
WARNING!!
Ada beberapa adegan kekerasan di sini. Bukan untuk ditiru!
Selamat membaca.
...****************...
Langit masih gelap seluruhnya saat sebuah mobil warna hitam berhenti di depan rumah panggung sederhana khas Thailand. Seluruh bangunan ini terbuat dari kayu dan dilapisi dengan cairan khusus agar awet dan tampak mengilat. Atap-atapnya yang mengerucut ke atas, memberikan kesan klasik namun elegan dan tetap berwibawa. Entah siapa yang merancang desain atap rumah ini pada awalnya. Tidak ada catatan khusus tentang satu hal ini.
Sekilas, rumah ini mirip dengan rumah Gadang di Indonesia. Rumah Gadang sendiri adalah nama untuk rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak di jumpai di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia.
Shun segera keluar dari balik kemudi, disusul kemudian oleh Yoshiro dan dua gadis di bangku belakang. Mereka berempat mengamati kondisi sekitar yang cukup lengang, hanya suara hewan yang terdengar samar-samar di kejauhan.
Seorang pria berpakaian serba hitam, sama seperti mereka berempat, segera mendekat dan menundukkan kepalanya sejenak. Dari wajah dan bentuk matanya, begitu kentara bahwa dia berasal dari Jepang, bukan orang Thailand sama sekali.
"Selamat pagi, Tuan, Nona," sapanya pada empat orang yang jelas-jelas lebih muda darinya. Namun, ia sadar diri bahwa posisinya lebih rendah di sini. Dan waktu memang menunjukkan pukul empat pagi, beberapa jam sebelum matahari terbit di ufuk timur nanti.
"Kenzo yang mengutusmu?" tanya Yoshiro tak yakin. Dia ragu jika pria ini bekerja untuk Si Ayah triplet itu. Yoshiro merasa bahwa dia tidak pernah sekalipun melihat keberadaan pria ini. Pastilah ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Kami berangkat atas perintah Tuan Besar. Beliau ingin Naga Hitam hanya tinggal nama saat matahari terbit pagi ini."
Shun maupun Yoshiro saling pandang. Urusan pembantaian ini bukan lagi berada di dalam kendali Yamazaki Kenzo, melainkan kakek-lah yang akan mempertanggungjawabkannya. Pantas saja semua fasilitas mewah pria itu bisa digunakan tanpa tapi. Seperti keberadaan jet pribadi yang mengantar Yoshiro, Yu, dan Mone datang kemari beberapa jam yang lalu.
"Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan tentang misi ini. Mari ikuti saya." Pria empat puluh tahunan itu naik, melewati satu satu anak tangga yang juga terbuat dari kayu.
Keempat muda mudi itu menurut, tidak memiliki kecurigaan sama sekali. Mereka duduk di lantai kayu ini dan menatap orang-orang kepercayaan kakek Yamazaki.
"Kawasan di sini mayoritas adalah dataran tinggi. Sebagian besar negara ini terdiri dari pegunungan. Sedangkan dataran rendah terdapat pada daerah di dekat aliran sungai Chao Phraya yang mengalir ke teluk Thailand." Pria itu mulai sibuk menjelaskan, jemarinya menggambar peta sederhana di atas meja.
"Dan tempat yang akan kita datangi cukup sulit dijangkau oleh kendaraan. Hutan lebat mengepungnya. Satu-satunya akses yang ada adalah jalan setapak menuju kastil itu." Penjelasan pria tanpa nama itu membuat dua pasang muda-mudi ini bertanya-tanya
"Kastil? Kerajaan?" tanya Mone, tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Benar. Itu adalah bekas istana kerajaan zaman dulu. Sejarah negara Thailand diawali disaat berdirinya Kerajaan Lan Na (1292 – 1775) di Chiang Mai. Kerajaan yang dipimpin oleh Raja Meng Rai menguasai Thailand bagian utara pada saat itu. Di bagian tengah Thailand juga berdiri Kerajaan Ayutthaya (1351 – 1767)."
