
Matahari semakin membumbung tinggi ke angkasa. Seorang pria berlari begitu keluar dari dalam lift. Langkah kakinya yang panjang menunjukkan tidak ada banyak waktu yang tersisa. Dia bergerak dengan cepat, berpacu dengan waktu yang tersisa.
Dengan tergesa, pria itu menempelkan ibu jarinya di panel kunci unit apartemen yang ditinggalinya. Menekan satu per satu keenam angka untuk masuk ke dalam rumah akan memakan waktu yang lebih lama. Satu detik di saat seperti ini sama artinya dengan satu atau puluhan nyawa manusia. Sangat berharga.
"Minami-chan," panggil Kosuke begitu pintu terbuka. Dia tidak lagi sempat melepas sepatunya seperti biasa, langsung berlari menyusuri ruang tamu 4 x 3 meter yang dihuninya.
"Oh, Dear. Oka--"
"Aku butuh bantuanmu. Sekarang!" titah Kosuke membuat kalimat sambutan yang hendak Minami ucapkan harus tertahan. Dia tidak tahu apa yang terjadi, kenapa suaminya tiba-tiba pulang dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa meninggalkan alas kakinya di depan sana.
"Ada apa?" Wanita hamil yang tengah mengupas buah di ruang tengah itu hanya bisa mengerutkan kening, tidak mengerti dengan gelagat aneh suaminya.
"Darurat!"
Deg!
Melihat ekspresi kepanikan yang Kosuke tunjukkan, juga kata 'darurat' yang keluar dari mulutnya, sudah cukup membuat wantia ini tahu bahwa dia tidak bisa berleha-leha semaunya. Ada misi penting yang harus segera ia lakukan. Dia menantikan hal ini, tapi tidak menyangka akan datang dengan tiba-tiba.
"Persiapkan dirimu. Bawa semua perlengkapan seperti biasanya!" Kosuke berlari masuk ke dalam ruangan rahasia di bagian belakang apartemennya. Hanya ia dan Minami yang bisa masuk ke sana.
Sementara itu, Minami yang kini mengandung usia enam bulan itu hanya bisa menuruti ucapan suaminya. Dia melangkah cepat menuju kamar pribadinya di sebelah kanan ruangan ini. Dengan tergesa ia mengambil dua set rompi anti peluru yang sudah tersedia di dalam lemari. Itu adalah baju wajib saat mereka akan melakukan misi darurat seperti ini.
"Siapkan untuk Tuan Muda dan nona Kamishiraishi juga. Kita akan menjemputnya. Katakan pada mereka kita berangkat sekarang!" Teriakan Kosuke membuat langkah kaki Minami terhenti seketika.
Wanita dengan perut yang mulai terlihat membuncit itu urung keluar kamar, kembali menghampiri lemari yang berisi pakaian tempur miliknya dan Kosuke. Jika masih cukup waktu, mereka berdua akan memakai baju khusus yang bisa melindungi tubuh dari panas atau air keras. Tapi sekarang, tidak ada waktu sama sekali. Hanya rompi anti peluru yang perlu ia bawa.
"Aku bawa P3Knya. Kamu bawa senjata rahasia kita." Kali ini Minami yang harus mengeraskan suaranya agar Kosuke bisa mendengarnya. Mereka masih terpisah ruangan, jadi harus bicara dengan suara lantang agar terdengar oleh yang lainnya.
Minami keluar dari dalam kamar membawa empat rompi hitam di tangan kanan dan tas dengan warna yang sama di pundak. Tangan kirinya memegang ponsel, menghubungi Mone seperti yang sauminya perintahkan.
"Nona, kami berangkat menjemput Anda sekarang." Suara dingin dan tajam itu sudah menjadi ciri khas Minami saat ada di situasi seperti ini.
Wanita bersurai sebahu itu bisa berubah menjadi serigala yang bisa melibas habis musuhnya. Meski tidak sehebat Aira atau Black Diamond, setidaknya dia bisa meruntuhkan sepuluh lawannya tanpa cidera.
