Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Ketulusan Hati


__ADS_3

Yamaken berpura-pura menjadi Ken, tapi Aira menyadarinya lebih awal. Bukannya marah, Aira justru meminta Yamaken pergi istirahat ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Kosuke.


Ia berbaring dalam kamar gelapnya, mengingat satu per satu peristiwa pahit yang telah ia lalui sampai detik ini. Ia dan Ken sudah melewati banyak hal, senyum, canda tawa, dan air mata telah mereka hadapi bersama. Aira percaya sepenuhnya pada Ken, termasuk kepura-puraan Yamaken yang berusaha menipunya.


Tadinya, Aira ingin menguji seberapa jauh Yamaken akan berperan menjadi Ken. Tapi, Aira yang begitu merindukan suaminya justru hanya bisa menangis dalam diam. Ia tidak ingin seorang pun melihatnya menangis. Itulah sebabnya ia mengusir Yamaken dari kamar ini tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


Ya, Aira tidak memerlukan penjelasan apa pun dari siapa pun. Ia hanya butuh waktu untuk sendiri. Mengondisikan hatinya, berdamai dengan segala kemungkinan yang ada. Ia harus bisa menerima segala resiko yang berkaitan dengan sepak terjang suaminya, termasuk pergi tanpa kabar seperti sekarang ini. Ia beberapa kali mencoba menghubungi Ken, namun tak pernah sekalipun dijawab. Hatinya tak henti berdoa, semoga suaminya baik-baik saja.


Wanita hamil itu menangis dalam gelap, bersiap akan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi pada suaminya, yakni merelakan pria itu hanya tinggal nama. Sedikit banyak ia tahu seperti apa dunia gelap dan kotor tempat suaminya berkecimpung. Nyawanya bisa terenggut kapan saja dan dimana saja. Ada begitu banyak orang yang memusuhinya bahkan menginginkan nyawanya, meski Ken sudah bertindak dengan hati-hati.


Aira merasakan matanya memberat, membuatnya tak bisa lagi menahan kantuk yang menderanya. Ia terlelap dengan memeluk tubuhnya sendiri. Ia tertidur pulas setelah air matanya mengering.


Grep


"Ai-chan," bisik sebuah suara pria tepat di belakang telinga Aira. Sebuah tangan kekar seketika melingkar di perut besarnya, membuat punggungnya menegang seketika.


Deg!


Aira tersentak kaget, membuka matanya detik itu juga. Ia melirik jam dinding di atas pintu yang menunjukkan pukul dua dini hari, satu jam sejak ia terlelap. Jantungnya berpacu lebih cepat saat seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ia berusaha melepas dekapan tangan kekar itu dari perutnya, namun tak membuahkan hasil. Tenaganya kalah jauh dibanding pria di belakangnya.


"Ai-chan, aku merindukanmu."


'Suara ini,' batin Aira. Ia berusaha bergerak di atas tempat tidur, bersiap menilik sosok yang kini semakin merapatkan jarak di antara mereka.


"Maaf." Satu kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ken. Ia semakin mempererat dekapannya, bahkan menyurukkan kepalanya di punggung Aira, seolah bersembunyi dari siapa saja yang mengenalinya. Hal itu membuat Aira tak bisa berbalik.


Parfum aroma lavender samar-samar menghampiri indera penciuman Aira, membuatnya semakin yakin siapa pria yang ada di belakangnya.


"Ken?" panggil Aira lirih. Ia yakin suaminya yang kini tengah memeluknya. Ia meraih tangan Ken yang ada di atas perutnya yang semakin membesar.


Dingin.


Hati Aira mencelos menyadari tangan suaminya yang terasa seperti es dan sedikit gemetaran. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya di luar sana. Entah masalah pelik apa yang Ken hadapi, sampai membuatnya seperti ini. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah mendukung suaminya, menenangkannya agar tetap bisa berpikir jernih.


Duk


Sebuah tendangan yang cukup keras dari dalam perut Aira berhasil membuat Ken tersadar dari ketakutan yang tengah menderanya. Ia menguatkan diri demi ketiga buah hatinya ini. Perlahan tapi pasti, ia mengelus perut Aira dengan sayang, berusaha menenangkan ketiga jagoannya di dalam sana yang seolah tengah bermain sepak bola.


