Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Sisi Liar Ken


__ADS_3

Nyonya Sumari menemui Aira, memintanya berbicara pada Ken berkaitan dengan masalah Mone, Yamaken dan seorang dokter pria yang bekerja di tempat yang sama dengan gadis chubby itu. Ibu ingin Ken tidak ikut campur karena Mone sudah berjanji akan menyelesaikan masalah ini dengan kemampuannya sendiri.


Wanita Jepang itu juga mengungkapkan satu kejadian yang membuat Aira terkejut, yakni berita kaburnya tawanan mereka, tuan Harada. Selain pria itu yang kini tak diketahui keberadaannya, kematian nyonya Hanako, Si Rubah Wanita, turut menyokong masalah saat ini. Kepala Aira terasa penuh dengan berbagai teka-teki yang minim petunjuk. Ah, menyebalkan.


Aira kembali ke kamarnya dan mendapati Ken masih tertidur pulas di atas ranjang. Wajahnya tampak damai tanpa satu pun masalah, berbanding terbalik dengan Sang Istri yang memikirkan banyak hal saat ini. Ia memilih menyucikan tubuhnya terlebih dahulu, membasuh seluruh anggota badannya dengan air mengalir mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Banyak orang yang menyepelekan perihal thaharah atau bersuci ini. Padahal sebagai seorang muslimah, sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk mandi wajib setelah menunaikan tugasnya sebagai seorang istri. Tak hanya itu, mereka wajib menyucikan diri karena melahirkan (wiladah), setelah masa nifas selesai, dan tentunya setelah masa haid setiap bulannya.


Aira bergegas menyelesaikan mandi wajibnya setelah memastikan bahwa seluruh anggota badannya terbasuh sempurna. Ia segera memakai mukena dan membentangkan alas salat. Alarm di ponselnya berbunyi merdu, menandakan bahwa sekarang sudah masuk waktu ibadah dua rakaat sebelum mentari keluar dari persembunyiannya.


Denting piano yang keluar dari ponsel Aira berhasil membangunkan Ken, membuatnya seketika terjaga. Pria itu duduk bersandar ke belakang. Kulit punggungnya menempel di kepala ranjang tanpa terhalang apapun. Pemandangan yang akan menguji iman wanita di seluruh dunia. Ya, Ken membiarkan dadanya terekspose begitu saja tanpa berniat memakai kaus miliknya yang tergeletak di lantai.


Aira melanjutkan ibadah paginya dengan membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an. Bacaan berbahasa Arab itu berhasil menenangkan hati siapa saja yang membacanya, termasuk Aira. Membaca rangkaian huruf yang ditulis dari sebelah kanan ini terasa memabukkan, dimana dia tidak ingin mengakhirinya, ingin terus membacanya lagi dan lagi. Namun masih ada hal lain yang harus dilakukan, jadi terpaksa Aira mengakhirinya.


"Sudah?" tanya Ken yang kini berdiri di belakang Aira. Ia juga siap melaksanakan kewajibannya ini setelah menyucikan diri. Aira tersenyum dan segera membentangkan alas salat lain untuk suaminya.


"Sepertinya anak-anak sudah bangun," ucapnya sambil melirik ruangan bayi di sebelah kamar ini.


"Ah, benarkah?" Aira bergegas merapikan mukena yang dipakainya. Ia bahkan tidak sempat melihat Ken yang terkekeh di belakangnya. Pria itu jarang melihat istrinya panik seperti ini. Kedepannya mungkin dia bisa memanfaatkan anak-anak untuk menjahili Aira. Ya, sepertinya itu ide yang bagus, batinnya.


Aira membuka pintu pembatas antara kamarnya dengan kamar anak-anak saat Sakura mengangkat salah satu bayinya dari dalam keranjang. Bayi merah itu bergerak tak beraturan dengan ekspresi yang menggemaskan, seperti ingin menangis.


"Ututu, anak ibu sudah bangun. Kamu lapar, Nak?" tanya Aira pada Akari, Si Sulung yang berarti cahaya. Dia mendekat, bersiap mengambil alih penguasaan putranya.


"Popoknya basah, Nyonya. Aku akan menggantinya lebih dulu." Sakura mencegah Aira yang sudah rapi untuk mendekat. Ia akan mengganti pakaian bayi merah ini lebih dulu sebelum memberikannya pada Sang Ibu. Dia merasa bertanggung jawab pada kebersihan bayi lucu ini dan juga ibunya.


