Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Surprise


__ADS_3

Shun mengungkapkan prinsipnya yang tidak menggunakan perasaan dengan siapapun membuat Aira marah dan menamparnya. Aira menyatakan kekecewaannya pada Shun dan berakhir dengan memberikan data keberadaan Mone-chan, adik angkat Shun.


"Kaori-chan, hari ini jadwalku menemui dokter. Apa kamu bisa menemaniku? Ken sepertinya akan sedikit sibuk di kantor." pinta Aira.


Kaori mengangguk sekali, menyanggupi permintaan wanita hamil di depannya.


"Ayo.." Aira menarik tangan Kaori menjauh dan berakhir menghilang di balik pintu. Meninggalkan Ken dan Shun yang masih berdiam di balkon.


"Aku tidak akan meminta maaf atas perbuatan istriku." ucap Ken sambil berlalu. Ia harus segera pergi ke kantor sebelum terjebak macet di jalanan.


"Kenapa bukan aku yang ada di posisimu sekarang?" tanya Shun lirih namun Ken masih mendengarnya, membuat langkah pria itu terhenti.


"Kamu memiliki segalanya bahkan sebelum dia datang. Bukankah itu tidak adil untukku? Aku tidak akan menyerah." tekad Shun dengan pandangan berapi-api.


"Lakukan sesukamu." jawab Ken, enggan meladeni pria yang terobsesi pada istrinya itu.


Sementara itu di bagian terbawah apartemen..


Kaori masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di basement dan memasang sabuk pengaman di depan badannya.


Klik


Hal yang sama juga dilakukan oleh Aira. Wanita hamil itu membenahi baju hangatnya dan merapikan jilbabnya yang sedikit melorot.


"Arigatou..." ucap Kaori canggung. Ia masih merasa tidak nyaman akibat pernyataan Shun sebelumnya yang berhasil mematahkan hatinya. Ia tidak mengungkapkan perasaannya karena takut Shun akan menolaknya dan hubungan mereka jadi kacau seperti sekarang.


(Terima kasih)


"Aku tidak tahu dia begitu terobsesi padamu. Maaf karena membawanya ke rumah tanpa mengatakannya lebih dulu." sesal Kaori.


Aira tersenyum hambar, kenyataan bahwa ia tidak nyaman saat melihat Shun tidak bisa dipungkiri. Ia tidak bisa melupakan kejadian hari itu dengan mudah. Bayang-bayang tindakannya yang tak terkendali benar-benar mengganggu Aira. Mengingat hal itu saja berhasil membuatnya bergidik ngeri.


"Dia baik dan perhatian, hanya saja tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Dia dibully oleh teman-temannya di sekolah, membuatnya kabur ke Thailand dan tinggal disana selama beberapa tahun. Ku dengar dia bertemu denganmu disana sebelum tuan Kamishiraishi memaksanya pulang ke Jepang untuk masuk akademi."


Aira hanya mengangguk sambil memainkan jemarinya. Kaori memperhatikan hal itu dan menyadari teman di sampingnya ini tidak nyaman dengan topik pembicaraan mereka.


"Ah, apa yang aku katakan. Maaf Ai, ayo kita berangkat." Kaori menghidupkan mobilnya dan mulai menyusuri jalanan Tokyo yang mulai padat oleh kendaraan. Keduanya diam cukup lama sampai kendaraan roda empat itu terhenti karena lampu lalu lintas di depan menyala merah.


"Apa antivenom itu satu-satunya obat untuk menetralisir racun dalam tubuhku?" tanya Aira memulai percakapan setelah beberapa menit berlalu.


Kaori sedikit terhenyak mendengar pertanyaan itu. Ya, ia harus menjawabnya dengan jujur kan? Tapi lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan kebenaran yang ia ketahui.

__ADS_1


"Tanpa antivenom itu, apa anakku akan baik-baik saja?" tanya Aira kemudian, membuat Kaori semakin kalut dengan pemikirannya. Ia tidak ingin membuat Aira khawatir, tapi juga tidak boleh memberikan jawaban yang salah.


"Kaori-chan..." panggil Aira karena Kaori terus saja diam.


Mobil yang mereka naiki melaju perlahan, membuat Aira kembali menatap lurus ke depan. Keterdiaman Kaori membuatnya menyadari bahwa hanya antivenom milik Shun yang bisa menyelamatkannya dan bayinya.


