Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Puncak Konflik


__ADS_3

Mone mengambil sampel darah Aira dan menyerahkannya pada dokter ahli genetika yang ia percayai. Gadis itu terpaksa memberikan obat tidur pada Aira dan membawanya pulang ke rumah sesuai perintah ayahnya. Dan Aira tertahan di kediaman Takeshi Kaneshiro hingga petang menjelang.



(Kyoko Fukada as Kaori-chan)


Di tempat lain, Kaori tertegun di tempatnya berdiri. Ia menatap Yu yang kini berdiri di depannya dengan gelisah. Tangan Yu bergetar hebat dengan wajah yang pucat.


"Aira tertembak?" tanyanya penasaran.


Tut tut tut


Sambungan telepon Yoshiro terputus saat itu juga, membuat Yu hanya bisa menahan kekecewaannya.


PRANG


"Apa yang kamu katakan, itu tidak benar kan?" tanya Kaori meragu. Perasaan takut seketika menjalar di hatinya. Cangkir yang ada di tangannya seketika terjun bebas ke bawah. Membuatnya hancur berkeping-keping. Ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga semuanya baik-baik saja.


Yu terdiam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Kaori karena masih terkejut dengan kabar yang baru saja di dengarnya. Berita yang membuat nafasnya sesak seketika dan berbagai gambaran negatif memenuhi prasangkanya.


"Duduklah. Tenangkan dirimu, jelaskan perlahan agar aku mengerti." pinta Kaori setelah membersihkan pecahan cangkir yang sebelumnya ia jatuhkan.


"Orang-orang gila itu benar-benar bodoh. Bagaimana mungkin mereka mengantarkan nyawa mereka sendiri ke kandang seekor singa seperti Takeshi Kaneshiro?" Yu meraup wajahnya dengan kesal. Ia marah, baik Ken, Aira, Yoshiro ataupun Shun tidak mengizinkannya bergabung dengan misi mereka kali ini.


"Yu, aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan." Kaori tampak meraba-raba hal besar apa yang tidak ia ketahui, yang berhasil membuat Yu panik padahal biasanya gadis itu selalu tenang, "Jelaskan perlahan." pinta dokter cantik itu.


"Aira menjadi umpan untuk memancing kemarahan Takeshi Kaneshiro. Dia sengaja membiarkan dirinya masuk perangkap yang telah Mone siapkan." jelasnya setelah memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri.


"Aira masuk perangkap?" tanya Kaori tak percaya. Tidak ada seorangpun yang memberitahu rencana ini. Aira hanya berpamitan akan makan siang dengan Mone, tidak ada yang lain.


Meski awalnya ragu untuk melepas Aira, tapi Kaori yakin Ken dan Aira sudah mempersiapkan segalanya. Jadi bagaimana mungkin Ken membiarkan istrinya yang masih hamil muda itu untuk ada dalam bahaya?


"Mone memberikan obat tidur pada Aira dan membuatnya kehilangan kesadaran. Ken sengaja hanya mengintainya dari jauh. Selagi Takeshi Kaneshiro dan Mone sibuk mengurus Aira dengan segala prosedur DNA yang rumit, saat itulah Ken, Yoshiro dan Shun menyabotase rumah Takeshi. Diam-diam merusak sistem keamanan mereka dan bersiap untuk membuat kejutan untuk tuan rumah. Mereka akan membawa Mone kembali ke Jepang." pungkas Yu menjelaskan situasi yang sebenarnya.


"Apa mereka baik-baik saja? Aira tidak terluka kan?" tanya Kaori khawatir pada keselamatan Aira.


"Entahlah. Yoshiro mengatakan padaku bahwa baru saja ia mendengar suara tembakan dari tempat Aira berada. Dia memintaku menyiapkan dokumen penerbangan milik semua orang dan bersiap menuju tempat rahasia kita."


"Baiklah. Aku akan melakukannya sekarang juga. Waktu kita tidak banyak. Ayo.." ajak Kaori. Kedua wanita itu sibuk dengan tugasnya masing-masing.


-Kediaman Takeshi Kaneshiro-


DOR


Takeshi menembak bantal yang ada di sisi badan Aira, membuat gumpalan kapas putih itu beterbangan ke berbagai arah. Aira hanya meliriknya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Anda akan menyesal karena membiarkan saya tetap hidup." ucap Aira dengan tatap mata tajam bagaikan elang yang bersiap mengoyak mangsanya.


'Tatapan ini...' batin Takeshi berucap lirih, otomatis menyalakan alarm dalam dirinya untuk lebih waspada. Mone juga memiliki tatapan yang sama persis seperti itu sebelum mengeksekusi korbannya.