"Pada abad ke-16 Ayutthaya dikenal sebagai kota terbesar serta paling kaya dan menjadi pusat perdagangan di dunia timur. Raja Narai (1656 – 1688) bahkan menjalin hubungan yang sangat dekat dengan Raja Louis XIV dari Prancis."
"Akan tetapi, pada akhirnya Ayutthaya hancur pada tahun 1767 di saat Kerajaan Burma menaklukkan Chiang Mai serta merampok emas dari kota tersebut. Hal itu membuat istana kerajaan itu tak lagi dipakai. Berpuluh atau bahkan ratusan tahun kemudian, kastil itu menjadi bangunan yang tak terjamah tangan manusia. Hutan lebat mengelilingi bukit tempat bangunan megah itu berada."
"Berhenti mendongeng! Langsung intinya saja!" Shun tak sabar. Dia tidak ingin membuang waktu lagi.
"Baiklah, maafkan saya. Kita tidak bisa masuk melalui pintu utama. Tapi ada lorong bawah tanah yang akan membawa kita pada ruangan tersembunyi yang dulunya digunakan sebagai dapur kerajaan. Dari sana kita baru bisa mencari keberadaan tuan Harada." Pria itu berdiri, mengambil sebuah koper dan membukanya saat itu juga. Setidaknya ada sepuluh buah senjata api AK-47 di tangannya. Dia memberikan dua buah senjata mematikan itu pada masing-masing rekannya.
AK-47 atau Avtomat Kalashnikova 1947 adalah senapan serbu yang diproduksi oleh pembuat senjata Rusia. Senjata ini banyak digunakan oleh negara Blok Timur semasa Perang Dingin. Senapan ini diadopsi dan dijadikan senapan standar Uni Soviet pada tahun 1947. Meski bukan senjata baru, nyatanya fungsinya masih bisa diandalkan untuk bertempur hingga sekarang ini.
AK-47 mempunyai ukuran lebih kecil dibandingkan senjata pendahulunya, dengan jangkauan yang lebih pendek. Senapan ini memakai peluru dengan kaliber 7,62 x 39 mm yang lebih kecil, dan memiliki pilihan tembakan (selective-fire). AK-47 termasuk salah satu senapan serbu pertama dan hingga kini merupakan senapan serbu yang paling banyak diproduksi.
"Setelah kita sampai, saya akan membuka gerbang dan pasukan pembantai kita bisa merangsek masuk. Ada ratusan orang yang berjaga di sana. Takutnya jumlah mereka akan merepotkan kita nantinya."
"Bukankah kamu mengatakan hanya ada tujuh puluh orang di sana?" Yu kesal karena penjelasan orang ini berbeda dari sebelumnya.
"Dua jam yang lalu, ratusan orang datang ke kastil itu. Mereka adalah tukang pukul yang banyak berkeliaran di seantero Thailand. Kita tetap harus hati-hati." Pria Jepang ini kembali mengingatkan.
"Persetan dengan orang-orang itu. Ayo berangkat!" Shun langsung pergi dari ruangan ini, tak lagi mau mendengar dongeng menyebalkan ini.
__ADS_1
Tap
Tap
Shun mulai menuruni anak tangga. Dia mendekat ke arah salah satu kuda yang terikat di pohon. Dia memilih sebuah kuda hitam yang berdiri paling luar di antara kuda yang lainnya.
"HYATT!" Shun menaiki punggung kuda pilihannya dan pergi dari halaman, mengabaikan pandangan rekan-rekannya. Empat orang itu ikut melakukan hal yang sama, menaiki kuda masing-masing dan bergerak cepat menyusul pemimpin mereka dalam misi kali ini. Ya, pria 29 tahun itu berinisiatif sebagai pemimpin mereka. Siap membasmi tuan Harada dan antek-anteknya.
