Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Aura Seorang Yakuza


__ADS_3

Matahari bersinar cerah di ufuk timur, membuat udara terasa hangat di ujung musim semi ini. Kelopak bunga sakura yang berjatuhan di tanah mulai mengering, menyisakan satu dua bunga yang mekar agak sedikit akhir. Beberapa tunas tumbuhan baru muncul di sela-sela rerumputan, merekah menembus padatnya tanah di atasnya.


Pagi ini, suasana kota Tokyo terasa sedikit lengang. Akhir pekan seperti sekarang, banyak digunakan oleh para pekerja untuk beristirahat, membuat jalanan tak terlalu padat dibandingkan saat hari kerja.



"Ohayou, Azami-kun," ucap Ken sembari menggendong putranya yang hari ini tepat berusia dua bulan. Dia terlihat begitu menggemaskan dengan mulut terbuka seolah masih mencari sumber makanannya. Matanya begitu cerah, seolah menunjukkan janji masa depan yang indah.


"Tolong jaga dia. Aku ingin tidur sebentar." Aira berbaring di atas ranjang dan langsung memejamkan mata detik berikutnya. Ia menyerahkan Azami pada Ken setelah selesai menyusuinya. Putra bungsunya itu sekarang menyamai kakaknya, Ayame. Keduanya seolah tidak pernah puas menyusu pada ibunya, membuat Aira kelelahan.


Ya, Aira hampir tidak tidur semalaman. Dua anaknya terus menyusu bergantian. Pola tidur mereka juga berubah, lebih banyak terjaga, padahal sebelumnya mereka selalu tidur nyenyak sepanjang malam.


Umumnya, bayi berusia dua bulan perlu tidur sekitar 16 jam per hari, yakni sembilan jam waktu malam dan tujuh jam lagi di siang hari. Waktu tidur malam mereka lebih lama dibandingkan saat tidur siang, namun ada kemungkinan mereka terbangun setiap beberapa jam karena merasa lapar.


Dari ketiga anaknya, Akari lah yang terlihat lebih tenang dibandingkan dua adiknya. Dia hanya menyusu sekali saja, tidak seperti Aya dan Azami yang seolah berebut ibunya. Hal itu membuat Aira kurang istirahat.


"Apa kamu masih lapar?" tanya Ken sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di pipi bulat Azami. Bayi itu terus membuka mulutnya, mencari sumber makanan yang akan membuatnya kenyang.


"Dia sudah menyusu sepanjang malam. Biarkan saja," gumam Aira dengan mata terpejam.


"Haha, lihatlah ibumu marah," bisik Ken sembari beranjak dari ranjang tempatnya duduk. Ia akan membawa Azami keluar dan membiarkan istrinya tidur sejenak.


Ken membawa putranya keluar kamar. Dia berpapasan dengan Sakura di depan pintu.


"Apa itu?" tanya Ken pada nampan yang tertutup tudung saji.


"Ini sarapan untuk nyonya. Dia terlihat pucat."


"Letakkan saja di meja. Jangan membangunkannya. Dia baru saja terlelap," pinta Ken dengan nada bersahabat. Di antara semua asisten di rumah ini, memang Sakura yang paling dekat dengannya. Ia mengenal baik gadis ini, jadi tidak perlu meragukan kemampuannya. Ken mempercayakan keamanan istri dan ketiga anaknya saat dia harus ada di luar rumah. "Jaga mereka. Aku akan pergi ke taman belakang dengan Azami-kun."

__ADS_1


"Baik. Saya mengerti," ucap Sakura. Ia menundukkan kepalanya sekilas, tanda bahwa ia mengerti apa yang diperintahkan tuannya.


Krekk


Sakura membuka pintu dengan hati-hati, mencegah nyonya mudanya agar tak terbangun. Namun agaknya sensitifitas ibu tiga anak itu begitu tinggi. Ia membuka matanya hanya karena bunyi handle pintu yang Sakura gerakkan sebelumnya. Aira segera duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Maaf karena sudah membangunkan Anda," ucap Sakura merasa tak enak hati.


"Tidak masalah. Lima menit sudah cukup untuk mengobati rasa kantukku. Dimana mereka?" tanya Aira saat tak melihat Ken dan putra bungsunya di ruangan ini. Ia tengah terlelap saat Ken pergi.