"Kakak..." teriak Mone sambil berlari. Ia melepas cekalan tangan Anna dengan paksa dan berlari dari ruangan dibalik cermin menuju tempat dimana Aira berada. Gadis mungil itu merentangkan tangannya, menjadi penghalang ayah angkat dengan kakak sepupunya. Ia tidak akan membiarkan Takeshi menyakiti Aira, apapun yang terjadi.


"Paman, hentikan! Lepaskan kakak. Dia tidak terlibat dalam ledakan itu." pinta Mone sambil berdiri menghalangi pandangan Takeshi dari tubuh Aira yang masih setia duduk di atas ranjang. Wanita hamil itu tetap terlihat tenang membuat Takeshi sedikit gentar.


"Dia kakakku." aku Mone untuk yang kedua kali membuat Aira tertegun.


'Kakak? Apa aku salah dengar?' batin Aira.


Perasaan aneh menyelimuti relung hati Aira. Ia tidak memiliki satupun saudara. Tidak mungkin tiba-tiba ia memiliki adik kan? Tapi entah kenapa ia merasa hatinya sedikit menghangat saat melihat Mone yang datang melindunginya dan tetap bersikukuh di sana tidak mempedulikan bahaya yang mengancamnya.


"Mone, jangan gegabah. Kita belum tahu hasilnya." Takeshi meraih lengan Mone, menariknya ke sisi badan, menjauh dari Aira.


"Tuan Takeshi Kaneshiro, apa ada fakta lain yang ingin anda sembunyikan selain peristiwa lima tahun yang lalu?" pancing Aira. Ia beranjak bangun dan berdiri di depan Takeshi dengan wajah tanpa ekspresi. Aura iblis menyelimuti wanita yang berdiri tanpa alas kaki itu. Ia bahkan melangkah tanpa ragu mendekati Takeshi seolah tidak ada rasa takut sedikitpun, membuat pria itu terpaksa mundur sambil menyembunyikan Mone di belakang tubuhnya. Sikap impulsif manusia yang ingin melindungi sesuatu yang dianggap sebagai miliknya.


"TUTUP MULUTMU!!" teriak Takeshi. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Aira hampir mengungkap kebohongannya yang bisa membuat Mone membencinya. Tapi ia juga tidak bisa membunuh Aira di depan mata kepala putrinya. Meski rahasia itu tidak terungkap, Mone akan tetap membencinya. Sial. Wanita ini lebih berbahaya dari yang ia pikirkan.


Takeshi yang panik dan terlanjur naik pitam atas pertanyaan Aira sebelumnya, enggan untuk menyimpan pistolnya. Senjata berisi enam peluru itu masih mengacung di hadapan Aira. Tepat di depan keningnya.


"Tidak ada orang yang benar-benar bisa menyimpan rahasia, kecuali mereka menjadi mayat. Dan sebelum saya mengungkapkan rahasia besar anda, bukankah akan lebih mudah jika anda mengirim saya ke alam lain? Saya akan menyusul tuan Kamishiraishi Shu, seperti yang anda ucapkan sebelumnya dan menanyakan padanya siapa yang bertanggung jawab atas kematiannya." Aira menghasut kepercayaan diri Takeshi, membuatnya goyah dan semakin gelisah.


"Jangan memutarbalikkan fakta untuk menghasut putriku." geram Takeshi, kedua rahangnya mengerat menahan emosi.


"Turunkan senjatamu, paman." cetus seseorang yang kini berdiri di ambang pintu membuat Takeshi dan Mone berbalik bersamaan.



Dan dialah Shun Oguri. Tatapan tajamnya tertuju pada Takeshi Kaneshiro, seolah ingin melenyapkan orang itu saat ini juga, "Mari selesaikan dendam di antara kita tanpa melibatkan mereka."


"Kakak.." Mone membulatkan matanya melihat pria yang begitu ia rindukan dalam hati kecilnya.


Takeshi melepaskan genggaman tangannya pada Mone dan fokus pada pria yang menantangnya. Membuat emosinya mendidih hingga naik ke ubun-ubun.


"Jadi, kalian bersekongkol?" sebuah smirk menghiasi rahang kokoh Takeshi Kaneshiro. Tidak menyangka ternyata Aira dan Shun ada dalam kereta yang sama, ingin merebut Mone darinya.


"Rara, tolong jaga dia untukku. Aku berhutang satu penjelasan padanya." ucap Shun tanpa mengalihkan pandangannya dari Takeshi.


Syuuutt... DUAAAARR...


Sebuah kembang api meledak di udara membuat lukisan indah di langit yang telah berubah gelap seluruhnya. Cahaya warna-warni berpendar ke segala arah membuat perhatian Takeshi sedikit teralihkan.


