Gangster Boy

Gangster Boy
With My Pleasure (Extra Part)


__ADS_3

Ken meraih tangan Aira saat keluar dari mobil yang membawa mereka kembali ke apartemen. Acara pernikahan Kosuke dan Minami dengan konsep one day party ternyata lebih simpel dari yang dibayangkan. Tadinya Aira pikir akan bertemu banyak orang yang membuatnya tidak nyaman, tapi ternyata hanya bertemu keluarga Ebisawa dan beberapa lainnya.


"Aku lapar." ucap Aira saat memasuki lift.


"Hmm.." jawab Ken sambil menganggukkan kepalanya. Aira menoleh karena Ken jadi pendiam setelah melihat foto yang Yamaken kirimkan beberapa saat lalu. Apa mungkin dia masih memikirkannya?


"Ken..." lirih Aira.


Hening


Ken tak menanggapi. Pandangannya kosong ke arah dinding lift yang menampakkan cerminan dirinya. Potret Yamaken dengan dua anak dalam gendongannya benar-benar membuatnya frustasi. Ia belum siap menjadi ayah.


Cup


Sebuah kecupan di pipi berhasil menyadarkan Ken dari dunia paralel yang ia ciptakan sendiri. Netranya kini menangkap wajah pucat wanita di sampingnya yang tengah tersenyum menempelkan deretan giginya yang tertata rapi.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aira sembari memegang lengan suaminya dengan lembut.


Lagi-lagi Ken hanya diam. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Tiba-tiba dia merasa takut, ketakutan yang ia ciptakan sendiri.


"Nandemonai ya" jawabnya lirih.


(Tidak ada)


Ting


Pintu lift terbuka menampilkan koridor pendek yang tampak lengang. Cahaya lampu di kanan kiri membuatnya terlihat menenangkan, tapi tidak dengan Ken. Hatinya gusar memikirkan masa depannya dengan Aira. Ia melepaskan tangan Aira di depan pintu dan berlalu ke dapur setelah membasuh wajahnya.


"Mau makan apa?" tanya Ken sambil membuka lemari pendingin di depannya.


Aira mendekat, meraih tangan suaminya yang terasa dingin, "Aku tidak jadi lapar. Ayo istirahat." pintanya lembut.


Ken menatap Aira tanpa ekspresi. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan di depan istrinya sekarang. Aira tersenyum dan memeluk Ken.


"Jangan terlalu dipikirkan, Yamaken hanya bercanda." Aira menepuk punggung suaminya untuk menenangkan.


Tubuhnya kaku, ia tidak membalas pelukan istrinya. Ia hanya diam seperti manekin dan Aira menyadarinya. Ia mengurai pelukan suaminya dan menarik tangannya menuju kursi sofa di ruang tengah.


Puk puk


Aira menepuk pangkuannya, meminta Ken yang duduk di sampingnya untuk berbaring dan meletakkan kepalanya di sana. Ken menurutinya dalam diam.


"Istirahatlah." ucap Aira menenangkan sambil membelai pipi suaminya. Sebelah tangannya menggenggam jemari Ken yang terasa dingin.


"Aku takut menjadi ayah." ucapan itu lolos dari mulutnya saat netranya mulai ia pejamkan.


"Takut? Kenapa?" Aira mulai menyentuh hidung suaminya, merabanya perlahan hingga naik ke alis dan mengelus bulu halus itu ke kanan dan ke kiri dengan lembut. Kebiasaannya jika sedang bersama Ken. Aktivitasnya itu sudah menjadi candu, menikmati setiap inchi wajah suaminya yang masih memejamkan mata.

__ADS_1


"Aku bukan suami yang baik untukmu, mungkin aku juga bukan ayah yang baik untuk anak-anak." jawabnya dengan suara parau. Kegelisahan di hatinya merambat naik ke kerongkongan, membuatnya terasa kering dan sulit mengatakan isi hatinya. Ia menelan salivanya dengan paksa.


