Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Cemburu Buta


__ADS_3

"Maria inilah yang membuat Anna kembali dan balas dendam. Nanti dia berjanji akan menghubungiku lagi." Mone mengungkapkan hal itu pada Shun, tanpa tahu Kaori sudah berdiri di ambang pintu sambil membawa tiga cangkir minuman hangat dan kudapan ringan di dalam stoples.


"Siapa yang  akan menghubungimu?" tanya Kaori, tidak tahu apa yang sedang adik iparnya bicarakan.


"Ka-kakak?"


Seketika Mone tergeragap. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Kaori kali ini. Sejak awal Shun tidak ingin istrinya tahu tentang permasalahan yang mereka hadapi kali ini. Keadaan psikisnya tidak begitu stabil, jadi lebih baik menyembunyikan fakta kembalinya Anna dari dokter cantik ini.


Kaori tersenyum, duduk dan menyajikan kopi untuk Shun. Secangkir teh hijau untuk Mone ia berikan langsung pada gadis itu.


"Apa aku mengganggu percakapan kalian?" tanya wanita ini dengan wajah polosnya. Dia tidak tahu apa yang sedang Mone bicarakan.


"Kami membicarakan Aira." Shun mengambil alih keadaan. Dia tidak ingin Kaori salah paham. Mone terlalu polos dan belum berani memainkan sedikit siasat di depan Kaori. Dia begitu menghormati istrinya ini.


"Ah, Aira? Aku juga sudah lama tidak melihatnya? Apa mereka sudah kembali? Ku dengar mereka pergi bulan madu kedua."


Mone dan Shun saling pandang, keduanya bersepakat untuk menghentikan pembicaraan tentang Anna dan juga Maria. Belum waktunya bagi Kaori untuk tahu.


Obrolan itu terus berlanjut. Shun dan Mone menanggapi setiap pertanyaan Kaori. Dia terlihat begitu antusias saat membicarakan ketiga baby triplets yang saat ini ikut kedua orangtuanya ke Indonesia.


Di saat yang sama, Ken dan Aira keluar dari dalam mobil berwarna hitam. Mereka bersiap menjemput ibu Aira.


"Selamat siang, Tuan, Nona." Seorang pengawal berpakaian hitam menyapa pasangan suami istri yang kompak memakai pakaian warna hijau lumut ini. Keduanya masuk ke dalam ruang tunggu dan bertemu dengan seorang asisten pribadi yang bertugas menjemput nyonya Anita.


"Siang. Dimana ibuku?" tanya Aira, melihat sekitar dan hanya mendapati koper milik ibunya yang teronggok di lantai.


"Nyonya sedang pergi ke kamar kecil."


"Oh, baiklah." Aira menganggukkan kepalanya dua kali.


"Pergilah lebih dulu. Kami yang akan menunggunya." Suara Ken yang berat terdengar di telinga, membuat pengawal wanita itu menundukkan kepala.


"Saya permisi."


"Eh, tunggu!" cegah Aira.


"Ya, Nyonya?"


"Kapan ibu pergi ke toilet? Sudah lama?" Aira berniat menyusul ibunya, takut wanita itu tersesat.


"Belum lama, Nyonya. Kami baru sampai lima menit yang lalu dan nyonya Anita langsung pergi ke belakang. Sebentar lagi mungkin beliau akan kembali."


Lagi-lagi Aira mengangguk. "Baiklah. Kamu bisa pergi sekarang."


"Terima kasih." Wanita 35 tahun itu menunduk dalam sebelum pergi. Dia adalah salah satu pengawal dari Jepang yang ditugaskan oleh kakek Yamazaki. Sebagian besar pengawal yang bertugas menyertai Ken dan Aira, bisa berbahasa Indonesia dengan lancar.


Mereka diberikan pelatihan bahasa selama tiga bulan, khusus untuk mendampingi Aira dan ibunya. Menurut kakek, ketiga cucu buyutnya itu juga harus bisa berbicara bahasa ibunya, jadi sengaja mengirimkan orang untuk belajar bahasa Indonesia.


