
Asap putih membumbung tinggi di angkasa. Puluhan mobil pemadam kebakaran sibuk menyemprotkan air ke arah kontainer yang terbakar. Mereka berusaha memadamkan api yang terus melalap benda mudah terbakar yang ada di sana.
Di sisi lain, tampak beberapa alat berat bekerja manual, memindahkan kontainer yag ada. Pasokan listrik di tempat ini terganggu, padam total. Jadi tidak bisa mengandalkan crane yang terbiasa bekerja di tempat ini.
Petugas medis berlalu lalang, menyelamatkan korban luka maupun mereka yang tak lagi bernyawa. Ledakan hebat itu bukan hanya menghancurkan saran dan prasarana yang ada, tapi juga menimbulkan korban jiwa. Bukan hanya satu atau dua, puluhan orang tergeletak dengan berbagai luka yang berbeda-beda.
Banyak pihak media masa yang mulai berdatangan, ingin mengambil gambar atas peristiwa yang terjadi. Tapi, petugas dengan sigap mencegah mereka. Tidak ada satu pun orang dengan kamera di tangannya yang boleh meliput. Petugas bahkan mengusir mereka yang terus mencoba mengambil gambar dengan paksa.
Hanya orang-orang dengan akses tertentu saja yang diperbolehkan masuk seperti tenaga medis dan petugas pemadam kebakaran. Sisanya, tidak ada yang bisa menembus pertahanan pihak keamanan. Mereka bahkan memasang blokade khusus untuk mencegah oknum yang tidak berkepentingan. Itu akan mengganggu kinerja petugas yang ada.
"Sebelah sini!" teriak salah satu petugas pemadam kebakaran, memberikan komando pada rekan kerjanya untuk menjinakkan Si Jago Merah di salah satu sisi pelabuhan.
Puluhan orang ini berjibaku, tak peduli dengan peluh yang terus mengalir di keningnya masing-masing. Sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk menghadapi situasi yang ada. Apapun resikonya.
"Kita tidak akan bisa masuk ke dalam," cetus Yamaken, melongokkan kepala melalui jendela. Jemarinya tak pernah lepas dari kotak berbagai warna di tangannya. Dia mengacak mainan itu jika sudah berhasil diatur sesuai warna blok masing-masing. Benar-benar hanya untuk membuat pengalihan. Pura-pura sibuk saja.
Kosuke mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu kenapa Yamaken ikut dalam misi ini. Terlihat jelas dia hanya bermain-main saja, tidak memiliki kontribusi sama sekali. Tapi, calon ayah ini tidak bisa menggugat apapun. Bagaimanapun juga, pria ini tetap saja Tuan Muda yang harus dihormatinya.
"Banyak sekali petugas keamanan yang berjaga di depan sana."
Suara Yamaken kembali membuat Kosuke terheran-heran. Dia tahu hal itu dengan jelas karena bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jadi tidak perlu Yamaken katakan pun dia sudah memahami situasinya dengan sangat jelas.
Mobil besar warna hitam yang Kosuke kendarai terhenti seratus meter dari pintu masuk pelabuhan. Terlihat jelas puluhan petugas keamanan berdiri membentuk pagar hidup di sana seperti apa yang Yamaken katakan barusan.
Calon ayah ini tidak tahu sebenarnya Yamaken sedang berkomunikasi dengan saudara kembarnya.
"Tidak masalah, kalian cukup melihat saja. Biarkan para wanita itu bekerja."
Yamaken tersenyum mendengar pernyataan Ken. Memang benar apa yang pria itu katakan. Mereka tidak bisa memaksakan diri untuk melihat situasi yang ada di dalam sana. Lagipula, tidak ada yang akan mereka lakukan. Hanya bisa menunggu petugas itu menemukan Yuki. Semoga saja dia masih bisa diselamatkan.
"Apa yang harus kita lakukan setelah ini? Apa kita hanya bisa menunggu?" Lagi-lagi suara Yamaken terdengar, membuat kerutan di kening Kosuke kembali terlihat.
"Benar, Tuan. Kita tidak bisa melakukan apapun."
Yamaken tersenyum simpul. Dia tengah menantikan perintah selanjutnya dari saudara sekandungnya, bukan mengharap respon dari pria di sampingnya ini.
"Tunggu saja." Suara Ken terdengar lirih.
__ADS_1
Di bagian belakang mobil ini, jemari Mone masih sibuk berselancar. Dia mengeliminasi satu per satu sinyal yang ditunjukkan oleh Aira, menyisakan beberapa yang belum bisa mereka retas.
Tanpa mereka sadari, sebuah drone berbentuk lalat mendekat. Dia mengenali mobil ini memancarkan sinyal yang cukup besar, jadi berniat menghisap daya listrik yang ada.
Yamaken terus asik dengan rubik di tangannya, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengamati orang-orang yang tampak sibuk berlalu lalang diantara suara sirene yang ada.
Deg!
Kedua netra sipitnya membola saat menyadari adanya sebuah robot kecil berbentuk lalat yang mendekat dari kejauhan. Dia memicingkan mata, mencoba melihat dengan seksama bahwa ia tidak salah mengenali benda robotik kecil itu.
Kosuke yang tidak tahu ada ancaman serius mengintai mereka, justru melepas sabuk pengaman dan pergi menilik istrinya di bagian belakang mobil ini.
Dor!
BOOMM!!