Aira terdiam sejenak, pemikiran itu sudah ada di kepalanya sejak beberapa bulan yang lalu. Itu sebabnya ia bersikeras ingin bercerai dari Ken. Tapi sekarang sudah terlambat, ia tidak mungkin mundur demi pemikirannya yang egois itu dan mengorbankan masa depan anaknya. Ia harus berjuang mempertahankan keluarganya dan memberikan kehidupan yang bahagia untuk anak-anaknya kelak.


"Aku juga pernah berpikir hal yang sama." jawab Aira pada akhirnya, jemarinya berhenti mengelus kelopak mata suaminya yang otomatis terbuka. Pandangan mereka saling bertumbuk, merasakan kekhawatiran yang sama.


"Kau takut padaku?" tangan Ken naik meraih pipi chubby istrinya yang tampak sedikit tirus. Beberapa hari ini ia tidak makan dengan baik.


Aira menggeleng sambil tersenyum, "Tidak lagi. Aku punya mereka sekarang." jawab Aira sembari meraba perutnya yang belum nampak membuncit. Malah semakin rata karena tak mendapat asupan makanan kecuali beberapa potong kue saat di jamuan Kosuke-Minami tadi.


"Mereka?" Ken menautkan keningnya karena heran, ia tidak tahu maksud istrinya. Entah kenapa setelah melihat gambar yang adiknya kirimkan, ia menjadi bodoh dan tidak bisa berpikir jernih.


"Hmm," Aira mengangguk mantap, "Biksu di gerbang dewa yang mengatakannya." jelas Aira.


"Gerbang dewa?" Ken bangkit dan memegang kedua tangan istrinya dengan erat, "Jangan kesana." larangnya dengan nada khawatir.


"Kenapa? Biksu itu bahkan memberikan gelang ini padaku." Aira menunjukkan gelang yang ia pakai di pergelangan tangan kirinya.



"Dia memberikan ini padamu?" tanya Ken yang dijawab anggukan oleh Aira.


"Jadi itu hanya mitos." gumam Ken lirih.


"Nani?" tanya Aira heran dengan perubahan mimik wajah suaminya yang tidak lagi tegang seperti beberapa detik lalu.


"Kau tidak akan bisa kembali jika melewatinya," Ken menatap manik mata istrinya tanpa berkedip, tapi istrinya itu justru tersenyum.


"Aku kesana dan sekarang ada di depanmu. Apa kamu percaya mitos seperti itu?" Aira meraih rahang tegas di depannya, menutupi fakta bahwa ia memang masuk ke dunia lain dimana ia tidak melihat Minami saat itu. Ada hal-hal yang cukup ia simpan sendiri agar tidak membuat orang lain khawatir terhadapnya.


"Jangan pernah melakukannya lagi, hmm" lirih Ken sembari mengikis jarak, menempelkan kening mereka menjadi satu, "Kutukan dewa benar adanya, aku pernah kesana dan hatiku mati rasa untuk beberapa tahun. Aku berubah jadi monster mengerikan sampai Erina mematahkan kutukannya."


Deg


Aira menelan salivanya dengan paksa, ia ingat kemarin malam lidahnya juga mati rasa. Mungkinkah dewa juga mengutuknya? Ah, itu hanya takhayul, ia tidak boleh mempercayainya.


"Ada apa?" tanya Ken menyadari istrinya yang tiba-tiba diam.


"Ayo kita mengunjungi Erina." jawabnya mengalihkan pembicaraan.


Ken mengangguk dan menempelkan hidungnya sambil tersenyum, "Dengan satu syarat." bisiknya menggoda.


Aira mengangguk, "With my pleasure." jawabnya sambil tersenyum.


(Dengan senang hati)


Ken segera menggendong Aira menuju ke kamar mereka. Sekali lagi, Aira menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Kehidupan mereka sedang ada di puncak kebahagiaannya. Semoga semua baik-baik saja, badai yang mereka lalui di awal kehidupan pernikahan cukup membuat mereka semakin dewasa dan tak akan mudah melepaskan satu sama lain.