Aira tersenyum mengingat pemikiran kakek begitu jauh, memikirkan masa depan putra putrinya dari segi bahasa. Dia tidak berpikir sampai di sana, tapi ternyata kakek Yamazaki mempedulikan hal sepele semacam itu.


"Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Ken heran. Dia tidak tahu kenapa Aira tersenyum lebar sambil mengamati punggung pengawal wanita yang tadi berbincang dengan mereka.


"Tidak ada." Aira berkilah, kemudian duduk sambil memangku lututnya.


Kerutan di kening Ken seketika tercipta. Dia tidak ingin membuat prasangka apapun pada wanitanya. Dia sudah percaya seribu persen pada ibu dari anak-anaknya ini, tidak mungkin Aira memiliki pemikiran yang akan mengancam rumah tangga mereka. Dia yakin itu.


Krukk kruukkk


Suara perut Ken tiba-tiba mendominasi keduanya. Tidak ada suara lainnya, ruangan ini cukup sepi. Hanya ada satu dua orang di kejauhan, tidak terdengar suara percakapan mereka.


"Kamu lapar?" tanya Aira dengan wajah heran. Ken sempat makan sandwich isi sayuran dan telur sebelum berangkat kemari dan sekarang dia merasa lapar. Hal itu cukup mengherankan.


"Aku tidak." Ken memalingkan wajah, menyangkal tuduhan Aira, padahal jelas-jelas suara perutnya terdengar begitu nyaring.


"Selain memakanku, apa ada makanan yang kamu inginkan?" tanya wanita dengan dress sepanjang mata kaki ini. Dia menarik Ken untuk duduk, bersebelahan dengannya tanpa jarak sedikitpun.


Ken tampak berpikir. Aira semakin tanggap mengurusnya. Tapi dia juga semakin pintar memilah kata yang tepat. Jika sebelum-sebelumnya wanita ini hanya bertanya apa yang ia inginkan untuk makan, pasti dia akan menjawab 'aku menginginkanmu.'


Dan barusan Aira menambahkan satu kalimat lain di depannya, menegaskan bahwa Ken tidak memiliki kesempatan untuk menikmati makanan berupa tubuh mungil wanitanya ini.


"Kenapa diam? Mau makan apa? Kita bisa pergi kesana setelah ibu tiba." Suara Aira terdengar tidak sabar. Ken masih setia menutup mulutnya, enggan berbicara.


Dari kejauhan, tampak seorang wanita dengan pakaian serba panjang dan kain warna coklat menutupi mahkotanya yang mulai memutih. Seketika Aira langsung bangun dari duduknya dan mengabaikan Ken yang sudah membuka mulutnya hendak bicara.


"Ibuuu...," panggil Aira, membuat Ken menoleh dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia urung membahas makanan, bersiap mendekat ke arah wanita yang telah melahirkan istrinya 26 tahun yang lalu itu.


"Selamat datang, Bu." Aira memeluk wanita yang kini juga memeluknya. Keduanya memiliki postur tubuh yang hampir sama, hanya saja Anita sedikit lebih berisi.


"Apa kabar, Sayang? Akhirnya ibu bisa bertemu denganmu lagi setelah sekian lama."


Aira tersenyum bahagia, dia mengurai pelukan ibunya demi mencium pipi di hadapannya. Detik berikutnya, dia kembali mengunci tubuh Anita dalam dekapan.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan ibu," ungkapnya penuh cinta.


Ken menundukkan kepala sepersekian detik saat netra Anita menangkap bayangannya. Dia begitu bersyukur karena pria tampan dan rupawan ini masih setia menemani anaknya. Berkat tersendiri bahwa dia memiliki seorang menantu yang begitu sempurna dari sisi fisik, perhatian, bahkan juga materi. Dia yakin Aira tidak kekurangan apapaun saat ini. Ken terlihat begitu memanjakannya.


"Maaf kami datang terlambat, Bu. Bayi besarku selalu saja merepotkan." Aira pura-pura berbisik pada ibunya, tapi nada bicaranya terdengar sengaja dikeraskan agar Ken ikut mendengar keluhannya.


