Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Fakta Mencengangkan


__ADS_3

Ken gagal menikmati quality time-nya karena kedatangan Kosuke. Hal itu membuat Kenzo bermuram durja.


"Tuan, saya sudah me--"


Langkah kaki pria berkacamata ini terhenti saat melihat kedakatan tuannya dengan Sang Istri. Monster buas itu seolah bersiap melahap habis istrnya, terlihat dari bibirnya yang berada tak jauh dari leher Aira. Semua laporan yang siap ia ucapkan, musnah begitu saja, tertelan bersama salivanya. Dia datang di waktu yang tidak tepat. Sungguh kesalahan besar yang tak termaafkan.


"Aku akan kembali untuk melihat anak-anak." Aira kabur dari kungkungan suaminya, meninggalkan pria 28 tahun dengan emosi yang mulai bergejolak.


Kosuke menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap langsung pada pria yang mulai diselimuti aura gelap menyeramkan itu. Kemarahan Ken tak terelakkan. Dia gagal mencium istrinya, padahal hasratnya sudah ada di ubun-ubun.


"Kosuke Murasawa!!" geram Ken lirih namun penuh penekanan di setiap suku kata yang dia ucapkan. "ENYAHLAH DARI HADAPANKU!!!"


Kosuke segera mengikuti jejak langkah Aira, menghindar dari Yamazaki Kenzo dengan kemurkaannya. Jika tidak, entah malapetaka apa yang akan dia dapatkan nantinya. Ada laptop, telepon kabel, papan nama, dan beberapa benda lain yang bisa saja melayang ke arahnya. Menyeramkan.


"Nona," panggi Kosuke sambil berlari, membuat langkah kaki Aira terhenti di anak tangga terbawah.


"Ada apa?" tanya Aira sambil menatap ke arah lain, merasa malu harus berhadapan dengan asisten suaminya yang sudah melihat hal tak terduga sebelumnya.


"Maafkan saya," ucap calon ayah ini tak enak hati. Dia tahu diri atas kesalahannya beberapa detik yang lalu.


Aira berusaha menetralkan perasaannya, memasang wajah sebiasa mungkin.


"Daijoubu desu, mondai arimasen."


(Tidak apa-apa, tidak masalah)


"Bagaimana keadaan Minami? Sudah lama aku tidak melihatnya." Aira berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Baik. Sangat baik."


Hening.


Baik Kosuke maupun Aira tidak memiliki hal untuk dibicarakan. Keduanya masih merasa canggung satu sama lain.


"Umm. Apa kamu tahu perintah kakek untuk kami?" tanya Aira setelah teringat pada pernyataan Ken sebelumnya.


"Ah, oh, itu." Kosuke agak tergagap. Dia gugup mendapat pertanyaan tak terduga ini. "Tuan muda sudah mengatakannya pada Anda?"


Aira mengangguk. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba mengirim kami ke Indonesia?"


Glek


Kosuke menelan ludahnya dengan paksa, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. Dia datang untuk melaporkan hal itu, namun justru mendapati Ken tengah.... Ah, sudahlah.

__ADS_1


"Maaf, saya tidak tahu." Kosuke terpaksa berbohong. Dia tidak berhak mengatakan apapun pada istri tuannya ini, atau Ken akan semakin marah padanya.


Aira mengerutkan keningnya. Dia tahu Kosuke berbohong, terlihat dari gerakan matanya yang gelisah menatap kesana kemari tanpa arah pasti.


"Kamu tidak pandai berbohong, Murasawa-san." Aira berucap dengan nada tajam dan menukik. Aura mendominasi segera menyerang pria di hadapannya ini. Kosuke menundukkan kepala. Aira memanggil dengan nama marga yang dimilkinya, menunjukkan bahwa wanita ini kesal padanya. Biasanya, Aira menggunakan nama depannya saja, Kosuke.


"Maafkan saya, Nona."


Aira mengembuskan napas beratnya. Sulit untuk menggoyahkan komitmen pria ini.


"Baiklah. Lebih baik aku tidak tahu." Aira berbalik, bersiap melanjutkan langkahnya. "Jangan merengek minta tolong padaku jika Ken mengirimmu ke Afrika."


Deg!


Kelopak mata Kosuke membola. Dia terkejut dengan ancaman yang Aira ucapkan. Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tidak ada yang tahu hukuman apa yang akan Ken lakukan karena kesalahan fatalnya barusan.


"Tunggu, Nona. Saya akan mengatakannya." Kosuke menyerah. Dia tidak bisa melawan dominasi Aira kali ini, sama seperti ketika dia diminta tunduk akan kehendak Ken. Pasangan suami istri sungguh luar biasa, bisa membunuh seseorang tanpa menyentuh.