Cukup sepuluh menit saja, kuda yang empat orang ini naiki harus berhenti. Tembok batu setinggi dua meter berdiri menjulang di hadapan mereka. Satu dua sisinya tampak mengelupas, usang termakan usia.
"Tuan, Nona, lewat sini." Pengawal bayangan yang diutus kakek Yamazaki turun dari kudanya dan menunjuk satu lubang berukuran satu meter persegi di dalam tanah.
Hap
Pria itu melompat masuk ke dalam lubang, membawa tubuhnya berada dalam kegelapan. Kali ini dia yang memimpin di depan sementara Shun dan kawan-kawan berjarak beberapa langkah di belakangnya.
Langkah kaki kelima orang itu berderap cepat, menyusuri lorong gelap yang terasa pengap dan bau lumut. Satu-satunya cahaya berasal dari obor kecil yang pengawal bayangan itu pegang.
Krakk
Tak butuh waktu lama, mereka berhasil sampai di sebuah ruangan yang cukup besar. Lampu temaram berpendar di ruangan itu, menerangi seluruh benda dengan cahaya kuning keemasan.
"Lewat sini." Lagi-lagi pengawal bayangan itu memimpin. Hari masih terlalu pagi, pergerakan mereka tak diketahui oleh siapapun. Dia membuang obor kecilnya sembarang dan melanjutkan langkahnya.
Di ujung koridor, tampak dua orang pria bersenjata yang duduk di kursinya. Mereka tengah bermain catur di antara cahaya remang-remang yang ada.
Shun bergerak maju, dia tidak ingin menunda waktu lagi. Misi mereka harus segera selesai. Dia melemparkan sebuah bola kecil berbentuk kelereng ke lantai, membuat gas tidur menguar dari benda mungil itu, detik berikutnya.
"Apa ini?" tanya seorang pria tambun sebelum kepalanya merasa pening. Ia tertidur dua detik kemudian, menempelkan kepalanya di atas meja.
Langkah kaki mereka terhenti di persimpangan, arah kanan adalah pintu masuk utama rumah ini. Sedangkan arah kiri menuju ruangan yang lebih dalam lagi.
"Saya akan membuka pintu gerbang. Kita berpisah di sini." Pengawal bayangan itu pergi tanpa menunggu jawaban dari muda-mudi yang datang bersamanya beberapa menit yang lalu.
Empat orang bermata sipit ini melanjutkan langkah kaki mereka dan akhirnya sampai di sebuah ruangan yang sangat luas. Ini semacam hall yang khusus digunakan saat perjamuan kerajaan.
Dua buah guci besar berdiri menjulang di sisi kanan kiri pintu masuknya, beserta barang-barang mewah lainnya. Ruangan ini terlihat begitu berbeda dibandingkan tampilan luarnya yang tampak seperti kastil tua yang hampir roboh.
Ya, ruangan utama ini telah disulap sedemikian rupa, mengubah dekorasi klasik dan usang yang sebelumnya ada, menjadi tampilan hunian yang modern dan kekinian. Lantainya dilapisi marmer mengilap, tampak elegan dengan dinding putih bersih bak istana raja Inggris. Puluhan lukisan terpampang di dinding membuatnya terlihat semakin berkelas.
Dan yang paling menakjubkan adalah adanya sebuah tembok yang difungsikan sebagai akuarium raksasa. Dari ujung hingga ujung satunya, dari lantai hingga atap. Kotak kaca itu berisikan ribuan ton air, dengan sepuluh ikan hiu yang berenang bebas di sana. Entah bagaimana caranya orang-orang ini membawa hewan buas super besar ini dari tepi pantai. Mungkin dengan menggunakan truk, kontainer, atau bahkan helikopter. Entahlah, bukan saatnya memikirkan hal ini.
