
Dukk
PRANGG
Sebuah guci keramik hancur berkeping-keping setelah tidak sengaja tertabrak oleh Yu. Gadis itu berlari setelah mendengar rahasia yang tuan Ebisawa ungkapkan tentang masa lalu ibunya. Hal itu sangat mengejutkan dan membuatnya merasa tak layak untuk tetap berada di sini.
"Yu ... " panggil Yoshiro dengan panik. Ia segera berlari menyusul gadis itu untuk menenangkannya. Ia menuruni tangga dengan terburu-buru, bahkan sempat terjatuh di anak tangga terbawah.
Tanpa mempedulikan lututnya yang sempat membentur lantai dengan keras, pria itu tetap meneruskan langkahnya. Ia menatap sekeliling namun tak mendapati siapapun di ruangan yang luas ini. Hanya dua penjaga yang tampak berlari mendekat ke arahnya. Mereka mendengar bunyi gaduh dari dalam rumah dan segera masuk untuk memeriksanya.
"Dimana Yu?" tanya Yoshiro dengan gugup.
"Maaf, Tuan. Kami tidak melihat Nona keluar," jawab salah satu dari mereka.
Yoshiro kembali berlari menuju lantai dua dimana kamar Yu berada. Gelap. Tak ada tanda kehidupan sama sekali dari ruangan itu. Tampaknya Yu tidak masuk ke sana sama sekali. Dia yakin Yu belum pergi jauh. Tapi kenapa keberadaannya tak bisa ia temukan? Yoshiro menjelajahi seluruh sudut rumah ini untuk menemukan gadis yang telah mencuri hatinya.
Yoshiro berhenti di balkon dan mengamati halaman di hadapannya. Ia mengingat setiap sudut yang mungkin menjadi tempat persembunyian wanitanya. Tampaknya ia tahu dimana gadisnya berada. Tanpa menunggu lama, Yoshiro berlari ke tempat itu.
Yu duduk di bawah sebuah pohon sakura yang ada di taman belakang, membiarkan kakinya menjejak tanah basah yang tertutup rumput. Ia melepas sepatunya saat berlari, membuat tak seorang pun bisa mendengar kemana arah langkah kakinya.
Sejak Erina meninggal, taman ini tak lagi terjamah. Ini adalah tempat favorit mereka berdua. Ah, tidak. Lebih tepatnya tempat yang Erina khususkan untuk mereka. Tempat ini seutuhnya milik kakaknya, Yu hanya ada di sana jika Erina mengajaknya pulang ke rumah.
Yu menundukkan kepala, bulir air matanya turun membasahi pipi dalam diam. Ia merasakan dadanya penuh sesak oleh kekecewaan yang menjalar di dalam hatinya. Ia hanya orang asing di sini. Ya, itulah kenyataannya. Selama ini, ia hanyalah benalu yang menyusahkan tuan Ebisawa. Bagaimana bisa ia menilai dirinya terlalu tinggi selama ini? Menganggap statusnya setara dengan Erina sebagai putri keluarga ini. Nyatanya, dia hanyalah ...
"Ibu, kenapa ibu pergi sendiri? Harusnya ibu membawaku pergi saat itu. Kenapa ibu begitu egois meninggalkanku sendiri di sini?"
Dukk dukk
Yu memukuli dadanya sendiri yang terasa sakit. Ia merasa menjadi orang yang paling hina di dunia ini. Menerima segala pemberian tuan Ebisawa sedari kecil.
"Bu, kenapa ibu pergi tanpa meninggalkan petunjuk apapun padaku? Seharusnya ibu memberitahu statusku sejak awal di keluarga ini. Bagaimana mungkin aku bisa begitu bangga dipanggil 'Nona Ebisawa' oleh semua orang? Aku bahkan menerima semua pemberian dari pria yang telah ibu khianati. Aku memanggilnya ayah setiap kali bertemu. Bagaimana aku bisa sebodoh itu? Aku bahkan berpikir bahwa ayah memanjakan kak Erina, tapi tidak memanjakanku sekalipun. Aku takut Tuhan akan menghukumku karena menikmati sesuatu yang bukan milikku."
Wuzz
Sebuah jaket mendarat di kepala Yu, membuat wajahnya tertutup sempurna. Gelap. Hanya itu yang ada di hadapan gadis 23 tahun itu sekarang. Parfum beraroma woody yang maskulin segera menyapa indera penciuman Yu, aroma cedarwood ini tak pernah berubah, milik pria itu. Aroma bernuansa kekayuan/hutan, tempat favoritnya berkelana.
