
Aira datang ke kediaman Takeshi Kaneshiro bersama Kosuke. Dia mewawancarai Mone terkait kontrak kerja sama gadis itu dengan Miracle. Saat itulah Takeshi pulang dan mendapati dua orang tamu yang membuatnya tidak kerasan di rumahnya sendiri.
"Apa yang kamu inginkan dari putriku?" tanya Takeshi.
"Saya ingin membawa putri anda kembali ke Jepang." jawab Aira penuh percaya diri.
Deg
Jantung Mone seperti terhenti sepersekian detik setelah mendengar kalimat yang Aira tuturkan. Matanya berbinar, nyaris saja tersenyum jika ia tidak melihat pandangan menyelidik Kosuke yang tengah memperhatikannya. Dengan segera ia menetralkan ekspresi wajahnya lagi. Rasa bahagianya harus ia telan kembali dan simpan rapat-rapat sampai ia membuktikan bahwa Aira benar-benar kakak sepupunya.
"Kembali ke Jepang?" Takeshi melangkah mendekati Aira, menatapnya dengan tajam, "Kamu tahu apa yang kamu ucapkan itu?"
"Jika iklan ini berhasil, saya ingin Mone datang ke Jepang saat musim semi nanti. Bunga sakura masih menjadi primadona wisata di sana dan pasti bisa mendongkrak omset penjualan kami." ucap Aira dengan tenang.
Kosuke menghembuskan nafasnya setelah mendengar jawaban nonanya tadi. Ia takut Takeshi murka saat Aira mengatakan akan membawa Mone kembali. Tapi ternyata wanita hamil ini lebih cerdik dari yang ia duga. Beberapa kali Aira mengejutkannya, seperti saat ini. Permainan kata yang ia pilih bisa membuat emosi orang memuncak sebelum mendengar kalimat keduanya.
"Benarkah? Sudah lama putriku ingin kembali ke Jepang tapi suamiku tidak pernah mengizinkannya." Anna tiba-tiba saja memegang tangan Aira, menggenggamnya dengan erat seolah menyimpan harapan besar tentang janji Aira sebelumnya.
Aira hanya bisa tersenyum, tidak menyangka mendapat dukungan dari wanita Rusia di depannya. Takeshi akan sulit menolak permintaan istrinya, Aira yakin itu.
"Benar nyonya. Saya ingin Mone datang ke Jepang saat sakura bermekaran. Selain urusan pekerjaan, mungkin agenda itu juga bisa membawa memori masa kecilnya di sana. Aku selalu ingin kembali ke Indonesia, pasti Mone juga sama. Dia mungkin ingin sesekali menghabiskan waktu di tanah kelahirannya." Aira menyambut genggaman tangan Anna.
"Kenapa tanganmu dingin sekali? Ayo duduklah, akan ku ambilkan sarung tangan untukmu." Anna bersiap melepas tangan Aira, namun Aira dengan sigap menahannya. Drama dimulai.
"Tidak nyonya, pekerjaan saya sudah selesai jadi kami harus segera kembali. Lagi pula, wawancara berjalan dengan lancar. Itu kebahagiaan terbesar bagi seorang freelancer seperti saya." aku Aira merendah. Ia tidak sepenuhnya berbohong karena memang pekerjaannya ini demi keberlangsungan Miracle.
*freelancer dipakai untuk menggambarkan seseorang yang bekerja secara mandiri dan tidak terikat kontrak di sebuah perusahaan. Biasanya, bidang yang ditangani oleh freelancer adalah yang berhubungan dengan teknologi. Misalnya saja adalah desainer website, desainer grafis, content, copy writer, dan sejenisnya.
"Freelancer?" Takeshi mengerutkan keningnya. Ia penasaran dengan perkataan Aira barusan. Jelas-jelas Mark mengatakan bahwa Aira menikah dengan Yamazaki Kenzo, pemegang kekuasaan tertinggi di Miracle Japan setelah ayahnya.
'Bagaimana mungkin istri wakil direktur menjadi seorang freelancer di perusahaannya sendiri?' batin Takeshi meragukan Aira.
