
Yoshiro bertemu dengan Yamaken di depan sebuah club house yang ada di salah satu deretan pertokoan Kabukicho ini. Keduanya sempat berbincang singkat sebelum dia meninggalkan aktor tampan itu.
"Baiklah. Selamat bekerja!" Suara Yamaken terdengar jelas di telinga Yoshiro, membuat pria berpakaian serba putih ini mengangkat tangannya tanpa berbalik.
Yoshiro mendekat ke arah beberapa wanita cantik yang memakai pakaian mini. Dia mulai melancarkan aksinya, mencari tahu keberadaan 'semut' buruannya. Dia harus mendapatkan info orang yang sudah membantu pelarian tuan Harada ke Thailand. Menurut Kosuke, pria itu adalah salah satu pemilik club house di pusat bisnis ini. Satu-satunya cara adalah masuk ke tempat ini dengan berpura-pura sebagai pelanggan.
Dengan sedikit bermulut manis dan memamerkan senyum mautnya, Yoshiro berhasil masuk ke dalam pub bersama seorang wanita yang mengaku bernama Sakura.
"Shiro-san, silakan tunggu di sini. Aku akan segera kembali." Sakura berpamitan setelah membawa Yoshiro ke salah satu private room yang ada di tempat ini. Wanita itu masuk ke dalam ruangan besar yang ada di ujung koridor.
Beberapa menit kemudian, seorang pria tambun dengan perut buncit memasuki ruangan. Ada dua orang pengawal berpakaian hitam yang menyertainya. Mereka berada satu langkah di belakang 'ikan buntal' ini.
"Selamat malam, Tuan." Si Ikan Buntal menyalami Yoshiro dengan senyum lebar di wajahnya. Dari buku-buku jarinya, terbaca bahwa dia tidak bisa beladiri sama sekali. Hal itu membuat Yoshiro tersenyum, merasa satu tingkat lebih mudah dalam menangani orang ini. Dia hanya harus menyingkirkan dua orang pengawal dan bisa memaksa perut buncit ini menunjukkan peta pelarian tuan Harada.
"Silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu tanpa curiga sedikitpun.
"Saya datang kemari untuk meminta bantuan Anda." Yoshiro mengeluarkan beberapa lembar foto tuan Harada. "Nyonya Sumari, istri tuan Harada, meminta saya memberikan dokumen rahasia ini padanya. Dan dia memberikan alamat Anda." Yoshiro mengeluarkan sebuah amplop coklat berisi beberapa lembar kertas.
"Hahaha, apa yang Anda bicarakan? Saya tidak mengenalnya sama sekali." Pria perut buncit itu berusaha mengelak. Dia tidak tahu kebenaran ucapan Yoshiro ini dan ingin mengujinya. "Bahkan dua nama itu juga terdengar asing di telinga saya. Sepertinya Anda salah orang."
Ctakk
Yoshiro meletakkan sebuah giok hitam bergambar naga. Itu adalah batu mulia milik keluarga Harada yang diwariskan turun temurun. Hanya satu dua orang saja yang beruntung pernah melihatnya. Dan pria ikan buntal ini salah satu diantara orang yang beruntung tadi. Dia tahu batu mulia itu sangat penting bagi tuan Harada. Karena pelanggan ini membawanya, pastilah dia adalah utusan yang sangat penting, begitu pikirnya.
Ikan buntal ini adalah penyokong utama keuangan geng naga hitam setelah hubungan dengan keluarga Yamazaki sedikit merenggang beberapa tahun terakhir. Selain mengelola tempat hiburan ini, dia juga memegang kendali atas peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya. Yoshiro sudah mengetahui informasi orang ini dari Kosuke.
"I ... ini ...." Pria yang tak diketahui namanya ini tergagap, artinya dia masuk ke dalam perangkap yang Yoshiro mainkan. Ya, batu giok naga hitam ini palsu. Dan nyonya Sumari juga tidak pernah memintanya mengirimkan dokumen apapun. Hanya kertas kosong yang ada dalam amplop itu, bukan dokumen penting sama sekali.
"Kalian berdua tunggu di luar!" pintanya pada dua bodyguard yang sedari tadi berjaga di depan pintu, beberapa langkah dari tempat duduk Yoshiro.
"Boleh saya lihat giok hitam itu lebih dulu?" Pria itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri saat melihat Yoshiro menyimpan giok hitam palsu itu ke dalam saku. Bagaimanapun juga masih ada keraguan di dalam hatinya.
