Gangster Boy

Gangster Boy
Opening Season 3 : Pulang


__ADS_3

Ken terbangun saat merasakan udara hangat menerpa wajahnya. Tirai putih di sisi kanan ruangan tampak menari-nari tertiup angin beraroma salju. Ia menatap Aira yang masih terlelap dalam mimpinya setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Kepalanya berlabuh di atas dada bidang Ken, membuatnya sedikit geli karena helaian rambut istrinya yang menelisik dagu bagian bawahnya.


Ken tersenyum manis, menurunkan Aira sedikit ke samping dengan hati-hati. Wanita hamil itu kini tidur di atas bantal berwarna krem, warna yang membuat siapa saja merasa damai dan bisa beristirahat dengan lelap. Pria itu menatap wajah tidur istrinya yang terlihat begitu tenang. Aira telah berkorban begitu banyak hal untuknya. Selama ini ia tidak kekurangan apapun, tapi hidupnya terasa hampa.


Sejak Aira datang, ada begitu banyak kejutan yang Tuhan siapkan untuk mereka berdua. Emosi Ken yang tak terkendali selalu membuat Aira terluka, tapi nyatanya wanita itu masih bertahan di sisinya. Ken terharu, ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia ini, melebihi siapapun. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan istrinya ini. Bahkan meskipun ia harus menukar segalanya demi Aira, ia tidak akan keberatan.


Cup


Ken mencium kening istrinya cukup lama. Bunga-bunga di hatinya bermekaran. Ia merasa tidak ada hal lain yang ia inginkan kecuali kebahagiaan Aira itu sendiri. Dan kelak akan ada anak-anak mereka yang akan menambah warna hidup Ken, tidak lagi hitam dan kelabu seperti beberapa tahun yang lalu.


Tok tok tok


Suara ketukan terdengar dari arah pintu, membuat Ken menatap jam digital yang ada di atas nakas. Keningnya sedikit berkerut, tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Jam 11 siang? Itu artinya ia sudah menghabiskan waktu 4 atau lima jam bersama Aira. Mereka bahkan mengabaikan makan pagi bersama yang lainnya.


Ya, Ken masuk ke kamar saat Minami tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Dan karena terlalu sibuk dengan istrinya, Ken lupa pada yang lainnya seolah dunia hanya milik berdua. Dan sekarang hampir tengah hari, itu sebabnya Kosuke memberanikan diri mengetuk pintu kamarnya.


Ken meraih ponsel miliknya dan menghubungi orang yang kini tengah berdiri canggung di luar pintu, Kosuke.


"Ada apa?" tanya Ken begitu mendengar sapaan dari asisten pribadinya itu.


"Maaf, dokter Kaori bilang nona belum makan vitaminnya pagi ini dan sebentar lagi masuk waktu makan siang." ucap Kosuke salah tingkah. Meski tanpa melihat sekalipun, sepertinya ia tahu apa yang membuat tuan dan nonanya tertahan di dalam kamar selama berjam-jam.


"Dia masih tidur." jawab Ken datar. Ia mengelus rambut hitam Aira, membuat wanita hamil itu melakukan pergerakan kecil seperti seekor kucing yang merasa tidurnya sedikit terusik oleh tuannya.


"Ano..." Kosuke menelan ludahnya, urung berucap saat dugaannya tak terbantahkan lagi.


(Mm/Itu...)


"Apa?" tanya Ken sambil tersenyum, "Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Bukankah kamu juga biasa melakukannya bersama Minami?" tanya Ken.


Wajah Kosuke memerah. Ia tidak menyangka Ken akan menanyakan hal tidak masuk akal seperti ini. Tuannya yang dingin dan tak berperasaan, sekarang menjadi pria penuh cinta yang melankolis, aneh. Benar-benar aneh.


"Kosuke, ambil cuti dan bawa Minami liburan setelah kita kembali ke Jepang. Lebih cepat ia hamil, lebih baik. Aku senang jika anak-anak kita bisa bermain bersama kelak." ucap Ken.


Tut tut tut

__ADS_1


Kosuke mematung di tempatnya berdiri. Ia bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun atas perintah yang tuannya berikan.


Apa kemarin saat di kediaman Takeshi, Ken menghantam sesuatu? Atau dia berkepribadian ganda? Sejak kapan pria itu mempedulikan hal remeh temeh seperti itu?


"Ada apa?" tanya Minami. Ia heran melihat suaminya yang kini terlihat sangat aneh, "Apa tuan muda memecatmu karena mengganggu waktu istirahat mereka?"


Kosuke menggeleng lemah. Ia memeluk Minami dengan sangat erat.


"Ada apa?" Minami merasa suaminya semakin aneh.


"Tuan muda menyuruh kita membuat bayi secepatnya." jawab Kosuke dengan mata berbinar.