Ya, mungkin mereka merasakan kegelisahan yang tengah ayahnya alami. Itulah sebabnya mereka bergerak aktif di dalam sana untuk mengingatkan Ken akan keberadaan ketiganya. Aira terpaksa mencengkeram lengan Ken sambil menggigit bibirnya sendiri, merasakan ngilu di beberapa bagian tubuhnya. Salah satu putranya terasa menendang tulang rusuknya yang paling bawah, dan dua lagi menendang bebas di tempat yang lain, membuat ulu hatinya terasa nyeri.


Ken segera duduk dan menatap wajah istrinya. Ia meraih tisu di atas nakas dan mengelap bulir keringat yang membasahi pelipis Aira.

__ADS_1


"Daijoubu?" tanya Ken panik.


(Are you OK?)


Aira melepaskan gigitan bibirnya setelah ketiga jagoannya kembali tenang. Ia meraih wajah Ken dan tersenyum menatap pria yang berhasil mencuri hatinya ini.


"Jangan pernah meninggalkanku," pinta Aira seraya menggenggam kedua tangan Ken, mengabaikan pertanyaan suaminya barusan.


Ken mengangguk. Ia segera menghadiahi Aira dengan kecupan di seluruh wajahnya, membuat wanita hamil itu kewalahan dan berusaha menghalau serangan Ken dengan kedua tangannya.


Cup


Ken menangkap kedua tangan Aira dan menciumnya, "Maaf membuatmu khawatir."


Kali ini Aira yang mengangguk. Ia menatap intens pada manik mata hitam milik suaminya, mencoba menggali seberapa dalam ketulusan pria ini. Sepertinya kondisi psikologis suaminya sudah membaik sekarang, tidak seperti beberapa saat yang lalu. Lagi-lagi Aira berhasil meredam gejolak emosi yang dialami suaminya dengan ketulusan hati yang ia miliki.


"Apa kamu juga merindukanku?" tanya Ken yang dijawab anggukan oleh Aira. Tangannya menyusuri pipi chubby istrinya, sebelum berhenti di bawah dagu dan melepas peniti yang disematkan di sana dengan hati-hati.


"Kenapa masih memakai penutup kepala? Bukankah ini membuatmu tidak nyaman? Kamu harus melepasnya sebelum tidur." Perlahan Ken melepas kain segi empat warna hitam yang menyembunyikan helaian mahkota yang istrinya miliki.


"Itu semua karena kamu!" ketus Aira sebal. Ia mempoutkan bibirnya, merajuk seperti anak kecil.


"Aku?" Ken mengerutkan kening, menantikan kalimat penjelasan yang akan istrinya sampaikan.


Ken tersenyum mendengar tuduhan Aira. Ia sudah menduganya, tidak akan mudah membohongi istrinya itu. Ada begitu banyak perbedaan antara dirinya dengan adik kembarnya, Yamazaki Kento.


Meskipun wajah Ken dan Yamaken memiliki tingkat kemiripan hingga 99,9% dan sering membuat orang salah sangka, namun kenyataannya ada begitu banyak perbedaan di antara keduanya. Antara lain dalam hal makanan, Ken bisa makan apa saja tapi adik kembarnya itu sedikit pemilih. Selain itu, Aira juga tidak melihat bekas luka yang ada di belakang telinga Yamaken. Itu semakin meyakinkannya bahwa pria yang makan bersamanya bukanlah suaminya.



"Bagaimana kamu tahu dia bukan aku?" tanya Ken penasaran. Ia menyangga kepalanya dengan sebelah tangan. Tangannya yang lain meraih pinggang Aira, membuat perut buncit istrinya bersentuhan dengan perutnya yang rata. Tidak ada jarak lagi di antara mereka, saling berhadapan di bawah selimut coklat susu yang menutupi keduanya.


"Rahasia," jawab Aira seraya mengerlingkan matanya. Tangannya mencengkeram jemari Ken, membawanya menjauh dari pinggangnya yang terasa geli. Ia berusaha membalikkan tubuhnya detik itu juga, tapi Ken menahannya secepat kilat.


***WARNING : 18+ ONLY! Bukan untuk ditiru! (Dibawah 18+, mohon untuk tidak membacanya)***


"Kamu ingin bermain-main denganku?" Ken meloloskan tangannya dari genggaman Aira dan kembali mendarat di pinggang belakang istrinya. Ia mengelus permukaan punggung yang rata itu dengan gerakan seduktif.


