Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Pergulatan Batin


__ADS_3

Tok tok tok


"KAK AIRA, AKU DISINI..." teriak Mone setelah mengetuk kaca mobil yang berwarna hitam di depannya. Ia menyunggingkan senyum terbaiknya, berharap wanita yang di dalam sana mempedulikannya. Entah itu sekadar membuka kaca, atau lebih baik lagi jika wanita berjilbab itu langsung keluar menemuinya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aira setelah keduanya berpelukan. Ia langsung keluar setelah mencium pipi suaminya.


Dan disinilah keduanya sekarang, sebuah restoran Indonesia yang ada di Jepang bernama SuraBaya Indonesian Restaurant. Kebanyakan restoran khas Indonesia dapat dengan mudah dijumpai di ibu kota Jepang ini dan kota-kota besar lain.


Ini adalah restoran yang paling terkenal di Tokyo. Mengambil judul SuraBaya, tentu saja restoran ini menyajikan menu dengan cita rasa khas Jawa Timur. Menu-menu seperti gulai, sate, gado-gado, tumis kangkung, telur ceplok hingga nasi goreng semuanya tersedia. Rasanya juga tidak perlu diragukan lagi. Tempat yang rapi dan memiliki interior yang elegan membuat resto ini digemari oleh orang Jepang hingga orang China.


Restoran ini terletak di Aqua City Odaiba, Tokyo. Tempat makan yang menyajikan masakan Indonesia ini memiliki beberapa cabang. Jadi tidak terlalu sulit menemukan restoran SuraBaya di Jepang.


"Kak..." panggil Mone saat keduanya sudah duduk di kursi, saling berhadapan.


"Hmm?" gumam Aira sambil melihat buku menu yang ada di depannya. Ia memilih-milih makanan apa yang akan menjadi hidangan santap siangnya kali ini.


"Apa kakak ipar marah?" tanyanya hati-hati.


"Sedikit." jawab Aira sambil tersenyum. Ia menatap Mone sekilas sebelum kembali memperhatikan gambar makanan di depannya. Ia memilih rawon, salah satu makanan favoritnya. Rawon adalah masakan Indonesia berupa sup daging berkuah hitam dengan campuran bumbu khas yang menggunakan kluwek. Meskipun familiar sebagai masakan khas Jawa Timur, namun hidangan ini dikenal pula oleh masyarakat Jawa Tengah sebelah timur.


"Apa itu tidak masalah? Mungkinkah dia akan menghukummu?" Mone khawatir Ken akan menyakiti kakak sepupunya.


"Tidak akan. Dokter meminta Ken untuk memanjakanku, dia tidak akan menghukumku. Bahkan meskipun dia memberikan hukuman, pasti bukanlah sesuatu yang menyakitkan." jawab Aira. Ia menyerahkan buku menu itu pada Mone, memintanya memilih menu yang akan mereka pesan, "Mau makan apa?" tanya Aira.


"Samakan saja dengan kakak." jawabnya singkat, mengembalikan buku menu itu pada seorang pramusaji yang memiliki wajah khas Indonesia. Terlebih kulitnya yang berwarna sawo matang, semakin menunjukkan jika ia berasal dari daerah yang sama dengan Aira.


"2 paket nasi rawon mba." ucap Aira pada wanita bernama Nina, terlihat dari name tag yang melekat di dadanya. Ia mencatat pesanan itu dengan segera.


"Minumnya mbak?" tanya Nina, menatap Aira dan Mone bergantian. Logat Jawa Timurnya tidak bisa ia sembunyikan, membuat Aira tersenyum.


"Teh hangat saja." jawab Aira, "Mba asli Jawa Timur?" tebak Aira. Ia bertanya dengan bahasa Indonesia membuat Mone mengerutkan keningnya.


"Betul. Mbak sendiri?" Nina terlihat antusias menanggapi pertanyaan pelanggannya ini.


"Saya Jakarta, tapi ibu asli Bandung."


"Oh Bandung tho? Orang sana terkenal cantik-cantik yo mbak," celoteh gadis dengan apron di pinggangnya itu. Ia segera pergi setelah menundukkan kepalanya.


Aira hanya tersenyum mendengar pujian Nina. Sudah menjadi rahasia umum jika mojang priangan memiliki paras yang cantik.


*Mojang priangan berasal dari bahasa Sunda. Mojang berarti wanita, priangan menunjukkan wilayah priangan (Jawa Barat). Jadi, mojang priangan adalah wanita yang berasal dari daerah Jawa Barat yang notabene merupakan daerah sunda. Dan, refernya lebih ke daerah Bandung.


"Dia orang Indonesia?" tanya Mone.


"Benar."


"Ooh.." Mone menganggukkan kepalanya dua kali.


