di kanan kirinya. Wangi lavender menyeruak hingga ke indera penciuman wanita 25 tahun itu. Aroma kesukaannya.
"Douzo."
(Silahkan)
Aira masuk diikuti Minami yang membawa tas miliknya. Detik berikutnya ia membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan teras yang menghadap ke laut. Menampilkan palang kayu berwarna putih yang sempat membuatnya bingung beberapa saat lalu.
"Apa kita berhenti disana tadi?" tanya Aira saat Minami menghampirinya. Keduanya berdiri di belakang pagar kayu dengan beberapa pot gantung di atasnya. Membiarkan semilir angin menerpa wajah ayu yang terlihat sangat berbeda itu, satu wajah dengan pipi chubby dan mata bulat khas orang Indonesia. Sedangkan yang lainnya pipi tirus dengan mata sipit khas negeri empat musim ini.
"Apa di sekitar sini ada kuil?" tanyanya kemudian.
"Ya. Anda ingin kesana?"
"Aku melihat seorang biksu saat kita meninggalkan Gerbang Dewa. Apa Dewa mengawasiku sekarang?" tanya Aira dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Apa anda mempercayai mitos itu? Yang terpenting anda baik-baik saja sekarang. Tidak perlu memikirkannya lagi." Minami merasa bersalah tidak bisa mencegah nona-nya melewati gerbang keramat itu. Aira terlihat sedikit aneh sesaat setelah melewatinya. Dia bahkan mengabaikan panggilannya, sampai akhirnya Minami memberanikan diri memegang lengan nona-nya. Calon ibu dari para penerus keluarga Yamazaki.
Aira menggeleng pelan, "Aku memang tidak mempercayai dewa, tapi aku harus minta maaf pada biksu yang selalu mendoakan tempat ini. Tidak seharusnya aku melewati batasanku."
"Apa anda melihat sesuatu yang janggal disana selain biksu itu?"
Aira hanya tersenyum, ia tidak hanya melihat tapi juga mendengar biksu itu mengatakan hal-hal yang membuatnya bingung. Tapi ia tidak ingin membicarakannya dulu, mungkin saja itu hanya halusinasinya saja. Tapi gelang di tangannya menunjukkan jika ia tidak berkhayal, itu nyata. Ia benar-benar bertemu biksu, tapi lagi-lagi logikanya menolak hal diluar nalar itu.
"Bisakah kamu mengantarkanku kesana?"
Minami mengangguk menyetujui permintaan wanita hamil di depannya.
*******
Mentari kembali ke peraduannya membawa suasana senja yang indah. Semburat merah yang terlukis di langit membiaskan cahaya berwarna oranye yang menerpa hamparan salju di atas tanah. Sore yang sempurna, berbanding terbalik dengan seorang yang terlihat kacau. Kakinya melangkah melewati gerbang kayu di depannya dengan langkah gontai. Ia berkeliling ke segala penjuru namun tetap tak menemukan apa yang ia cari.
"Apa kau bodoh?" tanya seseorang di belakangnya.
__ADS_1
Ken berbalik menatapnya dengan pandangan tanpa ekspresi. Adik kembarnya yang selalu terlihat ceria itu kini tampak seperti orang asing di matanya. Ia tidak ingin meladeninya. Memikirkan keberadaan istrinya saja membuatnya frustasi, apa adiknya akan membuatnya semakin putus asa?
"Dia hanya ingin berlibur." ucapan itu berhasil menahan langkah Ken yang berniat masuk ke kamarnya.
"Katakan dimana Aira!" Ken mencengkeram krah baju Yamaken dan menatapnya tajam. Seolah dirinya sebuah bor yang akan menggali informasi dari cerminan di depannya ini.
Yamaken membuang mukanya, "Biarkan dia sendiri. Itu lebih baik untuknya."
"Apa maksudmu?" tanya Ken geram. Urat lehernya menegang demi menahan kemarahan pada adik kembarnya itu. Tangannya mengepal siap mendaratkan tinju jika Yamaken membuat emosinya semakin meluap.
"Apa yang kamu lakukan?" suara berat terdengar dari balik punggungnya membuat Ken melepaskan cengkeramannya dan berbalik. Menatap manik coklat di depannya yang penuh wibawa.
"Maaf, aku bersalah." sesalnya.
Kakek beranjak masuk ke ruangan. Ken mengikutinya dan bersimpuh di hadapan orang tua itu.
"Aku berjanji tidak akan membuatnya terluka lagi. Aku akan membahagiakannya." ucap Ken sungguh-sungguh.
"Apa jaminannya?"
"Dia bisa mengambil nyawaku kapan saja jika itu yang dia inginkan." jelas Ken yakin. Ia rela mengorbankan nyawanya untuk Aira.
Hening.
Kakek mengangsurkan sebuah kotak cincin yang Aira tinggalkan kemarin.
"Dia ada di penginapan. Jemputlah dia besok pagi."
"Aku akan pergi sekarang juga." Ken tergesa-gesa ingin segera bertemu istrinya. Pria itu hendak meraih kotak cincin yang ia berikan pada Aira 6 bulan lalu, tapi kakek mengambilnya lebih dulu.
"Bukan sekarang. Biarkan dia sendiri untuk malam ini, dia aman selama ada Minami bersamanya." kakek menyembunyikan cincin itu di dalam sakunya lagi, "Ambil cincinnya sebelum kamu berangkat."
Raut kecewa terlihat jelas di wajah putih itu, namun secercah harapan membuatnya tersenyum. Ia akan segera bertemu dengan pujaan hatinya. Istrinya. Cintanya. Calon ibu dari anak-anaknya. Ia hanya harus bersabar beberapa jam lagi.
*******
Hai minna-san, daijoubu desu ka?
(Are you Ok?)
Selamat membaca. Maaf kalo part ini terasa hambar, ngga terlalu kerasa garis besar ceritanya Ken atau Aira. Ya, author sengaja pengen sedikit menonjolkan karakter Minami disini. Dia berbakat jadi news anchor, ah sejujurnya itu cita-cita author sewaktu kecil sii 😂😂😅
Ok see you next day, hope you enjoy it 😙
Jangan lupa kasih jempol kalian yaa biar author makin semangat nulis 🤗🤗
Jaa mata ne,
Hanazawaeaszy ^^
__ADS_1