BUGH

__ADS_1


Shun memukul Takeshi, membuat pria itu limbung dan jatuh tersungkur ke lantai. Pistol di tangannya terlempar ke sembarang arah. Tanpa menunggu waktu lama, Aira menggenggam tangan Mone yang masih tertegun di tempatnya berdiri dan menariknya keluar dari ruangan itu. Mereka berlari melewati koridor yang sudah steril. Ya, Ken dan Yoshiro sudah menyingkirkan puluhan penjaga yang sebelumnya ada di sana.


Langkah kaki Aira terhenti di anak tangga terbawah saat mendapati ada 5 pengawal yang menghadang mereka di pintu keluar rumah ini. Ia tidak bisa terus berlari melewati orang-orang yang mengacungkan senjata api padanya. Ia tidak punya senjata apapun di tangan, tidak mungkin melawan mereka dengan tangan kosong. Namun jika ia terus berlari, bisa dipastikan mereka akan menyasarnya dengan rentetan tembakan yang bisa membahayakan nyawanya.


Sial. Ia hanya bisa mengandalkan bantuan Ken atau Yoshiro sekarang. Tapi mereka tidak terlihat di manapun. Nampaknya mereka masih sibuk dengan lawan yang mereka hadapi, terdengar bunyi tembakan saling bersahutan dari luar rumah ini menandakan situasi belum sepenuhnya dikuasai oleh Ken.


Benar saja, Ken masih sibuk meladeni serangan pria dengan bekas luka melewati kelopak matanya. Mereka bertarung dengan tangan kosong sekarang. Beberapa pukulan berhasil membuat hidung Mark berdarah. Dan hal yang sama terjadi pada Ken, wajahnya memerah akibat kepalan tangan pria Rusia yang berhasil mendarat di wajahnya saat ia sedikit lengah.


Dor dor dor


Kembali ke dalam ruangan, tiga buah tembakan melumpuhkan lima orang pengawal yang kini tersungkur di lantai, membuat Aira terkejut. Sebuah pistol berwarna hitam dengan variasi hijau terulur di samping bahunya, mengarah pada orang-orang itu.


"Aku masih ingin mendengar penjelasan orang itu. Jadi bawa aku bersamamu, kakak." ucap Mone yakin. Ia memantapkan pilihan dengan berada di pihak Aira, meski itu berarti melawan ayahnya sendiri.


"Um." Aira mengangguk mantap. Ia kembali menggenggam jemari Mone dan berlari menuju Ken yang masih berjibaku melawan puluhan orang yang mengepungnya.


"Kak, untukmu." Mone menyerahkan dua buah pistol pada Aira. Ia yakin Aira bisa menggunakannya meski informasi yang ia dengar sebelumnya mengatakan wanita ini tidak memiliki kemampuan itu.


Aira mengangguk dan segera memanfaatkan senjata itu untuk menumpas habis pengawal yang menghalangi mereka. Mone dan Aira beradu punggung, saling melindungi satu sama lain.


BRUMM BRUUMM


Suara mobil terdengar samar dari kejauhan, membuat beberapa orang kehilangan fokus.


BRAKK


Pintu gerbang yang berdiri menjulang itu kini tergeletak tak berdaya setelah mendapat hantaman keras dari mobil yang tiba-tiba masuk ke halaman. Kacanya terbuka menampilkan Minami yang memberi kode agar rekan-rekannya segera masuk. Dalam misi ini, semua orang mengemban bagiannya masing-masing. Tak ada atasan atau bawahan. Posisi mereka sama.


"Ai-chan, cepat masuk!" perintah Ken segera.


Aira menarik Mone untuk masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu. Minami menekan pedal gas dengan kakinya dan melaju meninggalkan tempat berdarah itu sebelum ada orang yang menghadang mereka. Ia harus mengamankan Mone dan Aira, itu perintah Ken.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya Mone khawatir.


Aira menilik suaminya yang masih berdiri sendirian di sana sebelum sebuah mobil keluar dari garasi dan menabrak orang-orang yang mengerumuninya. Kosuke ada di balik kemudi, dia akan membawa Ken dan Shun segera setelah berhasil melumpuhkan para pengawal itu.


Aira bernafas lega sekarang. Misi mereka terselesaikan tanpa halangan berarti.


...****************...


Akhirnyaaaaaa....


Gimana gimana? Tulis komentar kalian yaa di bawah biar author tahu kurangnya dimana cerita ini selain kurang panjang 😂😂


Thanks for your like, vote, comment & big thanks buat kalian yang masih mau baca tulisan unfaedah ini 😘😘😘😘

__ADS_1


See you,


Hanazawa easzy


__ADS_2