"Duduklah. Tampaknya istriku masih ingin berbincang denganmu." pinta Takeshi. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Mone, mengamati wajah putrinya yang tampak merona. Sepertinya Mone senang karena ia menahan Aira lebih lama. Putrinya itu bahkan mengucapkan terima kasih dengan isyarat mulutnya, tanpa bersuara.
"Baiklah. Tunggu di sini. Aku akan segera kembali." Anna berjalan dengan cepat memasuki ruangan yang lebih dalam, membuat Aira menatap Kosuke untuk meminta persetujuan.
Takeshi mengamati keduanya. Ia curiga Aira mempunyai niat tersendiri dengan mencuri start, ia muncul lebih dulu sebelum Takeshi datang mencarinya.
"Mohon maaf, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Masih ada kepentingan lain terkait pemotretan besok. Jadi, saya pamit lebih dulu." Kosuke berkata sebelum menunduk pada Takeshi dan Mone bergantian.
"Hubungi aku jika kamu selesai. Aku akan menjemputmu nanti." ucap Kosuke dengan gugup, tapi mencoba bersikap senatural mungkin.
'Aku? Kamu? Apa dia benar-benar ingin menyembunyikan statusnya sebagai nyonya Yamazaki di depanku? Menggelikan.' lirih Takeshi dalam hati. Ia semakin tertarik ingin menyaksikan drama yang akan wanita hamil ini mainkan di depannya.
Aira mengangguk dan kembali ke tempat duduknya semula. Ia menangkap ekspresi Takeshi yang sempat mengangkat sebelah bibirnya saat Kosuke sedang berpamitan padanya tadi. Pria paruh baya itu mulai masuk ke dalam perangkapnya. Aira bertepuk tangan dalam hati.
"Maaf, membuatmu menunggu." Anna datang dengan nafas tak teratur. Ia langsung memakaikan sarung tangan berbulu itu di jemari Aira.
"Ah, nyonya.. Saya bisa memakainya sendiri." ucap Aira merasa tak enak hati. Lagi pula ia canggung karena Takeshi tak melepaskan pandangan tajamnya sedetikpun. Mata elang itu memperhatikannya tanpa jeda seolah mencari kesalahannya.
"Tidak masalah. Aku senang berbincang denganmu." ucapnya ramah, "Dimana Kosuke?" netranya menatap sekeliling namun tak mendapati pria Jepang itu di manapun.
__ADS_1
"Kosuke? Kamu begitu akrab dengannya?" Takeshi kembali menunjukkan sikap tidak sukanya pada pria dengan asal yang sama dengannya.
"Dia penanggung jawab pemotretan besok. Tentu saja aku sebagai manager harus mengenal orang-orang yang berbisnis dengan putriku." jawab Anna membela diri.
"Maaf karena dia pergi lebih dulu. Masih ada urusan lain di luar." Aira menjawab pertanyaan Anna tentang ketiadaan Kosuke.
"Siapa namamu?" tanya Takeshi lirih. Tatapannya sedikit mengendur, tak ingin Anna curiga padanya. Jika ia terus menabuh genderang perang, bisa-bisa Anna mengusirnya dari sini. Itu artinya ia tidak bisa 'menggali' istri Ken lebih dalam lagi.
"Khumaira Latif. Anda bisa memanggil saya Aira jika berkenan." jawabnya tenang. Sangat tenang, seolah benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak memiliki maksud tersembunyi di balik kedatangannya sore ini. Seperti sebuah peribahasa, air beriak tanda tak dalam. Dan Aira sebaliknya, tidak ada riak sama sekali dalam pembawaannya. Ia menyembunyikan dengan baik 'kedalaman' yang ia miliki.
"Ah, Aira.." Takeshi menganggukkan kepalanya beberapa kali, mengingat laporan asisten pribadinya. Nama itu juga yang dikatakan oleh Mark. Takeshi merasa ada yang aneh dengan Aira yang terang-terangan menunjukkan nama dan wajah di depannya.
