Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Sianida


__ADS_3

"Kami berbagi apartemen yang sama," ucap Kaori


Deg!


Shun membulatkan matanya, terkejut dengan penjelasan yang Kaori sampaikan tanpa diminta. Dia seolah tertampar oleh kenyataan yang tak terduga ini.


'Berbagi apartemen yang sama?' batinnya bergejolak. Ia tidak menyangka akan mendapat pukulan tak berwujud ini.


Ken melirik seniornya, ingin tahu seperti apa ekspresi pria angkuh di sebelah sana. Shun yang pernah menolak perasaan Kaori beberapa bulan yang lalu, nyatanya kini justru mengikuti gadis ini kemanapun ia pergi. Nampaknya hukum karma tengah menderanya, menunjukkan betapa lemahnya ia berhadapan dengan perasaan tak terkontrol di dalam hatinya, yakni cinta....


"Ah, kenapa jadi membahas masa lalu kita? Apa kamu ingin mengulanginya?" Yuki menatap Kaori tepat di matanya, menekankan kata 'kita' yang diucapkannya. Ia sengaja memancing kemarahan Shun, menguji seberapa sabarnya pria yang kini berjalan mendekat ke arah mereka.



"Jaga mulutmu! Aku bisa merobeknya sekarang juga!" ucap Shun, menunjuk Yuki dengan jari telunjuknya. Wajahnya menunjukkan keseriusan, tak bercanda sama sekali.


"Hahaha, dia benar-benar marah. Kamu akan menikahi pria dengan temperamen seperti ini? Apa kamu yakin?" Yuki tak menggubris ancaman Shun. Dia justru menikmati pertunjukan ini dengan senang hati.


"KAU?!" Shun mengulurkan tangannya, bersiap mencengkeram leher pria menyebalkan di depannya.


Plakk


Tukk


Kaori menepis tangan Shun dengan keras, membuat jemari calon suaminya terantuk meja.


"Sudahlah. Aku datang ke sini bukan untuk melihat lelucon kalian." Kaori beranjak kembali ke meja Ken, mengambil map kuning yang ia bawa sebelumnya.


"Dokter Olivia tidak meninggal karena bunuh diri. Seseorang meracuni entah makanan atau minumannya." Kaori mulai menjelaskan. Ia duduk di single chair yang ada di sana, menjaga jarak dari Yuki maupun Shun. Ia fokus pada Ken yang ada di hadapannya.


*single chair : kursi tunggal


"Dokter Olivia? Wanita itu meninggal?" tanya Yuki terkejut. Dia tidak menyangka wanita yang merusak wajah ibunya sudah meninggal.


"Dia palsu." Ken menyela.


"Palsu bagaimana?" Yuki ingin tahu kejelasannya.


"Wanita yang datang merawat wajah ibumu bukan dokter Olivia. Justru dokter itu meninggal karena keracunan." Kali ini Kaori ikut angkat bicara, menanggapi rasa penasaran yang sahabatnya tunjukkan.

__ADS_1


Yuki terdiam, mencerna kalimat yang Kaori ucapkan. Jelas-jelas adiknya mengatakan bahwa dokter Olivia yang bertanggung jawab atas perawatan wajah ibunya.


"Ada beberapa bagian yang perlu diautopsi untuk memeriksa penyebab kematiannya yaitu bagian otak, jantung, hati, dan berbagai organ endokrin lainnya. Dalam kasus keracunan sianida, semua organ tubuh akan meninggalkan jejak sianida. Kecuali isi lambung di mana hanya kandungan kecil saja yang akan terdeteksi."


"Sianida?" Ken mengerutkan kening, cukup terhenyak mendengar penyebab kematian dokter muda itu.


"Benar. Pihak forensik memeriksa jenazah dengan mengambil sampel untuk keperluan toksikologi dan menelaah hasilnya. Berdasarkan pemeriksaan pasca kematian dan hasil toksikologi, mereka akan menyimpulkan apa yang menjadi penyebab kematian." Dokter cantik itu tampak begitu tenang menjelaskan laporannya.


