
"Ken, sepertinya kamu melupakan sesuatu."
"Apa?" tanya Ken.
"Ada sambal?" lirih Aira tapi masih bisa tertangkap oleh indera pendengaran suaminya.
"HAH?"
Gerakan tangan Ken yang tengah memotong daging ayam berbumbu itu terhenti. Ia menatap wajah bulat istrinya yang sedang menunjukkan deretan giginya.
Bagaimana mungkin seorang wanita yang baru melahirkan seminggu yang lalu, minta sambal saat makan? Apa dia salah makan obat sebelumnya?
Ken menempelkan punggung tangannya di dahi Aira, memeriksa kemungkinan istrinya demam sampai mengigau minta sambal saat makan. Sebenarnya bagi orang Asia, Indonesia khususnya, makanan pedas bisa diibaratkan adalah sahabat kental. Rasanya ada yang kurang jika tidak ada sensasi rasa pedas di lidah dalam menu makanan sehari-hari.
"Kamu mau sambal?" selidik Ken penuh tanda tanya. Keningnya berkerut dalam, siap mendengar jawaban istrinya yang mungkin akan membuatnya menepuk jidat.
"Boleh?"
"Boleh," jawab Ken sembari meneruskan kesibukannya memotong daging ayam tanpa tulang di depannya.
"Hontou?" tanya Aira dengan mata berbinar.
(Sungguh?)
"Hem, enam bulan lagi."
Jawaban Ken seketika membuat raut wajah Aira berubah. Ia memajukan bibirnya, membuatnya terlihat seperti sebuah karakter animasi jaman dulu.
Aira mulai mengambil sendok di samping mangkuk, bersiap menyuapi mulutnya sendiri dengan nasi. Ia kesal karena Ken tidak menuruti keinginannya.
Takk
Ken menahan gerakan Aira dengan sumpit di tangannya, kemudian berkata, "Suapi aku!" titahnya otoriter.
Aira diam saja. Ia menyingkirkan sumpit Ken dengan tangan kirinya dan bersiap makan sendiri. Ia sudah membuka mulutnya, dua detik sebelum nasi berwarna putih itu sampai ke mulutnya.
__ADS_1
Srett
Ken menarik nampan di depannya menjauh dari Aira, membuat Aira semakin kesal. Hal itu tentu saja membuat Aira urung memakan makanan yang terhenti di depan mulut. Mulutnya terkatup rapat dan memutar bola matanya, jengah dengan sikap Ken yang masih sama, pemaksa dan semaunya sendiri.
"Sudahlah. Kamu makan saja sendiri. Aku tidak lapar," tukas Aira kesal.
Ia beranjak bangun dari duduknya dan pergi dari sana, menuju ranjang berukuran king size yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berada. Ia menyembunyikan dirinya di balik selimut berwarna abu-abu dengan rapat, tak terlihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia seperti anak kecil yang jengkel karena tidak boleh makan sesuatu oleh ibunya.
Perlahan air matanya menganak sungai, membasahi bantal putih yang menjadi sandaran kepalanya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan agar isak tangisnya tak terdengar. Tapi, bagaimana pun juga, deru napasnya yang tak beraturan tak bisa ia sembunyikan.
Ken meletakkan sumpit di tangannya dan menutup mata. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba berpikir lebih jernih dengan kepala dingin. Ia sudah membuat Aira urung makan, bahkan wanitanya itu kini sedang menangis di balik selimut. Hal itu membuat Ken mengingat penjelasan dokter Tsukushi kemarin.
FLASHBACK
"Depresi postpartum (postpartum depression) adalah jenis depresi yang terjadi setelah melahirkan. Karena gejala yang dirasakan mirip, kondisi ini kerap dianggap sama dengan baby blues syndrome. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda." Dokter Tsukushi berdiri di samping ranjang, menatap Aira dan Ken yang ada di depannya. Ia batu saja selesai memeriksa kondisi Aira dan mengizinkannya pulang besok.
"Baik depresi postpartum maupun baby blues dapat muncul pada minggu-minggu awal setelah melahirkan. Perbedaannya adalah pada berapa lama gejala berlangsung.
Baby blues biasanya berlangsung selama 2 minggu hingga akhirnya mereda dengan sendirinya. Sedangkan depresi postpartum bisa berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, dan gejalanya tidak akan mereda sendiri tanpa pengobatan."
"Kenapa itu bisa terjadi, Dok?" tanya Ken ingin tahu.
Aira menyimak penjelasan dokter berkacamata itu dengan seksama. Ini ilmu baru baginya.
"Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh istri Anda akan menurun drastis. Penurunan hormon inilah yang memicu terjadinya perubahan suasana hati dan kondisi emosional yang tidak stabil. Selain itu, seringkali ibu akan merasa depresi karena kondisi psikologisnya sendiri."
