
Yuki kedatangan tamu tak diundang. Dari wajah dan postur tubuhnya, bisa dipastikan bahwa dia bukan orang Asia. Tanpa ditanya, wanita ini mengungkapkan semua yang dia ketahui tentang mendiang tuan Harada dan pergerakannya di pasar gelap. Dia mengatakan dengan gamblang tentang segala hal, seolah dia begitu mengenal tuan Harada.
"Jangan tanyakan bisnis apa yang membuat perut Anda dan adik Anda kenyang sejak kecil. Kita semua tahu bagaimana kerasnya hidup di negara ini. Tanpa uang, tak ada yang bisa kita makan, bahkan sebulir nasi sekalipun."
Wanita itu berdiri, menghampiri Yuki dan menyerahkan sebuah flashdisk. Senyum indah tak pernah menghilang dari wajah cantiknya. Dia seperti bidadari yang turun dari langit. Bekas luka di wajahnya tak mengurangi pesonanya sama sekali.
"Lihatlah. Apa Anda tahu seberapa jauh peran tuan Harada dalam mengendalikan pasar senjata ilegal di dunia bawah tanah?"
Yuki tercengang. Dia tidak tahu sama sekali bahwa ayahnya pernah berkecimpung di bidang jual beli senjata. Tanpa banyak bicara, Yuki menerima benda mungil itu dan langsung melihat apa yang ada di dalamnya. Selama ini, Yuki menganggap ayahnya melakukan bisnis sama seperti orang lain pada umumnya, bukan senjata gelap, apalagi tanpa izin.
Sebagai seorang politisi, seharusnya dia melakukan pekerjaan untuk rakyat, bukan sebaliknya. Yakni melakukan bisnis yang merugikan negara jutaan dolar. Hal itu tentu saja mencederai kepercayaan rakyat padanya.
"Berkat bantuan tuan besar Yamazaki, bisnis tuan Harada melesat cepat, melebihi kecepatan shinkanshen." Wanita itu masih bermonolog, sedangkan Yuki menatap layar monitor di hadapannya dengan napas tercekat.
*shinkanshen : kereta super cepat yang bisa melaju dengan kecepatan 300km/jam
"Ini tidak mungkin!" geram pria 31 tahun ini. Dia benar-benar tidak percaya pada apa yang dilihatnya dari deretan angka dan huruf yang terpampang nyata di depan matanya.
"Ayah Anda, tuan Hayato Harada adalah pencuri kelas kakap. Bukan hanya satu atau dua tahun, tapi puluhan tahun. Bahkan, mungkin Anda mewarisi kemampuannya." Wanita dengan pakaian serba hitam ini berusaha mengikis tingkat kepercayaan diri pria di hadapannya.
"Hentikan!! Siapa Anda?"
Yuki tak bisa mendengar ocehan wanita ini yang semakin membuat kepalanya sakit. Pertama, membahas kematian ayahnya. Kedua, menunjukkan foto Kaori dan seorang pria. Dan sekarang justru mengulik tentang pekerjaan mendiang ayahnya di dunia gelap, bahkan lengkap dengan bukti yang ada dalam laporan keuangan geng Naga Hitam. Entah dari mana wanita ini mendapatkannya.
"Apa Anda benar-benar ingin tahu siapa saya?" Wanita ini menyeringai lebar, menunjukkan bahwa dia sangat percaya diri menghadapi kelinci kecilnya ini. Dia bisa memanfaatkan Yuki untuk menghabisi musuh-musuhnya, menjadikan pria ini sebagai tangan kanan. Dengan kata lain, lempar batu sembunyi tangan. Dia akan melimpahkan memanfaatkan dendam dam emosi yang Yuki rasakan.
Yuki menajamkan telinganya, mencoba menangkap suara wanita Rusia ini.
__ADS_1
"Nama saya Anna. Anna Vyatcheslavovna." Anna mengulurkan tangannya, mengajak Yuki berjabat tangan.
Bukannya membalas uluran tangan wanita ini, Yuki justru memicingkan matanya. Dia tidak bodoh dengan begitu saja mau bersentuhan dengan orang asing ini. Terlebih lagi dia belum tahu tujuan kedatangan Anna ini, kawan atau lawan baginya?
Anna tersenyum, menyadari keragu-raguan yang terlihat jelas di wajah Yuki. Hal itu membuatnya tertantang, ingin segera memanfaatkan pria ini. Menyenangkan rasanya membuat orang kebingungan seperti sekarang.
