
"Bagaimana denganmu? Sejak kapan menyukai istriku?" tanya Ken serius.
"Saat aku mencambuknya..." wajah Yoshiro meredup. Ia tampak terluka saat mengatakannya, "Tidak ada ketakutan di matanya seolah aku hanyalah angin lalu. Tatapan putus asa itu mengingatkanku padanya (Erina)"
"Bagaimana mungkin kamu berfikir untuk melakukan hal mengerikan itu?" tanya Ken serius. Tak ada senyum di wajahnya. Sejujurnya hal itu juga membuka luka lama yang pernah ia goreskan di hati Aira.
"Yu bilang ia melihat bekas luka cambuk di punggungnya. Saat itu juga aku mencari informasi pada pelayan dirumahmu. Mereka bilang ia dicambuk sampai pingsan. Tentu saja aku ingin membuktikannya. Ia bahkan tak berteriak sama sekali, aku tahu itulah yang membuatmu jatuh hati padanya. Dan aku terjebak saat itu juga. Kau tahu, betapa aku sangat ingin memeluknya saat itu? Tapi mengingat dia adalah istrimu, itu membuatku membencinya. Kenapa aku selalu menyukai semua hal yang kamu sukai? Aku tidak bisa lepas dari bayanganmu."
Keduanya diam cukup lama.
"Obat penawar yang Yu berikan, itu juga perintahmu kan?" Ken beranjak dari duduknya, berdiri di dekat jendela yang menghadap ke luar. Ia menerawang berbagai kejadian pahit yang dialami istrinya.
"Hahaha... Aku sudah menduganya. Kamu tidak mencariku karena kamu tahu semuanya, benar kan? Kamu bergerak terlalu cepat jadi aku tidak bisa menikmati permainannya. Itu membuatku marah dan benar-benar ingin membunuhmu" canda Yoshiro.
"Memanfaatkan istriku untuk mengusir rubah di sisimu, apa imbalannya?"
Senyum Yoshiro memudar, wajahnya kembali terlihat meredup, "Kamu bisa minta apa saja dariku. Aku tidak hanya mengusirnya, dia tidak akan kamu temui lagi di dunia ini."
"Kamu membunuhnya?" Ken berbalik.
Yoshiro menggeleng, "Dia menikam tubuhnya sendiri, aku hanya meminjamkan tanganku."
"Senior.." Ken terkejut dengan keputusan Yoshiro yang mengejutkan itu. Setelah sekian lama, korban kekejaman seniornya ternyata orang kepercayaannya sendiri. Sulit dipercaya.
Sejak kematian Erina, kedua sahabat karib itu tidak pernah membunuh siapapun.
"Aku hanya menyuruhnya memberikan obat tidur. Siapa sangka dia menyuntikkan bisa ular di kaki Aira. Dia punya dendam pribadi padamu. Tangan kakaknya patah saat berkelahi beberapa tahun yang lalu. Ia tidak bisa memaafkannya meskipun kakaknya sudah sembuh dan sekarang justru bekerja di perusahaanmu. Orang pendendam seperti dia akan membahayakan kita di masa depan, jadi lebih baik aku menghabisinya sekarang." jelas pria berambut putih itu.
"Dia ahli obat dan racun yang langka." sesal Ken.
"Itulah alasannya. Semakin ahli, akan semakin menarik tapi juga semakin berbahaya. Seperti istrimu..." ucapnya menggantung.
Ken menautkan alis menatap seniornya. Pria yang lebih tua setahun darinya itu benar-benar terobsesi pada istrinya. Alarm tanda bahaya langsung menyala dan membuat Ken harus memeras otak, berpikir bagaimana cara melindungi Aira dari Yoshiro. Bagaimanapun juga ia tidak akan melepaskan Aira, apapun yang terjadi. Bahkan nyawanya sebagai taruhan juga tidak masalah.
"Tidak akan mudah mendapatkannya. Hmm... Bagaimana dengan bisnismu? Berminat melebarkan sayap ke Indonesia? Atau negara Asia Tenggara lainnya? Pangsa pasar mereka cukup menjanjikan." Ken mengalihkan pembicaraan karena tak ingin membahas tentang istrinya lagi.
