
Angin bertiup lembut, menerbangkan satu dua dedaunan kering sebelum menyentuh tanah. Burung-burung beterbangan di langit, bersiap kembali ke sarang dan menetap di sana hingga pagi menjelang keesokan harinya. Matahari mulai turun ke peraduannya, bersiap tenggelam satu jam kemudian. Suasana terasa damai, jauh dari hiruk pikuk dunia yang membuat siapa saja menggelengkan kepala.
"Sudah baikan?" tanya Mone saat melihat Yamaken keluar dari kamarnya. Pria tampan itu terus bersembunyi di ruangan pribadinya setelah menyantap mie instan buatannya sendiri. Dan manager juga belum kembali hingga sore ini.
"Kamu masih di sini?" Yamaken memegang tengkuknya, merasa tak enak hati karena mengabaikan pujaan hatinya beberapa jam yang lalu. Bukannya pergi, dia justru memilih tinggal dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang ada. Selain memasak, Mone bisa mengerjakan semuanya. Terlihat dari perabotan dan majalah yang kini tertata rapi di tempat masing-masing. Padahal sebelumnya, ruangan ini begitu berantakan.
"Apa kamu masih demam?" Mone mendekat. Ia menengadahkan kepalanya demi melihat wajah pria 178 cm di hadapannya. Tangannya memeriksa leher Yamaken yang kini bersuhu normal. Selain kening, perubahan suhu tubuh juga bisa diperiksa di bagian sensitif satu ini.
"Apa kamu luang hari ini? Tidak pergi bekerja?" tanya Yamaken sembari duduk di atas sofa, diikuti oleh Mone di belakangnya. Keduanya duduk bersisian, berjarak beberapa langkah. Mereka menghadap televisi layar datar yang berwarna hitam, tidak menunjukkan gambar apapun karena memang tidak dinyalakan.
Mone meremas tangannya sendiri. Ia menggigit bibirnya, takut akan memulai pembicaraan yang cukup penting ini.
"Aku sudah resign dari sana," jawabnya lirih.
"Oh." Yamaken menoleh ke samping, menatap wajah chubby di depannya dengan penuh tanda tanya. Merasakan kecanggungan yang meliputi gadisnya ini.
"Ada apa?" tanya pria 28 tahun ini to the point. Ia tahu Mone ingin membicarakan sesuatu dengannya.
Glek
Tenggorokan Mone terasa kering saat mendengar nada bicara Yamaken yang terasa dingin dan datar, sama sekali berbeda dengan sebelumnya yang selalu terdengar ceria dan bersemangat. Jika dipikirkan lagi, sikapnya ini mirip dengan kakak kembarnya, Yamazaki Kenzo.
Bagaimanapun juga mereka kembar identik, selain fisik yang serupa, pasti mereka memiliki kesamaan yang lainnya. Termasuk sikap acuh tak acuhnya ini. Mone melihat beberapa kali saat kakak iparnya berbicara dengan nada datar bahkan cenderung ketus. Itu tidak mengherankan karena pria itu memang tidak pernah menampakkan wajah senyumnya di depan umum. Tapi sekarang? Yamaken yang terkenal ramah dan murah senyum, justru bersikap begitu dingin seperti ini. Hal itu membuat Mone merasa semakin canggung untuk menyampaikan permintaan maafnya.
"Apa ibu yang memaksamu keluar dari tempat itu?"
Belum terjawab pertanyaan pertama, Yamaken sudah mengutarakan pertanyaan yang lainnya.
"Tidak." Mone menggeleng dengan cepat, menyangkal pertanyaan kekasihnya ini.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" Yamaken kembali menatap tv di depan sana yang memantulkan bayangannya sendiri.
"Aku pernah menyukai orang lain." Mone menundukkan kepalanya dalam-dalam, sungguh merasa bersalah pernah keliru mengenai perasaannya pada dokter Takeshi.
Hening untuk beberapa saat. Baik Mone maupun Yamaken tidak bisa berkata-kata. Lidah mereka terasa kelu, sudah membayangkan akan seperti apa pembicaraan ini. Ya, hari itu bukan hanya nyonya Sumari yang mendapat kiriman potret kemesraan Mone dan dokter Takeshi, ternyata Yamaken juga mendapatkannya. Sejak hari itu dia tidak pernah menghubungi gadis 20 tahun ini lagi.
