Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Kemarahan Ken


__ADS_3

'Kemana istrinya? Apa yang sudah ia lewatkan?'


Ken berkeliling di seluruh penjuru rumah tapi tetap tidak membuahkan hasil. Ia tidak melihat Aira-nya dimanapun.


Detik berikutnya ia menghembuskan nafas kasar sambil menyugar rambutnya dengan sebelah tangan. Sementara satu tangannya lagi ia gunakan untuk memegang ponsel di samping telinganya.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan...


"SHIT!!" umpat Ken emosi.


Ken mengusap wajahnya dengan kasar, ia berharap menemukan titik terang dari dua pria berbaju hitam yang berjaga di depan pintu. Tapi Nihil. Mungkin Aira pergi sebelum keduanya datang.


*****


Kosuke keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia baru saja pulang setengah jam yang lalu, mengurus segala kekacauan kantor yang Ken tinggalkan siang tadi.


Ia merebahkan badannya yang terasa pegal di sebelah Minami yang sudah terlelap lebih dulu. Seharian bergerak kesana kemari sambil menghubungi banyak pihak guna membatalkan janji temu, belum lagi berbagai protes dari kolega yang tidak senang karena tidak bisa bertemu langsung dengan Ken. Benar-benar hari yang panjang dan melelahkan.


Ia memejamkan matanya, tidak peduli dengan pakaiannya yang hanya mengenakan kaos hitam dan celana pendek di atas lutut. Bahkan handuknya yang sedikit basah masih bertengger di bahunya. Entahlah, Kosuke tidak peduli lagi. Dia hanya ingin istirahat, itu saja. Perlahan ia masuk ke alam mimpinya, membuat raganya beristirahat total.


"Bangun sayang. Ayo cepat buka matamu!" sebuah suara tertangkap di telinganya, membuat Kosuke menggelengkan kepalanya meski dengan mata tertutup. Ia ingin tidur. Titik.


"Bangun!!" Minami menarik tangan suaminya untuk duduk. Ia berusaha sekuat tenaga membuat Kosuke kembali ke dunia nyata dan mendengar hal penting yang akan disampaikan.


"AYO BANGUN!! NONA AIRA HILANG." teriak Minami dengan panik dan sedikit frustasi karena Kosuke masih terpejam. Tangannya tak berhenti menggoyangkan lengan suaminya.


Detik berikutnya Kosuke benar-benar membuka matanya lebar-lebar. Ia menatap istrinya seolah memastikan bahwa apa yang di dengarnya tadi hanya lelucon. Tapi nyatanya tidak ada raut bercanda sedikitpun di wajah Minami.


Ini nyata...


Minami segera berlalu ke lemari pakaian, menyiapkan baju hangat dan celana panjang untuk suaminya. Tak lupa ia juga mengambil syal untuk menutupi lehernya.


"Ayo pergi."


Kosuke segera memacu mobilnya menuju apartemen Ken, ia harus memastikan apakah Aira ada di sana atau tidak seperti perintah Ken.


"Apa mereka bertengkar?" tanya Kosuke tidak habis pikir.


"Aku tidak tahu. Tuan bilang mereka ada di kediaman Tuan Besar sebelum nona menghilang." jawab Minami sambil menghubungi ponsel Aira. Tapi nyatanya tidak dapat tersambung sama sekali.


"Kenapa selalu terjadi sesuatu dengan nona saat aku tidak di sampingnya. Ini salahku." Minami kembali merasa bersalah karena ia tidak bisa mendampingi Aira hari ini.


"Itu bukan salahmu. Nona tahu kamu sedang sakit." jawab Kosuke sambil membelokkan mobilnya di salah satu persimpangan jalan yang ramai kendaraan.


Ciiitt


"Hati-hati!" ucap Minami karena Kosuke hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya, untung kakinya cepat bergerak menginjak rem.


Mobil hitam itu kembali melaju hingga berhenti di lobby apartemen dengan warna hitam yang mendominasi dekorasi interiornya.


"Sejak kapan nona menghilang?" tanya Kosuke pada Minami yang baru sampai di dalam lift.


"Tuan tidak mengatakan apapun." jawab Minami sambil menekan tombol yang ada di dinding. Membawa mereka ke lantai 7.


"Selalu saja begitu. Pasti tuan muda melakukan kesalahan fatal, jika tidak bagaimana mungkin nona pergi." Kosuke hafal tabiat tuannya.


"Lihat akun bank milik Nona, mungkin saja dia membeli sesuatu dengan kartu kredit atau mengambil uang di ATM." lanjut Kosuke.


"Umm..." Minami segera bermain dengan ponselnya. Matanya membulat seketika saat menyadari sesuatu yang tidak seharusnya.


"Nona pasti sangat marah sekarang." ucap Minami saat keduanya berdiri di depan pintu apartemen milik Ken, bersiap masuk.


"Ada apa?" tanya Kosuke sembari menekan kombinasi angka sebagai password masuk hunian mewah itu.


Minami menjulurkan ponselnya, membuat Kosuke membaca sendiri keterangan terakhir transaksi yang Aira lakukan siang tadi. Tertera keterangan Aira berbelanja membeli game set je is tertentu.


