
Seminggu berlalu sejak kepergian Ken dan Aira ke dokter kandungan. Beberapa kali Kaori sempat datang ke rumah, membicarakan hal penting dengan Ken dan berlalu sebelum Aira sempat berbincang lebih lanjut. Kaori terlihat gugup dan seperti sengaja menghindari Aira. Entah itu hanya perasaannya saja atau Kaori memang menutupi sesuatu darinya.
Aira mengingat percakapan Ken dan Kaori sesaat sebelum mereka berpisah.
"Kita akan bertemu lagi esok untuk membahas hal 'itu'." ucap Ken.
"Baiklah. Sampai jumpa." Kaori melambaikan tangannya sambil berlalu.
"Hal 'itu' apa?" tanya Aira penasaran.
"Rahasia." jawab Ken.
Dan sikap Ken juga jadi aneh. Dia selalu menjauh saat menerima panggilan telepon, seperti sekarang ini. Aira terbangun tengah malam dan tidak mendapati Ken di manapun. Aira melihat pintu penghubung balkon terbuka, ia mendekat dan melihat Ken tengah berdiri membelakanginya sambil menelepon seseorang. Sweater merahnya tampak menyala terkena bias lampu balkon yang cukup terang.
"Pastikan semuanya dipersiapkan dengan baik. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun atau nyawa kalian jadi taruhannya." ucapnya lirih dengan nada ancaman yang begitu jelas.
'Sebenarnya apa yang Ken rencanakan?' batin Aira mulai bertanya-tanya.
Ken berbalik dan mendapati Aira berdiri di ambang pintu. Raut ketegangan tampak di wajah putihnya, seolah tertangkap basah telah melakukan sesuatu yang salah. Ia segera menyembunyikan ponsel di tangan ke saku celananya.
"Kamu terbangun?" tanya Ken setelah menetralkan wajahnya.
"Aku lapar." ucap Aira, ia memaksakan tersenyum seolah tidak mendengar penuturan Ken dengan entah siapa di ujung sana.
"Ah, lapar? Ayo kita lihat apa yang bisa anak-anakku makan tengah malam begini?" Ken menghampiri istrinya dan membawanya keluar kamar.
Ken fokus memotong dark chocholate di depannya sambil sesekali menatap Aira yang tengah menikmati susu coklatnya. Sebuah majalah fashion menemani waktu tunggunya. Ia duduk memeluk lutut sembari menunggu chocholate truffle buatan Ken siap.
"Kamu tertarik dengan baju-baju itu?" tanya Ken setelah beberapa menit berlalu tanpa kata, "Pilih mana saja yang kamu suka, nanti Kosuke yang akan mengurusnya."
"Tidak." jawab Aira. Ia menutup majalah itu dan bergegas mengambil majalah lain yang berisi resep makanan Jepang. Ia membukanya beberapa lembar sebelum kembali menutupnya.
Sejujurnya Aira ingin bertanya apa yang disembunyikan oleh suaminya atau setidaknya apa rencananya. Tapi entah kenapa ia tidak bisa mengatakannya.
"Kamu bosan?" tanya Ken melihat pergerakan istrinya yang mulai beranjak dari duduknya. Ia berjalan kesana kemari sambil sesekali berjongkok. Menggemaskan, membuat Ken mengulas senyum.
__ADS_1
"Hoaamm.." Aira menutup mulutnya dengan tangan. Ia merasakan kantuknya kembali dan memilih merebahkan badannya di sofa yang ada di ruang tengah. Perlahan ia memejamkan matanya.
"Ai-chan.. Kamu tidur lagi?" tanya Ken dengan kening bertaut. Istrinya jadi banyak tidur akhir-akhir ini. Sungguh ia belum bisa memahami perangai Aira, benar-benar tidak seperti wanita yang dikenalnya. Aneh. Nonsense. Tidak masuk akal.
Hening
Ken meletakkan chocholate truffle yang baru saja selesai ia buat di atas meja. Sebuah senyum tersinggung di bibirnya kala mendapati wanita yang sangat dicintainya telah tertidur lelap dengan posisi terkurap di sofa. Imut sekali, seperti anak kecil.
Ken duduk bersimpuh di lantai, menyejajarkan kepalanya dengan wajah Aira. Perlahan pria itu menyingkirkan helaian rambut hitam yang menutupi sebagaian besar wajah bulat milik istrinya. Aira terlelap damai tanpa beban dengan nafas teratur.
Ken masuk ke kamarnya dan mengambil selimut tebal guna menutupi tubuh mungil istrinya. Tak lupa ia membenarkan posisi tidurnya jadi menghadap ke atas.
Tit tit tit
Terdengar seseorang sedang memasukkan kombinasi angka password pintu apartemennya. Ken segera mengambil bantal dan duduk di depan Aira guna menutupi rambut istrinya yang tergerai bebas tanpa jilbab. Ia tahu Aira pasti tidak akan senang jika tahu orang lain melihat auratnya.
