Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Suami Penggoda


__ADS_3

Kakek Yamazaki mengundang Anna untuk makan malam. Pertemuan keduanya bukan dalam rangka makan malam untuk membahas kerjasama atau sejenisnya, melainkan untuk memperingatkan wanita 45 tahun itu untuk tidak menyentuh orang-orang kakek Yamazaki.


"Satu helai saja rambut cucuku tercerabut, saat itulah aku mencabut nyawamu!"


Kata-kata penuh penekanan itu masih terngiang-ngiang dengan jelas di telinga Anna, orang yang dianggap sudah tewas dalam ledakan saat penjemputan Mone kala itu.


BRAKK!


PRANG!!


Entah sudah benda ke berapa yang Anna hancurkan di apartemennya. Dia murka namun tidak bisa melakukan apapun, jadi hanya bisa melampiaskan pada properti yang ada di sekitarnya. Tak terhitung berapa kerugian yang dia tanggung nantinya. Uang bukanlah hal yang terpenting untuk wanita ini. Harta peninggalan ayahnya, cukup untuk membiayai hidupnya hingga mati nanti. Keuangannya terjamin seumur hidup.


"Sudah cukup, Nona!" Seorang wanita dengan pakaian pelayan mencoba mengingatkan wanita ini.


"Tua bangka itu sengaja memperingatkanku. Dia benar-benar tidak akan mengizinkanku melakukan semua rencana yang sudah tersusun rapi. Bagaimana aku bisa tenang?!" Anna masih menggebu-gebu.


Bagaimana tidak? Setelah dia selamat dari ledakan dahsyat itu, dia terpaksa memulihkan diri selama beberapa bulan. Begitu banyak operasi yang harus dia jalani, termasuk operasi wajahnya yang saat itu terkena pecahan kaca, menggores wajah cantiknya cukup dalam. Namun, Anna sengaja menyisakkan baret luka yang melintang di bawah matanya, sebagai pengingat bahwa dia harus membalas dendam untuk semua ini.


"Jika satu pintu tertutup, bukan berarti Anda tidak bisa masuk ke ruangan itu. Masih ada begitu banyak jalan. Anda bisa menerobos masuk lewat jendela, pintu belakang, bahkan cerobong asap sekalipun."


Anna terdiam. Kata-kata wanita ini sedikit membuatnya tenang. Dia adalah pelayan yang paling setia, mengurusnya sejak masih kecil dulu. Begitu mendengar nonanya dirawat di rumah sakit, kala itu, wanita ini langsung datang dan mengurus semua keperluan nonanya.


"Nona, tenangkan dirimu dan kita akan membuat rencana yang baru." Wanita Rusia itu mendekat ke arah Anna dan menggenggam tangannya dengan erat. Senyum liciknya terlihat begitu jelas, dia sudah memiliki rencana tersendiri, hanya perlu menunggu persetujuan nonanya.


Ya, wanita ini bukanlah wanita biasa pada umumnya. Dengan segala kemampuannya, dia berhasil menjadi pelayan utama di kediaman Anna sejak puluhan tahun yang lalu. Tuan Tolya Vyatcheslavovna, ayah Anna, adalah salah satu politisi yang paling berpengaruh saat itu, sebelum Uni Soviet runtuh.


Uni Soviet sendiri adalah salah satu negara adikuasa pemenang Perang Dunia II saat itu. Dan negara ini menjadi pusat dari aliansi negara komunis Blok Timur selama Perang Dingin berkecamuk. Hingga awal tahun 1991, negara ini memiliki wilayah kekuasaan yang terbesar di dunia.


Singa yang begitu buas pun, akhirnya akan mati juga. Dan itulah yang terjadi pada negara ini. Di akhir tahun itu, Uni Soviet mengalami keruntuhan dari beberapa sektor. Banyak orang tidak menyadari hal ini, tapi tuan Tolya tahu betul apa yang akan terjadi.


Sebagai seorang politisi yang sudah berpengalaman, dia mulai menyadari adanya kemerosotan ekonomi Uni Soviet sejak 1980. Tentu saja itu berdampak pada seluruh sendi kehidupan masyarakatnya sendiri, terutama elite politik kelas menengah yang tidak setuju dengan penerapan sistem komunisme yang ada.


Seperti bola salju, masalah itu semakin menjadi hingga bertahun-tahun berikutnya, membuat pergolakan di berbagai tempat. Perlahan namun pasti, raksasa itu runtuh seluruhnya, membuatnya menjadi pecahan-pecahan negara seperti yang kita kenal sekarang ini, yakni Russia, Azerbaijan, Belarus, Estonia, Georgia, Kazakhstan, Kirgiztan, Latvia, Lituania, Moldova, Tajikistan, Turkmenistan, Armenia, Ukraina, dan Uzbekiztan.


Dan sebelum negara itu hancur total, tuan Tolya sudah mempersiapkan diri. Memanfaatkan jabatannya, dia menguasai gudang persenjataan terbesar milik Uni Soviet yang ada di kota Minsk. Dan setelah perpecahan itu mereda, pria licik ini mulai menjual senjata itu atas nama pribadi. Dan semua itu disaksikan sendiri oleh wanita yang sekarang berdiri di hadapan Anna, bibi Maria.