"Tidak apa-apa. Aku bisa menggantinya sendiri." Aira tetap mengambil putranya dari dekapan Sakura. Dia mengganti popok celana bayinya dengan telaten, tanpa merasa risih atau jijik sama sekali. Itu memang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang ibu. Adanya pengasuh seperti Sakura hanyalah sebagai pendamping, bukan menggantikan posisinya sebagai seorang ibu.


Ya, nyatanya seorang wanita sudah menjalani training setiap bulannya sejak mereka memasuki usia remaja. Saat seorang wanita haid atau lebih dikenal dengan istilah menstruasi, sebenarnya itu adalah bentuk pelatihan agar ia tidak merasa jijik pada kotoran yang anak-anaknya keluarkan setelah dia menjadi seorang ibu. Namun, tak banyak yang menyadari hal ini.


Ada begitu banyak persiapan yang harus dilakukan oleh seorang wanita agar bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Seperti halnya pembatasan wanita yang disarankan lebih banyak di dalam rumah, itu berguna agar seorang wanita lebih mawas diri. Mereka seharusnya tahu bahwa mereka diibaratkan sebagai sebuah intan berlian, maka tempat terbaiknya adalah tersimpan di dalam tempat yang tersembunyi. Mereka harus membiasakan diri berada di dalam rumah karena tugas mereka kelak sebagai pendidik utama dan pertama bagi buah hati mereka. Dan Aira memahami betul tugasnya ini. Ia berusaha menjadi ibu yang baik untuk ketiga anak-anaknya yang sangat menggemaskan.


Sakura menundukkan kepala. Ia mengagumi puannya ini yang mandiri dan cekatan. Dia belajar banyak hal dari Aira, termasuk dalam hal mengurus bayi. Aira selalu menunjukkan senyumnya di depan anak-anak itu, tidak peduli seberapa pelik masalah yang dihadapinya. Tiga malaikat kecil ini tidak memikul dosa apapun, tidak seharusnya diperlakukan dengan kasar apalagi harus mendapat pelampiasan kemarahan orang tuanya. Itu tidak boleh terjadi.


"Mereka sangat beruntung memiliki seorang ibu seperti Anda." Sakura memuji atasannya ini.

__ADS_1


Aira mengangkat sebelah alisnya dan melirik gadis di sampingnya, "Apa itu sebuah pujian untukku?"


Kedua wanita itu saling melempar senyum, merasa lebih dekat dari sebelumnya. Sakura pandai menempatkan diri dan cekatan. Dia dengan sigap mengambil keranjang pakaian kotor saat Aira selesai mengganti popok yang bayinya pakai.


"Terima kasih," ucap Aira spontan yang dijawab anggukan oleh Sakura.


Krekk


"Mereka sudah bangun?" tanya Ken yang muncul di balik pintu dengan kaus hitam lengan pendeknya. Sebuah celana training menjadi pilihannya, siap jogging atau sekadar peregangan nanti.


"Umm. Akari-kun sepertinya kelaparan. Mereka bertiga tidak menyusu semalaman." Aira mendekap putranya dan membawa bayi merah itu duduk di atas sofa, meninggalkan ranjang tempatnya mengganti popok tadi. Ken ikut duduk di samping istrinya sambil sesekali memainkan jemari putranya yang masih begitu kecil.


"Tuan dan Nona Kecil tidak bangun sama sekali. Mereka terus terlelap sepanjang malam." Sakura ikut ambil bicara, melaporkan ketiga bayi asuhannya yang entah kenapa tidak bangun satu kali pun sejak mereka tidur sembilan jam yang lalu.


"Eh, benarkah?" Aira merasa sedikit heran dengan ketiga bayinya. Biasanya mereka akan terbangun bergantian karena kelaparan dan membuat Aira harus begadang.


Ken dan Aira saling beradu pandang, mata mereka bertumbuk pada satu titik, menyadari kebetulan yang cukup langka itu.


'Mungkinkah mereka bertiga tahu bahwa ayah dan ibu mereka sedang.... Mmm, begitulah,' batin Aira bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Urusai!" ketus Aira sambil mendorong wajah suaminya menjauh. Ia kesal karena Ken menggodanya di depan Sakura.


(Berisik!)


"Mereka tidur lagi. Bagaimana kalau kita lanjutkan 'itu' lagi?" Ken kembali menggoda istrinya. Ia mengatakan itu dengan terang-terangan saat mendapati putra sulungnya memejamkan mata dalam dekapan Aira.


'Dasar mesum!' umpat Aira dalam hati. Wajahnya merona merah seperti kepiting rebus. Sempurna. Ken lagi-lagi berhasil menjahili istrinya.