Playstation 5?


Kosuke menengadahkan kepalanya, seperti mereka berdua tahu apa yang terjadi. Ken akan lupa waktu jika bermain game. Terlebih bersama kakek, mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam tanpa mempedulikan orang lain di sekitarnya. Pasti seperti itu.


Kosuke meneruskan langkahnya, memeriksa kediaman tak berpenghuni ini. Minami melakukan hal yang sama, sembari terus menghubungi ponsel Aira. Nihil.

__ADS_1


"Hubungi pelayan di kediaman Yamazaki." perintah Kosuke yang dijawab anggukan kepala oleh istrinya.


"Nona pergi bersama nyonya Sumari." ucap Minami sambil memasang seat belt yang melingkari tubuhnya. Mereka sudah ada di dalam mobil sekarang.


"Nyonya pasti pergi ke sana." ucap Kosuke yakin.


Dan kendaraan roda empat itu melaju dengan cepat menuju pegunungan yang berselimut salju.


BRAKK


Di tempat lain, Ken menggebrak meja kayu di depannya. Ia marah karena pria yang ia tanyai tidak memberikan jawaban yang memuaskan.


"Aku hanya akan bertanya sekali lagi. Kobayashi-san, dimana istriku?" tanyanya geram.


"Sayang sekali tuan muda, saya benar-benar tidak boleh mengatakannya." jawab kepala pengurus kediaman ini.


"Biarkan saja. Ibumu pasti akan menjaga mereka (istri dan anakmu) dengan baik." ujar kakek menenangkan.


Ken benar-benar marah sekarang. Ingin rasanya ia mencekik pria tua di depannya yang seenaknya saja menyuruhnya membiarkan istrinya pergi, tapi tidak mungkin ia membunuh kakeknya sendiri kan?


Dakk


Ken menendang meja kayu mungil di depannya sampai terbalik membuat kakek menggelengkan kepalanya. Ia akan pergi sendiri mencari istri dan ibunya. Ada beberapa tempat yang mungkin keduanya datangi.


Pertama Ken pergi ke penginapan tempat Aira pernah bermalam bersama Minami, dimana mereka melewati gerbang dewa dan pergi ke kuil menemui biksu. Pria itu harus menelan kekecewaan karena tidak bisa menemukan mereka disana.


Tempat kedua adalah pemandian air panas langganan ibunya, nyatanya juga tidak ada Aira disana.


Jam di tangannya menunjukkan pukul empat pagi. Ken lelah setelah berkeliling ke segala penjuru, nyatanya belum juga menemukan tempat persembunyian ibunya.


Ah, Naru. Ya, adiknya itu pasti tahu dimana ibunya biasa menyembunyikan diri saat marah. Berbekal alamat yang Naru berikan, Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Menyusuri jalanan bersalju yang sangat sepi.


"Maaf, tidak ada pengunjung atas nama itu." sangkal wanita yukata yang berdiri di balik meja.


"Benarkah?" tanya Ken tidak percaya. Ia yakin ibunya ada di sini karena mobilnya terparkir di luar.


"Aku tidak keberatan mencari tau dimana ibuku bermalam, mendobrak pintu satu per satu sepertinya cukup menyenangkan." ancam Ken.


"Mengganggu? Hah?" Ken memutar badannya 90° merasa jengah dengan ucapan pegawai resepsionis itu.


BRAKK


"Aku seorang suami yang mencari istriku. Apa itu bisa disebut mengganggu?" tanya Ken dengan mata berkilat marah.


"Nona sedang istirahat. Dia hampir pingsan karena terlalu lama berendam air panas." jawab seorang pria sekaligus supir pribadi nyonya Sumari.


"Apa katamu?" tanya Ken penasaran.


"Nona... hampir... pingsan..." jawabnya ragu. Dia menyesal mengatakan hal itu.


"Dimana dia sekarang?" tanya Ken dengan aura iblis menguar darinya.


"Kamar utama." jawab pria itu sambil menundukkan kepala.


Ken berbalik dan melangkah menuju ruangan yang di maksud. Baru dua langkah berjalan, tiba-tiba dia berhenti dan kembali berbalik menghadap pria berbaju hitam yang belum juga mengangkat kepalanya.


"Apa kamu menyentuhnya?" tanya Ken posesif.


"A.. Apa?" pria itu mendongak sekilas, "Itu... Saya..." pengawal berusia empat puluh tahunan itu kehilangan kata-kata. Menyadari resiko yang akan ia dapatkan jika berkata jujur.


"APA KAMU MENYENTUH ISTRIKU?" tanya Ken dengan penekanan mendalam di setiap katanya.


"Maaf." pria itu menunduk semakin dalam, "Saya terpaksa menggendong nona kare..."


Dukk


Brukk


Pria itu jatuh tersungkur ke lantai setelah mendapat pukulan di perut yang Ken layangkan sepersekian detik yang lalu. Tak cukup sampai di situ, Ken meraih bahu pria yang terkapar di lantai dan mendorongnya ke dinding kayu. Mengunci pergerakannya dengan menekan tubuhnya dan memelintir tangannya.