"Apa saya harus menghubungi nyonya sekarang juga? Anda ingin berbincang dengannya? Tidakkah Anda takut nyonya akan curiga dimana keberadaan suaminya sekarang?" Yoshiro mengambil ponselnya, berusaha meyakinkan pria ini. "Bisnis ilegal Anda baik-baik saja karena kebaikan hati nyonya. Beliau tidak akan keberatan menutup salah satu ladang uangnya jika tahu Anda meragukannya."
"Tunggu! Baiklah, aku akan mengirimkan dokumen ini padanya besok pagi." Pria tambun itu meraih amplop coklat di atas meja. Ancaman Yoshiro membuatnya ketakutan. Dia tidak akan bisa hidup tenang tanpa uang di sisinya.
Grep
Yoshiro mencengkeram pergelangan tangan yang penuh daging ini. "Nyonya ingin saya yang mengantarkannya sendiri pada tuan!" ucapnya penuh penekanan di setiap kata. Tatapan tajam nan mematikan segera mengebor manik hitam pria itu, membuatnya bergidik ngeri. Bukan pilihan yang bagus untuk menentang pria ini.
"Itu ... aku-"
"Beritahukan padaku dimana tuan berada!" Yoshiro semakin mempererat cengkeraman, membuat pria itu berada di bawah tekanan. "Nyonya tidak bisa menghubunginya. Beliau begitu khawatir." Yoshiro masih menambahkan bumbu-bumbu penyedap untuk semakin meyakinkan pemilik club house ini.
"Baiklah aku akan mengatakannya. Dia ada di Bangkok, 50 kilometer arah tenggara dari bandara. Bawa kartu ini pada petugas administrasi yang ada di sana dan akan ada orang yang akan mengantarkanmu pada tuan. Ku dengar dia masih harus memulihkan lukanya." Ikan buntal itu memberikan sebuah kartu nama sebuah panti pijat tradisional Thailand. Tampaknya tuan Harada bersembunyi di sana.
"Hanya itu?" tanya Yoshiro masih belum puas.
"Hanya itu yang aku tahu. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi padamu." Pria itu menggeleng beberapa kali. Keringat dingin segera membanjiri pelipisnya. Entah kenapa dia merasa bersalah sudah memberikan informasi ini pada orang yang baru saja ditemuinya. Terlebih lagi, Yoshiro tampaknya bukan orang-orang dari geng naga hitam karena tidak ada tato binatang legenda itu di belakang telinganya. Hampir 95% anggota geng kriminal itu memiliki tato khas di bagian belakang kepala mereka, entah itu belakang telinga, leher, atau bahkan tengkuknya.
"Baiklah. Itu saja cukup untuk mencari keberadaannya. Rahasia yang ada di dalam hatimu, biarlah itu menjadi sesuatu yang kamu simpan sendiri sampai mati." Yoshiro berdiri. Dia meraih kartu nama panti pijat itu dan memasukkannya ke dalam saku.
"Katakan permintaan terakhirmu!" Yoshiro menempelkan pistol di tangannya tepat di pelipis kanan pria itu. "Anggap saja aku sedang berbaik hati. Mungkin aku akan mengabulkannya." Sebuah senyum miring menghiasi wajah putih pucat itu. Sisi iblis tengah menguasai tubuh dan pikiran Yoshiro, siap menjadi tangan kanan malaikat pencabut nyawa.
"Aku punya seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Biarkan mereka hidup." Permohonan terakhir itu ia ucapkan dengan suara bergetar. Dia benar-benar pasrah jika harus meregang nyawa detik ini juga.
__ADS_1
"Heih? Kamu masih ada hati memikirkan anak dan istrimu?"
DOR
Sebuah tembakan melesat begitu cepat menembus kepala Si Ikan Buntal, membuat tubuh tambunnya tergeletak tak bernyawa di atas kursi.
Detik berikutnya, dua orang pengawal yang ada di luar pintu segera merangsek masuk. Mereka melihat tuannya tak lagi bernyawa dan segera menyerang Yoshiro. Mereka bertarung dua lawan satu. Keributan itu terus berlangsung sampai ke koridor panjang tempat ini. Yoshiro berhasil lolos setelah menumbangkan setidaknya sepuluh orang.
Ia berjalan santai keluar dari tempat ini tanpa menyadari bahaya yang mengancam detik berikutnya.
