Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Kebahagiaan Tak Terkira


__ADS_3

Matahari tepat berada di ubun-ubun saat sebuah pesawat mendarat di bandara Narita, Tokyo. Satu dua penumpang segera turun begitu petugas mempersilakannya. Mereka secepat mungkin berusaha keluar dari burung besi yang terbang selama beberapa jam ini. Tampaknya orang-orang ini memiliki kepentingan tersendiri, berkejaran dengan waktu yang ada.


Lain ladang, lain belalang. Hal yang berbeda terjadi di salah satu kabin khusus yang ada di bagian depan pesawat itu. Seorang gadis masih duduk diam di tempatnya, menatap hamparan landasan pesawat yang terlihat di luar sana. Agaknya dia masih belum bisa memperbaiki perasaannya sendiri setelah menyaksikan tuan harada seppuku. Dia mengingat mendiang ayahnya yang telah tiada.


Bagaimana perasaan putri tuan Harada saat tahu ayahnya sudah tiada? Mungkinkah dia merasa kehilangan seperti apa yang Mone alami sekarang?


Dan entah kenapa rasa jengkel seketika menyergapnya. Dia selalu saja seperti ini setelah membantai orang. Ada perasaan tertekan dan tidak nyaman beberapa jam setelahnya. Seolah ada dua kepribadian dalam dirinya yang saling bertentangan. Satu sisi merasa begitu bersalah dan berharap tidak akan ada pembantaian yang dia lakukan lagi kedepannya. Tapi, di sisi lain logikanya menentang. Ada begitu banyak musuh yang harus dibasminya, ditambah dengan berbagai alasan yang ada.


"Mone-chan, ayo turun." Suara lembut Yuzuki Ebisawa menyapa indera pendengaran gadis 20 tahun ini, membuatnya menoleh seketika.


"Hmm," gumam gadis dengan pipi bulat chubby itu. Dia beranjak dari kursi, mengambil tas ransel mungil miliknya sebelum melangkah meninggalkan burung besi super besar ini.


"Coba tebak, siapa yang sudah menunggumu di luar?" Yu merangkul pundak Mone, berjalan di sebelahnya seperti seorang sahabat yang begitu dekat.


Mone mengerutkan kening, membuat dua alisnya hampir bertautan. Dia tidak tahu siapa yang akan ditemuinya kali ini, tak ada gambaran sama sekali. Lagi pula tidak ada yang ingin dia temui. Mungkin saja itu kakek Yamazaki, pikirnya.


Yu dan Mone berjalan menuju pintu keluar, sementara Yoshiro membawa koper mereka dalam troli. Kacamata hitam bertengger di atas hidung ketiga pembunuh bayaran ini, seolah menyembunyikan mata tajam mereka yang siap menembus apa saja.


Seorang pria berdiri di belakang portal pembatas, bersama beberapa penjemput lainnya. Dia memakai masker dan topi hitam yang senada dengan pakaian yang dikenakannya. Tangannya melambai-lambai, memberi tanda pada ketiga orang yang berjarak 15 meter darinya.


DEG!


Langkah Mone terhenti seketika, sama seperti detak jantungnya selama sepersekian detik ini. Dia tahu dengan jelas siapa yang sudah menunggunya. Pasti Yu sengaja memanggil pria ini untuk datang ke bandara.


"Aku kembalikan dia padamu." Yu mendorong Mone ke hadapan pria dengan tinggi badan 178 cm ini.


"Gadis manis, kami pergi dulu," pamit Yu pada Mone. Dia memberikan koper milik rekan kriminalnya ini pada pria yang menjemputnya. Detik berikutnya, gadis 23 tahun itu menggandeng lengan kekasihnya dan segera menjauh dari dua orang ini.


"Ayo." Pria itu menggandeng lengan Mone dan membawanya menuju salah satu mobil yang terparkir di depan bandara.


"Bagaimana keadaanmu? Kamu terluka?" tanya pria dengan lesung pipi menghiasi wajahnya. Tangannya menangkup rahang Mone, mengamati wajah kekasih hatinya. Ada luka melintang di sepanjang pipinya, bekas pecahan kaca lampu kristal yang tuan Harada jatuhkan.



