Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : My Savior Goddess


__ADS_3

Shun berdiri di depan ruang perawatan Aira. Tangannya memegang handle pintu di depannya, namun tubuhnya terpaku di sana. Asisten pribadinya mencoba mengingatkan Shun karena sudah lebih dari lima menit mereka berdiri di sana. Pria itu layaknya manekin yang tak bergerak sedikit pun.


"Tuan..."


Shun pergi dan melupakan tujuan awalnya menemui Ken. Hatinya tiba-tiba terasa sesak seolah ada bom waktu yang menghujam tepat di jantungnya. Wajah Aira benar-benar membawa pengaruh besar di otaknya.


BUGH


Shun memukul tembok di depannya dengan segenap tenaga yang ia miliki. Setelah bertahun-tahun ia menyerah, kenapa sekarang gadis itu harus muncul di hadapannya? Dan ternyata ia pernah hampir membunuhnya beberapa hari yang lalu?


Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya yang terasa kacau. Apakah ini kebetulan atau Tuhan sengaja menghukumnya?


"Selidiki semua informasi tentang wanita itu. Pastikan apa dia pernah ada di Thailand beberapa tahun yang lalu. Serahkan hasilnya dalam satu jam atau kau akan segera menemui ibumu di alam baka!" perintah Shun pada seorang pria yang berdiri tiga langkah di belakangnya.


"Baik." pria itu berlalu pergi meninggalkan tuannya yang kini menempelkan keningnya pada dinding berwarna putih di depannya, seolah ada penyesalan atas kesalahan yang tak termaafkan. Tangannya mengepal dengan erat menahan luapan emosi yang membuncah tanpa bisa ia kendalikan.


Satu jam kemudian...



Di ruang perawatan Aira, Ken membawa sarapan pagi yang sengaja disiapkan oleh Minami yaitu semangkuk bubur nasi lengkap dengan ayam, bawang goreng dan sebutir telur rebus yang dibagi menjadi dua. Makanan khas Indonesia yang semua orang suka. Hidangan itu tampak menggugah selera, namun tidak begitu dengan Aira. Ibu hamil itu justru menutup hidung dan mulutnya dengan tangan. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali menolak makanan itu.


"Makanlah sedikit saja, yaa.." Ken masih setia membujuk istrinya yang entah kenapa jadi manja hari ini. Benar-benar bukan Aira yang selama ini dikenalnya. Dokter bilang itu efek hormonal dalam tubuhnya, berkaitan dengan perkembangan janin di perutnya. Tapi Ken justru berpikir lain, apakah mungkin Aira mempunyai dua kepribadian? Satu sisi ia mandiri dan tak terkalahkan, di sisi lain ia adalah wanita yang sangat manja dan suka merajuk?


Pemikiran konyol itu tak berdasar. Ia tahu Aira-nya hanya satu. Tidak peduli ia tomboy, tangguh, manja atau menyebalkan sekalipun, dia tetaplah wanita yang paling ia cintai saat ini. Tidak ada kebahagiaan lain yang lebih berarti dibandingkan menghabiskan waktu dengan calon ibu dari anak-anaknya ini.


"Ai-chan... Ayo buka mulutmu. Aaa..." Ken membuka mulutnya sendiri seolah sedang memberikan contoh gerakan buka mulut pada wanita di depannya. Seperti membujuk anak kecil yang tengah mogok makan di depan ibunya. Menggemaskan.


Aira tak bergeming. Ia benar-benar tidak punya selera makan sekarang. Yang ia inginkan hanya hidup tenang dengan suaminya dan menjalani hari-hari seperti keluarga kecil lainnya tanpa bayang-bayang ketakutan.


"Tidakkah kamu ingin menikmati sarapannya? Itu mungkin terakhir kalinya Ken menyuapimu." terdengar suara Shun menginterupsi keduanya. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


Ken segera berdiri di depan istrinya. Menyembunyikan wanitanya dari pandangan Shun, membuat pria itu mengangkat sebelah bibirnya.


"Dia harus tinggal denganku selama kamu pergi." Shun menunjukkan tiket pesawat atas nama Yamazaki Kenzo tepat di depan wajah Ken.


"Jangan mimpi! Dia tidak ada hubungannya dengan perjanjian kita." jawab Ken dengan rahang mengeras. Ia tidak akan menyerahkan Aira pada seniornya itu.


"Siapa bilang?" Shun mengeluarkan sebuah antivenom buatannya, mengingatkan Ken tujuan awalnya bekerjasama dengan Shun. Pria itu tersenyum pongah melihat wajah Ken yang menunjukkan ekspresi khawatir.

__ADS_1


"Dia bisa datang sesekali, tidak harus tinggal denganmu." Ken masih bersikukuh dengan penolakannya.


"Hahaha... Apa yang kamu takutkan, tuan muda Yamazaki?" Shun tertawa melihat ekspresi Ken yang menurutnya lucu, "Aku tidak akan menyentuh istrimu." lanjutnya dengan menatap manik hitam pekat di depannya tanpa berkedip, menunjukkan keseriusannya.