"Kita bisa melakukannya dengan cara lain, Nona. Seperti yang pernah ayah Anda lakukan sebelumnya, berjalan dalam gelap. Membuat siasat baru!" Suara wanita ini lirih, namun penuh penekanan di setiap katanya. Dia begitu yakin dengan apa yang ada di dalam kepalanya saat ini.


"Mari duduk, kita bicarakan dengan kepala dingin."


Sejurus kemudian, dua wanita berbeda usia itu sudah ada di balkon, menghadap rumput luas di bawah sana.


"Apa yang bisa aku lakukan, Bibi?" Anna menatap wanita licik ini dengan penuh harap. Hanya dia yang sekarang ada bersamanya. Ayah ibunya sudah tiada, meninggalkannya seorang diri dengan harta berlimpah.


"Kita mulai saja dari pria yang Anda temui kemarin, Yuki Harada."


* * *


Jam dinding di atas nakas menunjukkan pukul 12.00, tepat tengah malam. Langit berbintang di luar sana terlihat gelap seluruhnya, waktu yang tepat untuk istirahat.


Namun hal itu tidak berlaku untuk wanita berwajah bulat satu ini. Sejak suami dan anak-anaknya terlelap beberapa jam yang lalu, dia terus menatap langit-langit kamar di atas sana. Ada perasaan tidak tenang yang dia rasakan, semacam firasat buruk.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Ken dengan mata yang masih terpejam. Dia merasakan pelukannya dilepaskan oleh Aira.


"Aku haus." Aira menyingkirkan tangan Ken yang membelit perutnya. Dia meneguk segelas air putih di atas nakas hanya dalam hitungan detik. Tenggorokannya terasa kering tanpa sebab, mungkin efek dari otaknya yang terus berpikir tanpa henti. Namun pemikiran itu tak jua mendapat jawaban, membuat Aira sedikit frustrasi.


"Ada apa?" Ken menatap istrinya yang kini duduk bersandar di kepala ranjang. Wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak tenang sama sekali. Ada yang mengganggu pikirannya.


Hening.


Aira tak lekas menjawab pertanyaan pria ini. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya. Sulit dijelaskan dengan kata-kata.


"Sayang?" panggil Ken sambil beranjak bangun. "Apa yang kamu pikirkan? Katakanlah," bujuk pria lesung pipi ini.


Aira menatap manik mata Ken dengan penuh arti. Tanpa aba-aba, wanita yang sudah melahirkan tiga orang anak ini mendekat ke arah suaminya.


Cup


Mata Ken terbelalak saat mendapati sikap istrinya ini. Tidak biasanya Aira berinisiatif menciumnya lebih dulu. Yang ada, dia akan berteriak jengkel saat Ken tiba-tiba menciumnya.


Dan Ken tahu ada yang tidak beres dengan psikis istrinya, terasa dari kecupannya yang tidak juga dilepaskan meski beberapa detik sudah berlalu. Tak ada yang bisa dia lakukan selain membalas perlakuan istrinya.


Ken membawa tangannya ke belakang punggung Aira, membuat tubuh keduanya tak lagi berjarak. Tautan keduanya baru terurai setelah mereka kehabisan napas.


"Ada apa denganmu?" Ken menuntut jawab pada istrinya yang masih mengatur napas, terlihat dari dadanya yang naik turun dengan cepat.


"Minumlah." Ken menyodorkan segelas air putih pada kekasih hatinya ini.


"Apa yang kamu pikirkan? Katakanlah, mungkin aku bisa membantumu."


Aira menggeleng dengan cepat. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya.


"Aku tidak tahu."


Ken mengerutkan keningnya dalam-dalam, namun tak mengatakan apapun. Dia tahu wanita di hadapannya ini kesulitan mengungkapkan apa yang terjadi padanya.


"Ayo keluar!" ajak Ken dengan senyum terkembang. Dia bangkit dari ranjangnya dan segera mengambilkan sweater panjang untuk Aira. "Pakai ini, di luar dingin."


Aira menatap suaminya dalam diam, tidak tahu apa yang akan pria ini lakukan nanti.


"Kita jalan-jalan di taman belakang." Seolah tahu apa yang Aira pikirkan, Ken menjawabnya.


Sesaat Aira ragu. Dia tidak ingin merepotkan pria ini. Bagaimanapun juga, Ken butuh istirahat. Dia harus bekerja esok hari.


"Ayolah," ajak pria itu saat mendapati istrinya tak bergerak. Bahkan sweater abu-abu itu juga belum wanita ini ambil. Akhirnya Ken berinisiatif memakaikan kain penghangat ini pada Aira.


"Apa aku harus menggendongmu turun?" goda Ken. Dia mendekat ke arah Aira, bersiap membopongnya. Dengan berat badan di bawah 50 kg, bukan beban berarti untuk ayah tiga anak ini.