"Cara masuk racun ke dalam tubuh bisa melalui mulut dalam hal ini adalah makanan atau minuman yang dikonsumsinya, atau bisa juga melalui pernafasan, kulit dan peredaran darah. Biasanya akan muncul luka lebam, namun perubahan lebam mayat yang terpapar racun akan berbeda-beda. Hal ini karena ada racun yang menyebabkan gangguan pada sistem darah yang mengakibatkan perubahan warna darah."


"Apa hal itu bisa dilihat kasat mata?" tanya Yuki.


"Bisa. Keracunan gas karbonmonoksida pada gas buang knalpot akan menunjukkan lebam mayat merah, hampir sama dengan mayat keracunan sianida. Sementara jika keracunan nitrit, lebam mayat berwarna coklat," jelasnya lebih lanjut.


"Racun sianida jika dikonsumsi dalam jumlah besar dapat mengakibatkan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba, seringkali disertai kejang dan kematian. Umumnya dampak tersebut akan langsung terasa dalam waktu 1 sampai 15 menit."


Ken menatap laporan di tangannya. Ia menatap angka-angka yang tertera di sana.


"Efek sianida ini sangat mengerikan. Bahkan, ganasnya zat ini bisa membunuh puluhan gajah. Pemburu liar biasa menggunakan ini untuk membunuh gajah buruan mereka."


"Dia seorang dokter. Apa dia tidak tahu makanan atau minumannya diracuni?" tanya Yuki seolah masih belum percaya dengan fakta yang ada.


"Tidak semua orang bisa mencium zat berbahaya ini. Apalagi jika sudah masuk ke dalam makanan atau minuman. Mungkin dia menyadarinya saat sudah mengalami gejala keracunan. Namun itu terlalu cepat, dia tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri." Kaori menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa aesthetician itu.


"Awalnya, laju dan kedalaman pernafasan umumnya meningkat, kemudian menjadi lambat dan terengah-engah. Mungkin dia juga merasakan mual saat itu, tapi tidak ada orang lain disana kecuali putrinya yang baru berusia lima bulan."


"Dia tidak menghubungi suami atau keluarganya?" Yuki ingin tahu lebih banyak tentang dokter muda itu.


"Ponselnya hilang. Tidak ditemukan dimanapun." Ken yang menjawabnya.


"Seperti yang ku sebutkan di awal, waktu maksimal sejak gejala itu dirasakan adalah sekitar 15 menit. Pada tahap kejang-kejang, dapat diikuti dengan kelumpuhan. Bola mata dapat menonjol keluar dan manik mata dapat menjadi tidak reaktif. Kerusakan terhadap saraf optik dan retina, serta kebutaan kemungkinan dapat terjadi saat itu. Mulut akan mengeluarkan busa dan terkadang disertai darah. Ini merupakan indikasi terjadinya edema/pembengkakan paru. Jika kematian terjadi, biasanya dalam jangka waktu 4 jam dan dapat disebabkan karena terhentinya fungsi sistem pernafasan atau anoreksia pada jaringan. Sayangnya saat itu tidak ada seorang pun yang bersamanya, jadi nyawanya tak terselamatkan," sesal Kaori. Ia tampak ikut bersedih atas kenyataan yang ada. Satu nyawa tak bersalah kembali menjadi keganasan orang-orang tak bertanggung jawab.


Suasana hening beberapa menit. Ke empat orang itu hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Ken memikirkan bagaimana cara mengungkap pelaku pembunuhan dokter Olivia, Kaori merasa haru atas fakta yang ia sampaikan, dan Yuki masih penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah ibunya menjadi korban rekayasa politik dari lawan main ayahnya di parlemen?