"Aku akan mencari alternatif lain. Tolong percayalah padaku, mungkin akan membutuhkan sedikit waktu sampai aku menemukannya." ucap Kaori dengan suara sedikit bergetar.


Aira tersenyum getir mendengar penuturan dokter di sampingnya. Suaranya yang bergetar menandakan bahwa ia tidak yakin dengan apa yang dikatakannya. Jika Kaori saja meragu, bagaimana dengan Aira yang bahkan tidak tahu sama sekali tentang dunia medis?


Ia belajar sedikit pengetahuan medis saat di akademi, tapi hanya sebatas pertolongan pertama pada luka sayat, luka memar atau menghentikan pendarahan. Selebihnya ia tidak tahu sama sekali.


"Aku akan membuat janji dengan dokter yang akan memeriksamu, jadi kita tidak perlu menunggu lama." ucap Kaori memecah keheningan. Detik berikutnya, dokter cantik itu tampak sibuk berbincang dengan temannya atau mungkin resepsionis di poliklinik. Aira menatap ke luar jendela, tidak terlalu peduli dengan siapa Kaori berbicara.


Aira dan Ken sudah berkomitmen untuk tidak berhubungan lagi dengan Shun, tidak akan meminta antivenom lagi padanya. Aira menggigit bibirnya, membayangkan kemungkinan terburuk jika racun di dalam tubuhnya kembali aktif.


***


Kaori meraih tangan Aira, membantunya berdiri sesaat setelah dokter memeriksanya. Kedua wanita itu kini duduk di depan dokter berkacamata yang berusia sekitar 50 tahunan.


"Perkembangan tangan dan kaki adalah berita utama minggu lalu, dan minggu ini topiknya adalah perkembangan telinga. Bagian luar telinga akan berkembang di akhir minggu 10 ini, dan sekarang bagian luar telinga itu berada di posisi bagian bawah kepala. Sejalan dengan pertumbuhan kepala yang menjadi lebih besar, bagian luar telinga itu akan berada tepat di samping kepala kanan dan kiri." terangnya sambil tersenyum.


"Tahukah Anda apa yang paling mengejutkan dari fase ini? Suara Anda segera akan menjadi suara favorit untuk didengar sang bayi!" ungkap dokter itu dengan raut mata berbinar, seolah ia ikut bahagia mengetahui perkembangan janin yang ada di dalam perut Aira.


"Bersyukurlah bahwa dengan berkembangnya tulang dan bertambah panjangnya anggota badan, janin dalam rahim Anda kini berbobot sekitar 2,5 gram dan berukuran panjang sekitar 2 sampai 3 sentimeter (sekitar satu inci) dari ujung kepala ke ujung kaki (dari kepala sampai bagian bawah)."


Aira mengelus perutnya yang belum terlihat perubahan sama sekali, tapi ia tahu ada kehidupan baru di dalam sana.


"Meskipun gigi bayi tidak akan menembus gusi sampai dengan beberapa bulan setelah lahir, namun bakal gigi telah mulai membentuk sebagai tunas-tunas kecil di dalam mulutnya. Pada waktu kelahiran, bayi Anda akan mempunyai 20 gigi bayi yang menanti untuk muncul menembus gusi selama masa beberapa tahun di awal kehidupannya, demikian juga bagian gigi permanen yang berkembang di bawah permukaan gusi."


Kali ini Kaori yang tampak antusias, ia menggenggam tangan Aira seolah memberikan selamat atas berita bahagia yang mereka dengar.


"Bagaimana dengan keadaan sang ibu, dok?" tanya Kaori khawatir.


"Mulai saat ini, jantung ibu mulai memompa lebih banyak darah melalui nadi dan di usia 32 minggu kehamilan nanti, dalam tubuh ibu hamil terdapat 40 sampai 50 persen darah lebih banyak dibandingkan dengan sebelum hamil.


Sebagaimana yang Anda harapkan, volume yang lebih banyak itu diperlukan untuk keperluan rahim dan plasenta. Terkait dengan sirkulasi darah ini, berbagai langkah yang sekarang Anda lakukan untuk memperlancar aliran darah dapat membantu mencegah varises yang terjadi dalam masa kehamilan. Melakukan gerak jalan setiap hari, berbaring pada posisi badan sebelah kiri, meninggikan kaki (dengan bertumpu pada lutut), duduk tanpa menyilangkan kaki, semua kebiasaan tersebut dapat membantu menghindari sirkulasi darah yang kurang lancar." jelasnya sambil menulis resep vitamin yang harus Aira tebus di apotek nanti.