Raut wajah Yamaken terlihat begitu serius. Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan gadis dua puluh tahun ini, takut sesuatu terjadi padanya. Masker dan topinya sudah dia lepaskan begitu duduk di balik kemudi, tersembunyi dari orang-orang yang mungkin mengenalinya.


Mone memalingkan wajahnya, membuat jemari tangan Yamaken tak lagi menempel di pipinya. Tanpa menjawab sepatah kata pun, gadis itu menatap jalanan di luar, sengaja menjauh dari jangkauan aktor tampan ini.


"Mone-chan," panggil Yamaken dengan suara lirih. Dia sedikit terkejut dengan sikap gadis ini yang begitu kentara ingin menjauhinya. Gadis bermarga Kamishiraishi ini memasang seatbelt di depan tubuhnya dan kemudian memejamkan mata.


*seatbelt : sabuk pengaman


Yamaken menarik tangannya yang sedari tadi menggapai udara. Ada perasaan kosong di dalam hatinya saat mendapati Mone tak meresponnya. Ada tembok tak kasat mata yang menjadi penghalang hubungan mereka, sama seperti dulu.


Tanpa ingin berpikir macam-macam, Yamaken melajukan kendaraan roda empat ini keluar dari bandara, menuju kediaman kakak kembarnya. Yu memintanya mengantar Mone kembali ke rumah Aira karena Shun masih tertahan di Thailand. Tidak baik membiarkan iced girl ini seorang diri di apartemennya.


Di saat yang sama, Ken baru saja menyelesaikan makan siangnya bersama Aira. Kehebohan ketiga baby triplet membuat ayah dan ibu muda ini terpaksa menunda santap siangnya. Mereka bertiga terjaga sepanjang malam dan entah kenapa, berkali-kali menangis tanpa sebab saat ada di gendongan para pengasuhnya.


Akhirnya Ken tak bisa tinggal diam. Dia yang seharusnya istirahat total, seperti anjuran dokter Hugo, terpaksa ikut turun tangan mengasuh putra putrinya. Dia tidak tega melihat istrinya kerepotan mengurus Akari, Ayame, dan Azami. Bayi-bayi menggemaskan itu baru saja tidur beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


Setelah ketiga bayi itu tertidur, barulah Aira dan Ken bisa makan siang. Mereka menikmati makanan buatan para asistennya dengan perasaan hambar, tak berselera sama sekali. Bukan karena rasanya yang tidak layak dimakan, melainkan karena kelelahan yang mendera keduanya.


Tak ada percakapan sama sekali. Ken dan Aira tetap diam selama makan dan sampai kembali ke kamar mereka di lantai atas. Ken mengambil laptop dari ruang kerjanya dan kemudian membawanya ke ruangan ini, dimana Aira berada.


"Huekk."


Aira berlari ke arah kamar mandi saat merasa mual, makanan yang baru saja masuk ke saluran pencernaannya, kini merangsek keluar dengan paksa. Perutnya serasa dipelintir, menyertai rasa pahit getir yang ada di pangkal tenggorokannya.


"Huekk."


Kali ini air berwarna kekuningan yang keluar, membasahi washtafel hitam mengilap sebelum tersiram air yang keluar dari kran otomatis. Sebelah tangannya mencengkeram sisi washtafel erat-erat, sementara tangan lainnya meraup air untuk membilas mulutnya.


"Ai-chan, daijoubu?" tanya Ken.


(Kamu baik-baik saja?)


Pria itu segera menghambur mendekati istrinya, melupakan laptop miliknya yang kini tergeletak di lantai.


Ya, Ken baru saja duduk di atas ranjang dan menghidupkan komputer jinjing itu saat tiba-tiba melihat Aira berlari ke ruangan sempit yang persis ada di samping kanan lemari baju. Istrinya memuntahkan semua makanan yang mereka nikmati bersama, beberapa menit yang lalu. Ken refleks berlari, tak peduli pada laptop yang terjatuh ke lantai.