__ADS_1


*******


Langit biru yang cerah terlukis di angkasa. Awan putih berarak perlahan melengkapi keindahan pagi ini. Nampaknya salju tidak turun hari ini, jadi udara terasa lebih hangat. Sepasang pria dan wanita memasuki pemakaman sambil bergandengan tangan. Ya, Ken menepati janjinya mengajak Aira mengunjungi makam Erina.


"Erina-chan, aku datang. Ini istriku, Aira." ucap Ken memperkenalkan Aira pada cinta pertamanya.


"Ohayou, Erina. Terima kasih sudah menjaga Ken selama ini." seikat bunga lili putih Aira letakkan di depan foto Erina yang sedang tersenyum. Ia mengelus foto itu perlahan, 'cantik' lirihnya dalam hati.


(*ohayou : selamat pagi)


"Kami akan memulai kehidupan baru di Indonesia. Aku sudah menemukan kebahagiaanku bersama Aira, jadi kamu juga harus berbahagia di sana. Jika kelak kita dipertemukan di kehidupan selanjutnya, aku akan tetap menantikan senyumanmu." pungkas Ken sembari menepuk rumput hijau di depannya seolah sedang menepuk puncak kepala Erina yang sering ia lakukan kala mereka masih bersama dulu.


"Sayonara." pamitnya sebelum meraih jemari Aira dan berbalik pergi meninggalkan kenangan masa lalu, kisah cinta pertamanya.


(*sayonara : selamat tinggal)


"Masih ada waktu 4 jam sebelum kita pergi ke bandara. Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya Ken sambil fokus ke arah jalanan di depannya. Ia mengendarai mobilnya sendiri karena Kosuke mulai libur hari ini. Lagipula ia ingin berduaan bersama Aira tanpa ada yang mengganggu. Menikmati kebersamaan mereka di Jepang sebelum bertolak ke Indonesia siang nanti.


"Ayo ke akademi." ajak Aira bersemangat. Ken mengangguk dan melajukan mobilnya membelah jalanan kota Tokyo yang mulai padat oleh kendaraan.


Mereka masuk ke dalam akademi namun tidak ada seorang pun di sana membuat Aira sedikit heran. Seorang pria menunduk hormat saat keduanya melewati gerbang kedua yang menghubungkan area utama dengan lapangan tembak di belakang sana.


"Selamat datang Tuan, Nyonya" sapa pria bermarga Watanabe itu.


"Apa kami datang di waktu yang tidak tepat? Kenapa tidak ada seorangpun disini?" tanya Aira penasaran. Tuan Watanabe hanya tersenyum.


"Kamu meminta mereka semua pergi?" tanya Aira menyikut perut pria di sampingnya dengan kesal. Suaminya selalu saja seperti itu. Ken memandang ke arah lain pura-pura tak mendengar protes istrinya.


"Ish..." Aira melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Ken di belakang. Ia memasuki ruang latihan panahan dan berhenti sambil memegang busur yang tergantung di dinding.


"Mau mencobanya?" tanya Ken dengan quiver berisi anak panah di pinggangnya.


(quiver : kotak tempat menyimpan anak panah yang bisa dipakai di pinggang atau punggung)



Aira terpaku melihat Ken membawa kotak berisi 10 anak panah dengan ujung berwarna merah. Sangat kontras dengan pakaiannya yang serba hitam.


"Apa kau terpesona padaku?" goda Ken sambil mengerlingkan sebelah matanya membuat Aira terbelalak. Sejak kapan suaminya itu menjadi orang yang narsis?


*******


Taraaaa.... author muncul buat extra part. Buat yang sweet-sweet sebelum masuk season 2 🤗 Tadinya author janji mau rehat seminggu, eh tapi tiba-tiba udah kangen Aira aja. Please enjoy it 😋😉


See you next part,


With love 😍

__ADS_1


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2