
Ledakan besar terjadi di pelabuhan tempat Yuki bekerja. Anna berhasil menyabotase tempat itu tanpa diketahui oleh siapun. Empat ledakan terjadi tanpa henti hanya berjeda hitungan detik, membuat keadaan menjadi tak terkendali. Puluhan tubuh bergelimpangan di sana.
Aira masih shok dengan pemandangan yang ada di layar monitor. Dia tidak menyangka hal ini akan terjadi. Anna benar-benar kejam, tak kenal ampun sama sekali. Dia dengan tega menyasar orang-orang yang tak berdaya, demi memecah perhatian lawannya. Sungguh iblis berwujud manusia.
Ken segera mendekap istrinya, berharap kesedihan wanita ini segera terobati. Jika tidak, itu akan mengganggu misi besar yang tengah mereka perjuangkan dari kejauhan. Mengamankan situasi yang ada.
"Kita akan segera mengatasinya, Sayang. Kuatkan dirimu!" Hanya dua kalimat itu yang bisa Ken ucapkan pada istrinya. Dia ingin Aira kembali berpikir rasional, tidak menggunakan perasaannya untuk membuat keputusan. Tidak ada gunanya berlama-lama meratapi kejadian yang ada.
Perlahan tapi pasti, Aira mulai mengendalikan diri. Dia memejamkan matanya, berharap semua perasaan itu pergi dengan mudahnya. Tapi tetap saja, ada perasaan berat yang terasa menghantam dadanya.
"Aku akan cuci mukaku lebih dulu," pamitnya. Sedu sedan terlihat saat wanita tiga orang anak itu beranjak bangun, meninggalkan Ken seorang diri.
"Dear, aku tidak akan tinggal diam. Kamu tidak akan bersedih lagi setelah ini. Itu janjiku!" tekad Ken penuh keyakinan. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Aira berbahagia nanti, tentu saja dengan cara melumpuhkan Anna.
Aira kembali dengan wajah yang terlihat sedikit segar. Setidaknya bekas air mata tak lagi terlihat di wajahnya meskipun masih ada kesedihan yang tergambar di sana.
Hal yang sama terjadi pada Minami, Mone, dan Yamaken. Ketiga orang ini terhenyak, menyaksikan ledakan hebat yang terjadi di pelabuhan. Rubik yang ada di tangan Yamaken kini jatuh tergeletak di lantai, tak lagi dipedulikan oleh pemiliknya.
Yamaken hanya bisa menatap layar dengan pandangan tanpa ekspresi. Sisi iblisnya mulai mencuat, tapi segera ia redam detik berikutnya. Kepalan di kedua tangannnya menunjukkan dia mulai tersulut emosi. Meski tidak mengenal Yuki ataupun orang-orang di layar monitor itu, tapi dia tetap merasa apa yang terjadi ini salah.
Jarak mobil yang mengangkut mereka ini hanya berkisar ratusan meter dari tempat Yuki berada, membuat suara ledakan itu terdengar jelas di telinga. Bahkan, getaran terasa oleh empat orang di dalam mobil ini, membuat degup jantung mereka berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Kosuke yang tidak tahu apa-apa. Dia sibuk menjaga laju kendaraan besar ini tetap di jalannya, tidak bisa melhat apa yang rekan-rekannya saksikan di layar monitor di bagian belakang mobil box ini.
Namun tak ada satu pun dari ketiga orang itu yang menjawab. Mereka tidak tahu bagaimana keadaan Yuki sekarang. Hanya asap putih dan kobaran api yang terlihat di sana.
Gambar di layar monitor menghilang sepersekian detik setelah ledakan itu terjadi, menandakan adanya gangguan sinyal yang mereka alami. Ledakan besar itu membuat seluruh listrik di area sekitarnya padam, juga melumpuhkan aktivitas di pelabuhan.
Suara sirene ambulan dan pihak kepolisian terdengar sahut menyahut. Sepertinya mereka akan segera mendatangi lokasi ledakan. Pasti orang-orang itu akan mengambil tindakan, memeriksa tempat kejadian dan berusaha menemukan penyebabnya. Tapi, itu tidak akan mudah. Tidak ada yang percaya bahwa ledakan itu berasal dari hewan kecil berbentuk lalat.
"Kakak, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Suara Mone memecah keheningan, membenahi posisi headphone yang sempat terlepas dari kedua sisi kepalanya.