Aira masih diam, membuat Ken segera mengangkat tubuh mungil ini dalam sekali gerakan.


"Berpegangan atau kamu ingin jatuh?"


Mendengar pertanyaan Ken, Aira segera mengalungkan tautan tangannya di belakang leher pria ini.

__ADS_1


"Kamu terlalu kurus. Mulai besok, aku sendiri yang akan menjadi juru masak pribadimu." Ken kembali mengungkapkan kata-kata manisnya, membuat Aira sedikit tersenyum. Tak bisa dipungkiri, sikap lembut pria ini semakin menjadi sejak akhir kehamilannya saat itu. Tak ada lagi sikap angkuh yang dia tunjukkan seperti bulan-bulan awal pernikahan mereka.


Dengan hati-hati, Ken menurunkan kaki Aira di atas tanah berumput hijau ini. Telapak kaki wanita ini segera basah oleh embun yang menempel di rumput, membuatnya sedikit terkejut. Ken menyadari itu, terasa dari tautan tangan Aira yang semakin erat mencengkeram lengannya.


"Apa aku membuatmu takut? Maaf."


Aira mengeleng. Dia tidak takut sama sekali, hanya sedikit terkejut. Tingkah polah pria ini sungguh luar biasa, seringkali tidak bisa diduga.


"Ayo!" Ken meraih jemari istrinya, mengajaknya menapaki rumput basah yang ada di taman belakang kediaman mereka.


"Dulu, beberapa bulan pertama kepergian Erina, aku tidak bisa tidur sama sekali." Ken mulai bermonolog.


"Entah kenapa, ada perasaan hampa yang menyeruak setiap saat, membuat mataku sulit untuk terpejam."


Aira memasang telinganya dengan baik, mendengarkan penghiburan yang tengah suaminya ini lakukan.


"Semua makanan terasa hambar. Aku mati rasa."


Aira menoleh, menatap wajah sendu suaminya dari samping. Ken menyadari Aira tengah memerhatikan wajah tampannya, tapi dia sengaja tidak menoleh. Misinya untuk membuat perhatian wanita ini teralihkan, sepertinya mulai menunjukkan hasil.


"Setiap malam, saat tengah malam seperti ini, aku akan berjalan mengelilingi lapangan berkuda di kediaman kakek. Kamu tahu berapa kali aku mengelilinginya?" Ken tersenyum, menoleh ke arah Aira.


"Berapa?" tanya Aira, refleks menangkap pancingan yang Ken lakukan.


Ken tersenyum semakin lebar. Mode diam istrinya terpecahkan. Bravo!


"Lima belas kali."


Aira berhitung cepat dalam kepalanya. Keliling lapangan berkuda di kediaman kakek Yamazaki, tak kurang dari 500 m. Jika Ken berkeliling sebanyak lima belas putaran, maka jarak yang dia tempuh tak kurang dari 7.500 meter, atau setara 7,5 kilometer. Astaga!


"Bodoh ya?" Ken mencemooh dirinya sendiri di masa lalu, menertawakan sikap konyolnya saat itu.


"Setelahnya aku akan tertidur karena kelelahan." Ken menundukkan kepalanya, malu akan kalimat berikutnya yang akan dia ucapkan, "Dan paginya, kakek akan memukul pantatku karena terlambat bangun."


Bukan hanya Ken yang tersenyum, nyatanya Aira juga melakukan hal yang sama. Wanita ini tergelitik mendengar penuturan suaminya. Seorang Yamazaki Kenzo yang terkenal sebagai monster bisnis yang buas dan menyeramkan, ternyata sering dipukul pantatnya oleh Sang Kakek. Menggelikan.


Langkah kaki keduanya sampai di depan sebuah bangku panjang. Disana, Aira terbiasa duduk santai sambil berjemur bersama ketiga putra putrinya di pagi hari.


"Apa kamu merasa lebih baik?" Ken membawa Aira duduk dan kemudian membersihkan rumput kering yang menempel di kaki wanita ini. Pria 28 tahun ini mengelus kaki Aira dengan lembut, mulai dari punggung, jemari, sampai ke telapak kaki istrinya ini.


Aira mengangguk. Dia kembali tersentuh pada sikap pria yang membersamainya setahun terakhir. Sungguh suami idaman semua wanita.


"Apa kamu sedang mengagumiku dalam hati?" tanya Ken dengan percaya diri. Dia menatap istrinya dengan tatapan menggoda, bahkan sampai mengerlingkan sebelah mata. "Kamu pasti jatuh cinta padaku, 'kan? Aku tahu, aku memang tampan."


"Dasar suami penggoda!" ketus Aira.


* * *


Hwaaaa .... So sweet banget sih Si Abang. Adek juga mau dong, Bang diajak jalan-jalan di taman belakang.


Eh eh, taman belakang rumahku isinya rumput liar. Yang ada malah gatel kena ulet bulu, hahahahaaa. Astagaaaaa...

__ADS_1


See you next day,  bai bai.


Hanazawa Easzy


__ADS_2