Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Menggila


__ADS_3

Berita tentang ledakan yang terjadi di bagian utara pegunungan Ural menghebohkan banyak pihak. Beberapa reporter televisi meliput langsung ke lokasi kejadian. Mereka mempertanyakan kronologis kejadian yang membuat gedung tua itu terbakar habis. Ledakan itu tak bisa disembunyikan lagi karena terdengar dari jarak beberapa puluh kilometer.


Sebuah artikel berita online bahkan menayangkan foto-foto tempat itu sebelum terbakar dimana ada ribuan senjata api yang tertata rapi di tempatnya masing-masing. Hal itu membuat publik heboh dan mulai mempertanyakan kepemilikan gudang itu. Meskipun penggunaan senjata di legalkan di Eropa khususnya Rusia, namun hingga berita ini diturunkan tidak ada pihak yang mengklaim kepemilikan 5670 senjata api yang sudah hangus terbakar itu.


"SIAL!!" Takeshi kembali meradang. Ia menendang apa saja yang ada di depannya dengan emosi. Tak terhitung lagi berapa barang yang rusak sejak semalam hingga pagi ini. Kekacauan ini membuatnya menggila.


"Sayang, tenangkan dirimu." pinta Anna bergegas masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Ruangan itu hancur berantakan seperti diterjang badai maysak seperti yang menerjang Rusia sebulan yang lalu.


Anna menyerahkan segelas air putih untuk suaminya yang kini duduk di sofa. Nafas pria itu masih memburu setelah menghancurkan barang-barang miliknya.


"Dimana Mone?" tanya Takeshi setelah emosinya sedikit mereda.


"Dia masih ada di kamarnya." jawab Anna seraya menyeka keringat di dahi suaminya dengan tisu.


"Katakan padanya untuk menemuiku sepuluh menit lagi." ucap Takeshi sambil beranjak pergi. Ia melangkah menuju balkon rumahnya. Dari sana ia bisa melihat halaman depan rumahnya yang luas kini tertutup salju sepenuhnya. Rumput hijau yang menyelimuti tanah tak lagi terlihat, berganti dengan warna yang seringkali dinilai suci oleh banyak orang. Ya, selain tinggal di apartemen, keluarga kecil itu sering menghabiskan waktu di rumah pribadi mereka seperti sekarang ini.


"Daddy memanggilku?" tanya Mone yang kini berdiri si samping Anna. Wanita Rusia itu bahkan mengalungkan tangannya di pinggang Mone. Ia tidak ingin putrinya menghadap Takeshi sendirian saat pria itu sedang dilanda emosi hingga ke ubun-ubunnya.


Takeshi melepaskan pegangan tangannya pada besi berulir di depannya. Ia menghembuskan nafas panjangnya, menandakan ada satu beban tersendiri terkait apa yang akan ia katakan.


"Hentikan pemotretan dengan orang-orang itu." pinta Takeshi tanpa berbalik.


Mone diam. Ia bisa menduga apa yang dipikirkan oleh ayah angkatnya sekarang. Hal itu pasti berhubungan dengan ledakan yang terjadi semalam.


"Ada apa sayang?" Anna melepaskan tangannya di lengan Mone dan beranjak mendekati suaminya. Jemari lentiknya menangkup wajah dengan jambang tipis itu, meminta mereka untuk berhadapan, "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Anna perhatian.


"Atur pembatalan kontrak dengan orang-orang Jepang itu. Tidak peduli berapa biaya yang mereka minta, aku akan membayarnya asalkan Mone tidak perlu bertemu dengan mereka." Takeshi menatap Anna dengan tajam, sama sekali tak ada raut bercanda di wajahnya. Apa yang ia katakan benar-benar hal yang harus dilakukan, tak bisa dibantah.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba? Bukankah kamu setuju sebelumnya saat aku memperlihatkan kontrak kerjasama antara Mone dan Miracle. Tidak ada hubungannya antara kerjasama Mone dengan peristiwa ledakan semalam. Aku yakin itu. Jadi jangan..." ucapan Anna terhenti saat mendapati ekspresi menakutkan yang Takeshi tunjukkan. Tatapan tajamnya menyiratkan bahwa Anna tak perlu membantah perintahnya.


"Mom... Bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Mone hati-hati. Ia mengusir ibunya secara halus, tidak ingin wanita itu tersinggung.


Anna tampak tidak rela, namun anggukan Mone membuatnya harus mengalah. Mone dan Takeshi sama saja, mereka memiliki tatapan membunuh yang tidak bisa dielakkan oleh Anna.


"Aku akan siapkan sarapan untuk kalian." ucap Anna pada akhirnya. Ia undur diri setelah mengecup pipi Mone dengan sayang. Berharap putrinya itu bisa meredam kemarahan Takeshi.