Cup
"Maaf harus melibatkanmu lagi." Kosuke berucap setelah mengecup bibir istrinya sekilas. Dia tidak bisa meng-handle semua ini seorang diri. Semua terjadi begitu cepat, tidak mungkin ia tangani tanpa bantuan wanita ini.
Minami mengangguk. Dia sangat mengerti posisinya. Lagipula tidak ada masalah berarti dengan kondisi kandungannya. Dia baik-baik saja. Pria ini sosok paling berharga untuknya, tentu saja ia harus berjuang bersamanya.
__ADS_1
Meski Ken dan Aira sudah membebastugaskan dirinya selama beberapa bulan ke depan, nyatanya dia masih berharap bisa membantu melayani tuan dan puannya.
"Apa tuan dan nona baik-baik saja?" Minami mengikuti arah langkah suaminya yang mulai masuk ke dalam lift.
"Umm. Mereka baik. Sangat baik." Kosuke segera menekan tombol lift, menuju lantai paling bawah.
"Ini ada hubungannya dengan Anna?" pertanyaan itu lolos dari mulut Minami. Kedua tangannya sibuk memakai rompi setelah Kosuke mengambil alih barang bawaan yang tadi merepotkannya.
Kosuke mengangguk. "Benar. Dia mulai beraksi, menyasar tuan Yuki Harada."
Kening Minami berkerut dalam. Dia cukup terkejut dengan pernyataan suaminya.
"Kita terlalu abai, tidak memperhatikan orang itu. Dia paling longgar, tanpa penjagaan. Sepertinya Anna tahu bahwa orang-orang yang berdiri di sisi kita, tidak akan mudah tersentuh. Jadi dia memulainya dari Tuan Yuki."
Minami mengangguk dua kali. Dia bisa menangkap dengan jelas penjelasan suaminya ini. Bahkan Minami yang notabenenya bukan siapa-siapa di sisi Ken maupun Aira saja, mendapat penjagaan berlebih.
"Bagaimana dengan Kaori-chan?"
Kosuke menggeleng tegas, sibuk menarik kepala retsleting rompi anti peluru yang dipakainya. Kotak besar yang sedari tadi ada di punggungnya, kini tergeletak di sebelah kakinya.
"Tidak ada pergerakan sama sekali. Tapi Tuan Muda meminta tuan Oguri tetap di tempatnya semula. Cepat atau lambat, Anna pasti akan menyasar mereka."
Minami mengambil napas dalam-dalam. Dia tidak bisa berkomentar. Nyatanya Anna memang bukan orang biasa, tidak bisa diremehkan sama sekali.
Denting lift terdengar nyaring, bersamaan dengan terbukanya dua pintu besi yang terlihat mengilat itu. Kosuke dan Minami segera keluar, melangkah menuju mobil khusus yang terparkir di depan pintu.
Seorang pria berpakaian serba hitam mendekat. Dia menundukkan badan sekilas saat bertemu muka dengan pasangan yang sangat dipercayai oleh tuannya ini.
"Saya sudah menyiapkan semuanya," lapor pria itu yang ditanggapi dengan anggukan oleh Kosuke.
"Kirimkan enam orang di belakangku, pastikan masing-masing memakai perlengkapan yang memadai. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi." Gaya memerintah Kosuke sama persis seperti apa yang biasa dilakukan oleh Ken. Sepuluh tahun bersamanya, membuat pria ini hafal seluk beluk pemikiran tuannya.
Meski Ken tidak ada bersamanya, sedikit banyak Kosuke tahu bagaimana harus menghandle bawahannya. Mereka tidak bisa beraksi sendiri, membutuhkan pengawal bayangan. Setidaknya orang-orang ini bisa menjadi penyelamat saat terjadi situasi yang tak terduga.