"Ayo pulang!" ajak Yoshiro begitu Yu menunjukkan wajah sembapnya. Matanya memerah dengan hidung berair. Ia tidak bisa menyembunyikan tangisnya dari pria ini.
"Naik." Yoshiro berjongkok di depan Yu. Ia akan menggendong gadis ini.
Hal yang sering ia lakukan sejak Yu masih kecil. Ya, saat Yu menangis, Yoshiro lah yang akan menghiburnya. Menggendongnya berkeliling halaman sampai adiknya itu kembali tertawa. Bahkan tak jarang mereka sampai jatuh berguling di atas rumput. Sikap Yoshiro yang pendiam akan langsung berubah jika berhadapan dengan gadis yang berbeda 6 tahun darinya itu. Ia akan menjadi lebih perhatian dan sering tersenyum.
Kilatan memori masa kecil itu juga menari-nari di kepala Yu. Ia tersenyum pahit mengingat segalanya. Ketulusan Erina dan Yoshiro padanya tak akan ia lupakan. Keberadaan Yoshiro adalah alasan Yu masih bertahan hidup sampai sekarang setelah kematian Erina. Ya, ia begitu terpukul saat mendapat berita bunuh diri yang dilakukan kakaknya. Ia bahkan sempat melakukan hal yang sama, sampai kemudian Yoshiro menyadarkannya bahwa masih ada pria itu sebagai alasan untuk hidup.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkanmu mati sendirian. Jadi, ayo kita mati bersama ... "
Kata-kata sarkasme dari Yoshoro itu membuat Yu bertahan. Ia bertekad akan melawan siapapun yang mengganggu kakaknya. Pun sebaliknya, ia akan mengabdikan hidupnya pada orang-orang yang memperlakukan Yoshiro dengan baik. Itulah sebabnya ia begitu baik pada Aira, karena gadis itu berhasil memunculkan rasa empati Yoshiro yang tidak bisa ia kembalikan setelah kepergian Erina.
Aira dengan kebaikan hatinya, membuat Yoshiro kembali 'menapaki tanah' setelah bertahun-tahun terjebak dalam obsesinya menciptakan senjata maupun obat-obatan berbahaya. Ia hidup dengan normal seperti kebanyakan orang saat ini. Itu semua karena pengaruh Aira dan Ken.
"Kenapa diam saja? Ayo cepat naik!" perintah Yoshiro untuk yang kedua kalinya karena Yu hanya terdiam sedari tadi.
"Huh! Aku bukan anak kecil." Yu menatap sebal pada pria di depannya.
Bukannya naik ke punggung Yoshiro, gadis itu justru memilih pergi setelah memakai jaket milik pria kesayangannya. Tangannya menenteng sepatu hak tinggi yang sedari tadi tergeletak di dekat kakinya.
"Oey, mau kemana?" Yoshiro segera berlari dan menghadang Yu, "Ku bilang naik ke punggungku!"
Lagi-lagi pria itu berjongkok, menggunakan lututnya sebagai tumpuan dan menantikan pergerakan gadis di belakangnya.
Yu memutar bola matanya, tak habis pikir. Jelas-jelas ia menolak, kenapa pria ini tidak juga menyerah? Ia kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda beberapa detik. Melewati pria yang tahun ini menginjak usia kepala tiga.
"Yuzuki-chan, berhenti disana!" perintah Yoshiro dengan suara berat dan dingin. Ia kesal karena Yu tidak menurut padanya. Apa susahnya naik ke punggungnya untuk ia gendong?
Yu tidak mempedulikan perintah Yoshiro dan memilih tetap melanjutkan langkahnya. Ia termasuk gadis yang keras kepala dengan kemauan keras. Semua orang tahu akan hal itu.
Tap tap tap
"Aku tidak akan mengatakannya dua kali. Kamu hanya berhak memilih satu diantaranya. Mau ku gendong atau aku cium?" tanya Yoshiro pada gadis yang kini melotot tajam setelah mendengar pertanyaan yang ia utarakan.
'WHAT? Apa dia gila?' batin Yu berang. Ia tidak akan memilih salah satu atau keduanya. Ia berhak menentukan sendiri apa yang akan ia lakukan.
"Nansense!" ucap Yu sambil melepas cekalan tangan Yoshiro dengan paksa.
(Omong Kosong!)
*nansense adalah pelafalan nonsense oleh lidah orang Jepang, yang memiliki arti omong kosong.