Gadis itu lebih dulu tersadar dari keterkejutannya. Bahkan jemarinya mulai menari kembali di atas keybord. Tidak ada yang bisa mereka lakukan pada sesuatu yang telah terjadi. Yang ada, mereka harus segera bersiap melakukan hal yang bisa mereka perjuangkan sekarang ini.
Di tempat lain, Aira menghela napasnya, memikirkan solusi terbaik yang bisa mereka lakukan.
"Mone-chan, retas semua jaringan di sekitar area itu. Tangkap pergerakan drone yang ada. Anna pasti menarik kameranya untuk 'pulang' ke tempat asalnya." Suara Aira tertangkap indera pendengaran Mone, Kosuke, dan Minami.
"Baik. Aku sudah mendapatkannya."
__ADS_1
"Kosuke," panggil Aira, sedikit meragu.
"Ya. Saya di sini."
"Bagaimana kondisi lalu lintas di depan kalian? Masih terkendali?"
Kosuke segera menyapu pandangan ke sekitar, tidak ada perubahan yang berarti. Tampak orang-orang masih beraktivitas normal meski sempat terganggu sejenak setelah ledakan itu terjadi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu informasi resmi dari pihak terkait yang mengalami ledakan itu.
"Semuanya aman terkendali, Nona. Lalu lintas ramai lancar, tidak terganggu sama sekali. Kami masih berjarak tujuh ratus meter dari lokasi." Kosuke memberikan laporannya setelah melirik titik GPS yang muncul di layar monitor kecil di sisi kiri kemudi mobil ini.
"Ken," panggil Aira, menatap suaminya yang kini sibuk bertelepon entah dengan siapa.
Ken tak menjawab, hanya mengangkat tangannya, meminta Aira menunggu sebentar sampai ia selesai dengan urusannya.
"Ada apa?" Ken mendekat setelah sempat menjaga jarak dengan istrinya beberapa saat yang lalu. Sepertinya pria ini memiliki rencana tersendiri yang tidak diketahui oleh Aira. Dia bergerak perlahan, menyesap dalam senyap.
"Hubungi tuan Kobayashi. Kakek harus tahu kejadian besar ini."
"Umm." Ken mengangguk. "Aku akan menghubunginya sekarang."
Lagi-lagi Ken menjauh dari istrinya. Sinyal di ponselnya sedikit terganggu jika berdekatan dengan piranti yang tengah menggunakan 'silent' sebagai program utamanya.
"Ya. Aku bisa mendengarmu, Kak."
"Kamu sudah bisa mengaktifkan teknologi kontra drone yang kemarin kamu katakan?" Aira mengonfirmasi adik sepupunya ini.
"Umm. Sekarang mode aktif pemindaian perangkat. Aku sedang mencari drone yang Anna kirimkan. Ada puluhan perangkat yang terdeteksi. Aku harus mengeliminasi beberapa. Sepertinya Anna sengaja mengecoh kita."
Aira menggeleng. "Itu terlalu lama. Hubungkan PC di depanmu padaku. Aku akan membantumu melacaknya. Kita cari sumber malapetaka itu bersama-sama!" tukas Aira detik berikutnya.
"Baiklah." Gadis mungil itu segera melakukan apa yang Aira perintahkan, menghubungkan dua komputer di tempat yang berbeda dengan satu server yang sama. Jarak bukan halangan.
Dengan perkembagan teknologi yang ada, jarak menjadi tak lagi penting. Semua orang bisa melakukan apa saja dari kejauhan, seperti ledakan hebat ini. Anna bahkan duduk santai sambil menikmati popcorn di tangannya.
"Sudah terhubung, Kak?" tanya Mone, mengonfirmasi pada Aira.
"Tunggu sebentar. Sedikit lagi."
Yamaken menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak tahu kedua wanita yang masih bersaudara ini bisa tetap bekerjasama meski terpisah jarak ribuan kilometer jauhnya. Mereka sama-sama hacker, meretas jaringan layaknya menghirup udara, bukan masalah sama sekali.
__ADS_1
"Sudah dapat!" Mone mengangkat satu sudut bibirnya saat mendapati kode akses yang menandakan bahwa komputer di depannya sudah terhubung dengan milik Aira.
"Kamu pindai jaringannya. Aku yang akan mencari sumber komando itu berasal. Anna pasti mengirimkan drone khusus untuk mengawasi tempat itu. Drone yang lain hanya untuk mengecoh kita."