"Ah, jangan lupa empat rider bayangan," tambah Minami menimpali.
"Baik. Saya mengerti."
Pria itu segera undur diri, menyiapkan perintah Kosuke dan Minami. Setidaknya ia harus mengonfirmasi rekan-rekannya, enam orang dengan mobil dan empat sisanya mengendarai roda dua.
__ADS_1
Entah misi apapun itu, mereka harus siap sedia. Bahkan, jika itu nyawa taruhannya, mereka harus tetap berani menghadapinya.
Langkah Kosuke dan Minami berlanjut setelah menerima kunci mobil yang pria tadi berikan. Mereka siap melakukan misi berbahaya, menjemput maut. Melawan Anna.
"Aku ambil kemudinya. Kamu hubungi Oguri-san. Kirimkan titik lokasi kita, dia akan memantaunya dari kejauhan." Kosuke mulai berlari, masuk lebih dulu ke dalam mobil melalui pintu depan, siap mengambil alih penguasaan kendaraan khusus ini.
Minami mengikuti suaminya, bedanya ia masuk melalui pintu belakang dan segera duduk di posisi yang biasanya. Dengan cekatan dia menekan tombol merah di sisi kanan tubuhnya, mengaktifkan fungsi berbagai alat yang ada.
"Kamu siap?" tany Kosuke sambil memakai seatbelt melingkupi tubuhnya.
"Umm. Ayo pergi sekarang," jawab Minami sambil mengelus perutnya.
Mesin kendaraan mulai dihidupkan, membawa pasangan suami istri ini menuju medan perang yang sesungguhnya.
"Sayang, bantu ayah ibumu. Baik-baik di dalam sana," lirih Minami yang tak bisa menyembunyikan rasa haru di dalam dadanya. Ia tahu ini misi yang berbahaya, mengandung dan menantang maut. Itu bukan hal yang mudah. berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi.
"Nona, kami siap sedia." Kosuke menyentuh earpiece di telinganya, memberikan konfirmasi pada Aira bahwa ia dan istrinya siap melakukan tugas yang Aira pinta.
Tidak ada kata menyerah. Ini tentang tanggung jawab. Apa yang akan mereka lakukan memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dihadapi.
Fokus Kosuke tertuju pada jalanan aspal di depan sana. Sesekali ia mengangguk, menyetujui rencana yang dipaparkan Aira. Itu semua terdengar di telinganya, juga telinga istrinya.
"Saya mengerti." Minami memutuskan panggilan sepihak, sementara Kosuke masih terus lanjut berkomunikasi dengan nonanya di Idonesia.
Tangan Minami sigap menghidupkan semua alat yang memenuhi mobil ini. Nantinya, Mone yang akan mengambil alih pengelolaannya.
"Kamishiraishi-san, arah jam sepuluh. Kami datang." Minami mengonfirmasi setelah mendapat titik GPS yang dipancarkan oleh Mone.
"Baik. Kami sudah ada di depan sekarang."
Bip
Minami menekan tombol hijau di hadapannya, mematikan sinyal GPS yang terpancar dari mobil ini. Akan bahaya jika nantinya Anna mengetahui kedatangan mereka. Teknologi kontra drone ini akan menjadi makanan empuk Mone untuk mengetahui dimana Anna menyimpan persenjataan rahasianya. Dan itu tidak mungkin ada di apartemennya.
"Tunggu," cetus Minami heran. "Kami siapa yang nona Kamishiraishi maksudkan? Bukankah ia seorang diri saja?" gumam wanita hamil ini seketika. Dia tidak tahu siapa yang akan menjadi rekan kriminal Mone. Mungkinkah itu Yu?
Ah, dimana Yu dan Yoshiro? Mereka tidak terlihat beberapa waktu belakangan ini. Apa mereka baik-baik saja?
* * *
__ADS_1
Penasaran kelanjutannya? Nantikan baku hantam di bab berikutnya. See you...
Hanazawa Easzy