Anita terkekeh lirih. Dia tahu siapa bayi besar yang Aira bicarakan. Dan hal itu membuat wajah putih Ken memerah. Dia tidak bisa menyangkal pernyataan Aira karena nyatanya dia membuat Aira repot dengan meminta dibuatkan roti lapis agar bisa dimakan di perjalanan dari rumah menuju bandara yang menghabiskan waktu empat puluh menit.


"Bagaimana keadaan kalian?" Anita sengaja mengalihkan pembicaraan, mengalihkan perhatian Aira agar tak lagi memojokkan suaminya. Dia tahu, pada dasarnya semua laki-laki itu akan bersikap kekanak-kanakan saat ada di hadapan wanita kesayangannya, entah itu ibu atau istri mereka.


Terlebih lagi setelah mereka memiliki buah hati yang akan dianggap sebagai saingan cinta. Dan saingan Ken bukan hanya satu, tapi tiga sekaligus. Maka pantas saja pria ini bermanja-manja setiap ada kesempatan.


"Kami baik. Bagaimana dengan ibu?" Ken cepat membalas, mencegah agar Aira tidak menjawabnya lebih dulu.


"Aku baik."


"Sebelah sini, Bu." Ken menunjukkan jalan yang harus mereka lalui karena Anita tampak sedikit bingung. Wanita yang sejak awal menjemputnya, tidak terlihat batang hidungnya. Juga koper warna hitam yang berisi pakaian miliknya.


"Pengawal yang menjemput ibu sudah pergi lebih dulu." Ken menjawab ekspresi ibu mertuanya yang bertanya-tanya keberadaan wanita yang berpakaian serba hitam tadi.


"Apa ibu lapar?" Ken kembali bertanya, mencoba akrab dengan wanita separuh abad ini. Sebenarnya dialah yang lapar, tapi sungkan untuk mengatakannya.


"Bilang saja kamu yang lapar!" ketus Aira sepersekian detik setelah Ken melontarkan pertanyaan basa-basi itu.


Anita melirik putri semata wayangnya yang mengerucutkan bibir. Wanita ini terlihat begitu menggemaskan, bersikap seolah Ken bukanlah suaminya, tapi lawan bertengkarnya.


Ken diam saja, tak menghiraukan celotehan wanitanya.


"Kebetulan ada rumah makan enak di sekitar sini. Ibu juga lapar. Jadi, ayo kita ke sana." Anita sebenarnya tidak lapar. Tapi, dia tidak ingin membuat menantunya kecewa. Pria ini sudah menjaga putrinya dengan baik, tentu saja Anita harus berterima kasih padanya.


Ketiga orang beda usia itu melangkah menuju sebuah mobil hitam mengilap yang terparkir di samping kiri pintu keluar. Mereka menuju ke arah utara, salah satu rumah makan sunda yang terkenal dengan menu-menu andalannya. Rasanya belum pernah ke Indonesia jika orang-orang asing ini belum pernah makan makanan sunda.


"Apa ibu pernah ke sini sebelumnya?" tanya Aira saat mobil yang Ken kendarai terhenti di depan sebuah pelataran rumah makan yang terlihat sederhana.


"Pemiliknya salah satu teman ibu. Kalian masuk saja lebih dulu, ibu akan menyapa teman ibu itu." Anita melepas genggaman Aira di tangannya dan masuk lebih dulu, meninggalkan Ken dan Aira di dalam mobil.


"Ibumu sangat baik," puji Ken, melepas sabuk pengaman yang sedari tadi melingkupi tubuhnya.


Aira tak menjawab. Dia masih ingat peristiwa masa lalu menyedihkan karena ibunya harus diseret ke jeruji besi.


Tanpa berkomentar, Aira keluar dari dalam mobil dan menyusul ibunya.


"Ada apa?" tanya Ken, meraih tangan Aira dan menggandengnya erat-erat. Langkah kaki keduanya melewati pintu, melihat Anita tengah berbincang akrab dengan seorang wanita yang seusia dengannya.


"Tidak ada," jawab Aira sekenanya.


"Mangga, Neng geulis." Seorang pelayan pria mempersilakan Aira dan Ken melalui isyarat tangannya, dia menunjuk satu ruangan khusus yang sudah ibunya pesan.


