Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Black Diamond


__ADS_3

Jangan lupa like, komen & rate bintang 5 yaa biar author makin semangat nulisnya 😉


Selamat membaca 🤗


...****************...


Ken, Aira dan Yamaken sampai di depan ruang makan. Langkah Aira terhenti kala tidak mendapati siapapun di sana.



(source : pinterest)


"Kenapa tidak ada orang? Dimana yang lainnya?" tanya Aira pada Ken yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.


Seorang pelayan mendekat sambil membawa tiga mangkuk berisi nasi putih dan menghidangkannya di meja. Tak lupa, ia juga menyiapkan tiga pasang sumpit di dekat mangkuk nasi tadi.


"Dimana yang lainnya?" tanya Yamaken, mencegat pria yang pergi dengan membawa nampan di tangannya.


"Tuan dan Nyonya ada acara di luar. Sedangkan Tuan Besar masih ada di ruangannya. Beliau meminta Anda bertiga untuk makan lebih dulu."


Ken dan Aira saling pandang, bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat kakek sampai menunda makan malamnya. Mereka bertiga makan dalam diam, menikmati hidangan yang telah tersaji di atas meja bulat di ruangan itu. Ada sup kaldu ayam, acar wortel yang dipotong menyerupai korek api, dan bola-bola daging yang dipadukan dengan berbagai potongan sayuran segar di atas piring panjang.


Hanya dalam waktu beberapa menit, mereka menyelesaikan santap malam dan beranjak pergi dari ruangan ini.


"Kakak ipar, kapan mereka akan lahir?" tanya Yamaken sambil menatap perut Aira yang tersembunyi di balik dress hijau botol yang ia kenakan.


"Mungkin bulan depan."


"Berhenti memandangi istriku!" tukas Ken dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya pada Yamaken.


"Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku agar dia meninggalkanmu!" Yamaken sengaja memprovokasi Ken. Ia kesal karena saudaranya itu begitu posesif. Bahkan, hanya memandang kakak iparnya saja tidak boleh. Bukankah itu keterlaluan?


Plak


"Jaga mulutmu!" Ken memukul kepala Yamaken saking kesalnya. Ia bahkan tak segan-segan ingin memukulnya lagi jika Aira tidak berdiri menghalanginya.


"Bisakah kalian berhenti bertengkar? Seperti anjing dan ..." perkataan Aira terhenti kala melihat pemandangan yang membuatnya harus menelan saliva dengan paksa. Napasnya bahkan tertahan karena tidak yakin dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Ada apa?" tanya Ken sembari membalikkan badan, menilik ke arah pandangan istrinya.


Yamaken melakukan hal yang sama. Dan seketika tubuhnya menegang, membatu di tempatnya berdiri. Ia memperhatikan Mone yang keluar dari ruangan kakek sambil menenteng sebilah katana beserta sarungnya. Gadis itu menundukkan badannya sembilan puluh derajat sampai pintu di depannya ditutup oleh tuan Kobayashi.


"Mone-chan," panggil Aira sembari melangkahkan kaki mendekati adik sepupunya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aira memandang Mone dan pintu yang kini tertutup rapat bergantian. Ia penasaran apa yang baru saja Mone bicarakan dengan kakek Yamazaki sampai membuat pria lanjut usia itu menunda makan malamnya.


"Bukan apa-apa. Kami hanya berbincang sejenak." Mone tampak enggan meladeni pertanyaan kakaknya. Tubuhnya kaku, menutupi perasaannya. Berpura-pura tidak ada apapun yang terjadi.


"Katana itu?" kejar Aira. Ia melongokkan kepala, menatap pedang tajam di tangan kiri Mone. Pasti mereka membicarakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan kakek sampai melepas satu katana miliknya untuk digunakan oleh Mone.


"Kakek meminjamkannya padaku." Mone terlihat canggung. Aira tahu gadis itu menyembunyikan sesuatu darinya. Meski baru bersama beberapa bulan terakhir, ia bisa melihat gelagat Mone yang lain dari biasanya.


Aira beralih ke sisi kiri Mone dan menahan lengannya. Saat itulah ia melihat bekas darah yang mengering di leher adiknya.


"Apa ini? Kamu terluka?" tanya Aira sembari meraba leher Mone di depannya. Ia mendapati luka sayatan yang masih sangat baru, terlihat dari bekas lukanya yang belum mengering sempurna.


Deg


Mone segera menutup lukanya dengan tangan. Dia tidak ingin Aira tahu bahwa sayatan melintang itu adalah karena ujung katana yang kakek ulurkan tadi.


"Aku harus segera kembali ke Tokyo. Jaga dirimu baik-baik," pamit Mone terburu-buru.