'Apa mungkin wanita ini tidak tahu bahwa aku seorang mafia seperti suaminya? Atau dia justru sengaja melakukannya untuk memancingku keluar? Atau mereka (Ken & Aira) benar-benar bodoh?' berbagai pertanyaan mulai bermunculan di otak pria berjambang tipis itu.
"Apa ada yang ingin anda tanyakan, tuan..." Aira menggantung pertanyaannya. Berpura-pura tidak mengetahui nama ayah angkat Mone.
"Takeshi. Takeshi Kaneshiro." jawab Anna detik berikutnya.
"Maaf atas kelancangan saya yang tidak mengetahui nama anda." Aira menundukkan kepala, menunjukkan permintaan maafnya. Dalam hati ia tersenyum, tidak menyangka akan mendapat bantuan dari Anna. Jika saja Anna tidak menahannya tadi, ia tidak punya alasan untuk lebih lama di tempat ini.
"Jangan memikirkannya. Apa kamu masih kedinginan?" tanya Anna perhatian.
"Tidak. Terima kasih atas perhatian anda."
"Jangan begitu formal padaku. Aku senang bisa berbagi dengan orang lain." ucapnya menggenggam jemari Aira dengan erat, "Apa kamu sakit? Wajahmu agak pucat." tanya Anna khawatir.
"Aku sedikit mual." jawab Aira. Ia tidak berbohong, rasanya perutnya seperti di aduk dan ingin memuntahkan semua yang ada di dalamnya. Ia menahannya sebisa mungkin agar tidak mengganggu misinya kali ini.
"Hmm, saya sedang hamil." jawab Aira lirih. Ia menatap Anna, namun ekor matanya masih bisa menangkap bayangan Takeshi yang tiba-tiba mengangkat kepalanya agar bisa menatap ke arah mereka berdua.
"Kamu hamil?" raut wajah Anna berbinar, matanya bahkan sampai berkaca-kaca. Ia memeluk Aira dengan erat sambil merapalkan berbagai macam doa dari mulutnya.
Sedangkan Takeshi tampak termenung di tempatnya. Ia tidak tahu kenapa perasaannya tidak nyaman saat mendengar pengakuan Aira tentang kehamilannya. Jelas-jelas ia sudah mendengarnya dari Mark. Pandangannya beralih pada Mone yang terpaku menatap kedua wanita yang sedang berpelukan erat di hadapannya. Dua wanita yang paling berharga untuknya, tanpa mereka ketahui.
"Ikut denganku." pinta Takeshi.
Mone menatap ayahnya dan mengangguk. Ia berjalan dibelakang Takeshi yang pergi mendahuluinya. Aira tersenyum menatap kepergian kedua tuan rumah yang menjadi targetnya. Misinya berhasil memancing kecurigaan Takeshi padanya.
Keduanya memasuki ruang kerja Takeshi di balik tangga melingkar yang menghubungkan lantai ini dengan lantai di atasnya. Ruangan itu kedap suara, jadi rahasia apapun aman mereka bicarakan di sana.
"Apa saja yang ia tanyakan padamu?" selidik Takeshi.
"Tidak ada. Semua tentang pekerjaan." jawab Mone jujur.
"Apa dia benar-benar bodoh?" Takeshi menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih, "Dia menunjukkan kelemahan terbesarnya sebagai seorang wanita. Dia tidak tahu betapa berbahaya posisinya dengan status itu. Setiap orang bisa dengan mudah melenyapkan nyawanya ataupun bayi dalam kandungannya." ucap Takeshi kesal. Ia tak habis pikir dengan pernyataan Aira yang mengakui kehamilannya di depan orang lain yang baru saja dikenalnya.
"Paman..." panggil Mone yang lebih terdengar seperti sebuah permohonan.
"Ada apa?"
"Aku ingin tes DNA." ucap Mone menatap tajam ke manik mata ayah angkatnya.
__ADS_1
"Tes DNA?"
*******
Langit telah gelap seluruhnya saat mobil berwarna merah tua itu sampai di basement apartemen mewah di pusat kota. Aira melepas sabuk pengaman yang melindungi tubuhnya dan mengetatkan syal di lehernya sambil tersenyum.