Plakk


Ckitt


Sebuah tepukan yang cukup keras mendarat di paha kiri Ken. Aira melampiaskan kekesalan yang terpendam di dalam hatinya. Tak cukup sampai di sana, tangan mungilnya mencubit perut Ken detik berikutnya, membuat Si Pemilik berjengit merasakan nyeri di bagian tengah tubuhnya.


Sakura memegang tengkuknya sendiri, merasa canggung harus terjebak di ruangan yang sama bersama sepasang suami istri ini. Ia tahu apa yang tuannya maksud dengan 'itu'. Sebelum melayani Ken dan Aira, tuan Kobayashi, ayahnya, pernah menceritakan perubahan sikap Ken saat bersama istrinya. Sakura tidak mempercayai itu sampai melihat dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Semua orang yang mengenal Ken pasti menilainya sebagai seorang yang angkuh, arogan, ambisius, diktator, dan berbagai sifat buruk lainnya. Tapi nyatanya, sifat itu melebur saat di depan istrinya. Yamazaki Kenzo, Si Gangster Boy Berdarah Dingin berubah menjadi seorang pria yang manja, jahil, dan suka menggoda wanitanya. Sakura benar-benar heran saat pertama kali melihatnya. Kenyataan yang mencengangkan.


"Sakura, keluarlah!" titah Ken saat ia semakin mengikis jarak dengan Aira. Dia ingin bermesraan dengan ibu dari ketiga anaknya ini.


"Ap.. apa yang kamu lakukan? Kenapa meminta Sakura pergi?" Aira tergagap. Ia mempertanyakan perintah Ken pada pengasuh bayinya ini. Aira ingin mencegah kepergian Sakura, namun Ken lebih dulu membekap mulutnya dengan tangan.


"Sst, kecilkan suaramu atau Akari akan terbangun," bisik Ken sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulut. "Apa kamu tidak kasihan pada Sakura jika dia melihat kita bermesraan?"


Aira membulatkan matanya. Ia tahu suaminya pasti akan mencari kesempatan dalam kesempitan seperti yang sudah-sudah. Dan posisi Aira saat ini yang sedang memangku Akari, tak akan bisa pergi dengan mudah. Pergerakannya semakin terbatas karena Ken merangkul pinggangnya erat-erat.


"Apa yang--" Pertanyaan Aira terhenti saat Ken tiba-tiba menciumnya.


"Aku lapar." Ken mengucapkan dua kata itu setelah mengecup bibir tipis istrinya. Ia kembali melahapnya tanpa peduli pada bola mata Aira yang membola. Keinginan suaminya ini benar-benar tak bisa dicegah sekarang. Dia seperti serigala kelaparan yang mendapati kelinci kecil tak berdaya di hadapannya. Makanan empuk pagi hari.


Aira berusaha mendorong dada Ken dengan sebelah tangannya, namun tak membuahkan hasil sama sekali. Ken justru membawa pergelangan tangannya ke belakang, menahannya di sandaran kursi. Tubuh Aira sedikit terdorong ke belakang, menahan dominasi suaminya yang begitu terasa kali ini.


Ckiitt


Aira menggigit lidah Ken yang berada di dalam mulutnya. Hanya itu satu-satunya cara agar suaminya itu melepas pagutan mereka.


"Argghh," teriak Ken sambil menjauhkan dirinya dari Sang Istri. Ia menatap Aira dengan pandangan yang sulit diartikan, antara kesal, marah dan merasa bersalah. Aira menekuk wajahnya, tidak suka dengan dominasi suaminya. Ia menatap Ken dengan pandangan mematikan.


Aira beranjak pergi dari hadapan Ken, membuat pria 29 tahun itu benar-benar merasa bersalah. Ia melupakan rasa sakit di dalam mulutnya dan segera mencari kesempatan untuk meminta maaf pada istrinya.


"Ai-chan," Ken menghadang langkah kaki istrinya, "Maafkan aku," ucapnya serius.


Aira kembali mengabaikan Ken. Ia membenci sisi liar suaminya ini. Entah bagaimana harus melepaskan diri darinya jika sudah lupa diri seperti tadi. Benar-benar menyebalkan!


...****************...


Yaaah si mamak marah lagi deh. Si Abang mah suka gitu 😏😑😑


Gimana caranya biar mamak anak-anak ngga marah lagi yaa? Ada saran? Kesian kan tuh Abang didiemin lagi. Baru juga baikan bentar, marahan lagi. Udah kayak ABG labil yaak 😂😂


Btw, maaf yaa baru sempet update. Author usahakan crazy up deh. Jangan lupa berikan dukungan kalian biar makin semangat halunya nih. See you 😄

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2