"Baguslah," komentar Yamaken sambil tersenyum. Sebuah senyum kepura-puraan yang justru semakin menyayat hatinya. Ia tidak bisa lagi mengendalikan perasaannya. "Kamu ingin mengakhiri hubungan kita?"
__ADS_1
Deg!
Mone menengadah seketika. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, sama sekali bukan seperti itu.
"Aku tidak akan menyulitkanmu. Semua hal yang berkaitan dengan ibu atau kakek, aku yang akan mengurusnya. Kamu tidak perlu khawatir." Masih dengan nada datar, aktor itu kembali berucap.
"Tidak. Bukan begitu. Aku .... Aku memilihmu." Mone mendekat ke arah Yamaken dan menggenggam lengannya erat-erat. Dia tidak ingin kesalahpahaman ini terus terjadi berlarut-larut. Pemilik hatinya ini harus ia amankan selagi bisa.
Yamaken bergeming. Ia diam seperti patung tak bernyawa. Tatapan matanya datar, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. Benar-benar sama seperti Ken.
"Yamazaki-kun, aku mengakui kesalahanku. Ini terjadi begitu saja. Dokter itu begitu baik padaku. Dia pernah menolongku saat tersesat di Italia. Kami tidak pernah bertemu lagi setelahnya. Saat tiba-tiba dia datang ke panti, aku merasa sangat senang dan tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Itu, aku tersesat dan merasa nyaman saat kami bersama. Aku tahu itu salah, tapi aku juga tidak bisa menolak permintaannya untuk sekadar pulang atau makan siang bersama." Mone mengakui semuanya. Dia tidak ingin menutupi apapun dari calon suaminya ini.
Yamaken tak menanggapi apapun. Ia berdiri satu detik setelah Mone menyelesaikan pengakuannya.
"Kamu menyukainya?" tanya Yamaken tanpa menoleh.
"Aku ... itu ... aku menyukai kalian berdua." Mone mengaku dengan jujur. Ia benar-benar masih labil, belum bisa membaca situasi saat ini. Jelas-jelas Yamaken sakit dan kondisinya baru sedikit membaik, tentu psikisnya sensitif dan mudah terluka. Tapi Mone justru menabur garam di atas luka. "Aku memilihmu."
Yamaken berbalik menatap Mone, "Apa aku sebuah pilihan untukmu?"
Deg!
'Apa aku benar-benar melukainya? Kesalahanku ini tak termaafkan,' batin Mone terasa sakit. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam dan mulai terisak. Semua ini memang kesalahannya yang tidak bisa menetap pada satu pilihan.
Satu dua bulir air mata tumpah begitu saja, menganak sungai hingga jatuh di ujung dagu gadis ini. Dia menangis dalam diam dan tidak bisa melakukan apapun. Tidak ada alasan. Tidak ada pembelaan. Semua murni kesalahannya sendiri. Bahkan, meskipun penyesalannya setinggi langit di angkasa, kesalahannya di masa lalu tetap tak terhindarkan.
"Aku masih ada urusan lain." Yamaken beranjak dari hadapan Mone, bersiap melangkah keluar dari apartemen pribadinya ini. Dia memiliki jadwal wawancara dengan sebuah majalah sore ini. Meski manager mengatakan bisa diundur, tapi Yamaken tidak ingin menunda-nunda pekerjaan lagi. Dia sudah cukup istirahat dan bisa kembali memenuhi tanggung jawabnya di depan lensa kamera.
"Gomenasai. Hontou ni gomenasai," lirih Mone sambil menahan ujung baju Yamaken, membuat langkah kaki pria itu terhenti. Kakinya seolah terpaku di lantai, mendengar tangisan gadis yang telah mencuri perhatiannya beberapa bulan terakhir.