Dan sejujurnya Ken juga tidak senang jika orang lain ikut melihat keindahan wanitanya. Ia tidak rela membagi Aira pada siapapun. Itulah sebabnya waktu itu ia memukul pengawal pribadi ibunya saat di tempat spa. Ken yakin orang itu melihat Aira yang tidak memakai jilbab. Jiwa posesifnya menggelora, ia tidak akan mengizinkan pria lain melihat Aira lebih jauh selain wajah dan telapak tangannya. Hanya ia yang berhak menikmatinya sebagai seorang suami.
Ken akan meraih kotak itu saat Minami menarik tangannya kembali. Ada raut kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah putihnya membuat Ken menatap asistennya dengan tajam.
"Mi-chan..." panggil Kosuke mengingatkan istrinya. Ia bahkan sampai menahan lengan Minami agar tidak semakin menjauh dari jangkauan tangan Ken.
"Apa Anda yakin dengan ini?" tanya Minami dengan suara bergetar. Sungguh ia tidak rela mengkhianati kepercayaan nona kesayangannya. Ia bahkan sampai menitikkan sebulir air mata tanpa bisa ia cegah.
"Kamu pikir siapa yang paling tidak rela dengan rencana ini? Pria mana yang akan mengizinkan istri dan anaknya menjadi umpan demi sebuah rencana yang belum pasti keberhasilannya?" tanya Ken lirih dengan nada dingin. Rahangnya mengerat demi menahan gejolak emosi yang bersiap meledak saat ini juga.
"Mi-chan, tenangkan pikiranmu." pinta Kosuke sambil merebut kotak perhiasan itu dari tangan istrinya dan menyerahkannya pada Ken, "Maaf atas kelancangan istri saya." ucapnya tak enak hati.
Ken menerimanya dan segera mengganti anting istrinya dengan yang baru. Sebuah perhiasan berbentuk kincir angin yang telah ia lengkapi dengan GPS di dalamnya. Agar Aira tidak curiga maka ia membuat duplikatnya yang sama persis. Ya, hal ini lah yang ia sembunyikan beberapa hari terakhir. Ia tidak ingin kondisi psikologis Aira terganggu karena memikirkannya, makanya ia tidak bisa mengatakannya secara langsung. Belum saatnya.
Kosuke menunduk takzim sebelum pergi menyusul Minami yang tengah menenangkan diri di balkon, menghirup udara malam yang bersiap menyambut pagi. Ya, jam menunjukkan pukul 3 dini hari, memang bukan waktu yang tepat untuk tetap terjaga. Tapi, demi rencana besar ini maka mereka harus memastikan segala hal tidak ada yang terlewat atau nyawa Aira dalam bahaya.
Aira sedikit terusik dengan perlakuan Ken pada daun telinganya. Ia membuka matanya dan mendapati Ken yang tengah berjongkok di sisi kepalanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Aira seraya mencoba meraba telinganya.
"Bukan apa-apa." Ken menarik tangan Aira menjauh dan meniup telinga istrinya sebelum menciumnya seduktif/menggoda. Ken mencoba mengalihkan perhatian Aira.
"KEN?!" pekik Aira karena mendapat perlakuan mengejutkan dari suaminya.
"Nona.." panggil Minami khawatir karena mendengar teriakan Aira. Ia berlari dari balkon demi menghampiri puannya, mengabaikan Kosuke yang bersiap menenangkannya.
Ken segera memalingkan wajahnya yang merona kemerahan dan beranjak berdiri saat itu juga, sementara Aira langsung terduduk. Ia membuat jarak sejauh mungkin dengan suaminya.
"Minami?" tanya Aira heran ketika melihat asisten pribadinya dan sang suami ada di sana. Seingatnya mereka sudah pulang beberapa jam yang lalu.
Kosuke berbalik membuat Aira segera menarik Ken untuk menutupinya. Ya, ia sedang tidak memakai jilbab sekarang. Ia tidak ingin Kosuke melihat keadaannya.
"Jangan berbalik!" teriak Ken membuat Kosuke terpaku di posisinya sementara Minami hanya menatap kejadian di depannya dengan heran. Kenapa Aira berlindung di balik badan Ken? Dan kenapa pula suaminya tidak boleh berbalik.
Entahlah. Ia tidak ingin memikirkannya lebih lanjut, bukan ranahnya.
Sementara itu, ribuan kilometer dari apartemen Ken....
Seorang pria mematikan puntung rokoknya ke dalam asbak, membiarkan sedikit asap mengepul sebelum musnah tersapu udara di sekitarnya. Rahangnya menegang demi mendengar laporan dari anak buahnya.
"Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?" tanya seorang pria asli Rusia dengan wajah mengerikan. Sebuah bekas luka sayat pernah bersarang di wajahnya, memanjang dari alis hingga menyeberangi kelopak matanya.
"Atur pertemuan dengannya." perintah pria dengan jambang tipis di dagunya.
*******
Wooowww kira-kira siapa pria dengan jambang tipis di dagunya ya?
Lalu apa rencana Ken sampai harus pasang GPS segala di anting Aira?
Please like, komen & vote untuk mendukung author. Big thanks for you all
See you next day,
Hanazawa easzy
__ADS_1