Prok prok prok
Sebuah tepukan tangan mengagetkan mereka, berasal dari seorang pria yang duduk di atas kursi roda. Lima pengawal berpakaian preman berdiri di belakangnya. Mereka pastinya tukang pukul yang bertugas untuk mengawal tuan besar Naga Hitam. Ya, dialah pria yang diburu oleh Shun dan rombongannya, yakni tuan Hayato Harada.
"Kalian bergerak begitu cepat. Tidak heran orang tua itu sangat mempercayai kalian." Pujian tuan Harada menggema di seluruh ruangan ini.
Klik
Tuan Harada menjentikkan jari, membuat pintu-pintu di sekelilingnya terbuka. Puluhan orang tukang pukul keluar dari dalam sana dan mengepung empat orang yang tersudut di tengah ruangan. Mone beradu punggung dengan Yu, sedangkan Yoshiro dengan Shun. Pengawal bayangan masih belum juga bergabung, kemungkinan dia juga sedang berjibaku dengan para pengawal yang ditempatkan di depan pintu utama kastil ini. Belum lagi jaraknya yang cukup jauh, pasti memakan waktu lebih untuk mencapai titik itu.
"Kita lihat seberapa jauh kalian bisa bertahan." Tuan Harada tersenyum pongah. "Habisi mereka!" titah tuan Harada membuat para tukang pukul ini bergerak maju.
Baku hantam tak bisa terelakkan lagi. Ratusan orang itu merangsek maju, menyerang dua pria tampan dan dua wanita cantik yang berdiri di tengah ruangan. Dengan gerakan yang super cepat, empat orang ini menarik sepasang katana yang mereka bawa di punggung masing-masing.
__ADS_1
Srett srett
Tak butuh waktu lama, orang-orang mulai tumbang. Empat orang itu berhasil menyasar leher dan tubuh lawan-lawannya. Tubuh mereka tersungkur ke lantai, membuat noda darah banjir dimana-mana.
Darah segar menetes dari delapan ujung katana yang empat orang ini gunakan. Mereka terus menghabisi lawannya tanpa gentar, berharap bisa segera menyingkirkan kerikil ini dan menghabisi target utama mereka, Hayato Harada.
TRANG!
Lapis kedua anggota geng Naga Hitam lebih berbahaya. Mereka tak lagi bertangan kosong, tapi membawa katana dan beberapa membawa tombak.
Srett!
Sapuan pedang di tangan Mone menebas kaki seseorang yang berusaha menyerangnya dengan tombak. Sepersekian detik sebelum ujung senjata itu mengenai dadanya, gadis ini lebih dulu menundukkan badan. Ia berjongkok di lantai dan menyabet tumpuan penyerangnya. Tak butuh waktu lama, pria itu tumbang dengan rasa sakit tak terperikan. Mone memotong kakinya seolah menebas batang pohon yang menghalangi jalannya.
Darah segar muncrat, membuat wajah imutnya bernoda titik-titik merah di beberapa sisi. Dengan punggung tangan, dia menyeka pelipis dan keningnya. Bau amis darah segera bercampur dengan keringat yang membasahi wajahnya. Sepagi ini dia harus berjibaku dengan darah dan keringat, dia harus segera berendam setelah misi ini selesai.
KLANG
Senada dengan Mone, Yu melawan seseorang yang membawa senjata di tangannya. Gadis 23 tahun itu berhasil mengecoh lawannya, membuat pria dengan badan tegap itu terkejut saat pedang di tangannya terlepas. Pria itu menatap katana yang kini tergeletak di lantai.
Takk
Melihat perhatian lawannya sedikit teralihkan, Yu menendang belakang lutut pria ini dan membuatnya terhuyung. Pria ini menggunakan lututnya sebagai tumpuan di lantai.
SRET
Sepersekian detik kemudian kepala pria itu tak lagi ada di tempatnya, menggelinding tepat di sebelah katana miliknya. Hal itu membuat tuan Harada membulatkan matanya. Dia bergidik ngeri menyaksikan betapa kejamnya wanita cantik yang seusia dengan putrinya. Wajahnya terlihat asing, tuan Harada tidak mengenali siapa dua wanita yang tengah bertempur melawan orang-orangnya.