Brukk
Wanita yang mengantarkannya ke dalam ruangan tadi, memukul tengkuknya dengan balok kayu, membuatnya limbung detik itu juga. Yoshiro tergeletak di lantai. Samar-samar ia melihat beberapa wanita mengerumuninya sebelum ia benar-benar memejamkan mata. Dan semuanya gelap.
...****************...
Yamaken mengajak Mone makan malam di sebuah restoran Italia yang ada di Shinjuku, beberapa ratus meter dari apartemen tempat tinggalnya. Keduanya masuk ke dalam tempat yang tampak lengang itu. Tak ada satu orang pun di dalam sana, sepertinya manajer sudah menyiapkannya. Wanita itu mengirim pesan agar membawa Mone ke sana.
Mone menatap sekeliling, membaca sekilas tulisan putih di dinding berwarna hitam. Tempat ini tampak menenangkan dan lebih terasa seperti sebuah kafe, bukan restoran terkenal dengan dekorasi klasik khas negeri-negeri di benua Eropa sana.
Mereka semakin masuk ke dalam bangunan ini dan memilih sepasang meja kursi yang ada di pojok ruangan. Seorang pramusaji segera mendekat dan mengantarkan buku menu pada dua pelanggannya. Tampak berbagai pilihan makanan cepat saji seperti spaghetti, sandwich, hot dogs, burger, dan pizza. Selain itu, masih ada makanan ringan lainnya seperti french fries, onion ring, berbagai macam cookies, es krim dengan berbagai rasa, dan tentunya ada juga aneka jus buah.
"Pilih yang kamu suka." Yamaken memberikan pilihan menu yang ada di tangannya pada kekasihnya ini. Dia memperhatikan dengan seksama ekspresi wajah Mone yang masih terkejut. Gadis itu tidak mengatakan apapun sejak keduanya melangkah dari gedung pencakar langit yang mereka tinggalkan di belakang sana.
"Aku mau ini." Mone menunjuk salah satu menu yang ada di atas kertas. Pramusaji segera mencatatnya dan pergi setelah Yamaken mengatakan pesanannya.
"Ano ... " Mone menggenggam jemari tangannya erat-erat, berusaha mencari kata yang tepat untuk memulai pembicaraan. "Gomenasai," ucapnya lirih.
(Maafkan aku)
"Untuk?" pancing Yamaken sambil tersenyum. Ia menatap lekat-lekat Mone yang menundukkan kepalanya cukup dalam. Pandangannya terpaku pada kaki meja di bawah sana, tak berani beradu pandang dengan calon suaminya ini.
"Aku salah. Maafkan aku." Mone tidak bisa mengatakannya. Lidahnya terasa kelu.
Sruk sruk
Yamaken mengacak rambut Mone, membuat gadis itu menengadahkan kepalanya dan menatap pria yang tengah tersenyum padanya ini.
"Lupakan saja. Akulah yang harusnya minta maaf padamu karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Maafkan aku,"
"Sampai kapan kalian akan maaf memaafkan?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di dekat keduanya. Dia seorang gadis cantik dengan pakaian hijau botol lengan pendek.
"Yu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yamaken, sedikit terkejut dengan kehadirannya. Katakanlah dia ingin memanfaatkan momen ini untuk memperbaiki hubungannya dengan Mone, tapi tiba-tiba gadis 23 tahun itu datang mengganggunya.
"Aku membutuhkan bantuanmu." Yu menatap Mone dengan pandangan serius, mengabaikan pertanyaan Yamaken padanya.
"Aku?" tanya Mone menunjuk hidungnya sendiri.
"Ikut denganku. Ini mendesak." Yu menarik tangan Mone, menjauh dari Yamaken yang semakin terkejut di tempatnya.
__ADS_1
"Chottomatte!" Yamaken menahan pergelangan tangan gadisnya, membuat langkah kedua wanita beda usia itu terhenti seketika. "Katakan apa yang terjadi!" pintanya memaksa. Dia menuntut jawab pada wanita bernama asli Yuzuki Ebisawa ini.
(Tunggu sebentar)
Yu menarik napas dalam-dalam, menimang-nimang antara harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak pada saudara kembar Yamazaki Kenzo ini.
"Aku tidak bisa mengizinkannya pergi jika bukan karena hal yang penting!" Tatapan tajam Yamaken layangkan tepat di wajah kekasih Yoshiro ini, pria yang ia temui setengah jam yang lalu di Kabukicho.