"Tuan membawanya ke taman belakang." Sakura mendekat ke arah Aira. Ia menyiapkan meja kecil di atas ranjang sebagai tempat meletakkan nampan di tangannya.



Aira membuka tutup saji di depannya, menampilkan pemandangan yang menggugah selera. Bau harus dari makanan hangat itu segera menyapa indera penciuman Aira, membuatnya menelan ludah. Di atas piring cekung itu terdapat potongan daging ayam dan telur setengah matang sebagai lauk, itu salah satu makanan favorit Aira.


"Terima kasih." Aira segera melahap hidangan di depannya setelah merapalkan doa di dalam hati.


"Sudah bangun?" tanya Ken saat mendapati Aira berjalan ke arahnya. Ia duduk di atas sebuah kursi kayu, menghadap kolam kecil berisi ikan koi berbagai warna.


"Hum. Sudah waktunya mereka berjemur," jawab Aira sembari membuka penutup stroller di depannya, menampilkan Akari yang tengah tersenyum.


Bayi dua bulan mulai dapat merespons dengan senyuman ketika diajak bicara atau ditunjukkan sesuatu yang menarik. Hal ini merupakan perkembangan yang signifikan dibandingkan bayi usia satu bulan.


"Apa ini sungguh putraku? Menggemaskan sekali!" Ken mendekat ke arah Akari dan mencubit pipi putra sulungnya itu.


"Kalau bukan putramu, memang siapa lagi? Apa aku memungutnya di jalan?" ketus Aira. Moodnya tidak begitu baik. Ia masih merasa sedikit pusing, namun memaksakan diri untuk mulai beraktivitas.


__ADS_1


"Lihat, dia bisa menampilkan wajah genit seperti itu." Ken mengabaikan sikap ketus Aira. Ia sangat bahagia melihat putranya yang begitu ekspresif seolah tersenyum sambil memainkan sebelah matanya.


Di antara ketiga putranya, tubuh Akari-lah yang terlihat paling kecil. Namun hal itu tidak membuat pesonanya memudar. Sebagai seorang kakak, dia justru terlihat lebih dewasa dibandingkan dua adiknya yang belum memancarkan auranya. Aura seorang yakuza.


Ken bisa melihat ada sesuatu yang lain dengan putra sulungnya ini. Meski ia tersenyum, tapi tatap matanya tetap tajam. Sangat berbeda dengan Azami, Si Bungsu yang menampilkan ekspresi begitu cerah ceria. Sepertinya Akari dan Azami akan memiliki kepribadian yang bertolak belakang satu sama lain.


"Dia genit seperti ayahnya." Aira meletakkan Aya ke atas alas yang Sakura siapkan. Ken terkekeh mendengar tuduhan istrinya. Itu benar, ia mengakuinya. Ken memang selalu genit pada Aira, suka menggodanya dan tak jarang mencuri kecupan di saat yang tak terduga seperti sekarang ini.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipi Aira yang tengah sibuk membenahi pakaian putrinya.


"KEN?!" protesnya karena lagi-lagi pria itu menunjukkan sifat genitnya.



"Ah, putri daddy cantik sekali," puji Ken saat melihat penampilan Aya dalam balutan pakaian berbentuk elephant itu.


"Hey, Nak. Kamu harus menjaga adikmu dengan baik. Jangan biarkan siapapun membuatnya menangis. Ayah akan menghukummu jika itu terjadi!" titah Ken pada Akari yang justru mendapat jawaban sebuah senyuman.


"Apa-apaan itu? Kamu menyebut dirimu daddy untuk Aya dan menyebut ayah di depan Akari. Bagaimana Azami akan memanggilmu?"


"Dia akan memanggilku papa."


"HAH?" Aira memutar bola matanya, tak habis pikir dengan ide suaminya yang selalu saja menunjukkan sisi unik. Padahal ini bukan pertama kalinya Ken membeda-bedakan sebutan untuk putra putrinya. Sedari awal memang Ken sengaja melakukannya, tapi Aira baru mendengarnya sekarang.


...****************...


Comel banget baby triplet ini 😍😍😍

__ADS_1


See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2