Gadis dua puluh tahun itu segera berlari ke arah mobilnya yang terparkir di pelataran luas rumah ini. Ia memacu kendaraan besi itu dengan kencang seolah tidak ingin terkejar oleh siapapun.

__ADS_1


Greg


Pintu di belakang Aira terbuka, menampilkan kakek Yamazaki yang keluar bersama tuan Kobayashi.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya kakek dengan wajah tak bersahabat. Tampaknya beliau merasa terganggu atas. perbincangan Aira dengan Mone sebelumnya.


"Kakek, bolehkah aku bertanya satu hal?" tanya Aira.


"Katakan!"


"Apa yang kakek inginkan dari Mone?" Aira memberanikan diri, bertanya to the point pada pemegang kekuasaan tertinggi di rumah ini.


Bukannya menjawab, kakek justru mengangkat sebelah alisnya. Nampaknya beliau menunggu kalimat berikutnya yang akan Aira ucapkan.


"Dia adikku. Aku berhak untuk tahu apa yang akan kakek lakukan padanya." Aira mengangkat kepala, menatap tajam pada kakek Yamazaki.


Sekilas kakek tersenyum. Ia tahu cepat atau lambat Aira pasti akan melindungi adiknya itu. Mungkin wanita ini juga yang kelak akan menghalanginya dari menguasai black diamond yang baru saja ia temukan.


*black diamond : berlian hitam


Puk puk


Kakek menepuk puncak kepala cucu menantunya. "Kamu terlalu banyak berpikir. Istirahatlah," ucapnya sambil melebarkan senyumnya.


Tentu saja hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam hati Ken, Aira dan juga Yamaken. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Saat kakek tersenyum, itu artinya beliau memiliki rencana tersembunyi yang tidak diketahui oleh siapapun. Pria itu sejatinya yakuza yang misterius dan penuh tanda tanya, tak peduli pada tubuhnya yang telah memasuki usia senja.


Mone menginjak pedal gas dengan kuat, membuat kendaraan roda empat itu melaju kencang di jalanan yang cukup lengang. Hanya tersisa satu dua kendaraan lain yang melaju dengan kecepatan lebih rendah.


"Kakek Yamazaki, aku pasti akan menghadapi tantangan darimu. Pastikan Anda masih hidup untuk melihat kemampuanku."


...****************...


Semilir angin hangat mulai menerbangkan tirai yang tergantung bebas di belakang jendela. Pemandangan siang menjelang sore ini terasa begitu menenangkan. Kuncup-kuncup bunga sakura mulai muncul di ujung ranting, membuat beberapa burung kecil berdatangan. Bertengger di atas cabang-cabang pohon tanpa daun.


"Nona .... Nona," panggil Minami seraya menggoyangkan lengan Aira perlahan.


"Hmm?" Aira membuka matanya sekilas, menatap asisten pribadinya yang duduk berpangku lutut di samping ranjang.


"Tuan Kenzo sudah kembali."


"Biarkan saja. Aku lelah." ucap Aira sembari menarik selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke atas. Ia baru terlelap lima belas menit yang lalu.


"Nona ..." panggil Minami panik saat mendapati Ken sudah ada di ambang pintu.


"Sstt!" Ken meletakkan jarinya di depan mulut, meminta Minami untuk diam. Ia mengisyaratkan dengan tangannya agar Minami pergi dari ruangan ini.


Minami menundukkan kepalanya sejenak sebelum pergi. Ia sempat melihat ke arah nonanya yang masih asik bergelung di balik selimut.


Ken masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Ia menyalakan shower dan membasahi ujung kepalanya dengan air. Setidaknya itu bisa sedikit menyegarkannya dan membuat kepalanya dingin.


Perjalanan 39 km dari Tokyo menuju Yokohama membuatnya lelah, terlebih lagi agenda hari ini begitu menguras tenaganya. Mempertahankan Circle K nyatanya tak semudah yang ia bayangkan. Sebulan setelah kejadian penangkapan nyonya Hanako, harga saham Circle K belum juga membaik. Gejolak para pemegang saham yang menuntut agar G dicopot dari posisinya sebagai CEO terus berlanjut, membuatnya harus turun tangan mengurus perusahaan kimia itu.


Ken mengambil hairdryer dari dalam laci dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah. Ia menatap pantulan Aira yang terlihat dari cermin. Perutnya semakin membesar memasuki trimester akhir kehamilannya, itu tandanya tak lama lagi jagoannya akan segera terlahir ke dunia ini. Membayangkannya saja membuat hatinya menghangat.


Ken menyudahi aktivitasnya di depan cermin dan menghampiri istrinya yang masih terpejam. Ingin rasanya segera memeluk Aira, tapi takut membuatnya terbangun. Minami mengatakan bahwa beberapa hari terakhir nonanya itu tampak sangat kelelahan. Ia tampak semakin kerepotan dengan perutnya yang membesar.