Beberapa saat kemudian, Ken, Aira, dan Kosuke sudah duduk melingkar di taman belakang. Ketiganya siap membicarakan masalah keberangkatan ke Indonesia yang terkesan tiba-tiba.


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Ken memulai percakapan. Dia tampak tenang seperti biasa. Sepertinya, Aira berhasil menjinakkan serigala liar ini seperti sebelum-sebelumnya.


"Ini masih berkaitan dengan laporan Naga Hitam yang Anda minta sebelumnya."


"Kemungkinan terbesar kakek 'mengusir' kita adalah karena efekdomino yang akan ditimbulkan dari peristiwa pembantaian Naga Hitam ini." Ken menjawab rasa penasaran istrinya.


"Kamu tahu sendiri, pertikaian kita dengan Tuan Harada bukan hal sepele." Ken kembali mengin gat pertempuran mereka di Nagano, dimana Aira berhasil menyelamatkan nyawanya dari tuan Harada saat itu.


"Pertumpahan darah kala itu, kita bisa memenangkannya, tapi kakek tidak pernah setuju untuk memusnahkan tuan Harada."


"Kenapa?" kejar wanita berjilbab navy ini.


"Jika tuan Harada terbunuh saat itu, maka kita tidak tahu peta kekuatan Naga Hitam. Itulah sebabnya kakek sengaja membuat para penjaga sedikit lengah, membiarkan pria itu kabur setelah membunuh rubah betina yang


selama ini membantunya."


Aira diam, mencoba mencerna semua penjelasan Ken yang membuat kepalanya berdenyut nyeri.


"Kakek 'melepaskan' tuan Harada, membuatnya lari sejauh mungkin dan mulai menghimpun kekuatan. Dengan begitu, Naga Hitam barulah bisa dimusnahkan seluruhnya."


Ada perasaan tidak nyaman di dalam benak Aira. Dia merasa ada satu titik yang terlewat, tidak selaras dengan penjelasan Ken barusan.


"Tunggu," cegah Aira. Keningnya berkerut dalam dengan pandangan yang tajam. "Lalu siapa yang membantu tuan Harada dalam pelariannya? Mungkinkah ada orang lain yang sengaja memanfaatkan momen itu?"

__ADS_1


Kali ini Ken yang bungkam. Dia tidak memikirkan kemungkinan ini sebelumnya.


"Benar apa yang Nona katakan." Kosuke membuka suaranya setelah bungkam cukup lama.


"Apa maksudmu?" Ken menuntut jawab pada calon ayah ini.


"Laporan keuangan Naga Hitam itu hanya diketahui oleh nyonya Hanako dan tuan Harada. Setelah keduanya tiada, tidak ada seorang pun yang tahu keberadaannya. Namun, kita melupakan satu hal." Kosuke mengeluarkan beberapa lembar kertas, salinan laporan keuangan kelompok kriminal itu lima tahun terakhir.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


Kosuke terlihat tegang, menyiapkan mentalnya.


"Dari laci meja kerja tuan Harada Yuki. Orang kita berhasil menemukan fakta bahwa kemarin ada seorang wanita yang datang menemui pria itu."


"Wanita?" Aira juga ikut penasaran.


"Benar, Nona. Dia bukan orang Asia, melainkan Rusia. Itu laporan yang saya dapatkan pagi ini. Karena cemas, jadi saya berusaha langsung melaporkan hal ini secepatnya." Kosuke kembali mengingat langkahnya yang keliru, mengganggu kemesraan Ken dan Aira.


"Rusia?" Aira memutar otaknya, mencari kemungkinan yang ada dari setiap kepingan puzzle yang mereka dapatkan kali ini.


Deg!


Baik Ken maupun Aira seolah terkejut. Mereka memikirkan satu nama paling mungkin.


"ANNA!!" ucap Ken dan Aira berbarengan.


"Tidak, itu tidak mungkin. Bukankah dia sudah tewas karena ledakan itu?" Aira lebih dulu menyangkal pemikirannya sendiri. Dia tidak siap mendengar laporan yang mengandung fakta mencengangkan itu : Anna masih hidup.


Kosuke maupun Ken bungkam. Kedua pria ini tidak bisa memastikan pemikiran Aira.


"Ken?! Bukankah dia sudah tewas?" Aira bersikeras.


Ken menggeleng lemah. "Aku tidak tahu."


Seketika ruangan itu hening. Hanya deru air conditioner yang terdengar di kejauhan.


"Jika benar Anna kembali. Kenapa kakek justru menyuruh kita pergi dari sini? Mungkinkah ada hal lain yang belum kita ketahui tentang wanita itu?"


* * *


Whoooaaa makin penasaran nih. See you,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2