Keduanya diam beberapa saat. Aira berkutat dengan ponselnya guna mengirim pesan pada Ken, sedangkan Mone menatap sekeliling ruangan ini. Terasa sedikit asing. Ini pertama kalinya ia masuk ke restoran asing di Jepang. Selama ini ia tinggal di asrama sekolah jadi tidak ada waktu untuk pergi keluar.

__ADS_1


Dekorasi ruangan ini terasa hangat, membuatnya bertanya-tanya seperti apa tempat kelahiran ibu kandungnya di Indonesia. Apa orang-orang di sana ramah dan menyenangkan seperti Aira?


"Mone-chan, apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Aira. Ia heran karena Mone tiba-tiba muncul di luar mobilnya beberapa saat yang lalu.


"Taraaa...." Mone berdiri memamerkan seragam barunya yang berwarna serba putih.


"Kamu..."


"Aku relawan di sebelah rumah sakit tempat kakak check up tadi."


"Relawan?" tanya Aira heran.


"Hmm. Aku bekerja di panti jompo sejak sebulan yang lalu. Kakak ipar ingin membuatku sibuk agar tidak mengganggumu. Awalnya dia berniat mengaturku agar masuk kedokteran, tapi aku menolaknya. Ada hal lain yang ingin aku lakukan. Menghabiskan waktu dengan mereka membuat hidupku lebih berharga." Mone berucap sambil menatap butiran salju di luar.


Ia mengingat mendiang ayahnya. Dengan merawat para lansia, ia merasa sedang merawat ayah, ibu atau bahkan kakek neneknya. Itu merupakan hiburan tersendiri untuk Mone yang merindukan kasih sayang dari keluarganya.


Aira tersenyum bangga mendengar penuturan adiknya. Meski baru bertemu beberapa kali, ia tahu jika gadis di depannya ini memiliki pendirian yang kuat. Bahkan Ken saja sampai menyerah dengan rencananya. Jika Mone tidak bersikeras dengan keinginannya, sudah pasti pengaturan Ken takkan terbantahkan. Mone dan Ken pasti berdebat kala itu, sayang sekali Aira tidak menyaksikannya.


Makan siang Aira dan Mone selesai 30 menit kemudian. Cuaca yang dingin tidak baik untuk kesehatan membuat keduanya segera pulang ke apartemen Aira.


Mone tidur tertelungkup di atas kasur tipis berbulu yang ada di ruang tengah. Ia sedang asik melihat-lihat album foto milik Ken dan Aira.


"Kamu terlihat sangat kurus kak," celoteh Mone saat melihat foto yang diambil setelah makan bersama ayah dan ibu Ken.


"Itu pertama kalinya aku bertemu dengan ayah dan ibu. Kami makan bersama, termasuk kedua adik Ken juga ikut ke Indonesia. Mereka penasaran seperti apa calon menantu keluarga Yamazaki." Aira berucap sambil meletakkan puding buah di depan Mone dan dua gelas coklat hangat.


"Dia pasti memaksamu menyetujui pernikahan ini, benar kan?" tanya Mone. Ia jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Ken.


"Aku dengar dia pernah mencambuk kakak. Apa itu benar?"


Aira sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan adiknya. Seharusnya Mone tidak mengetahui hal ini. Kejadian itu sudah cukup lama berlalu, pasti seseorang yang sengaja memberitahunya.


"Kenapa kakak harus bertahan dengan orang seperti itu? Dia itu angkuh, sombong, besar kepala, pemaksa. Apa yang menarik dari seseorang yang seperti itu?" tanya Mone sambil membuka lembaran album di depannya dengan kasar. Kebenciannya pada Ken sudah tak tertahankan.


Hening


Aira memilih diam. Ia tidak ingin menyanggah pernyataan adiknya, karena kenyataannya Ken memang memiliki sifat itu. Bahkan meskipun sekarang ia sangat baik dan memanjakan Aira, bukan berarti monster di dalam dirinya tidak ada lagi. Tidak. Bukan begitu. Aira sadar, monster buas yang selalu muncul saat Ken gelap mata masih bersemayam dalam tubuh suaminya. Hanya saja, Ken bisa mengendalikan dirinya belakangan ini.


"Kak... Kakak..." panggil Mone sambil melambaikan tangannya di depan wajah Aira yang sedang melamun.


"Ya?" jawab Aira setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya kembali.


"Apa kakak tidak bahagia?" tanya Mone sembari mendekat ke arah Aira, menggenggam jemarinya yang mulai sedikit berisi dengan erat. Ia ingin Aira membagi masalahnya. Ia sudah cukup dewasa untuk menilai ekspresi Aira yang tidak menyanggah pernyataannya, itu artinya dalam hati kecilnya Aira juga mengiyakan kata-katanya barusan kan?


Mone memeluk Aira. Ia menepuk punggung wanita hamil itu perlahan sebelum kembali menatap matanya dengan intens.


"Apa kakak tidak mencintai kakak ipar? Aku janji tidak akan mengatakannya pada siapapun. Aku hanya ingin tahu perasaan kakak yang sebenarnya." bujuk Mone.