"Aku kehilangan jejak Yoshiro. GPSnya tidak lagi terbaca. Sepertinya dia mendapat masalah. Mungkin saja semut-semut itu menggigitnya." Yu menjawab pertanyaan Yamaken dengan sangat tenang. Meski begitu, terlihat jelas matanya memancarkan rasa khawatir yang begitu kentara.
"Yamazaki-kun. Aku akan segera kembali." Mone melepas cengkeraman tangan kekasihnya dengan senyum yang dipaksakan. Dia melangkah pergi bersama Yu, bersiap mencari keberadaan pria pendiam yang sempat jatuh hati pada kakak sepupunya. Langkahnya terhenti tepat sebelum melewati pintu keluar.
"Ada apa?" tanya Yu saat mendapati rekannya berhenti melangkah. Gadis 20 tahun itu terlihat ragu, merasa berat meninggalkan kekasihnya yang baru saja sedikit membaik setelah demam yang dideritanya.
Tap tap tap
Mone membalikkan arah langkahnya 180 derajat dan berlari menuju Yamaken yang terpaku di belakang sana. Yu tidak bisa mencegahnya sama sekali. Ia tahu rasanya meninggalkan orang yang disayangi, pasti sulit.
Sret
Mone menarik lengan Yamaken, membuat pria itu sedikit menunduk. Tidak ada waktu lagi. Satu dua detik sangat berharga jika sudah berada di posisi genting seperti ini. Tapi bagaimanapun juga, dia harus memberikan bukti pada Yamaken tentang kesungguhan hatinya.
Cup
Sebuah kecupan segera mendarat di pipi aktor tampan itu. Mone berinisiatif melakukan pergerakan, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang seolah menjaga jarak dari Yamaken.
"Aku akan segera pulang. Tunggu aku. Jaga dirimu baik-baik," bisiknya sambil tersenyum. "Aku hanya menyukaimu, tidak ada yang lain."
Cup
Kecupan super singkat itu menggenapi pernyataan tulus Mone sebelum benar-benar pergi. Dengan langkah cepat hampir berlari, gadis itu menghilang di balik pintu. Bayangan punggung mungilnya tak lagi terlihat, tertelan gelapnya malam. Dia sempat menengok ke belakang sekali, sebelum benar-benar pergi.
Yamaken masih terpaku di tempatnya berdiri, memegang bibirnya. Blank. Dia seperti kehilangan akal sehatnya detik ketika kecupan Mone di bibirnya terlepas begitu saja tanpa bisa ia cegah. Pujaan hatinya pergi, membawa separuh jiwanya ikut berkelana.
"Hati-hatilah, Sayang," lirih Yamaken.
Kepergian Mone yang begitu mendadak ini membuat Yamaken merasa bahwa ada tembok tak kasat mata yang kembali menghalangi hubungan mereka. Pembicaraan mereka belum usai, bahkan belum dimulai sama sekali. Gadis itu terpaksa pergi, menggantung penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun kecupan hangatnya membuat Yamaken yakin bahwa Mone memilihnya, bukan dokter itu.
"Pesanan Anda, Tuan." Pramusaji itu mendekat dan meletakkan spaghetti pesanan Mone di atas meja, lengkap dengan dua gelas jus dan sepiring kentang goreng.
Brukk
Yamaken duduk di kursinya dengan pandangan kosong. Ia menatap hidangan olahan tepung terigu itu dengan pandangan yang menyedihkan. Makan malam romantis yang ada di dalam kepalanya, buyar seketika. Selera makannya hilang, namun perutnya terasa lapar. Ia belum makan siang dan sekarang sudah waktunya makan malam.
Yamaken mengambil sumpit di atas meja dan mulai melahap makanan yang Mone pesan. Bagaimanapun juga dia harus baik-baik saja sampai gadisnya kembali nanti. Tubuhnya masih lemah sekarang, tidak ingin tumbang seperti sebelumnya. Dia cukup tahu diri bahwa dirinya begitu lemah, berbanding terbalik dengan Mone yang begitu kuat dan menguasai berbagai senjata mematikan seperti kakak iparnya, Aira.
...****************...
Ugh kasian Abang 😢ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Btw, gimana nasib Yoshiro yaa. Dia baik-baik aja kan? ðŸ˜ðŸ˜
See you next episode. Bai bai ....
__ADS_1
Hanazawa Easzy