"Tekanan yang dirasakan istri Anda karena harus memikul beban dan tanggung jawab sebagai ibu tentu akan menyebabkannya stres. Ditambah rasa lelah karena baru saja melahirkan, hal ini bisa menyebabkan seorang ibu muda rentan terkena depresi postpartum."
"Apa itu bisa terjadi kapan saja, Dok?"
"Gejala depresi postpartum biasanya muncul dalam beberapa minggu setelah melahirkan, namun ada juga wanita yang baru menunjukkan gejala depresi setelah beberapa bulan atau bahkan satu tahun pasca melahirkan."
"Satu tahun?" Aira kembali bersuara, heran dengan penjelasan dokter senior ini. Tangannya sibuk menimang buah hatinya, si Sulung, Akari.
"Benar. Ada beberapa gejala seorang ibu mengalami depresi postpartum antara lain tidak memiliki hasrat untuk melakukan aktivitas sehari-hari, emosi tidak terkendali dan mudah berubah, misalnya jadi cepat murung, sedih, menangis, atau marah."
__ADS_1
"Selain itu, ibu biasanya akan mengalami sulit tidur dan perubahan nafsu makan menurun atau justru semakin meningkat pesat. Atau gejala yang tidak begiyu kentara adalah mereka sulit konsentrasi dan mudah lupa."
"Bahkan beberapa ibu merasa kesulitan atau enggan untuk merawat dan berinteraksi dengan Si Kecil. Mereka merasa bersalah, tidak berharga, atau tidak pantas menjadi ibu. Muncul pemikiran untuk menyakiti diri sendiri atau Si Kecil. Jika semakin berat, dalam beberapa kasus, seorang ibu bahkan mungkin akan memiliki pemikiran untuk bunuh diri."
Ken dan Aira saling pandang, terkejut dengan penjelasan yang disampaikan oleh sahabat ibu mereka itu.
"Apa yang harus saya lakukan jika itu terjadi?" Ken tampak khawatir kalau-kalau istrinya akan mengalamai hal itu, terlebih mereka memiliki tiga bayi sekaligus yang pasti akan menguras hati dan pikiran istrinya.
"Jika istri Anda menunjukkan gejala-gejala depresi postpartum, usahakan untuk selalu mendampingi dan memberikan dukungan emosional padanya. Peran Anda sangat penting untuk mempercepat pemulihan kondisinya."
"Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan saat istri Anda mengalami depresi postpartum. Pertama, bersabar dan berusaha untuk memahami kondisinya. Sempatkan waktu, usahakan selalu ada untuknya agar ia merasa terdukung dan tidak memendam perasaan negatif tersebut seorang diri. Yang kedua, bantu dia agar dapat merawat dan menjaga kesehatannya sendiri, misalnya dengan membuatkan makanan yang bergizi untuknya."
"Langkah ketiga adalah bantulah istri Anda mengurus Si Kecil yang baru lahir dan melakukan pekerjaan rumah agar ia memiliki waktu untuk beristirahat. Jika merasa kewalahan, Anda selalu bisa meminta bantuan teman atau kerabat dekat untuk meringankan pekerjaan di rumah. Selain itu, jadilah pendengar yang baik jika dia mengutarakan perasaannya. Usahakan untuk mendengarkan apa yang ia ungkapkan dengan empati dan tidak menghakiminya."
"Kuncinya, perhatian, dukungan, dan kasih sayang dari orang-orang sekitar, dalam hal ini suaminya, merupakan obat terbaik agar istri Anda dapat melalui masa-masa sulit ini."
(sumber : www.alodokter.com)
FLASHBACK END
Ken menyadari kesalahannya. Ia mendekat ke arah istrinya, ikut naik ke ranjang dan memeluknya dari belakang. Ia tidak membuka selimut itu sama sekali, membiarkan istrinya bersembunyi, melampiaskan emosinya, namun tetap mendampinginya.
Cup
"Gomen ne," ucap Ken lirih setelah mencium kepala Aira. Satu tangannya ia gunakan untuk memeluk pinggang istrinya, sedangkan tangan yang lain sibuk mengelus puncak kepala wanita itu di balik selimut beludru yang lembut.
(Maaf ya)
Ken tidak meminta istrinya berhenti menangis. Ia hanya perlu mendampinginya sampai kondisinya membaik. Entah itu depresi postpartum, baby blues, atau hanya karena perasaan sensitif, Ken akan tetap mendampingi Aira, apapun yang terjadi.
...****************...
Ilmu baru lagi 🤗💃
Masih ada lanjutannya kok. Semoga bisa crazy up dua atau tiga episode yaa 😉
__ADS_1
See you,
Hanazawa Easzy