Srett


Ken menggendong Aira yang tampak lemah, membawanya berbaring di atas ranjang empuk warna hitam itu. Wajahnya tampak pucat, dengan mata yang terlihat sayu. Wanita ini benar-benar kelelahan mengurus buah hatinya sepanjang malam.


"Bagian mana yang tidak nyaman? Katakan padaku, aku akan memijatnya." Ken mengamati tubuh istrinya yang terlihat semakin kurus. Bayi mereka baru genap berumur dua bulan dan istrinya sudah terlihat begitu menderita. Ken merasa gagal menjadi suami yang baik untuk Aira.


"Kamu demam!" Ken berseru saat mendapati kening istrinya panas. Dia memeriksanya dengan punggung tangan.


"Hue....mmp." Aira segera membekap mulutnya lagi. Dia tidak ingin muntah di sini dan akan merepotkan para maid untuk membersihkannya.


*maid : pelayan


Ken semakin panik. Berbagai masalah seolah tak pernah berhenti mendatanginya. Semalam, dia terpaksa meminta Yu dan Yoshiro menyusul Shun di Thailand demi memburu tuan Harada. Ingin sekali dia yang pergi langsung ke sana, tapi Aira menahannya, tak memberikan izin sama sekali. Belum lagi ancaman dokter Hugo yang mengatakan dia tidak akan 'produktif' lagi jika memaksakan diri bertarung saat kondisi tubuhnya belum pulih dari anemia.


Dan kecemasan semakin menguasainya saat ketiga anak-anaknya terus saja menangis, seolah ikut merasa khawatir atas misi besar yang diemban oleh sahabat ayah dan ibu mereka. Bayi-bayi merah itu baru sedikit tenang beberapa jam kemudian, saat seorang pengawal bayangan melapor bahwa misi berhasil diselesaikan. Tuan Harada dan geng Naga Hitam berhasil dimusnahkan hingga ke akar-akarnya.


Dan kini, masalah baru kembali hadir. Aira demam, terbaring lemah di atas ranjang istirahat mereka. Dia tidak baik-baik saja, membuat Ken kembali cemas.


"Aku akan hubungi dokter." Ken bersiap pergi saat Aira menahan ujung bajunya. "Eh?"


"Aku baik-baik saja. Tetap di sini." Aira berkata lirih, namun masih terdengar jelas di telinga laki-laki ini.


Ken naik ke atas ranjang, memeluk istrinya erat-erat. Berkali-kali dia mengecup puncak kepala Aira, berharap wanitanya baik-baik saja.


Aira memejamkan matanya lagi, kali ini bahkan mendusel ke dada suaminya. Aroma pria itu berhasil membuat mual yang dirasakannya sedikit mereda. Entah ini nyata, atau hanya sugestinya saja, aroma Ken terasa begitu lembut, membuatnya ingin segera terlelap.


Lima menit berlalu, Ken masih saja memeluk Aira, sesekali mengelus kepala istrinya sambil merapikan helai rambut panjangnya yang sedikit berantakan. Napas wanita ini terdengar lemah namun beraturan, menandakan bahwa dia telah terlelap dalam mimpinya.


Ken menurunkan sedikit kepalanya, membuatnya sejajar dengan wajah Sang Istri. Diperhatikannya wajah wanita itu dengan seksama, dari alisnya yang kokoh dan berkarakter, matanya yang terpejam, hidungnya yang minimalis dan menggemaskan, hingga bibirnya yang menggoda.

__ADS_1


Shit!


Ken menggeram dalam hati. Bagaimana bisa dia melihat bibir pucat itu dengan penuh nafsu? Logikanya jelas-jelas mengatakan bahwa wajah istrinya itu terlihat begitu memprihatinkan, tapi hatinya berkata sebaliknya.


Cup


Ken tak tinggal diam. Dia tidak bisa menahan hasratnya lagi, membuatnya segera melahap daging tipis di depannya. Dengan penuh cinta, dia mencuri ciuman dari istrinya yang terlelap.


