Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Sisterhood


__ADS_3

Ken menggila setelah sekian lama hidup dalam kedamaian bersama Aira dan tiga buah hatinya. Dia membanting, menendang, menghantam apa saja yang ada di dalam ruang kerjanya. Hal itu menimbulkan suara gaduh yang luar biasa, membuat para asisten rumah tangga merasa khawatir. Mereka takut kemarahan tuan muda Yamazaki ini akan berimbas pada para pekerja yang kesemuanya adalah wanita.


Mone, adik sepupu Aira, yang kebetulan ada di sana juga ikut terkejut. Dia khawatir hubungan Ken dan Aira tidak baik-baik saja. Tapi nyatanya Aira terlihat tenang tanpa khawatir sama sekali, seolah bunyi benda-benda yang hancur itu tidak pernah ia dengar. Aira menebalkan telinganya, bersikap biasa saja.


Wanita yang telah memiliki tiga orang buah hati ini, bahkan mengajak Mone berbincang sambil menikmati rujak buah. Membiarkan sensasi rasa manis, asin, asam, dan pedas yang berpadu menjadi satu di dalam mulut.


Ruangan kerja Ken tak lagi berbentuk, lebih mirip sebuah rumah yang terkena hantaman tsunami atau gempa berskala 9.9 skala richter. Meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati asli Indonesia, kini terpelanting di salah satu sudut. Lampu hias, beberapa peralatan seperti telepon kabel dan komputer, berserak di lantai. Masing-masing kabelnya tercerabut paksa begitu saja saat Ken mulai menggila. Tiga benda itu menjadi korban pertama kemarahan Ken tiga puluh menit yang lalu.


Jangan abaikan lemari kaca tempat dokumen diarsipkan, engsel pintunya terlepas sebelah. Satu sisinya berlubang, bekas tendangan kaki Ken yang begitu kuat. Kacanya hancur, berserak di lantai hingga jarak beberapa meter dari sana.


Semua benda yang ada di sana hancur lebur, termasuk sebuah televisi layar datar super besar yang terhubung dengan seluruh kamera pengawas di rumah ini. Tadinya benda itu tidak menjadi sasaran kemarahan Ken, karena letaknya yang cukup tersembunyi. Layar sentuh itu tertanam di dinding, terhubung dengan panel listrik di belakangnya.


Namun tepat sebelum Ken keluar dari ruangan, dia melempar potongan besi penyangga lampu ke sembarang arah. Dan sialnya, justru mengenai LED TV 65 inchi itu. Benda dengan dimensi 17.5 cm x 182.5 cm x 94 cm itu hancur. Layarnya pecah, membuat garis-garis tak beraturan muncul di sana. Riwayat hidup layar ini musnah sudah.


Dan kini, Ken berdiri di hadapan Aira dan Mone di ruang tengah. Dia berdiri mematung di sana, menatap dua wanita yang tengah duduk santai di kursi empuk itu dengan pandangan kesal.


"Kakak ipar, kamu mau ini?" tawar Mone tanpa takut sama sekali. Dia menawarkan potongan buah di dalam wadah transparan. Itu masih utuh, baik Aira maupun Mone belum menyentuhnya.


SRETT


Ken merebut makanan yang Mone tawarkan. Dia duduk dan mulai melahap aneka buah ini setelah mengguyur semua sambal yang ada di dalam wadah aluminium foil. Ken sengaja melakukan ini untuk mencari perhatian Aira. Dia ingin istrinya itu mencegahnya, atau setidaknya menegur dan memperingatkan perutnya yang tidak tahan pedas.


"Apa kamu sudah selesai? Ayo lihat keponakanmu. Mereka pasti juga merindukan autie-nya ini." Aira mengajak Mone, meninggalkan Ken seorang diri.


"Ai ... uhukk uhukk." Ken tersedak. Dia menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.


Ken sengaja mencari perhatian Aira, namun yang terjadi justru sebaliknya. Aira seolah tidak melihat semua tingkah Sang Suami. Dia mengabaikannya begitu saja, menganggapnya angin lalu.


"Uhukk uhukk."


Duk duk

__ADS_1


Ken menepuk-nepuk dadanya sendiri. Rasa pedas segera menyengat ujung tenggorokannya, bahkan kini menjalar hingga ke pangkal hidung dan telinga.


"Ini, Tuan." Seorang asisten rumah tangga mendekat dan menyerahkan segelas air es pada majikannya. Dia sebenarnya takut mendapat kemurkaan pria ini. Tapi, melihatnya kepedasan dan diabaikan oleh Aira, membuat hati nuraninya tergugah.


Di saat yang sama, langkah Aira dan Mone sudah sampai di anak tangga teratas. Tinggal beberapa meter sebelum mereka sampai di kamar anak-anak, tempat baby triplet berada.


"Kak," panggil Mone takut-takut.