Seketika kening Ken berkerut. Ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat makan di Indonesia selain rumah makan padang tahun kemarin bersama Kosuke dan juga Minami.


"Apa yang dia katakan?" Pertanyaan itu langsung terlontar. Ken menatap pria tadi dengan pandangan mematikan, benci melihatnya tersenyum lebar pada Aira.


"Rahasia!" ketus Aira, sengaja membuat Ken penasaran.


Cup


Ken memagut bibir bawah Aira, bahkan menggigitnya dengan tiba-tiba, membuat wanita ini terperanjat.


Bugh!


Aira segera memukul dada Ken, membuat tautan keduanya terlepas.


"Hapunten atuh, salaki kuring gelo." Aira memegang tengkuknya, berbicara pada pria yang juga terperanjat melihat agresifitas tamunya siang ini.


(Maaf ya, suami saya kurang waras/gila)


"Henteu kunaon-naon atuh, Neng. Mangga teraskeun wae. Saya permisi."


(Tidak apa-apa, Neng. Silakan diteruskan saja)


Kerutan di kening Ken semakin dalam. Dia tidak tahu apa yang pria ini katakan. Yang ia pahami hanya dua kata terakhirnya saja. Dan yang membuatnya tidak suka adalah wajah Aira merona mendengar kalimat yang pria Sunda tadi ucapkan.


"Apa yang dia katakan?" Rasa cemburu menghantui pria 28 tahun ini. Dia ingin tahu apa yang pelayan restoran tadi katakan.


"Bukan apa-apa!" Lagi-lagi Aira ketus pada Ken. Dia masih marah karena pria ini tiba-tiba menciumnya di depan orang lain.


"Aku akan menciummu lagi jika kamu tidak ingin mengatakannya!" Ken tidak ingin berbelit-belit. Dia ingin Aira mengatakan apa yang pria tadi katakan, kenapa sampai membuatnya tersipu malu.


"Dasar mesum!" Aira memukul lengan Ken, menjauh dua langkah dari pria yang menikahinya setahun lalu.


Dengan perasaan gondok, Aira berbalik dan duduk di lantai kayu. Rumah makan ini menawarkan konsep sederhana dimana hanya ada satu meja pendek di tengah ruangan. Tak ada dekorasi lain kecuali bunga kaktus kecil di tengah meja. Benar-benar sederhana.

__ADS_1


Ken yang masih diliputi rasa penasaran, tidak bisa tinggal diam. Dia mengunci tubuh Aira, menatapnya dengan pandangan ingin tahu.


"Apa yang dia katakan tadi?"


"Apa?!" ketus Aira semakin sebal.


"Kamu?!" Rahang Ken mengerat dengan urat leher yang terlihat. Dia benar-benar geram karena Aira kembali tidak menuruti permintaannya. Wanita ini justru sengaja menyembunyikan apa yang pria itu katakan tadi.


"Apa masalahnya? Kamu cemburu pada Pak Tua itu?!" Aira tidak habis pikir karena yang menanyainya tadi pria berusia enam puluh tahunan yang sudah beruban. Mana mungkin dia tertarik padanya?


"Ya. Aku cemburu." Ken mengakui dengan gamblang apa yang membuatnya marah. Dia benar-benar tidak suka Aira tersenyum pada orang lain, terlebih lagi orang itu pria yang tidak dikenalnya.


"Astaga!" Aira membuang muka.


Cup


Wanita dengan dress hijau lumut itu menarik kerah kemeja yang suaminya gunakan dan langsung mencium bibirnya sekilas. Meski hanya kecupan singkat saja, tapi membuat seorang Yamazaki Kenzo terpana. Seluruh kemarahan yang sedari tadi mendominasi kepala, kini sirna begitu saja.


"Ka-kamu?!" Jantungnya bedegup kencang, tidak mengira Aira akan menciumnya tanpa aba-aba.


"Cemburumu tidak elit!" Aira menjauhkan diri dari suaminya. Dia tidak ingin meladeni sikap kekanak-kanakan suaminya.