Suara tembakan terdengar berurutan dengan bunyi ledakan yang tak jauh dari tempat mereka berada. Hal itu membuat Kosuke dan Minami saling pandang.
"Apa yang terjadi?" respon otomatis Mone, perhatiannya dari monitor sedikit teralihkan.
Mobil warna hitam ini tiba-tiba bergerak, mundur beberapa meter sebelum melakukan manufer cantik dan melaju menuju arah kedatangan mereka sebelumnya. Kepanikan melanda empat orang ini. Dan baru Yamaken yang tahu penyebabnya.
Kosuke memegangi Minami yang hampir terjatuh dari kursi tempatnya berada, sementara Mone sigap berpegangan pada tiang besi di belakang Kosuke. Dia masih bisa mengendalikan diri agar tidak jatuh terjerembap maupun menghantam panel di hadapannya.
"Tuan, apa yang terjadi?" Kosuke segera kembali ke depan, melihat situasi yang terjadi sebenarnya. Asap putih terlihat di belakang sana, berhasil mereka tinggalkan. Kosuke berani meninggalkan Minami setelah memastikan wanitanya aman kembali di kursinya.
"Ada drone yang mengejar kita. Kita harus segera pergi dari sini!" tegas Yamaken yang terus menginjak pedal gas di bawah kakinya. Dia tidak bisa membiarkan lalat busuk itu hinggap dan meledak setelahnya. Dia masih ingin hidup.
Mendengar penjelasan Yamaken, Kosuke segera mengambil sikap waspada. Dia menarik pistol dari pinggangnya, berjaga-jaga jika ada ancaman yang mulai mendatangi mereka.
DOR
DOR
Kosuke menembaki lalat yang terlihat di depan mobil, hampir hinggap di bagian depan kendaraan ini. Untung hanya ada dua, jadi masih ia lumpuhkan tanpa kerepotan sama sekali.
"Kak, lalat kecil itu mulai mengejar kami," lapor Mone detik berikutnya. Terlihat puluhan titik merah bergerak di belakang mereka, itu terlihat di monitor. Aira juga bisa menyaksikannya. Mereka adalah drone yang sama seperti yang meledak di pelabuhan.
__ADS_1
Detak jantung Aira kembali terpompa. Dia tidak bisa membantu mereka jika belum bisa melumpuhkan server yang Anna gunakan untuk mengirimkan komando pada drone mini itu.
"Serahkan padaku. Kamu bantu Yamaken menyingkirkan bom kecil itu. Tembaki saja, mereka hanya akan memercikkan api seperti kembang api jika belum mendapat tambahan daya."
"Baiklah. Aku pergi sekarang." Mone segera melepas headphone yang ada di kepalanya, membuang benda itu sembarang.
"Yamazaki-san, bantu aku." Mone meminta bantuan pada calon suaminya. Dia sudah bersiap berdiri di depan pintu belakang yang masih tertutup.
Mendengar hal itu, Yamaken menoleh ke arah Kosuke, meminta pria itu mengambil alih kembali kemudi mobil ini.
"Kamu Siap?" tanya Yamaken sepersekian detik sebelum melepas kemudi di tangannya. Dia melompat keluar dari kursi, membuat mobil ini sedikit oleng ke samping.
Hap!
Kosuke segera kembali ke posisinya, membawa kendaraan warna hitam ini menjelajah di jalanan. Jantungnya berdetak lebih kencang. Hanya dalam hitungan detik nyawa mereka semua bisa melayang. Terlambat sedikit saja, mobil ini tak terkendali menabarak kendaraan lain yang berpapasan dari arah berlawanan.
Minami yang tidak tahu pergantian kemudi di depan sana, terhempas ke samping. Untung saja dia masih berpegangan pada tiang besi yang terpancang di tengah ruangan sempit ini. Hal itu membuat perutnya terbentur.
"Arrghh!" Tangannya memegang perut dengan erat, menahan rasa nyeri yang ada.
"Minami-chan, kamu baik-baik saja?" Yamaken yang kebetulan berada paling dekat dengan wanita hamil ini, hanya bisa mencengkeram lengan atas Minami erat-erat, takut wanita ini kehilangan keseimbangannya.
"Saya baik-baik saja." Minami mengangguk setelah berhasil duduk di kursinya dengan bantuan Yamaken.
Di belakang sana, Mone tampak khawatir, tapi tidak bisa melakukan apapun. Dia masih harus melihat pergerakan drone-drone kecil yang terus mengintai mereka dari kejauhan.
"Yamazaki-san!" panggil Mone sedikit panik. Drone itu semakin dekat meski mobil yang Kosuke kendarai ini semakin kencang melaju. "Kemari!" titahnya sambil bersiap menggunakan pistol yang ada di tangannya.
Yamaken segera mendekat, berdiri di hadapan Mone. Dia juga melakukan hal yang sama, menyiapkan senjata api di tangannya. Mereka bersiap menembaki drone itu seperti yang ia lakukan sebelum melarikan mobil ini dua menit yang lalu.
Kosuke terus mengamati keadaan sekitar. Dia harus bisa membawa kendaraan ini menjauh dari pusat kota. Selain menghindari media masa yang mungkin menangkap peristiwa ganjil ini, dia juga harus bisa menyelamatkan diri dari kejaran maut yang mengintai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bisakah keempat orang ini menyelamatkan diri dan lolos dari drone yang Anna kirimkan?
Nantikan bab berikutnya. See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1