"Aku tidak mengizinkan siapapun menyentuh milikku. Camkan itu!!" ucap Ken dengan gemeletuk giginya yang mengerat.

__ADS_1


Detik berikutnya Ken berlari ke ruangan yang ada di ujung koridor. Wanita resepsionis itu menolong korban kemarahan Ken dan tidak sempat mencegah monster itu pergi.


Ken mengusir ibu dengan paksa, membuatnya hanya berdua dengan Aira. Ia benar-benar marah mengingat pengawal pribadi ibunya menggendong tubuh mungil istrinya. Dia tidak akan memaafkan itu.


Plakk


Aira terpaksa menampar suaminya, mengingatkan pria itu agar tidak kehilangan kewarasannya. Aira takut tindakan Ken akan membahayakan janin di dalam rahimnya.


"Jadi, kamu ingin bermain kasar? Baiklah, aku mengabulkannya dengan senang hati, sayang." bisik Ken dengan smirk di wajah tampannya. Ia tidak segan-segan menyerang Aira, tidak menghiraukan air mata yang luruh di pipi istrinya.


Aira hanya bisa memejamkan mata, berharap badai ini akan segera berlalu. Doanya hanya satu, semoga buah cintanya dengan Ken di dalam sana baik-baik saja.


Sementara itu, Sumari berjalan kesana kemari dengan gelisah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan menantunya di dalam sana.


"Nyonya..." panggil Minami sambil memberi hormat. Di belakangnya, Kosuke datang menyusul.


"Nyonya, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kosuke.


Sumari menceritakan semuanya, termasuk pengawal pribadinya yang menjadi korban kebengisan Ken. Minami menatap suaminya dengan cemas, khawatir Ken akan melukai Aira.


"Tunggu!" cegah Kosuke menahan lengan istrinya yang bersiap menyela entah apapun itu yang tengah Ken lakukan pada Aira.


Pria itu menggelengkan kepalanya, meminta Minami tidak melanjutkan usahanya. Atau Ken akan semakin murka.


"Nona akan baik-baik saja." ucapnya menenangkan istrinya.


Dan ketiganya menanti dengan cemas, berharap tidak terjadi apapun pada tuan dan puannya. Juga pada calon penerus keluarga Yamazaki yang masih berusia 11 minggu dalam kandungan.


Drrt drrtt


Sebuah pesan masuk ke ponsel Minami setelah penantian satu jam yang terasa sangat lama. Ada pesan dari Aira.


Minami, tolong antarkan pakaian dan alat sholat untukku.


"Siapa?" tanya nyonya Sumari khawatir.


"Nona meminta saya mengantarkan pakaian dan alat sholat untuknya." jawab Minami dengan suara bergetar.


Sumari segera menghampiri resepsionis guna mengambil pakaian milik Aira yang dipakai sebelumnya.


"Aku akan mengantarkannya sendiri." ucap Sumari tanpa menyembunyikan kecemasan di dalam hatinya, terlihat dari tangannya yang bergetar.


"Nyonya, biar saya yang mengantarkannya. Tuan mungkin masih marah pada Anda." ucap Kosuke.


Nyonya Sumari terpaksa mengangguk. Menyerahkan paper bag di tangannya pada Kosuke.


Tok tok


Kosuke mengetuk pintu geser di depannya dengan hati-hati. Tampak Ken berdiri di depan pintu setelah membukanya.


"Ini pakaian milik Nona." ucapnya sambil menunduk.


Ken menerimanya dalam diam sebelum menutup kembali pintu di depannya dengan malas.


Tak lama kemudian Aira keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di kepalanya. Ia menatap paper bag di meja dan segera mengambilnya. Ia kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.


"Begitu tidak rela aku melihatmu? Bahkan berpakaian saja harus sembunyi dariku?" tanya Ken yang tengah memainkan ponsel di tangannya. Punggungnya bersandar di kepala ranjang.


Aira tak menghiraukan pertanyaan Ken. Ia merentangkan alas sholatnya dan mulai khusyuk menjalani ritual ibadahnya. Sebuah mukena berwarna violet membungkus seluruh tubuh mungilnya, hanya menampakkan wajah bulatnya saja.


Ya, sehancur apapun kondisinya sekarang. Sepahit apapun jalan hidup yang ia dapati di hadapannya, tetap ia harus kembali pada Rabb-nya. Mengadukan segala keluh kesahnya dalam sujud panjang dan membuatnya sadar bahwa ia tidak sendiri. Masih ada Allah yang akan menerimanya kapanpun ia ingin kembali.


Ken masuk ke kamar mandi dan mulai menyucikan diri seperti yang dilakukan istrinya. Ia juga memiliki kewajiban yang sama dengan Aira, menjumpai Tuhannya dalam dua roka'at sholat sebelum fajar menyingsing.


*******


Hwaaa..... Pengen nangis rasanya membayangkan perlakuan yang harus di terima Aira.


Be stronger sayangku.... 😭😭


See you next day,

__ADS_1


Hanazawaeaszy ♡


__ADS_2