"Hah?" Ken mengerutkan kening.


"Apa kamu pikir aku akan menyukai pria tua seperti kakek itu tadi?" Aira masih mempertahankan wajah ketusnya. Dia sebal karena kecemburuan Ken tidak kenal tempat dan waktu. Bisa dikatakan cemburu buta.


"Lagipula tidak ada pria yang lebih tampan, lebih kaya, dan lebih kuat dibandingkan kamu. Bagaimana mungkin aku akan berpaling?" Masih dengan membuang muka, Aira mengungkapkan isi hatinya.


Ken tersenyum. Hatinya menghangat mendengar Aira memujinya dengan tiga kata yang tidak biasa dia ucapkan.


"Katakan sekali lagi," pinta Ken, meraih dagu istrinya agar empat mata mereka saling beradu pandang.


"Apanya?"


"Apa benar aku tampan, kaya, dan kuat?"


"Hah?" Kali ini Aira yang membulatkan mulutnya. Dia tidak tahu kenapa Ken menanyakan hal itu. Dia tidak sadar bahwa beberapa detik yang lalu dia mengucapkan tiga kata itu.


Cup


Sepersekian detik kemudian, Ken mengunci bibir tipis istrinya. Dia menyalurkan seluruh hasrat terpendam yang menguasai hatinya.


Bugh bugh


Aira memukul dada bidang pria ini saat dirasa stok oksigen di dalam paru-parunya mulai menipis. Pria ini menguasai seluruh indera pengecapnya, membelit tanpa ragu sampai membuat Aira kewalahan.


"Ekhmm!" Anita sengaja berdeham, membuat tautan bibir keduanya terlepas. Dia tersenyum sambil masuk dan menganggap tidak terjadi apapun.


Ken segera menarik diri. Wajahnya merah padam seperti kepiting rebus, tidak beda jauh dengan Aira yang juga membuang wajah ke sisi lain.


"Apa ibu mengganggu kalian?" Anita meletakkan tas di tangannya ke samping meja, menatap Ken dan Aira bergantian.


"Ah, tidak." Ken salah tingkah. "Ibu tidak mengganggu sama sekali, Bu. Aku akan pergi ke toilet. Permisi." Ken segera beranjak dari tempat itu, meninggalkan Aira dan ibu mertuanya. Setidaknya dia harus menyelamatkan wajah mesumnya dari tatapan wanita paruh baya ini.


Anita tertawa tanpa suara. Dia tahu kedatangannya ini tidak di waktu yang tepat, membuat pergulatan lidah anak menantunya terjeda. Tapi, itu juga menyelamatkan Aira dari kemungkinan terburuk nafsu liar suaminya tercinta.


"Maaf, ya." Anita mengelus tangan Aira, berharap anaknya tidak marah karena dia datang tiba-tiba.


"Tidak, Bu. Justru aku harus berterima kasih pada Ibu."


"Apa kalian bertengkar sebelumnya?" tanya Anita ingin tahu. Dia melihat Ken begitu bernafsu pada istrinya. Jika tidak ada masalah sebelumnya, tidak mungkin hal seperti itu akan terjadi.


"Ba-bagaimana ibu bisa tahu?" Aira tergeragap. Dia tidak tahu darimana ibunya tahu.


"Sayang, ibu juga pernah muda. Sebelum badai itu datang, ayahmu adalah pria paling romantis yang pernah ibu temui."


"Eh?"


"Sudah sudah. Cuci wajahmu sana. Lipstikmu kemana-mana." Anita menoel pipi putri kesayangannya.


"HAH?" Aira terperanjat, mengambil cermin kecil berbentuk bulat dari dalam tas jinjingnya. Tampak perona bibirnya tak lagi rapi, sedikit belepotan akibat ulah Ken tadi.


Seketika wanita ini menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi. Dia benar-benar malu, tidak menyadari hal itu. Untung saja ibunya sendiri yang melihat, bukan orang lain.


'Yamazaki Kenzo. Awas saja kamu!' batin Aira sambil berlalu.


* * *


Apa yang akan terjadi pada Ken? Nantikan di bab berikutnya. See you...


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2