"Baik. Aku akan melakukannya sekarang." Jemari mungil Mone kembali sibuk, membuka tab baru di layar monitor yang ada di hadapannya. Berbagai kode pemrograman segera ia tuliskan di sana. Hal yang sama Aira lakukan dari kejauhan.
Di saat Aira dan Mone berusaha keras membaca pergerakan Anna, Yamaken kembali memainkan rubik di tangannya. Otaknya berputar, memikirkan kemungkinan yang ada dari semua kejadian ini. Meski dia terlihat diam tak melakukan apapun, nyatanya otaknya aktif bekerja.
"Kosuke, apa aku mengganggumu?" Yamaken mendekat ke arah Kosuke setelah melewati pintu penghubung ruangan belakang dengan bagian depan mobil ini. Kosuke hanya seorang diri, membuat kursi di sampingnya kosong.
"Tidak sama sekali, Tuan Muda. Silakan duduk." Kosuke kembali mengamati keadaan sekitar. Ada dua ambulan yang berlalu melewati mereka dengan kecepatan tinggi.
"Situasi tidak terduga terjadi," komentar pria dengan lesung pipit di kedua sisi wajahnya ini. Jemarinya kembali mengambil rubik yang lain dari dalam tas kecil yang ada di pinggangnya. Kosuke melirik sekilas tapi tak berkomentar sama sekali.
"Apa misi kalian selalu saja penuh bahaya seperti ini?" Yamaken kembali menatap wajah asisten pribadi kakaknya dari samping.
"Umm." Kosuke mengangguk. "Kita tidak tahu apa yang terjadi kedepannya. Entah kapan maut menjemput, kami harus selalu siap sedia."
Yamaken menganggukkan kepalanya berkali-kali, menandakan bahwa dia bisa menangkap pernyataan Kosuke dengan baik.
"Ini misi pertamaku, semoga saja aku masih bisa kembali hidup-hidup," tukas Yamaken, kembali mengacak rubik di tangan yang sudah tersusun rapi sesuai warnanya.
Lagi-lagi Kosuke hanya bisa melirik tuan muda kedua keluarga Yamazaki ini. Dia tidak terlalu mengenalnya. Bagaimana bisa dia masih begitu santai memainkan rubik di tangannya saat situasi tak terkendali seperti ini terjadi. Kosuke sama sekali tidak tahu bahwa suara Ken tengah ceramah di telinga kiri pria rupawan ini.
Ya, Yamaken memakai earpiece yang ia minta dari Kosuke kemarin lusa. Alat bantu dengar itu selalu terhubung dengan kakaknya, tak pernah terputus satu detik pun sejak ia memakainya. Kakak kembarnya itu berjanji akan ada untuk Yamaken 24 jam, memberikan bimbingan padanya setiap waktu.
Hanya Ken dan Yamaken yang tahu bahwa mereka terus berkomunikasi satu sama lain. Suara Ken seringkali mendominasi, Yamaken hanya menjawabnya dengan gumaman, membuat ketiga orang yang bersamanya ini tidak tahu rencana rahasia Yamazaki bersaudara.
Mobil terus melaju, membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Kosuke fokus dengan kemudinya, Mone dengan kegiatan meretas jaringan yang ada, tentunya dengan bantuan dari Aira. Bukan pekerjaan yang mudah untuk membaca pergerakan benda robotik yang ada. Terlebih lagi ada banyak sinyal lain yang ada di tempat ini. Mereka berdua harus bisa membaca pola pergerakan yang ada dan menangkap drone khusus milik Anna.
Minami sesekali mengelus perutnya yang terus bergerak aktif sambil mengamati pergerakan orang-orang di layar monitornya. Suasanya di pelabuhan menjadi fokus utamanya, tentu saja sambil menunggu perintah selanjutnya dari Ken maupun Aira yang ada di Indonesia.
Akankah misi mereka berhasil? Nantikan bab berikutnya yaa. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian supaya Author lebih semangat lagi nerusin cerita ini.
Bulan depan mungkin lanjut di sini, atau bisa aja Author pindah ke platform lain. Lihat situasi yang ada nanti deh. Terima kasih untuk semua waktu dan perhatian kalian. Nanti tetep Author lanjutkan sampai tamat kok cerita ini. Tenaaannggg... hehe
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1