Shun tampak tak banyak berpikir atas kasus ini. Ia tak terlalu peduli dengan kematian dokter kecantikan itu. Tugasnya hanya membantu Ken maupun Kaori saat mereka membutuhkan pertolongan, tak ada urusan sama sekali dengan kehidupan pribadinya. Fokusnya kali ini justru tertuju pada pria berpakaian putih di depannya. Ia harus menyingkirkan saingan cintanya ini. Entah seperti apa hubungan Kaori dan orang ini di masa lalu, ia harus memutuskan langkah secepat mungkin, menjadikan Kaori sebagai miliknya. Hanya miliknya. Seutuhnya.


Tok tok tok


Kosuke masuk setelah Ken mempersilakannya masuk. Ia segera mendekat dan berbisik pada tuannya itu.

__ADS_1


"Ponsel dokter Olivia berhasil ditemukan."


"Benarkah? Dimana benda itu sekarang?" tanya Ken antusias. Besar harapannya bahwa mereka akan menemukan titik terang dari riwayat panggilan yang dilakukan dokter itu beberapa jam sebelum kematiannya.


"Nona Yu sedang berusaha memulihkan datanya. Ponsel itu rusak total. Kita hanya bisa berharap pada kemampuan Nona Ebisawa ini."


Ken melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah waktunya ia pulang untuk mengantar Aira ke rumah kakek.


"Terus awasi perkembangannya. Aku harus pergi sekarang!" titahnya pada Kosuke.


"Baik. Akan saya laksanakan," jawab pria berpakaian serba hitam itu.


Melihat gelagat Ken yang bersiap meninggalkan ruangan ini, Yuki juga berpamitan. Ia cukup tahu diri sebagai seorang tamu. Tak mungkin baginya terus berdiam di sini, karena si empunya sendiri akan pergi. Lagi pula, ia harus mengonfirmasi pada ibunya, apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa ibunya begitu ceroboh, membiarkan sembarang orang merawatnya selama berbulan-bulan.


"Terima kasih atas waktu yang Anda luangkan, Tuan. Saya berhutang banyak pada Anda." Pria 30 tahun itu menundukkan kepalanya, berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak perlu sungkan. Ini sudah menjadi kewajiban saya," jawab Ken lugas.


"Ah, Ka-chan, sesekali pulanglah ke rumah. Ibu menantikanmu sepanjang waktu. Dia sangat merindukan kedatangan menantunya."


Blush


Kalimat yang Yuki ucapkan membuat wajah Kaori merona. Ia tampak malu, terlihat dari responnya yang menundukkan kepala dan menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga. Shun membatu di tempatnya, tubuhnya menegang saat mendengar Yuki menyebut Kaori sebagai menantu di keluarga Harada. Dan Kaori tidak membantahnya sama sekali. Api cemburu berkobar di dalam dada pria 28 tahun ini. Ingin sekali rasanya menghantam pria bernama Harada Yuki ini.


"Aku pergi."


Cup


Yuki bahkan mencium kening dokter cantik itu sebelum pergi. Ia terlihat tulus dengan perlakuannya kali ini membuat Shun semakin terbakar cemburu. Namun gerak tubuh Kaori yang terlihat menerima perlakuan itu dengan senang hati, membuat Shun tak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa memendam emosinya dalam hati, tidak ingin gadis pujaannya ini makin membencinya.


Ken menyaksikan pemandangan di depannya dalam diam. Ia juga penasaran sejauh apa hubungan kedua orang di depannya ini. Mereka berbagi apartemen yang sama, nyonya Suzuki yang mengakui Kaori sebagai menantu, serta kecupan di kening itu, menunjukkan hubungan dua tamunya ini tidak sederhana. Belum lagi seniornya yang terlihat begitu cemburu namun tak bisa melakukan apapun.


'Semoga saja tidak terjadi perang dunia,' batin Ken.


...****************...


Weww, teka teki baru lagi nih. Mumet mumet dah Author 😂😂


Kita lihat seberapa bucinnya abang Shun nanti, 😊😉

__ADS_1


See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2