"Hah?" Minami membulatkan matanya. Ia tidak mengerti apa yang suaminya katakan barusan. Membuat bayi?


Kosuke menarik istrinya menjauh dari tempat itu. Sebagai pekerja yang baik, ia akan melaksanakan perintah tuannya sesegera mungkin. Sepertinya semboyan lebih cepat lebih baik akan menjadi andalannya selama bekerja dengan Ken.


...****************...


-Kamar Ken dan Aira-


Cup


"Ken?" ucap Aira dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia menatap suaminya yang tengah mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya.


"Tidur nyenyak?" tanya Ken seraya menggosokkan kain berwarna putih itu di atas kepalanya, menyerap air yang menempel di surai hitam miliknya.


Aira menutup matanya dengan tangan, merasa malu atas tingkahnya sendiri pada Ken beberapa jam yang lalu. Bagaimana bisa ia bertindak agresif saat Ken memutuskan menyerah? Untuk apa ia memeluk suaminya itu lebih dulu? Bukankah seharusnya ia membiarkan Ken pergi dari hadapannya? Dengan begitu ia tidak akan kelelahan dan tertidur seperti sekarang.


'Apa aku gila?' batin Aira meronta. Logikanya seolah memarahinya yang bersikap konyol dan berakhir dengan menghabiskan waktu dengan Ken, memenuhi nafkah batin suaminya. Padahal sudah jelas dokter mengatakan jika sebaiknya mereka menjaga jarak hingga kondisinya benar-benar pulih.


Aira menyembunyikan wajahnya dengan bantal. Berharap bisa memutar kembali waktu dan mencegah tingkah anehnya yang mencium Ken lebih dulu. Bahkan ia harus berjinjit karena perbedaan fisik mereka yang cukup jauh.


'Memalukan sekali.' ucap Aira dalam hati.


"Aku sudah siapkan air hangat untukmu. Bersihkan badanmu. Kita akan pergi 30 menit lagi." ucap Ken sambil memakai baju yang ia ambil dari dalam lemari di depannya.

__ADS_1


"Pergi? Kemana?" tanya Aira linglung. Ia tidak ingat memiliki janji dengan Ken untuk pergi ke suatu tempat.


Ken tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya. Ia bersedekap dan menyandarkan badannya ke dinding di sebelah pintu masuk kamar mandi, bersiap menyaksikan drama istrinya yang panik setelah mendengar jawabannya.


"Pulang."


Aira membulatkan matanya. Ia segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Kenapa tidak membangunkanku lebih awal? 30 menit hanya cukup untuk mandi, tidak ada waktu untuk mengeringkan rambut, memilih pakaian, dan makan. Aku kelaparan karena menuruti keinginanmu. Bagaimana jika kita terlambat datang ke bandara dan pesawatnya sudah lepas landas? Aku tidak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab jika hal itu terjadi." gerutuan panjang itu ke luar dari mulut Aira tanpa bisa dihentikan.


Ken berdiri di depan pintu, menghalangi tubuh Aira yang bersiap masuk ke kamar mandi, "Aku akan bertanggungjawab padamu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Apa itu belum cukup, sayang?" tanyanya sengaja menggoda Aira yang sedang panik.


"Ishh, menyingkir dari hadapanku." Aira berusaha menarik Ken agar tidak menghalangi jalannya lagi. Ia tidak punya banyak waktu dan suaminya itu ingin bermain-main dengannya?


"Kamu terlihat begitu terburu-buru. Butuh bantuanku?" goda Ken setelah sedikit menarik badannya ke samping, menciptakan celah yang langsung diterobos oleh Aira.


"Tidak sama sekali. Urus dirimu sendiri!!" jawab Aira ketus.


BRAKK


Pintu kayu bercat putih itu tertutup dengan sedikit keras membuat Ken tersenyum semakin lebar. Menggoda istrinya nampaknya akan menjadi rutinitas baru yang cukup menyenangkan untuknya.


"Ah, aku melupakan sesuatu." Ken berlalu dari kamarnya menuju dapur. Senyumnya semakin lebar saat mendapati ada berbagai buah-buahan segar di dalam lemari pendingin di depannya. Ia akan membuatkan salad buah kesukaan istrinya.


"Aku iri padamu. Seberapa menyenangkan menjadi suaminya? Bisakah kamu membagi sedikit kebahagiaannya padaku?"


Ken berbalik dan menatap seseorang yang kini berdiri di hadapannya. Matanya membulat menatap pria yang tampak kacau itu.


...****************...


Weeeehhhh.... Kira-kira siapa nih yang pengen ambil Aira dari Ken? Coba tebak. Tulis di kolom komentar yaa, author juga penasaran 😉


With love,


Hanazawa easzy 💜

__ADS_1


__ADS_2