Yu melangkah pergi, enggan termakan pilihan yang Yoshiro ajukan. Opsi pertama, sudah jelas ia tolak mentah-mentah. Gadis itu tidak mau diperlakukan seperti anak kecil oleh kakak angkatnya. Terlebih lagi hubungan mereka sudah berakhir, jadi tidak ada alasan ia harus memilih opsi kedua, yakni mendapat ciuman darinya. Hanya orang gila yang memilihnya, dan Yu merasa ia masih waras.
"Yuzuki-chan!"
Yu terus melangkah. Ia tidak ingin berhenti atau bahkan berbalik menghadap orang itu. Tidak akan!
"Baiklah. Kita lihat apa kamu masih bisa lari dariku setelah ini?" gumam Yoshiro lirih. Ia segera menyusul gadis keras kepala yang berhasil merajai hatinya.
Srett
__ADS_1
Yoshiro menarik hoodie jaket miliknya yang dipakai oleh Yu, membuat gadis itu terpaksa berhenti melangkah. Detik berikutnya, pria itu membalik badan Yu, membuat mereka saling berhadapan.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di bibir Yu, membuat matanya terbelalak detik itu juga. Sepatu yang ada di tangannya seketika terjatuh ke sisi badan. Tubuhnya menegang mendapat perlakuan Yoshiro yang begitu agresif padanya.
Bugh bugh
Yu mengepalkan tangannya, memukul dada Yoshiro dengan sekuat tenaga agar bisa lepas dari tautan mereka. Bukannya melepaskan hadiah yang ia berikan, pria itu justru bertindak semakin dominan untuk menguasai gadis itu. Satu tangannya menahan dua pergelangan Yu sekaligus, membuat pukulan gadis itu tertahan. Sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menahan kepala Yu agar tidak bisa lari dari serangannya.
Deg deg deg
Jantung Yu seolah berdisko sekarang. Serangan tak terduga yang Yoshiro lakukan membuatnya tak bisa berkutik. Nafasnya tertahan dan mulai merasakan pasokan oksigen di dadanya mulai menipis. Namun tak ada tanda-tanda Yoshiro berniat menyudahi pergulatan mereka.
Ckiiittt
Yu terpaksa menggigit lidah pria itu, membuat tautan mereka terlepas dengan paksa.
"Kamu?!" geram Yoshiro. Ia merasakan ngilu yang luar biasa pada lidahnya.
Yu menatap kakak angkatnya dengan mata berkilat karena marah. Nafasnya yang tidak teratur menandakan ia masih gugup dan syok dengan perlakuan yang ia dapatkan barusan. Dengan menghentakkan kakinya, ia pergi dari tempat itu setelah mengambil kedua sepatunya yang teronggok di tanah.
"Anata wa kurutte iru!" ucap Yu sambil berlalu pergi.
(Kamu gila!)
"Ya. Itu benar. Aku gila karena menyukaimu!" ucap Yoshiro sambil menggendong Yu di atas bahunya.
"Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!" teriak Yu sambil memukul punggung Yoshiro dengan tangannya.
"Kamu yang memintanya. Aku sudah memberikan dua pilihan yang bagus, kamu justru tidak menginginkan keduanya. Rasakan akibatnya!" Yoshiro membawa gadis itu keluar dari kediaman ini. Ia memasukkannya ke dalam mobil dan membawanya pergi dari sana dengan paksa.
Pemandangan itu tentunya tak lepas dari pengamatan tuan Ebisawa yang sedari tadi berdiri di lantai dua. Beliau hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan putra angkatnya itu. Ia tahu, perasaan Yoshiro pada Yu tak bisa ia bendung lagi. Ia tidak akan bisa memisahkan keduanya. Selain status ayahnya yang tidak jelas, sejujurnya tidak ada alasan lain bagi tuan Ebisawa untuk membenci putri yang dilahirkan oleh wanita kesayangannya itu. Gadis itu memiliki kemampuan yang memadai dalam segala bidang, kecuali memasak. Itu adalah satu-satunya kelemahan yang dimilikinya.
...****************...
Huhuhuuu... abang Yoshiro ganas juga yaa 😂😂 *halu terooosss 😔💃
Btw, ngga boleh ditiru yaa gaess. Ini kan cerita fiktif yang berlatar di Jepang. Lain lagi kalo di Indonesia & kita juga punya norma dan agama yang berlaku yaa. Ngga boleh tuh kalo belum ijab kabul 😁😁
See you,
Hanazawa Easzy 🤗❤
__ADS_1