*******
"Aku akan memanggil Ken." Oda-san beranjak dari duduknya saat Aira berpamitan akan pulang.
"Tidak. Biarkan saja, Yoshiro-san masih membutuhkan Ken. Aku senang melihatnya dalam keadaan baik. Sampai jumpa lain waktu, paman." Aira tersenyum, menunduk takzim dan pergi dibantu oleh Minami.
__ADS_1
Pria itu tak bisa mencegahnya lebih lama lagi. Entah kenapa saat melihatnya, ia merasakan aura yang kuat dari gadis berjilbab itu. Senyumnya terasa menusuk dan membuat siapapun tidak bisa menolak perintahnya. Aura nya sebanding dengan Ken. Ya, mungkin mereka memang berjodoh.
Aira cukup tahu diri dan tidak ingin mengganggu kedua sahabat karib itu. Meskipun ia tidak bisa mendengar percakapan mereka, namun dari ekspresi keduanya ia tahu mereka sangat menikmatinya.
Aira memasuki rumahnya dibantu oleh Minami saat jam dinding menunjukkan pukul 09.35 malam. Ia diam sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit. Satu jam sudah Ken berada di ruangan Yoshiro, tapi keduanya masih tetap bercengkerama dengan akrab seolah tak ada yang bisa mengganggunya. Aira tidak ingin menunggu lagi, ia harus kembali. Entah kenapa kepalanya terasa pusing.
"Nona, anda belum makan sejak siang tadi. Aku akan menghangatkan sup ini untukmu." Minami menunjukkan kotak makan yang Ken beli sebelum ke rumah sakit tadi. Makanan yang sama seperti yang Ken makan di rumah sakit tadi. Tak lupa ia juga memesankan sup ayam kesukaan Aira.
"Aku tidak lapar." jawabnya datar tanpa ekspresi.
"Tapi nona, demi kesehatan anda.." Minami mencoba membujuknya.
"Tolong antarkan aku ke kamar. Aku sedikit pusing." lirihnya.
Minami menurutinya tanpa banyak tanya. Ia membantu Aira naik ke ranjang setelah membersihkan diri dan berganti piyama tidur.
Tap tap tap
Ken berlari tergesa masuk ke dalam rumah. Ia bahkan tidak sempat memakai sendal rumah setelah melepas sepatu pantovelnya dan langsung menuju ke kamar Aira.
"Ai-chan..." panggilnya saat membuka pintu.
"Nona sudah tidur." Lapor Minami yang duduk tak jauh dari ranjang tempat Aira berbaring.
"Nona sedikit demam. Dia juga menolak makan sejak siang tadi. Terakhir ia makan saat sarapan dengan Anda pagi ini."
Ken tercengang mendengar penjelasan wanita 30 tahun itu. Ia terlalu sibuk di kantor sampai tidak memperhatikan makan siang istrinya. Biasanya ia menyempatkan menghubungi asisten pribadi Aira itu, mengecek apakah istrinya sudah makan atau belum. Dan petang ini ia kembali melupakan Aira karena berbincang dengan Yoshiro.
Ken keluar dari kamar setelah memeriksa dahi Aira dengan punggung tangannya. Ia menghubungi dokter kepercayaannya, "Istriku sakit. Cepat kemari!" perintahnya sedikit panik. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan istrinya, ia juga lupa jika Aira sedang marah padanya.
"Dia akan baik-baik saja setelah istirahat cukup. Sepertinya beberapa malam ini ia kesulitan tidur, cobalah untuk membuatnya nyaman dan tidak memikirkan hal yang berat. Efek obat penawar racunnya masih ada dan mengganggu kinerja jantungnya." jelas dokter yang tampaknya seumuran dengan Ken. Ia adalah salah satu dokter ahli yang ikut menangani Aira setelah penculikan beberapa minggu yang lalu.