"Paman, apa yang mengganggu pikiranmu? Kenapa tiba-tiba memintaku berhenti?" tanya Mone setelah berdiri berhadapan dengan Takeshi. Sebelumnya ia memastikan jika pembicaraan mereka tidak akan didengar oleh siapapun, termasuk Anna.


"Ada pengkhianat di organisasi kita." ucapnya lirih. Ia mengalihkan pandangan kembali ke depan, "Tapi ia begitu cerdik menyembunyikan diri."


"Bisa katakan detailnya?" pinta Mone.


"Ledakan itu bukan ulah Yamazaki Kenzo ataupun istrinya. Ada orang lain yang menyusup dan membuat ledakan itu seolah kesalahan Ken." ucap Takeshi sambil mengambil rokok dari saku jas yang melekat di tubuhnya.


Takeshi mengangguk. Ia menghembuskan asap putih dari mulutnya ke udara sebelum kembali menghisap benda putih yang terselip di jarinya.


"Siapa?" tanya Mone kemudian.


"Aku tidak tahu. Mark tidak bisa menemukan orang itu. Semua anggota organisasi juga tidak ada yang mencurigakan. Semuanya lolos saat pemeriksaan sidik jari dini hari tadi."


"Maksud paman, mereka semua patut dicurigai?"


Lagi-lagi Takeshi hanya mengangguk. Pikirannya bercabang begitu banyak, membuatnya enggan berbicara sebelum menemukan jawaban siapa yang tengah mencari masalah dengannya.


"Lalu, apa hubungannya dengan kontrak kerjasama dengan Miracle? Aku masih harus pergi mengambil gambar pagi ini, lagi pula aku juga masih harus bertemu dengan Aira dan mengambil sampel DNA darinya." terang Mone.

__ADS_1


"Aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu. Meskipun tidak ada bukti bahwa Ken yang datang memasang bom, tapi Mark mengatakan bahwa mereka orang Asia berkulit putih dengan mata yang tajam. Saat Aira datang ke rumah, saat itu juga seseorang mengacau dan menanam bom di gudang senjata milik kita. Bukankah pria bernama Kosuke itu pergi lebih dulu?"


"Dia datang menemui PD Simon di restoran yang ada di lantai bawah. Aku yakin ini tidak ada hubungannya dengan mereka berdua." ucap Mone meyakinkan ayah angkatnya.


"Paman, aku akan lebih berhati-hati. Jadi tolong biarkan aku pergi menyelesaikan pekerjaanku dan mengambil sampel DNA Aira. Aku harus meyakinkan diriku sendiri, dia saudaraku atau bukan." pinta Mone. Ia bahkan menunduk dalam untuk mendapat izin dari Takeshi Kaneshiro.


"Pergilah." ucap Takeshi pada akhirnya, "Bawa ini."



Sebuah senjata api dan pisau lipat terulur di tangannya. Mone menatap Takeshi dengan heran, selama ini ayah angkatnya itu tidak memperbolehkan Mone membawa senjata kemana pun. Tapi kali ini, ia justru memberikannya secara langsung padanya? Apa memang situasinya seburuk itu sekarang?


"Simpan ini. Gunakan saat kamu benar-benar terdesak." perintah Takeshi.


Mone langsung mengambil senjata dengan perpaduan warna hijau dan hitam itu. Ia menelan ludahnya dengan paksa, mencoba menata hatinya. Ia harus bersiap dengan segala kemungkinan yang ada, penyerangan atau penculikan misalnya. Entah apapun itu, ia harus bisa melindungi dirinya sendiri.


Mone bergegas pergi ke tempat pemotretan tanpa Anna. Takeshi sengaja mencegah istrinya pergi, atau ia akan shock saat melihat Mone memakai senjata berbahaya itu. Yang Anna tahu, Mone adalah gadis manis yang selalu menurutinya. Bukan utusan malaikat pencabut nyawa yang siap menembakkan timah panas pada siapa saja yang membahayakan nyawanya. Juga jangan ragukan kelihaiannya saat menggunakan belati. Ia tahu titik mana saja yang bisa diserang untuk melumpuhkan mangsanya.


Mone layaknya sebuah koin. Ia memiliki sisi yang tersembunyi saat sisi lain sedang ia tunjukkan. Begitulah yang Takeshi ajarkan padanya sejak awal.


Pemotretan berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Dan kini ia duduk di sebuah restoran menantikan kedatangan Aira. Mereka memiliki janji temu untuk makan bersama siang ini.


*******


See you next day,


Hanazawa easzy

__ADS_1


__ADS_2