(Maaf. Aku benar-benar minta maaf)
Rahang Yamaken mengerat, gemeletuk giginya yang beradu terdengar jelas. Pria itu berperang dengan dirinya sendiri. Ingin sekali ia berbalik dan memeluk gadis ini, namun egonya sebagai seorang pria mencegah itu. Dia harus sedikit tegas agar gadisnya ini tahu tidak seharusnya membiarkan pria lain masuk ke dalam hatinya.
"Aku sudah terlambat." Yamaken menghempaskan tangan Mone detik itu juga. Ia mengeratkan baju hangat yang melingkupi tubuhnya dan segera keluar dari pintu utama kediamannya ini, meninggalkan Mone seorang diri dalam penyesalan terdalamnya.
__ADS_1
Brukk
Tubuh mungil Mone jatuh melangsai di lantai. Ia sungguh menyesal dan tidak bisa berbuat apapun lagi. Yamaken benar-benar marah padanya. Ini pertama kalinya Mone melihat calon suaminya marah. Entah bagaimana caranya memperbaiki hubungan ini nantinya.
"Gomenasai ...." lirihnya penuh penyesalan. Hatinya seolah tersayat ribuan sembilu melihat Yamaken meninggalkannya.
Di saat yang bersamaan, di ruang istirahat panti. Seorang pria dengan pakaian dokter tengah mengurut keningnya sendiri. Ia tidak tahu kemana lagi harus mencari gadis mungil yang ia peluk siang ini. Seharusnya ia ada bersama para lansia di taman belakang panti jompo, namun batang hidungnya tak tampak sama sekali.
Tok tok tok
Ketukan pintu terdengar dari luar, seorang wanita masuk dan mendekat ke arah dokter Takeshi yang segera memasang wajah tanpa ekspresi. Dia adalah petugas administrasi yang datang untuk memberikan data penghuni panti yang dokter itu minta.
"Dimana Mone?" tanya dokter Takeshi to the point. Ia penasaran kenapa tidak bisa melihat Mone bersama para lansia yang sengaja menghabiskan waktu bersama.
"Dia sudah resign dua hari yang lalu," jawab wanita itu dengan kening berkerut, bertanya-tanya dalam hati tentang hubungan pengunduran diri Mone dengan pria ini. Keduanya memang cukup dekat dan membuat banyak petugas lain iri.
"Dia resign?" tanya dokter Takeshi pada salah satu staf administrasi yang ada di hadapannya ini. Pantas saja ia tak mendapati Mone di manapun sore ini meski sudah berkeliling mencarinya ke seluruh penjuru panti. Ia pikir dua hari kemarin jadwal libur gadis itu, jadi tidak berangkat bekerja. Tapi ternyata ....
"Iya. Kepala panti sudah menyetujuinya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak. Kamu boleh pergi." Dokter Takeshi mengusir petugas itu secara halus. Ia mengambil ponselnya dan berusaha menghubunhi Mone untuk mendengar alasan pengunduran dirinya.
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan." Suara operator terdengar di telinga pria kepala tiga ini, membuatnya semakin tidak tenang.
Dokter Takeshi menengadahkan kepalanya, mencoba menenangkan diri agar tidak bertindak bodoh. Dia bukan lagi remaja yang akan berlari tunggang langgang demi menemui pujaan hatinya saat tak bisa menemuinya maupun menghubunginya. Dia sudah lebih dewasa, bahkan sangat dewasa. Tahun ini, usianya memasuki angka 32 tahun, sama sekali bukan hal yang pantas untuk bersikap kekanakan.
"Arrghhhh!!" teriaknya frustrasi. Ia tidak tahu bahwa perasaannya sudah berkembang terlalu dalam pada gadis yang berjarak usia 12 tahun darinya itu. Ia benar-benar terjebak perasaannya dan begitu sulit melepaskan diri. Mone sudah membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali mereka bertemu enam tahun yang lalu. Itu pula yang menjadi alasannya untuk kembali ke Jepang dan meninggalkan pekerjaannya di luar negeri.
"Apakah dia benar-benar sudah memiliki orang lain di hatinya?" gumam pria berpakaian dokter itu.
...****************...
Kesian Abang Yamaken. Sakiiiittt 😢ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
See you,
Hanazawa Easzy