"Semua uang itu ada di dalam rekening tuan Harada. Itu artinya akan menjadi milik nyonya Suzuki, ibu Anda. Bukankah ini berita besar? Ibu Anda akan bisa membeli apa saja yang dia inginkan tanpa terkecuali. Tapi tentu saja itu bisa menjadi bumerang untuknya. Jika pihak berwajib tahu tentang laporan keuangan ini, apa yang akan mereka lakukan? Bisakah ibu Anda lolos dari hukuman?"
Yuki tetap bungkam. Enggan meladeni penuturan tamunya yang semakin tak jelas arah tujuannya. Apa hubungan uang bisnis gelap ayahnya dengan kematiannya yang tiba-tiba? Dan wanita yang mengaku bernama Anna ini justru mengancamnya dengan keselamatan Sang Ibu.
"Saya tahu dalang di balik kematian tuan Harada. Apa Anda ingin mendengarnya?" pancing Ana.
"Keluar!" pinta Yuki detik berikutnya. Dia tidak ingin mendengar apapun. Kepalanya terasa penuh dengan berbagai potongan puzzle yang wanita ini sajikan.
"Tuan Besar Yamazaki bertanggung jawab atas kematian ayah Anda dan semua pengikutnya. Bahkan semua anggota Naga Hitam tak tersisa satu pun, dimusnahkan hingga ke akar-akarnya." Anna melenggang keluar ruangan, meninggalkan Yuki seorang diri dalam kebingungan.
* * *
Matahari kembali ke peraduannya, membiaskan semburat merah yang menghiasi angkasa. Satu dua rombongan burung kembali ke sarang, sebelum langit berubah gelap. Beberapa hewan malam tampak mulai keluar dari sarangnya, bersiap melakukan perburuan untuk mencari makan.
Di sebuah ruangan klasik khas bangunan tradisional Jepang, seorang pria tampak mengasah katana miliknya. Matanya terus menatap pisau panjang itu dengan seksama, seolah seluruh perhatiannya tertuju pada benda kebanggaannya itu. Tangannya lihai menajamkan senjata yang bahkan bisa membelah besi itu. Mengerikan.
Dari arah pintu, tampak seorang pria dengan pakaian khas Jepang yang selalu ia gunakan. Dialah tuan Kobayashi, kepala pelayan di rumah ini sekaligus penganggungjawab dan tangan kanan kakek Yamazaki. Keduanya tak terpisahkan, selalu ada di tempat yang sama.
"Tuan, itu benar-benar dia." Bisikan Kobayashi membuat gerakan tangan kakek Yamazaki terhenti.
"Dia mendatangi putra tuan Harada pagi ini. Dan dia membeberkan semua yang terjadi, termasuk laporan keuangan kita lima tahun terakhir. Dia mengancam akan melaporkan laporan keuangan ilegal itu pada pihak berwajib dan kemudian nyonya Suzuki-lah yang akan menganggung akibatnya."
__ADS_1
Kakek tersenyum. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Apa lagi?" tanya pria tua ini sambil mengembalikan katana miliknya ke dalam wadah.
"Dia mengirimkan foto-foto nona Kaori saat bulan madu di Thailand. Sepertinya wanita ini berniat mengadu domba tuan Yuki dan Shun Oguri."
Senyuman di wajah kakek Yamazaki semakin melebar. "Hanya itu?" tanyanya.
"Benar. Tidak ada yang lain lagi. Tuan Yuki segera mengusir wanita itu keluar."
"Undang dia untuk menemuiku. Jika tidak mau, maka buat janji temu secepatnya."
"Janji temu?" Kobayashi tidak yakin dengan permintaan tuannya. Tidak biasanya kakek berinisiatif melakukan pergerakan secara terang-terangan seperti ini.
"Aku ingin melihat seberapa bodoh putra kepercayaan Harada itu."
Tuan Kobayashi terhenyak. Dia hanya bisa mengangguk takzim, mengiyakan titah kakek Yamazaki. Dia tidak berhak mempertanyakan keputusan ini. Yang harus ia lakukan adalah melaksanakannya. Itu saja. Titik!
Kakek melangkahkan kakinya, berdiri di sebelah tiang kayu yang menjadi penyangga rumah ini. Wajahnya menengadah, menatap sinar mentari yang kini hanya menyisakan semburat merah di ufuk barat.
"Perketat penjagaan, termasuk calon cucu menantu kesayanganku. Kirimkan tiga pengawal bayangan untuk menjaganya. Pasti wanita itu akan menargetkan gadis mungil itu. Kita lihat apa yang akan dia lakukan."
* * *
Whoaaa..... Nyari masalah sama kakek. Ati-ati aja dah. Haha
See you next part. Maaf jarang update, semoga kalian memaafkan author labil satu ini. Bai bai,
__ADS_1
Hanazawa Easzy