Ya, ini pemberian Anna untuknya. Ia tidak menyangka akan mendapat sambutan yang sangat hangat dari wanita Rusia yang baru pertama kali ia temui ini. Wanita itu tidak bisa memiliki anak karena rahimnya diangkat beberapa tahun yang lalu, itulah sebabnya ia begitu bahagia saat mengetahui ada kehidupan baru yang tersembunyi di balik perut Aira.
"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Kosuke.
"Sangat baik." jawab Aira sambil membuka pintu di sampingnya.
"Tuan Yamazaki akan kembali sedikit larut. Ada hal yang harus ia pastikan sekali lagi." ucap Kosuke tanpa menjelaskan kemana Ken pergi.
"Tidak masalah. Dia akan baik-baik saja, kan? Dia bisa menjaga dirinya dengan baik." jawab Aira tanpa beban sedikitpun. Ia percaya pada suaminya apapun yang akan ia lakukan.
Mereka berdua masuk ke dalam lift menuju penthouse yang mereka gunakan selama berada di negara pecahan Uni Soviet ini. Lokasi yang strategis dan privasi yang sangat terjaga di sini menjadikan Kosuke memilih hunian ini sebagai tempat mereka menyembunyikan diri dari udara dingin yang menggigit sampai ke tulang. Di beberapa wilayah bagian Rusia, udaranya bahkan bisa mencapai -17° C di malam hari. Itu bisa membuat orang mati karena kedinginan.
"Apa kau gila?" tanya sebuah suara saat Aira menginjakkan kakinya ke dalam rumah. Shun mendekat, atau lebih tepatnya menghadang Aira dan Kosuke yang baru saja sampai setelah bepergian sejak siang tadi.
Aira tak mengindahkan pertanyaan Shun. Ia memilih berjalan menyamping dari tubuh tinggi yang menghalangi jalannya. Ia tidak ingin berurusan dengan pria tidak jelas ini. Tak ada gunanya berdebat, ia lelah dan ingin segera istirahat.
"Apa kamu mendengarku?" tanya Shun menahan lengan mungil Aira. Ia menggenggamnya dengan erat, ingin mendengar jawaban atas pertanyaannya.
Hening
Aira tak bergeming, ia bahkan tak ingin menatap Shun sama sekali. Tubuhnya membelakangi pria 186 cm itu. Apa yang ia lakukan tidak ada urusannya lagi dengan pria ini. Ia dan Ken pergi atas kemauan mereka sendiri sebagai tanggung jawab atas pekerjaan yang sudah mereka mulai.
"Aira..." panggil Shun lirih. Nadanya terdengar lembut, hampir seperti memohon, "Jangan pergi. Dia terlalu berbahaya untukmu." ucapnya lirih.
"Lepaskan tanganmu." pinta Aira tanpa menatap lawan bicaranya.
"Berjanjilah jangan menemui mereka lagi."
"Itu bukan urusanmu." jawab Aira.
"Tentu saja itu urusanku. Aku bisa membunuh siapa saja di dunia ini, tapi aku tidak akan rela jika nyawa bayi kalian yang tak berdosa harus dipertaruhkan untukku." Shun menahan Aira, mencengkeram lengan wanita hamil itu dengan erat. Ia bahkan menggoyangkannya beberapa kali agar Aira mau menatapnya.
"Kamu terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu. Bahkan jika kamu tidak ingin bertemu dengan adikmu lagi, aku akan tetap membawanya kembali ke Jepang." jawab Aira dengan smirk yang terukir di sebelah bibirnya. Ia melepaskan tangan Shun dengan paksa.
"Aku sudah menunjukkan kelemahan terbesarku di depan mereka. Jadi jangan pernah coba mengacaukan rencana kami atau kamu akan menyesal seumur hidupmu." ancam Aira.
Shun menatap punggung Aira sampai menghilang di telan pintu. Wanita hamil itu memasuki kamar miliknya untuk istirahat. Apa yang Aira dan Ken lakukan takkan terhenti.
*******
Maaf ya baru sempet update. Please like, vote & comment.
Mata ashita ne 🤗
Hanazawa easzy
__ADS_1