"Ai-chan," panggil Ken lirih. Jemarinya mengelus pipi chubby istrinya yang masih memejamkan matanya.


"Hmm," gumam Aira saat merasakan belaian lembut dari suaminya.


"Tadaima." Ken mencium kening Aira, membuat wanita hamil itu membuka kelopak matanya.

__ADS_1


(Aku pulang)


"Okaeri," jawab Aira dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Kamu sudah pulang?"


(Selamat datang kembali)


"Umm." Ken memainkan bulu mata Aira sambil tersenyum. "Aku tidak sabar menantikan kehadiran anak kita. Apa mereka memiliki bulu mata yang lentik seperti ini? Atau pipi chubby seperti ini?" Ken menusuk-nusuk pipi istrinya dengan gemas. Satu tangannya masuk ke dalam selimut dan mengelus perut istrinya perlahan.


"Mungkin mereka akan memiliki mata yang tajam dan lesung pipi seperti ayahnya." Aira menangkup pipi suaminya.


Cup


Aira meraih wajah Ken dan mencium pipi suaminya sekilas, kemudian beralih pada hidung mancungnya dan berakhir dengan mencium kelopak mata Ken.


"Lima hari tidak bertemu, apa kamu begitu merindukanku," tanya Ken sembari membantu istrinya duduk, bersandar pada kepala ranjang.


"Umm," jawab Aira sembari menganggukkan kepalanya. Ia tidak bisa memungkiri perasaannya sendiri. Sejak datang ke kediaman kakek Yamazaki ini bersama Mone sebulan yang lalu, ia tidak kembali ke Tokyo. Ia lebih suka suasana di pegunungan ini yang lebih damai daripada di pusat kota yang pengap dan bising oleh suara kendaraan.


Ken yang sibuk dengan Miracle dan Circle K, tidak bisa pulang ke kediaman ini setiap hari karena jarak yang cukup jauh. Ia seringkali kerja lembur dan akhirnya menginap di perusahaan agar akhir pekan bisa mengambil libur.


"Ah, aku punya sesuatu untukmu. Tutup matamu," pinta Ken. Ia beranjak dari sisi Aira dan mengambil sesuatu yang sebelumnya ia persiapkan.


"Sudah belum?" tanya Aira sambil tersenyum. Tidak sabar dengan hadiah yang akan suaminya berikan.


"Umm, kamu bisa membukanya sekarang."



Aira mengerjapkan matanya dua kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Ia tersenyum menatap suaminya yang tengah berdiri sambil memegang setangkai bunga mawar besar di tangannya.


"Ai-chan, anata wo aishitemasu." Ken bersimpuh di depan Aira dan mengulurkan bunga warna merah itu di depan istrinya.


(Love you)


"Dari mana kamu mendapatkannya? Jangan katakan memetiknya di halaman. Ibu akan marah jika tahu bunga kesayangannya kamu petik."


"Biarkan saja," balas Ken acuh tak acuh, "Kamu belum membalas ucapanku." Ken merajuk di depan Aira. Ia mempoutkan bibirnya seperti anak kecil.


"Motto itoshi teru," jawab Aira sembari menerima bunga dari Ken. Ia merentangkan tangannya, bersiap memeluk suaminya.


(Love you more)


Keduanya berpelukan cukup lama sampai dering telepon menyela. Ken terpaksa melepaskan istrinya dan menjawab panggilan dua arah itu.


"Siapa?" tanya Aira ingin tahu.


"Kaori. Dia mengingatkanku untuk membawamu ke spesialis maternal fetal medicine (MFM) untuk mendapat pengarahan terkait kehamilan beresiko tinggi."


Seketika raut muka Aira berubah. Senyum yang semula menghiasi wajahnya berganti dengan kecemasan terkait dengan proses kelahiran ketiga putranya nanti.


"Ken," Aira meraih lengan Ken dan mencengkeramnya dengan erat.


"Tidak masalah. Aku akan selalu ada di sisimu. Ayo bersiap, kita akan ke sana sore ini."


Aira menundukkan kepala sambil menggigit bibirnya. Melihat hal itu, Ken segera meraih dagunya dan menatap mata istrinya lekat-lekat. "Kemana istriku yang sangat pemberani itu? Ayolah, kamu bisa melewatinya. Demi anak-anak kita."


Ken mencium perut istrinya bertubi-tubi membuat kekhawatiran Aira menipis. Hatinya berdesir halus. Ia mengelus surai hitam suaminya sambil tersenyum.


...****************...


Kok author ikut khawatir yaa sama Aira? Semoga semuanya baik-baik saja 😥

__ADS_1


Jaa mata ne,


Hanazawa Easzy 💙


__ADS_2