“Kalau di masa kecil Anda pernah terkena cacar air, maka di masa kehamilan ini Anda akan menyalurkan perlindungan antibodi tersebut pada bayi Anda." sebut dokter.


Aira mengangguk menandakan ia memahami penjelasan dokter yang memeriksanya.

__ADS_1


"Untuk check up selanjutnya, bisakah Anda datang bersama suami Anda?" tanya dokter sambil menyerahkan resep yang dituliskannya dalam selembar kertas.


"Ya. Kami akan datang bersama." jawab Aira dengan senyum terkembang di wajahnya yang terlihat sedikit tirus.


"Saya meresepkan pereda mual dan penambah nafsu makan agar Anda bisa memenuhi kebutuhan gizi si kecil dengan baik." ungkapnya sambil bersalaman dengan Aira dan Kaori bergantian.


"Terima kasih atas waktunya dok. Kami permisi." pamit Kaori.


Aira dan Kaori berjalan menuju apotek saat seorang perawat mencegat mereka.


"Dokter Kaori, direktur rumah sakit meminta Anda menemuinya di ruangan beliau." ucap wanita dengan topi suster di atas kepalanya.


"Direktur mencariku?" tanya Kaori ragu. Ia merasa tidak memiliki masalah yang harus ia bahas dengan pemimpin tertinggi di tempatnya bekerja ini. Wanita itu hanya mengangguk sebelum pergi.


"Aira-chan, aku harus pergi menemui direktur. Apa tidak masalah jika kamu pergi mengambil obatnya sendiri? Ah, aku akan segera menemuimu setelah urusanku selesai." ucap Kaori merasa tak enak hati harus meninggalkan Aira seorang diri.


"Tidak masalah. Aku bisa sendiri." jawabnya sambil tersenyum.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera kembali." pamitnya sebelum berlari melewati beberapa perawat yang menunduk takzim saat Kaori lewat.


Aira kagum pada Kaori yang tetap ramah meskipun ia putri dari pemilik rumah sakit ini. Wanita single itu sama sekali tak menunjukkan kuasanya di sini, terlihat dari sikapnya yang setia menunggu antrean periksa dokter untuk Aira. Padahal dengan statusnya itu, ia bisa menerobos dan memaksa dokter memeriksa Aira lebih dulu. Tapi ia tidak melakukannya.


Aira melihat ponselnya sekilas dan berjalan melalui koridor yang berlawanan arah dengan kepergian Kaori. Tidak ada seorangpun disana membuat Aira bertanya-tanya dalam hati mungkinkah ia keliru mengambil jalan?


Aira menggelengkan kepalanya menepis kemungkinan itu. Jelas-jelas Kaori menunjukkan jalannya lewat koridor ini sebelum berbelok ke kiri di persimpangan di depan sana.


Grep


Sebuah tangan mencengkeram lengan Aira dan menariknya ke sebuah ruangan yang lebih tersembunyi dan sedikit gelap. Pencahayaan yang minim membuat wanita hamil itu tidak bisa menilai dengan jelas siapa sosok yang tengah membekap mulutnya.


Jantungnya berdegup kencang mendapati fakta bahwa ia seorang diri berada dalam ancaman seorang pria yang lebih tinggi darinya. Sekilas ia mencium aroma parfum yang terasa tidak asing di inderanya. Ia pernah mencium aroma ini sebelumnya. Parfum yang membuatnya jijik sampai membiarkan tubuhnya basah kuyup di bawah shower selama lebih dari satu jam untuk menghilangkan baunya. Parfum pria itu.


"Surprise.." bisik pria itu tepat di telinga kiri Aira.


Shun Oguri?


*******


Apa yang akan terjadi dengan Aira? Kenapa Shun menyusulnya sampai ke rumah sakit?


Nantikan episode selanjutnya. Please like, vote & comment supaya author semakin semangat nulisnya.

__ADS_1


Jaa mata ne,


Hanazawa easzy ♡


__ADS_2