Tak cukup sampai di situ, Ken mulai bergerak turun. Jemarinya lihai membuka kancing blouse yang Aira kenakan dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan mesra. Sesekali Ken mengamati wajah Aira di atas sana, takut ulahnya akan membuat istrinya terbangun. Jantungnya berdegup kencang, seolah sedang mencuri sesuatu di lahan tetangga, padahal jelas-jelas Aira hanya miliknya seorang.


Ken terus bergerak, menikmati 'hidangan spesial' kesukaannya. Dia benar-benar lupa diri, mengabaikan kondisi istrinya yang hampir pingsan beberapa saat yang lalu. Tangannya terus bergerak, membuka kancing terbawah baju yang Aira pakai, membuat perut rata istrinya terekspose.


Tampak strechmark di perut rata Aira, sebagai bukti bahwa pernah ada tiga orang bayi yang ada di dalam sana selama delapan bulan lebih. Garis-garis putih itu justru membuat Ken semakin bersemangat, mencium, menjilat, dan sesekali menggigitnya. Seluruh tubuh Aira adalah candu untuknya. Ken menginginkan lebih dan lebih lagi. Tapi, gerakannya terhenti saat melihat luka melintang di bawah pusar Aira, bekas operasi sesar.


Kilasan persalinan Aira dua bulan yang lalu, kembali berputar di kepala pria yakuza ini. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat kedua bayinya keluar dari perut istrinya, melalui jalan lahir alami mereka. Dan Si Bungsu terpaksa keluar setelah dioperasi sesar karena Aira pingsan. Saat itu, dia tidak bisa melakukan apapun, hanya membiarkan tangannya dicengkeram oleh Aira dengan sangat kuat. Hal itu membuat kuku-kuku istrinya melukai punggung tangannya. Namun, itu tak seberapa dibandingkan dengan perjuangan Aira dalam melahirkan ketiga buah cinta mereka. Wanita itu berjibaku, berjuang antara hidup dan matinya.


Glek!


Ken menatap perut istrinya dalam diam. Dia menelan salivanya dengan paksa. Kilasan kejadian hari itu membuatnya menyadari sesuatu. Mungkinkah Aira hamil lagi?


Jutaan kupu-kupu beterbangan di sekitarnya, sama meriahnya dengan letusan kembang api saat festival musim panas berlangsung. Aira mual dan muntah, sama seperti tanda-tanda seorang wanita saat hamil muda. Ada kebahagiaan tak terkira yang seketika itu juga Ken rasakan. Dia akan segera mendapatkan keinginannya, putri kecil untuk menemani Ayame bermain nanti.


Ken segera membenahi pakaian istrinya, melupakan hasrat monsternya yang tadinya ingin menguasai Aira. Ada hal lain yang lebih penting. Dia harus membeli testpack untuk mengecek dugaannya, apakah Aira benar-benar hamil seperti dugaannya atau tidak. Tentu saja Ken berharap kemungkinan pertamalah yang terjadi. Semoga saja.


Cup


Ken mencium kening Aira sebelum bergegas pergi. Dia menyambar outer yang tergantung di salah satu sisi lemari, memakainya sembarang sambil keluar dari ruangan ini.


"Aira sedang tidur, jaga dia selama aku pergi!" titah Ken saat berpapasan dengan Sakura di depan pintu. Langkahnya mulai menuruni anak tangga dengan cepat sebelum pengasuh bayi itu sempat mencegahnya. Pria itu pergi dengan begitu tergesa-gesa, membuat Sakura bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan tuannya lakukan?


...****************...


Hamil ...


Enggak ...


Hamil ...


Enggak ...


Ha ....


Eh, apaan siih? Kok Author jadi ngitung kancing bajunya Aira yaa 😂😂


Main tebak-tebakan yok, hamil lagi apa enggak nih Ai-chan? Udah kebayang nih ekspresinya si Abang, seseneng itu dia padahal belum tahu Aira positif hamil beneran apa enggak. Hihihii 😁


See you next part,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2