Tanpa aba-aba, Ken memagut bibir istrinya yang hanya bisa membulatkan kelopak matanya. Jantungnya berdetak begitu cepat, seirama dengan nafasnya yang kian memburu. Serangan Ken kali ini tak bisa ia elakkan.


"Umm!" Aira berusaha mendorong dada bidang di depannya dengan kedua tangan, tapi nampaknya tidak membuahkan hasil sama sekali. Ken justru semakin mendominasi dengan menahan kepala istrinya agar tidak menjauh dari jangkauannya.

__ADS_1


Sebelah tangannya semakin berani, masuk ke dalam piyama tidur istrinya dan mulai beraksi, membuat bulu roma Aira meremang. Aira hanya bisa mencengkeram kemeja hitam yang dipakai suaminya. Ia tidak bisa menahan gejolak libidonya yang kian meningkat seiring serangan Ken yang semakin menjadi.


"KEN?!" pekik Aira saat suaminya itu berpindah dari wajahnya, menelusuri lehernya yang putih dan memberikan perlakuan khusus di sana. Tak lupa ia mengembuskan napas hangat di sekitar telinga Aira, membuat wanita hamil itu menahan napas seketika.


"Aku menginginkanmu," bisik Ken lirih. Suaranya yang terkesan begitu seksi membuat Aira hanya bisa meneguk ludahnya dengan paksa. Sepertinya ia tidak akan bisa tidur hingga Ken selesai dengan urusannya. Ia hanya bisa memejamkan mata dan menoleh ke arah samping, membuat Ken semakin leluasa untuk menikmati lehernya.


Cup


Ken meninggalkan tanda di leher sebelah kanan istrinya, membuat wanita hamil itu semakin kuat memejamkan matanya. Tangannya mencengkeram kemeja Ken semakin kuat, menahan gejolak di dalam dirinya.


"Buka matamu. Lihat aku!" perintah Ken saat menyadari Aira yang seolah sengaja menutup mata, enggan melihat suaminya yang tengah di selimuti gairah.


Bukannya menuruti perintah Ken, Aira justru menarik kedua tangannya dari dada bidang suaminya. Ia menggunakan punggung tangannya untuk menutup matanya, sementara tangan yang lainnya memegang erat kancing piyama di dadanya.


"Ai-chann!!" Ken berucap dengan geraman tertahan. Ia tidak suka jika Aira menolaknya.


Pria itu menahan tangan Aira di kedua sisi badan, tidak ingin aktivitasnya terhalang oleh jemari istrinya. Ia juga ingin Aira menatapnya, bukan justru memalingkan wajah seperti sekarang.


"Sayang, lihat aku! Bukankah kamu merindukanku?" tanya Ken dengan suara memelas.


Hal itu berhasil menyita perhatian Aira. Ia tidak bisa memungkiri perasaannya yang begitu mendamba kepulangan suaminya.



"Aku tidak akan menyakitimu, percayalah!" ucap Ken sungguh-sungguh. Ia menatap Aira dengan intens, berharap istrinya tidak akan menahan keinginannya dan menikmati perlakuan yang akan ia berikan selembut mungkin.


"Janji?" tanya Aira dengan suara serak. Ia takut Ken akan membuat janin di dalam perutnya tidak nyaman karena bergerak begitu agresif tadi.


"Janji!" jawab Ken mantap.


Aira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, memberikan izin untuk suaminya. Malam yang sunyi ini akan menjadi saksi cinta keduanya yang telah ada dalam ikatan suci sebuah pernikahan sejak sepuluh bulan yang lalu. Aira akan menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri, memenuhi hak suaminya, mendapat kepuasan lahir maupun batin.


...****************...


Uhukk di skip 🙈🙉🙊 *author tutup muka sama tutup telinga, pura-pura ngga tau, ngga liat, ngga denger apa-apa 😂😂


Kurang hot? Emang sengaja cukup sampe segitu aja, ngga mau lebih jauh lagi karena novel ini genrenya romantis action bukan 18+ apa lagi 21+ 😂😂


See you next day, please tinggalkan jejak dengan like dan jangan lupa komen yaa biar author tahu kekurangannya dimana bacaan ini *jangan bilang kurang hot atau kurang panjang!!


Baibai,

__ADS_1


Hanazawa Easzy 😘


__ADS_2