"Apa yang kamu katakan?" Aira melepas genggaman tangan Mone dan mulai meminum coklat hangat yang ia buat beberapa menit yang lalu. Terjadi pergulatan batin di dalam hatinya.

__ADS_1


"Kak..." panggil Mone. Ia khawatir Aira hanya berusaha menutupi perasaannya. Ia melihat dengan jelas jemari Aira yang sedikit bergetar saat mengangkat gelas, itu artinya Aira tengah menyembunyikan sesuatu. Ia sedang membohongi dirinya sendiri.


"Minumlah selagi hangat." ucap Aira berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia sudah menghabiskan coklat hangat itu sampai tetes terakhir.


"Apa kakak ingin berpisah dengan kakak ipar?"


Deg


Jantung Aira seolah tertohok sangat dalam saat mendengar pertanyaan Mone yang begitu frontal. Jarinya bergetar semakin hebat, tak bisa menyembunyikan hati kecilnya yang semakin memberontak.


"Kak..."


PRANGG


Gelas di tangan Aira jatuh saat berusaha ia letakkan di meja, membuat gelas kaca panjang yang menjadi wadah minuman itu kini hancur berkeping-keping.


"Mone-chan, pulanglah. Aku ingin istirahat." usir Aira. Ia beranjak berdiri, "Tolong jaga ucapanmu. Jangan sampai itu menjadi bumerang yang akan melukai dirimu sendiri di masa depan."


Aira berjalan menjauh dari Mone setelah menyampaikan sepotong nasehatnya. Ia terhenti setelah 2 langkah, "Kirim pesan padaku setelah kamu sampai di rumah. Selamat tinggal. Aku tidak akan mengantarmu." ucap Aira tanpa berbalik. Bagaimanapun juga ia harus memastikan Mone sampai di rumah dengan selamat.


"Kenapa kakak harus menyembunyikannya dariku? Apa kakak masih berpikir aku adalah orang asing? Aku adikmu." Mone menahan Aira. Ia berdiri menghadangnya dengan tangan terbentang ke kanan kiri, "Apa yang kakak rasakan, aku berhak tahu. Kakak bahagia atau tidak, aku juga berhak memastikannya agar kakak tidak terluka. Aku tidak ingin siapapun menyakiti kakak." ucap Mone menggebu-gebu.


Puk puk


Aira tak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menepuk pipi chubby Mone dengan sayang, "Sayang... Ada hal-hal yang cukup disimpan sendiri. Itu berarti kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mengatakannya meski kita sangat ingin mendengarnya." jawab Aira bijak.


Cup


Aira meraih kening Mone dan menciumnya dengan lembut. Ia benar-benar menyayangi gadis ini dan berharap dia memiliki kehidupan yang lebih baik. Mone menurunkan tangannya, balas memeluk Aira dengan erat.


Entah Kaori atau Shun yang mengungkapkan rahasianya pada Mone, Ken yang telah mencambuknya dan Ken yang sekarang begitu lembut dan mencintainya, keduanya tetaplah suaminya yang harus ia jaga. Bukankah seorang istri adalah pakaian untuk suaminya? Jika ia mengumbar keburukan Ken, itu sama artinya ia merendahkan martabatnya sendiri.


"Aku hanya ingin kakak bahagia. Aku tidak bermaksud mengungkit privasi kalian. Maafkan kebodohanku ini." ucap Mone lirih.


"Bahagia atau tidak, mencintainya atau tidak, itu tidak lagi penting. Apapun yang terjadi, dia adalah suamiku, ayah dari anak-anakku. Aku hanya ingin memberikan kehidupan yang layak untuk mereka di masa depan. Selama mereka bisa tertawa, aku ikut bahagia." ungkap Aira sambil mengelus kepala adiknya perlahan. Ia memahami tingkah Mone yang begitu keras kepala, ia sendiri seperti itu kan? Jika ia bukan orang yang keras kepala, Ken tidak akan berubah menjadi monster.


Jika dipikir-pikir, bukankah iblis dalam diri Ken selalu muncul setelah mendapat perlawanan darinya? Sifatnya yang keras kepala dan tidak ingin dibantah sama dengan Mone saat ini.


"Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu. Ayo." Aira menggenggam tangan Mone dan mengajaknya masuk ke kamar. Ia ingin memperlihatkan foto hasil USG siang tadi. Keduanya menghilang di balik pintu berwarna putih, tanpa tahu ada dua pasang mata dan telinga yang sedari tadi mendengar perdebatan keduanya.


"Ai-chan..."


...****************...


Ughhh.... Mellow lagiii 💔😢😭😭


Perasaan author beneran ngaruh ke cerita yaa 😣😓😓


See you next episode, lagi ngga pengen cuap-cuap panjang lebar. Bye bye,

__ADS_1


With love,


Hanazawa easzy 🙏


__ADS_2