BUK! BUK!
Siku Yoshiro menghantam seorang pria yang bersiap menyerangnya. Dia bergerak cepat, memutari badan lawannya dan mengantam kepala orang itu dengan siku. Dengan kekuatan kaki kanannya, pria bersurai kuning itu menendang punggung lawannya kuat-kuat, membuat tubuhnya terpental cukup jauh. Tak cukup sampai di sana, pria itu menabrak beberapa lawannya yang sedari tadi menunggu giliran menyerang. Katana di tangannya bergerak cepat membantai lawan-lawan lainnya.
Setali tiga uang dengan ketiga rekannya, Shun melompati satu lawannya yang terhuyung ke lantai. Dia menggunakan pria yang tengah meregang nyawa itu sebagai batu pijakan, sebelum melompat ke depan, menyerang lawan-lawannya yang tak kunjung habis. Masih ada dua puluh orang dengan senjata di tangan mereka masing-masing.
Melihat keahlian empat orang tamunya yang luar biasa ini, membuat tuan Harada memutar otak. Dia berpikir cepat, bagaimana menyelamatkan anak buahnya ini. Dengan kondisi tubuhnya yang lemah, tentu saja dia tidak bisa merangsek maju dan melawan empat orang ini.
Mereka benar-benar iblis yang kejam. Jangankan berbelas kasih, raut gentar atau rasa bersalah tak nampak sedikit pun setelah mencabut nyawa musuhnya. Hal itu membuat tuan Harada mengerutkan kening, kenapa empat anak muda ini begitu kejam? Apakah otak mereka telah dicuci oleh Si Tua Yamazaki? Atau mereka memang utusan malaikat pencabut nyawa yang siap membantainya?
Tuan Harada menatap gadis kecil yang kini berada di tengah ruangan, tidak bergerak satu langkah pun dari posisi sebelumnya. Berbeda dengan ketiga rekannya yang terus bergerak menjauh dari titik tengah ruangan, gadis imut dua puluh tahun itu justru tetap ada di tempatnya. Dia membantai musuh-musuhnya tanpa segan, menebas, menusuk, menendang, apapun itu ia lakukan di tempatnya. Dia benar-benar gadis yang luar biasa.
Bulu kuduknya meremang, matanya membulat seketika. Napasnya beradu, dadanya terasa sesak. Dia pernah mendengar tentang kehebatan gadis ini, Black Diamond. Sang Mutiara Hitam yang mungil dan menawan. Tubuh mungilnya begitu kokoh berdiri di satu titik, menghalau ratusan lawannya tanpa bergerak seinchi pun. Dia menguasai teknik bela diri asli Thailand, yakni Muay Thai. Gerakan-gerakan Muay Thai dipusatkan pada tulang siku serta kaki yang mengadaptasi dari gerakan gajah pada saat merasa terancam. Dia tidak akan tumbang dengan mudah.
Tuan Harada harus membuatnya tumbang. Jika tidak, entah berapa ratus orang yang melawannya, semua pasti akan terkalahkan. Benar-benar hebat. Pembantaian ini harus segera diakhiri sebelum orang-orangnya habis.
Pria 55 tahun ini menengadah. Dia menatap lampu kristal bersusun yang tergantung di atas sana dan mendapat ide untuk memusnahkan Black Diamond ini. Dia mengambil pistol di saku dan membidik kristal bercahaya di atas sana.
DOR!
Dengan sekali tembakan, rantai yang menggantung lampu bersusun itu putus, siap menjatuhi gadis 20 tahun yang masih sibuk berjibaku dengan lawan-lawannya ini.
"MONE-CHAN!! AWAS!!"
...****************...
Penasaran gimana keadaan Mone? Bisakah dia menghindar? Masih ada lanjutannya nanti. See you 🤗
__ADS_1
Hanazawa Easzy