Ken segera kembali ke kamar Aira setelah mengantarkan dokter itu sampai pintu. Sejak Aira pulang dari rumah sakit, mereka tinggal di kamar yang terpisah. Ken melakukannya demi kenyamanan Aira, tapi justru ia tidak tahu jika Aira kesulitan tidur beberapa malam ini.
*******
Jam digital di atas nakas menunjukkan angka 03.34 pagi saat Aira membuka matanya. Ia merasa haus dan sedikit kepanasan. Beberapa bulir keringat bermunculan di pelipisnya. Ia merasa tangannya berat saat ingin menggerakkannya, ternyata Ken tidur di atas tangan kanan Aira. Sepertinya ia menggenggamnya dan tidak sengaja tertidur.
Aira hendak membangunkannya, tapi diurungkan. Tangannya terhenti di atas kepala Ken. Ia masih marah pada suaminya itu, ah sebenarnya bukan marah hanya sedang tidak ingin bicara saja. Tangan kiri Aira berusaha meraih ponselnya yang ada di atas nakas, berniat meminta bantuan pada Minami.
"Kamu haus?" suara Ken tiba-tiba saja menyela membuat Aira kaget dan menjatuhkan ponsel yang baru saja berhasil ia ambil dengan susah payah. Untungnya Ken berhasil menangkapnya sebelum mendarat di lantai.
__ADS_1
"Kenapa tidak membangunkanku? Masih marah?" Ken mendekat dan meletakkan ponsel itu di jemari istrinya, "Apa kamu lapar?" tanya Ken intens.
"Jangan terlalu baik padaku. Aku..."
"Kamu istriku." Ken memotong ucapan Aira.
Aira kembali berdiam diri. Ia benar-benar tidak ingin berbicara dengan Ken saat ini.
"Aku siapkan sup untukmu. Mau makan sekarang? Akan ku hangatkan sebentar." Ken berdiri dari duduknya, bersiap pergi ke dapur.
"Jika aku pergi, apakah kamu akan merasa kehilangan?" pertanyaan Aira berhasil membuat langkah Ken terhenti.
"Kenapa? Kamu ingin meninggalkanku?" tanya Ken tanpa berbalik. Wajahnya sedikit menoleh ke samping, tanpa ekspresi.
"Kakek membatalkan surat perjanjiannya. Bukankah itu artinya tidak ada ikatan lagi diantara kita?" tanya Aira dengan suara serak. Entah kenapa dadanya terasa sesak dan kerongkongannya mengering. Pertanyaan yang batal ia utarakan sepulang makan malam kemarin, akhirnya terucapkan juga.
BAAMM
Ken tak menjawabnya. Ia keluar dari kamar Aira diikuti suara pintu yang berdebam keras karena dibanting dengan sekuat tenaga. Minami yang tertidur di ruang tengah segera berlari menuju ke sumber suara, takut terjadi sesuatu dengan nona-nya. Ia berpapasan dengan Ken yang berwajah merah menahan amarah. Minami berhenti dan menunduk pada Ken.
"Jaga dia. Aku pergi." ucapnya menyambar kunci motor sport yang sudah sekian lama tidak ia gunakan. Ken melajukan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan tinggi.
"Nona, anda baik-baik saja?" Minami mendekat dengan sedikit berlari saat melihat noda merah di selimut putih yang menutupi kaki nonanya.
"Nona.. Anda bisa mendengarku?" Minami mengguncang bahu Aira yang terkulai lemas di pundaknya. Jika ia terlambat sedikit saja, mungkin Aira jatuh terjerembab di lantai.
"Nona... Buka matamu. Anda bisa mendengarku?"
Tak ada respon.
"Nona... Nona..."
*******
Hai readers tercinta, selamat menikmati cerita (lagi-lagi) unfaedah ini. Thanks buat kalian yang menyempatkan baca dan mendukung novel ini dengan like & fav 😍😍 Sungguh author tanpa kalian hanyalah butiran debu 😢
Btw, maaf kalo ceritanya hambar. Author lagi agak sibuk jadi kurang fokus nghalu 😂😂
See you next chapter. Selamat istirahat, jaga kesehatan kalian 😘😘
With love,
__ADS_1
Hanazawaeaszy 🤗