"Humm?" jawab Aira antusias. Ia menatap jemari Mone yang kini ada dalam genggaman tangannya. Keduanya berjalan bersisian. Aira merasa harus menyelamatkan Mone dari pertentangan yang gadis ini alami. Ken bisa diurus belakangan. Itu soal gampang, Aira tidak perlu memusingkannya. Tapi Mone? Begitu dia tersesat menentukan jalan hidupnya, gadis ini bisa jadi pembunuh paling berbahaya di muka bumi. Luar biasa, bukan? Dan saat itu benar-benar terjadi, tak akan ada yang bisa menyelamatkannya.


"Uhukk uhukk." Suara batuk Ken masih terdengar samar-samar, membuat Mone menengok ke belakang. Dia tidak tega melihat kakak iparnya diabaikan.


"Apa kakak ipar tidak akan marah?" tanya Mone hati-hati. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Aira maupun Ken.


"Dia memang sedang marah. Biarkan saja." Aira menjawab enteng, tak ada beban sama sekali.


"Eh? Tapi ..."


Cklekk


Mone segera berlari, mendekat ke arah bayi dua bulan yang mulai terlihat pudar rona merah kulitnya ini. Mereka terlihat semakin menggemaskan.



"Hello, baby girl!" sapa Mone pada bayi dengan bandana yang menghiasi kepalanya.


(Hello, gadis kecil!)


"Waa!" Suara Aya terdengar lantang, seolah menjawab sapaan auntie cantik ini padanya. Dua kakinya menjejak udara di saat yang bersamaan. Senyum lebar ia tunjukkan, membuat lidahnya yang merah merona bak buah delima terlihat.


"Whooaaa... Ayame-chan kawaii!!"

__ADS_1


*kawaii : lucu


Mone segera meraih tubuh mungil itu dalam dekapan, membawanya duduk di kursi santai yang ada di salah satu sudut ruangan.


Aira membenahi selimut yang menutupi tubuh Si Sulung dan Bungsu. Kedua putranya tertidur sejak dia turun ke lantai bawah beberapa menit yang lalu.


"Dia terlihat begitu menggemaskan!" Mone berseru lantang saat Aira menghampirinya.


"Umm. Dia akan menjadi gadis yang enerjik sepertimu," puji Aira.


"Jangan membual, Kak! Bagaimana mungkin anakmu mirip denganku? Tentu saja dia sama denganmu, ibu kandungnya, yang mewariskan gen terbaik dalam darahnya."


Aira kembali tersenyum hangat pada adik yang ia temui beberapa bulan yang lalu ini. Hubungan mereka cukup baik akhir-akhir ini, tanpa drama atau air mata.


Ya, sebenarnya, apa yang Mone katakan tidak ada yany salah. Tentu saja Ayame dan kedua saudaranya mewarisi gen terbaik dari kedua orangtuanya, bukan hanya dari Aira. Bahkan, Ken berperan penting dalam hal ini.


"Matanya seperti kakak ipar." Mone kembali berkomentar, membuat Aira tersenyum. Gadis 20 tahun ini memerhatikan indera penglihatan gadis kecil di hadapannya, mirip dengan mata yang dimiliki oleh Yamazaki Kenzo.


"Mereka semua mirip ayahnya, padahal aku yang mengandung mereka delapan bulan lamanya. Bukankah itu tidak adil?" Aira berceloteh asal. "Tapi, apa hendak dikata. Aku harus bisa menerima itu." Aira bercanda. Dia tidak pernah mempermasalahkan susah payah perjuangannya saat mengandung Aya dan dua saudaranya yang lain. Justru dia merasa sangat bahagia karena kehamilannya membuat Ken berubah menjadi lebih baik. Selain itu, setiap hela napasnya saat mengandung juga bernilai ibadah, menambah catatan amal baiknya dan mengurangi dosa-dosa kecilnya yang begitu banyak bagai buih di lautan.


Percakapan wanita beda usia ini menunjukkan kualitas keduanya. Sisterhood yang mereka miliki semakin kuat, berharap bisa melindungi dan membahagiakan saudarinya. Mereka rela berkorban satu sama lain.


"Ah, Kak Aira. Bagaimana dengan kakak ipar? Tidak masalah kah kita meninggalkannya begitu saja?" tiba-tiba Mone teringat keadaan pria yang terbatuk-batuk saat mereka tinggalkan di lantai bawah.


Aira tersenyum. "Lets the show begin!"


(Mari kita mulai pertunjukannya!)


...****************...


Adeemm liat Mone udah tenang. Emang yaa, ngobrol sama saudara itu bawa aura positif. Ngaruh banget sama mood kita 😍

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Maaf jika masih ada typo, Author ngetik sambil ngantuk gegara semalam ngga bisa tidur. Tunggu keuwuan berikutnya! Lets the show begin!


Hanazawa Easzy


__ADS_2