"We meet again, my Savior Goddess..." ucap Shun sembari menilik Aira di balik punggung Ken. Sebuah senyum terpatri di wajahnya saat mengatakan kalimat itu, membuat Aira membelalakkan matanya.


(Kita jumpa lagi, Dewi Penyelamatku..)


'Panggilan itu, bagaimana mungkin dia tahu? Padahal aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Mungkinkah...?' batin Aira mulai bertanya-tanya identitas pria yang kini berdiri di hadapan suaminya.


Shun berlalu pergi setelah meletakkan tiket pesawat milik Ken di atas ranjang perawatan Aira. Senyum bahagia tak lepas dari wajahnya, membuat beberapa pengawalnya heran. Mereka bertanya-tanya apa yang bisa membuat tuan mereka menunjukkan emosi 'manusia'nya.


"Ai-chan... Daijoubu?" tanya Ken seraya memegang lengan istrinya yang terus diam untuk beberapa saat. Ia tampak melamun sejak kepergian Shun 5 menit yang lalu.


(Are you Ok?)


Aira tersenyum hambar dan mengambil mangkuk dari tangan Ken. Ia memakan sarapannya itu dalam diam membuat Ken menerka-nerka apa yang terjadi pada istrinya. Apa itu berkaitan dengan panggilan Shun padanya tadi?


Hingga siang menjelang, Aira tetap diam di ranjangnya. Ia tidak mengatakan sepatah katapun.


Tok tok


"Oguri-sama menyiapkan paket liburan spesial untuk Anda dan istri Anda." ucapnya seraya menyerahkan lipatan kertas yang sedari tadi dibawanya.


*******


Rintik salju turun perlahan saat Ken dan Aira turun dari mobil yang asisten Shun kendarai. Mereka mengikuti arahan yang diberikan pria itu, berjalan menyusuri jalan setapak yang tertutup salju.



Aira menatap butiran putih yang menyelimuti sepatu boots hitam yang ia kenakan. Ken berdiri di depannya, pandangannya mengarah pada titik yang sama.


"Lelah?" tanya Ken sembari meraih tangan istrinya yang terlihat pucat.


Aira hanya mengangguk lemah. Mereka sudah berjalan sepuluh menit, namun belum terlihat tujuan mereka. Padahal menurut denah yang Shun berikan, penginapannya ada di sana. Tapi tak terlihat apapun kecuali hamparan putih salju yang menutupi pepohonan di sekitar mereka. Mungkinkah Shun sengaja menjebak mereka berdua?



Aira merebahkan dirinya di atas hamparan salju yang tampak menggunung di depannya. Menikmati pemandangan langit yang terbentang luas di angkasa. Ken hanya memandangnya dalam diam, membiarkan istrinya istirahat sejenak sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


"Ken, ada apel disana.." tunjuk Aira dengan tangan kanannya ke salah satu pepohonan yang terlihat meranggas. Mereka menggugurkan daunnya menyambut musim dingin seperti sekarang.


"Nani?" tanya Ken tak percaya. Ia mengikuti arah pandangan istrinya. Ken melihat sebuah pohon apel di kejauhan.


(Apa?)


"Aku lapar." lirih Aira sambil memejamkan matanya.


Tanpa menunggu waktu lama, Ken berlari menghampiri pohon itu dan memetik buahnya.



"Makanlah.." ucap Ken seraya menyerahkan sebutir apel berselimut salju pada Aira. Membuat istrinya itu sontak bangun dan duduk bersila di hadapan Ken.


Aira menerimanya dan langsung memakan buah bulat berwarna merah itu setelah mengupas es yang mengelilinginya. Tak ada raut takut jika apel itu beracun atau semacamnya seperti cerita-cerita dongeng yang sering ditayangkan oleh film keluaran Disney. Aira tidak percaya itu.


Ken mengamati wajah istrinya. Sejak perkataan aneh Shun kemarin, Aira benar-benar jadi pendiam. Ia hanya mengatakan beberapa kata dan sisanya lebih banyak diam.


"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ken to the point membuat Aira menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Mungkin.." jawabnya menggantung sebelum kembali asik dengan apel di tangannya. Buah itu terasa sangat manis, berbeda dengan apel lain pada umumnya.


"Dimana?" tanya Ken penasaran.


"Thailand."


*******


Hai minna-san.. Selamat membaca 🤗


Hontou ni arigatou (terima kasih banyak) buat semua readers yang bersedia membaca novel author-chan sampai hari ini. Tanpa kalian, author hanyalah butiran debu di antara lautan pasir tak bertepi *eh? apaan siih ga jelas gini.


Btw, author baca semua komen kalian &terharu melihat betapa kalian antusias menyambut karya unfaedah ini 😢 Tapi gomen ne, author ngga bisa balas komen kalian satu per satu.


Author usahakan buat up secepatnya. Nulis ngga bisa dipaksakan tergantung mood, jadi author mohon maaf kalo slow update & buat kalian semua kecewa. Author ngga fokus nulis 100% karena masih ada tanggung jawab pekerjaan di dunia nyata.


See you next day,


With love,

__ADS_1


Hanazawa easzy ♡


__ADS_2